Dua Kilometer Kurang Lebih
Magelang medio 1989-1995
Pagi belum lagi cerah, embun belum lagi menetes dari pucuk dedaunan, kabutpun belum hilang, dan mentari masih nyaman meringkuk di ufuk timur. Seiring jama’ah yang beranjak pergi meninggalkan masjid dan musholla, dengan fikiran bermacam, mulai dari sawah yang tidak kebagian air, kerbau dan bajak yang harus disewa, hingga yang terbirit-birit berlari ke sungai karena panggilan alam yang tidak sudi menunggu. Seorang ibu sabar membangunkan suami, dan anaknya. Ibu yang sama sudah bangun sejak pukul 03.00 dini hari, bersendiri bergelut dengan sangit api, piring dan panci.
Ibu yang jarang terlambat bangun itu, suami yang berkawan selimut dan anak-anak tak tau diri. Rumah saya dipagi itu telah berwarna, dihiasi penolakan anak kecil yang malas bangun, karena dingin hawa atau mimpi. Namun tak lama, karena dingin air yang segar dan menyegarkan menyadarkannya, pada mimpi lain, pada petunjuk lain, pada harapan lain. Sebuah pondasi atau lebih tepat disebut tonggak, tiang pancang awal yang menjadi dasar, yakni sekolah dasar.
Sarapan pasti telah tersedia, walau menu sederhana, meski jarang susu melengkapi menu. Tapi selalu cukup, menjadi bahan dasar yang akan diubah menjadi energi, untuk melewati sekitar 2 km, perjalanan sampai nanti tengah hari. Uang saku yang tak seberapa, membuat sarapan begitu berarti mengganjal perut kecil, dengan otak besar yang haus makanan lain, bernama ilmu.
“Sampun nggih Buk, Pak, mBah” demikian saya akan berpamitan, lewat diantara daun pintu, diiringi pandangan khawatir, namun pajangan wajah yang penuh senyum yang kerap saya lihat. Jalanan yang panjang sudah menunggu, saya biasa berjalan dengan teman saya, yang memang disuruh untuk menemani saya, karena kekhawatiran yang sepertinya kurang beralasan dari orang tua, serta kakek nenek saya.
Seragam putih merah itu, kini banyak beriringan, lelaki kecil dan gadis mungil, menenteng tas, atau hanya menjinjing sebuah buku. Beberapa tak bersepatu, sementara jalanan, seperti pisau yang membelah tapak kaki. Dengan dingin dari embun dan kabut yang tersisa, mengiris. Butiran kerikil, sudut batu yang dipecah, meski terkadang halus, menjadikan urat-urat serasa dipijat, aliran darah lancar dan keceriaan membayang. Walau tak jarang, jalan yang sama menjadikan telapak kaki retak-retak, dan sol sepatu tak tahan lama.
Sebutir tahu goreng, yang diisi dengan irisan kol dan wortel, berselimut tepung gandum keras, dan minyak penuh kolesterol tak jarang nangkring diujung jari. Dipindah-pindah, ditiup-tiup, digigit-gigit sedikit-sedikit, menjadi teman lain sepanjang jalan.
Perjalanan kami mengarah ketimur, menantang matahari yang baru juga bangun. Silau mata kami, namun menyehatkan, membentuk siluet diatas sawah yang berair belum lagi padi ditanam. Cahayanya kadang menelusup, diantara batang-batang padi muda yang berkelisik, bergoyang lembut seirama ditiup angin, mengusir belalang, menyibak katak yang sedang kawin, memicu kecebong berenang kian garang.
Dipinggir jalan, selokan berisi air yang bila kemarau kering, tak deras alirannya atau terkadang bahkan akan meluap bila dihulu dan sungai utama banjir. Kedalamannya berbeda-beda, air yang tak jernih itupun cukup memberitakan bahwa ada beberapa ikan, atau udang yang nyelip di cekungan, siang nanti menunggu dengan sabar atau pasrah? Tangan-tangan kecil kami yang mengobok-obok air, kian keruh dan menyulitkan pekerjaan, menjadikan ikan makin ketakutan.
Sebuah anim, kami menyebutnya begitu, bukan anime meski kedengarannya sama. Tiang penyangga saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET), selalu dilewati. Kabel-kabelnya yang panjang, akan melengkung, merendah di tengah untuk kemudian naik lagi diujung sana yang dekat dengan anim lain dikejauhan. Seringkali bermimpi, membayangkan bisa meluncur diatas kabel anim, sampai ketempat kakek saya di kaki Gunung Sumbing. Otak kecil, kami sudah cukup usil menjadikan lempeng besi yang menempel di anim berisi informasi tegangan dan larangan memanjat, sasaran tembak, dengan bebatuan kami melemparnya, sensasi bunyinya “deng….!!! deng….!!! deng….!!!” menggema di kejauhan. Tapi kami tak cukup cerdas, untuk mengetahui bahwa hal itu, mengurangi bebatuan di jalan, menjadikan jalan kian tak rata, karena bolong-bolong tidak beraturan.
Waktu pulang sekolah tiba, setiap anak berserabutan keluar dari kelas dan pintu gerbang sekolah. Fyuhhh 2 km lagi harus kami tempuh. Bila perut tidak keburu lapar, banyak macam yang dilakukan. Beberapa teman saya memang membutuhkannya, karena kesederhanaan mereka menyebabkan pagi tadi tidak sarapan. Uang saku terbatas pula, sehingga tak banyak yang bisa dibeli. Bodohnya ada beberapa yang sudah mencoba rokok.
Sasaran pertama tentu kebun tebu, dipinggir dan belakang sekolah. Milik perusahaan penyewa, dari petani setempat yang kehabisan modal untuk bercocok tanam dan memilih profesi lain sementara sawahnya disewakan. Tebu yang ada disawah itu kecil-kecil, berbeda dengan serumpun yang ada dihalaman yang besar dan keras. Biarpun begitu, sudah cukup untuk penawar dahaga di siang terik itu. Sembari menggasak tebu, mata jelalatan kesana kemari, khawatir penjaga yang sepertinya tidak pernah ada, tiba-tiba niat bekerja, datang dan mengejar kami.
Sasaran kedua, tanaman kacang yang ditanam bila musim kemarau, menjadi pengisi jeda diantara padi, agar kesuburan tanah tetap terjaga. Dimakan begitu saja, enak lho… manis dan sepertinya ada tepung yang rasanya masih menempel di sela gigi. Di sekitar kacang biasanya ditanam pula ketela, tentu ini-pun tak luput dari keusilan tangan-tangan kecil kami. Diambil beberapa yang sudah tua, dan sebelum sampai rumah sambil beristirahat di bawah keteduhan pohon, api akan dibuat dari ranting-ranting yang banyak berserak. Begitu saja ketela dimasukkan tanpa bumbu, hanya diselipkan diantara ranting yang terbakar, dan saat dirasa matang, ketela akan dimakan. Entah, mungkin karena ketela yang kurang matang, sehingga ada kandungan gas, yang seringkali meminta keluar dari perut melalui pintu belakang, keras namun tak bau, heran saya. Ah saya mulai usil
Satu yang tidak akan saya lupa, langit di terik siang saat saya pulang benar-benar luas. Birunya begitu indah, kadang masih membayangkan bulan dan gemintang yang samar, seperti dibalik layar. Awan-awan bergerak, berarak di ketinggian, tipis-tipis saja, seperti lajur atau bulu domba. Walau kadang saya sadar, bila hujan ah saya tak akan menulis hujan lagi. Bila hujan saya takut, karena jauh dari rumah dan berkawan daun pisang, petir dan guruh. Maaf hujan saat itu, berbeda dengan sekarang.
Sayang, kini selokan lebih sering kering, Kebun tebu sudah tak ada dan berganti lapangan bola. Sawah-pun berubah menjadi perumahan murah, walau langit masih sama agaknya, namun memandang sedih.
__________________________________________________
Ditulis selepas membaca Laskar Pelangi, Bab I, meski belum ada cerita tentang sekolah, guru dan teman-teman. Mungkin lain waktu barangkali. Juga selepas paman deKing mengingatkan pada Ibu.
31 comments so far
Leave a reply
Bagus ya
Halah….
mencoba komen pertama di blog sendiri, sungguh terlalu!!!
Goop:::
huh… sungguh keterlaluan kamuh!!!!
*makin heran, komen sendiri dijawab sendiri??*

