Angin
Klaten September-November-Awal Desember 2007
Hari ini saya menjadi angin, dan inilah balada saya dan teman-teman yang menjadi kami:
Sinar mentari mulai menyinari puncak gunung, sementara di lereng dan kaki gunung kabut masih menggantung. Embun tak juga menetes dari pucuk dedaunan, enggan menetes dan masih tertambat mesra. Lampu di beberapa rumah masih menyala, namun ada pula yang mulai beraktifitas. Sambil masih memakai sarung, mereka keluar dari rumah-rumah. Sebatang rokok lintingan sendiri yang ukurannya amboy besar sekali nylempit di bibir, meninggalkan jejak nikotin di gigi yang berkerak dan bibir yang menghitam. Terbirit mereka menuju sungai, atau kebun belakang rumah untuk memenuhi panggilan alam.
Dan kami, adalah angin yang di pagi itu tak juga bergerak, diam. Panas mentari belum memuaikan sebagian dari kami. Perbedaan tekanan belum ada, sehingga tak perlu kami berjalan. Kami nikmati diri kami dan keberadaan kami di lereng gunung pagi itu, menjadi saksi sarung yang tak sanggup usir dingin, sehingga gigil masih menyolok di bibir. Menjadi pewarta bau tak sedap dari kebun belakang dan sungai yang airnya jarang. Sekaligus juga menjadi pemirsa dari mereka yang rajin, dan bahkan kabut tak menghalangi mereka dari pergi ke ladang, memeriksa tembakau, kobis dan kentang.
Sayang semua itu tak lama, karena kini sinar mentari telah sampai ketempat kami dan teman-teman berada. Sebagian dari kami membesar, tekanan meninggi dan tugas rutin kami dimulai. Berpindah-pindahlah kami dari satu tempat ke tempat lain, bermacam ragam pergerakan kami, ada yang berputar-putar, mengalir, kadang ada pula yang usil menelusup, mengibarkan rok remaja putri kasmaran yang memandang langit dengan sendu. Tapi mereka yang beruntung berhasil menelusup ini, telah jarang kini, karena para gadis lebih memilih bercelana, sambil memperlihatkan pinggang sampai sedikit pantat, tempat kawan kami yang busuk keluar dan mencemari kami. Tugas utama kami, mengisi tempat-tempat dengan tekanan rendah, membagikan suhu dan menyeimbangkan hawa di muka planet bernama bumi.
Aneka tempat kami lewati, mulai dari gunung yang asri, hijau dan nyaman, dimana kami biasanya akan berhembus pelan dan ringan, mereka yang mengaku manusia menyebutnya sepoi-sepoi, oh nama yang indah. Tak jarang, bila kami melewati sungai atau saat kelembaban tinggi, sobat karib kami air akan turut serta, melengkapi kami, sehingga kami dinamakan sepoi-sepoi basah. Bukan hanya indah, namun juga memberikan rasa nyaman yang berbeda.
Suatu ketika, dan kerap terjadi kami akan tiba di hutan beton, ah tempat yang asing untuk kami. Di tempat semacam ini, kami akan berlomba untuk berada di ketinggian, sehingga tubuh kami bisa melampaui tinggi beton, melaju dengan cepat, sampai ke laut atau dataran lain yang lebih bersahabat. Bila kami terlanjur terjebak dalam hutan beton, sungguh bukan hal yang mudah untuk keluar dari sana. Biasanya kami akan berputar-putar, terantuk kesana kemari, nyasar di gang sempit berbau busuk, dan menyaksikan mereka yang kurang beruntung, berkawan lalat, dan selokan mampat menikmati makan siang sederhana dengan wajah sumringah. Di lain pihak, tak sengaja kami mengikuti putaran alat pengatur kondisi udara, bercampur dengan makhluk asing bernama freon dan membantu mendinginkan ruangan-ruangan tertutup bagus, yang penghuninya bersih dan rapi, sedang makan siang pula, namun tak kami lihat kenikmatan di garis wajahnya.