-ada apa dengan saya?-
Bagus kok Goop, sebuah kisah masa kecil yang menurut aku sih indah
Goop:::
ah terima kasih paman extrem
*kepala membesar tiba-tiba*
Oh, ini gak bodoh nama-nya, tapi masih belon tahu nikmat-nya dunia
Goop:::
Hayah, justru karena mereka sudah tau paman
makanya mereka malah make untuk beli rokok,
coba kalo beli makan aja, kan lebih nikmat
waktu itu, kalo sekarang sih nikmatan rokokDan bukan-kah ini lebih baik? daripada sekedar di-manfaat-kan penyewa dari petani miskin yang me-nyewakan-nya?
Goop:::
masalahnya, sawah itu meski disewakan masih ada penghasilan barang sedikit,
kalo dibuat lapangan bola, mereka hanya mendapatkan, sedikit ganti rugi
Beda takut-nya dulu dan sekarang? Atau-kah ada sesuatu yang menjadi misteri di waktu hujan?
Goop:::
gimana ya, waktu itu saya merasa kecil aja
ga berarti sekarang besarsaya belum berani menantang petir, dan menikmati guruh,
ada kepercayaan, bila orang tersambar petir, tubuhnya gosong dan ditemukan sebuah kembang didekatnya
iyoh…bafak saia juga fernah cerita, dolo dibelakang rumah ini ada sawah yang luas sangadddhh, bagoss sangadh, ada sungai yang airna jernih sangadh, tafi ya itu….uda ilang diganti sama ferumahan-ferumahan dudud yang terlalu membanggakan sebuah keindahan beton warna-warni..cih
Goop:::
oya?? wah menyesal sekali
dimanakah paman hoek waktu itu??
saya suka, kata-kata ini?
apa perlu diganti macam ini? ah, tapi biarlah, sudah terlanjur seperti itu.
-terima kasih-
cerita yang menggugah
semoga cerita2 ini akan selalu menggugah hati para pembacanya
Goop:::
Terima kasih sobat,
semoga…
ko bisa menggugah ya?masih heran
bagus goop…
*gak tau harus komen apa*
tapi bagus kok…. suer
Goop:::

Trima Kasih tante,
tapi harus komen dunk, harus!!!
*mengancam pake tebu*
Heheheee… Kenakalan masa kecil yang sinkronisasi dengan alam.
ARGHHH!!! Aku produk 90-an malah tumbung kembang di antara beton-beton!!!
Goop:::
emang ada ya?? jenis kenakalan baru inih

Jadi, ada dunk paman roze, cerita diantara beton??
pasti seru ituh, ditunggu sobat
Ini kisah masa kecil… sekarang udah besar apa masih kecil?
-Ade-
Goop:::
Hyaduh….
ini komen-nya arghhh!!!
gimana jawabnya ya??sekarang, uhmmm
udah besar, tapi dengan membawa keusilan masa kecil
kira-kira begitulah
-Terima kasih, ade sudah mampir-
wah….nostalgia neh
tp aku ga ngalamin yg 2 km itu,cos sd ku dpn rumah:p
tnyata kecilnya suka nyolong ya…hehe
Goop:::

yah, kalo cuma sekolah di depan rumah
muter-muter dulu atuh non
ralat, kecilnya suka usil
dan nyolong adalah bentuk keusilanWaduh, Mas Goop, jadi ingat saya waktu bersekolah di SD sekitar tahun 1971-1976. Ketika pulang lewat pematang sawah. Saya dan teman2 kadang2 sering usil juga. Karena perut lapar, kacang panjang Pak Tani yang siap petik dari pematang sering kami curi sebagai pengganjal perut. Jika ketahuan yang punya, buru2 kami selipkan di sela2 buku yang sudah kumal. Wah, kenangan yang pahit, tapi indah untuk dikenang, Mas Goop pinter nih mengingetkan masa lalu orang. Udah selesai baca Laskar Pelanginya? Dahsyat banget tuh sampai2 ada anak muda pecandu narkoba yang sembuh total gara2 membaca karya Andrea Hirata. Salut.
Goop:::

Terima Kasih, paman Sawal
namun kalo kacang panjang kami ga hobi
Laskar Pelangi, errr baru sampai Bab II kalau tidak salah
Wah, memang ada sisi-sisi kemanusiaan yang tergelitik setelah membacanya paman,
barangkali begitu, salam
*nunggu terbitnya cerpen paman goop*
Goop:::
silakeun ditunggu, paman
sampai ubanan, mungkin
Terima kasih
*oot*
kok inboundlink kata ‘paman’ baris terahir linknya :
http://unclegoop.wordpress.com/wp-admin/comment.php?action=editcomment&c=269
salah ato emang sengaja gitu ya
Goop:::