Akhir-akhir ini, entah apa yang terjadi, namun kami rasakan banyak perbedaan dalam gerak kami. Kami bergerak kian cepat, kadang berputar, berombongan banyak sekali, seolah-olah kami adalah bala tentara Persia yang menyerbu 300 pasukan Sparta. Tak jarang kami meninggalkan jejak, berupa puing-puing kerusakan, atap tercerabut, atau rumah roboh. Mereka yang mengaku manusia akan menyebut kami puting beliung, bukan-bukan… puting Ibu yang akan dicari dengan nafsu oleh bayi yang masih menyusu atau suami yang juga nakal ikut-ikutan menjadi karnivora
. Saat itu kamilah puting beliung, angin topan, badai, angin puyuh, angin ribut, walau kadang diiringi dengan nama tambahan seperti Rita, Katrina, Siska, atau Dewi (maaf lupa nama-nama badai
). Tapi kami sama sekali tak cantik, tak seperti Rita teman saya yang bibirnya semerah delima. Kami pun tak manis, seperti Katrina teman saya yang meski hitam namun manis sekali.
Seperti sore itu, di atas tempat bernama Klaten kami bertiup, kencang sekali sambil sedikit berputar. Lahan pertanian padi kami lewati, dan jejak kami adalah robohnya padi hampir panen yang tentu akan dipandang dengan sedih oleh petani. Masuk ke kota, kami kacaukan lalu lintas dengan menumbangkan beberapa pohon tua yang mulai rapuh, bila tidak salah ada pula yang sepertinya terhimpit kena pohon yang tumbang. Kembali keluar dan di persawahan, disana kami robohkan tempat tembakau di oven. Sebuah bangunan ringkih, dari jalinan bambu namun besar sekali. Makin bergerak, kami robohkan beberapa rumah penduduk yang baru saja membangun selepas terkena gempa, sehingga belum permanen dan belum kuat benar. Tak lupa kami sapa beberapa tiang penyangga SUTET dan juga tiang listrik dan telepon. Mengakibatkan beberapa blok rumah yang dekat tiang listrik tidak teraliri arus, malah lebih parah di tempat lain sebuah pabrik dan juga kompleks permukiman yang lumayan luas juga padam listriknya.
Sampai akhirnya, kami tiba ditempat lain dan bergerak kian pelan. Memandang kebelakang pada jejak kami, bukanlah kebahagiaan yang kami rasakan. Ingin meminta maaf pada mereka yang padinya roboh, pada pemilik rumah yang belum permanen yang juga roboh, pada karyawan yang tidak bisa bekerja karena listrik tak mengalir, meski mungkin bos masih tersenyum-senyum di rumahnya yang kokoh dan kuat. Maafkan kami, karena kami juga pelaku dan inilah peran kami, akting kami yang mungkin bisa memenangkan oscar.
____________________________________________________
Ditulis selepas puting beliung melanda sebagian Klaten, dengan menambahkan satu sendok teh mata kuliah meteorologi klimatologi yang dulu pernah diikuti, satu sendok makan cuplikan adegan dari Film “300” dan satu takar otak usil.
Sekaligus mengharap maaf bila ada yang tidak nyaman, pada beberapa poin usil dan agak binal yang terlanjur tertulis namun lupa dimana penghapus berada.
Akhirnya silakan dinikmati hidangan semenjana ini, terima kasih.
30 comments so far
Leave a reply
Ps: Postingan ini adalah yang pertama tidak menggunakan (more) sehingga anda bisa langsung membaca di halaman pertama secara lengkap. Hal ini sesuai dengan usulan sahabat saya Paman Caplang yang baik. Bagaimana pendapat anda mengenai hal ini??