Inboundlink apa ya? ga ngerti
tapi itu dibuat karena pertama saya terinspirasi sama comment paman deKing disitu
dan lebih lanjut dalam postingan beliau
*wah jawabannya resmi*
*lirik koment pertama*
*ngakak guling2*
hahaha, bisa aja si paman neh
Goop:::
Hayah,
terus comment untuk tulisannya mana inih??
masak comment ngomentari comment
Terima Kasih ya
Glekk…membuat miris memang.
Dan yang lebih menyedihkan sepertinya sekarang ini langit pun mulai berubah.
Jika kita tidak menyayangi alam, jangan pernah berharap alam akan menyayangi kita
Goop:::
Betul paman, setuju sekali
Terima Kasih
*Sembari menggasak tebu, mata jelalatan kesana kemari, khawatir penjaga yang sepertinya tidak pernah ada, tiba-tiba niat bekerja, datang dan mengejar kami.*
Aku juga pernah mengalami hal spt itu, seru, asyik, sekaligus menegangkan….memang masa kecil itu indah…..salam kenal n keep blogging.
Goop:::
Yup, menegangkan benar!
Salam kenal pula, dan terima kasih sudah mampir
weiss…bagus banget deskripsinya.
saya ikutan belajar sama situ ya mas.
*ngambil buku tulis sama pensil*
oya, salam kenal
*buka buku tulis*
Goop:::
*
Terima kasih,
wah saya bukan guru, jangan belajar sama saya
khawatir salah, mungkin kita berdiskusi saja, bagaimana??
*gelar tiker, siapin rokok, sediakan ketela goreng
ah ya, salam kenal pula dan terima kasih sudah mampir
Yang saya inget pas berangkat sekolah waktu SD, jalan yang saya lewati kanan kirinya sawah. Becak tunggangan saya cuma disaingi sepeda dan dokar yang juga mengangkut anak-anak sekolah. Bau udara pagi, bau tlethong kuda yang masih empuk dan anget *sok tahu, wong belum pernah ngerasain* bercampur jadi satu dengan bau sabun mandi dan shampo yang dipake anak-anak ini.
Sekarang beda mas. Depok-Thamrin isinya kebanyakan misuh. Musuhnya juga sangar. Metromini dan sepeda motor. Tapi kalo inget tujuan saya melakukan perjalanan tirakat ini, hati saya jadi adem sedikit.
Jadi, kapan nyusul mas? *ngece*
Jadi nggak dicariin? *ngece lagi*
Udah ketemu belum ama expat UNDP yang single tur manis? *ngece lagi dan lagi*
Goop :::
Terima kasih paman,
iya, saya kemaren ke Thamrin wuih padat sekali
sampai saya yang dari kampung ini, harus tanya-tanya
btw, sejak SD sudah narik becak to?? *ngece*
*berlagak tidak melihat 3 baris terakhir*
Dulu di depan rumah saya hanyalah lapangan yang kosong tempat rerumputan liar tumbuh dengan ganasnya. Awalnya rumah saya tidak memiliki atap, panas, tetapi saya sering bermain ke sana. Sekarang lahan itu sudah ditempati oleh tetanggaku.
Di saat yang sama, di belakang rumahku, yang notabene 5 tahun lalu masih kosong, sekarang sudah berpenghuni..
Wow, I’m quite sure that the land has its lord…
Goop:::
sebelumnya, selamat datang baginda paman
perubahan penggunaan lahan memang cepat!!!
saya ko agak khawatir, lahan kosong penuh rumput liar itu kian langka
Ya, sebenarnya berapa luas ruang yang kita butuhkan??
laskar pelangi! toh yg tertuduh sebagai inspirator atas terciptanya tulisan ini. realis..realis…realis, humanis…humanis…humanis. salam kenal.
Goop:::
Mungkin bukan tertuduh, tante
Pelaku
*ko sepertinya kurang tepat ya, pilihan katanya*
Terima kasih
salam kenal pula, dan terima kasih sudah mampir
Maaf, numpang OOT sedikit …
Ini pengalaman pribadi Uncle kah?
Magelang ya? …
Jangan2 itu kebun tebu-nya di daerah Tempuran atau Salaman … *sok tau*
Eh melihat tahun 1989-1995 kok jadi teringat era saya dulu. Era kita hanya berbeda 1 tahun saja …
Maaf atas komen OOT-nya
Goop:::