Jadi silakan menambahkan comment anda, selain untuk tulisan saya yang acak adul itu, juga untuk tidak digunakannya (more) ini, apakah anda lebih suka menggunakan (more) itu atau langsung terbaca sejak halaman pertama??
Goop:::
Sudah-sudah comment pertama di blog sendiri ko panjang amat?? Apa tidak malu??
Ah ya, maafkeun ke-sengaja-an saya ini
Goop:::
Lah, ko malah jadi Tanya jawab??
are you ok babe?
semoga tidak terjadi apa-apa di sana ya
Goop:::

saya baik ko tante itik
terima kasih untuk perhatiannya
soal (more) itu, tidak semua orang mau komen, jadi saya menggunakannya untuk melihat berapa orang yang sudah membaca tulisan saya.
Goop:::
*manggut-manggut*
Uhm, jadi begitu, okelah terima kasih ya atas masukan yg berharga ini
Pertama, keren Goop, pemaparan balada yang menarik dari sudut pandang orang pertama, seakan kita menjadi sang Angin. Keep Goin’ Bro, Good Work
Goop:::
Terima kasih sobat, saya hanya sekedar bercerita
Kedua, tentang pake More apa nggak, itu ya ter-serah kamu-nya nyaman-nya yang mana. Banyak orang yang senang tanpa More, tapi ada juga yang senang menggunakan more, sehingga memudah-kan untuk melihat beberapa postingan-postingan sebelum-nya
Goop:::
okelah saya coba kali ini
Iya, memang terserah saya sih
terima kasih untuk masukannya
gyaaa…keren sangadh tulisanna!!! tentang angin yah? hmm…bole donk kenalan sama si rita? ato katrina juga bole? mwhuehuehuehue…
Goop:::
Terima kasih sobat…
mau kenalan?? sama badai *itu kan nama-nama badai*
nda’ salah??
*ngliadh komeng fertamax*
hmm…ketularan virus girang ni orang… *geleng-geleng kefala*
Goop:::
memang virus kau menyebar sangat cepat sobat
terima kasih untuk virus menggirangkan ini
seperti biasa Goop, deskriptif sekali!! bener2 orisinil!
Goop:::
ah ya, terima kasih
semoga berkenan
Walah, tulisan ini mengingatkan saya pada suasana alam yang masih rawan dan murni bagaikan simponi yang menggairahkan akan makna kearifan hidup. Sayangnya, akibat ulah kita juga, alam tampaknya semakin murka. Bencana demi bencana terus terjadi. Aduh, barusan terjadi puting beliung di Klaten, yak, Mas Goop? Mudah2an nggak ada yang jadi korban murkanya alam.
Goop:::
Iya paman, simponi indah itu, barangkali sudah mengalami distorsi
untuk puting beliung di Klaten, syukur tidak ada yang menjadi korban jiwa, tapi kalo korban material apa yang sudah saya tuliskan diantaranya
Walah, tentang penggunaan (more) di postingan, kok aku masih suka memakainya. Kelebihannya, ketika pembaca membuka home akan terlihat beberapa judul tulisan sekaligus dengan summary-nya. Saya nggak bisa mbayangkan deh kalau postingan kita dah begitu banyak yang tampil hanya beberapa postingan saja. Pembaca mesti harus repot2 mencarinya di arsip. Kasihan pembaca, khan? Hehehehehe
Tapi itu bagi saya kok nggak begitu urgen. Tergantung selera dari temen2 bloger. Mau pakai more mangga, mau menampilkan tulisan utuh juga nggak apa2. Selera orang kan beda2. Bener nggak Mas Goop? Hehehehehe
Goop:::
yak pak, eh Paman ah saya suka lupa
memang tergantung selera, dan ini semacam polling hanya ingin mengetahui pendapat sahabat-sahabat saya saja…
seperti juga punya saya, yang selalu panjang dan minus (bahkan tidak ada gambar) akan membosankan bila langsung panjang sepertinya,
mungkin kedepan, tidak menutup kemungkinan saya akan kembali menggunakan (more)
terima kasih ya Paman, salam
wah kalo omong-omong masalah suami yang menjadi carnivora karena puting
beliung, si Ibu ntar ada saudara sepersusuan antara ayah dan anak….hehehehehehe
Goop:::
Hyaduhh…
kalo itu, gimana ya??