Ah ya silakan, OOT kan tidak haram
Pengalaman pribadi?
Sejujurnya, sebagai pelaku saya tidak atau mungkin lebih tepat jarang, namun sebagai saksi mata benar, dan kadang ikut menikmati kacang ataupun ketela.
Alamatnya pernah saya tulis lengkap, dalam sebuah postingan berjudul “Pulang” (maaf masih belum bisa bikin link), ada juga di blog ini.
Benarkah hanya berbeda 1 tahun saja? ah saya malah jadi malu karena masih begini-begini saja
Terima kasih paman, dan apa itu OOT?? ah saya sudah lupa
loh inget masa muda..
hehehe..
saya masih muda soalnya…
huahhhahah…
kenangan yang indah paman…
Goop:::

saya juga masih muda koq,
tapi ternyata 12 tahun yang lalu itu jauh ya,
terima kasih
ohhh… saya baru tauk kalo om goop pernah nyolong tebu!!!
Goop:::
hehe, hanya sebuah bagian dari masa lalu paman, syip
terima kasih
mas goop masa kecil waktu SD adalah masa menyenangkan bagi semua org yg hidup diperkampungan…seandanyai klo ada mesin waktu yg dapat flashback mungkin saya akan memilih masa kecil SD saya kembali lagi, dimana dimasa tsb saya bandel,bermain, betualang mencari ikan,nyolong mangga dan yang lainnya sampe tidak dapat kuungkapkan dengan kata2….tapi sekarang sudah saatnya kita melihat kita mencetak junior2 kita dan melihat dia seperti kita jaman dulu…kayanya waktu terulang lagi (rendevouz)…ah menyenangkan
Goop:::


Benar, paman
seandainya mesin ajaib kaya punya doraemon itu ada
mungkin saya juga akan memilih masa itu.
Dan benar juga, kini giliran kita melihat junior2 kita tumbuh,
Btw, ini maksudnya anak-anak kita bukan?? kalo itu saya belum punya
oke paman, terima kasih
Jadi Inget jaman ketjil doloo….
Hiks,…hiks…
Kemana kawan masa ketjilkoe doloo….???
Goop:::
maaf paman mBel, saya sekedar mengajak bernostalgia sebentar
Lah, memang dimana kawannya??
Mo saya bantu mencari??
Sayang yaa pengalaman saat paman goop kecil itu kini tak dirasakan anak-anak sekarang. Keberhasilan yang diraih kini bisa jadi karena kerasnya perjalanan dan jauhnya jarak ditempuh…
so, anak-anak sekarang mestinya belajar bagaimana perjuangan para tua yang dulu asik dan menarik… kini serupiah uang tak sanggup mereka kantongi mesti beribu-bahkan-ratusan biaya untuk mendapatkan sekantrol nilai.. duuuh pendidikan sekarang mahal di ongkos tapi murah di hasil… berbeda dulu, murah diongkos, mahal pada nilai dan karya.. tq paman goop mengingatkan masa dulu yang mirip dengan sesemangatku bernostalgia….
Goop:::

sama-sama paman kurt,
memang seyogyanya kita saling mengingatkan bukan??
*padahal bingung mo jawab comment yang kena banget ini*
terima kasih paman kurt
Kisah masa kecil yang manis untuk di kenang, paman..
Goop:::
Hehe
Begitulah sobat,
Terima Kasih
udah kelar baca laskar pelanginya, paman?
Goop:::
udah bos, beberapa hari yang lalu
ada apakah??
haha, komentar utk artikelnya
skr uda tgl 29 masak msh 2 km, mestinya uda nyampe donk
*emang perjalana kalee*
Goop:::
mHehe
iya juga ya…
mestinya udah posting yang baru ya??
terima kasih, paman ale
wah Two thumbs UP…nice post lah uncle
Goop:::
Seperti kritikus film aja
Hehe
Iya, terima kasih Tante
Nostalgia masa kecil dalam seragam merah-putih ya?
Jadi pengen liat potret-potretnya
Goop:::

Iya sobat,
Lah saya nda ada potret-potretnya
cuma saya sendirian, ukurannya 3×4
selalu nda’ gampang bila di desa
terima kasih
wah…saya mau jadi ibu-ibu kaya gitu… romantis yah… bangun nin suami ma anak2nya… pasti saat-saat itulah…ibunya cantik banget… hehe (moga g lupa kalo dah tua ntr)
ku jadi iri …. pengen punya kenangan seindah itu… hehe ntr deh bikin sendiri
Goop:::

mhehehe
makanya nikah, buruan
oopss, saya juga belum dink… pengen juga *halah*
oia laskar pelangi bagus yah? jadi pengen baca…. mbak kos nawarin seh…
Goop:::
beli dunk!!!!
tapi, kalo mbak kosna baik ya gpp sih
slamat membaca kalo begitu