saya kurang mengerti
*ngeless*
uhuk… aku lagi masuk angin …
Goop:::

Lha??
okelah semoga cepat sembuh
terima kasih sudah mampir
saya memang menikmati..terima kasih
Goop:::
saya senang bila paman menikmati
kembali kasih, salam
Pertama turut berduka cita atas musibah puting beliung yang terjadi …
Goop:::
terima kasih sobat, semoga mereka yang rugi cepat diganti dengan keuntungan
Selanjutnya…
Keren Uncle… deskripsi yang indah. Saya seperti sedang belajar Fisika dan Geografi jaman SMP mengenai angin yang terwujud karena perbedaan tekanan, tapi belajar dengan cerita kayak gini jadi asyik.
Ada lagi Uncle …
Ah jadi ingat tulisan Uncle tentang Trilogi Hujan …
Sekali lagi Uncle menyajikan satu keping uang logam dengan dua sisi yang bertolak belakang…tapi begitulah kenyataan yang ada ya Uncle.
Goop:::
memang ada kecenderungan saya menyukai paradoks, jadi memperbandingkan dua hal yang bertolak belakang, cuma agar kita sadar bahwa ada yang “lain” selain kita, siapapun kita
Mungkinkah kita melebur dua sisi mata uang itu menjadi satu sisi yang indah?
Goop:::
bila melebur, menjadi bukan dua sisi mata uang, mungkin bisa menjadi indah…
tapi bila masih menjadi dua sisi mata uang, tetap paradoks namanya, dan saya ragu akan menjadi indah
akhirnya, bila harus melebur menjadi satu sisi yang indah, kemungkinan itu ada (saya harap) karena masing-masing sisi melengkapi dan belajar bersinergi satu dengan yang lain
Tetapi ada satu hal dr quote yg saya ambil di atas jika dibandingkan dengan kisah Trilogi hujan. Dalam quote tsb betapa bisa kita saksikan bahwa kesenangan dan kebahagiaan adalah dua sosok yang berbeda. Dimana harta bisa memberi kesenangan tapi belum tentu memberi kebahagiaan…lihatlah orang berpakaian rapi tsb yang tidak bisa menemukan kenikmatan dan kebahagiaan dari makan siang yang dinikmatinya. Tetapi lihatlah kebahagiaan dan kenikmatan yang digapai oleh sang papa yang dikerumuni lalat.
Goop:::
maafkan saya sobat, karena saya harus jujur bahwa pada dasarnya saya hanya menambahkan sedikit unsur dramatisasi saja, sehingga benar-benar bertolak belakang seperti itu, bila kita jujur, sebenarnya yang berpakaian rapi juga banyak yang makan dengan nikmat, sementara yang miskin juga banyak yang makan sambil menggerutu, tapi memang kebahagiaan itu selalu berada diatas kepala orang lain, bukan diatas kepala kita sendiri, walaupun bagaimana beruntungnya kita
*******************
*menjura* Sampai jumpa lagi Uncle …
Goop:::
*menjura pula* tentu sobat, selalu saya tunggu kehadiranmu
sampai jumpa
Ah ya … ada yang ketinggalan.
)
Mengenai “more” ya memang tergantung selera dan hasrat Uncle saja
Kalau saya sich lebih memilih yang menggunakan “more” karena terkesan simpel dan bisa memberi informasi judul2 tulisan yg lain … (sepakat dengan Mus-mus dan Oom Sawali
Goop:::
iya juga sih,
terima kasih atas masukannya sobat
oh paman mau jadi angin biar nglayapnya gampang yah…
hehehehehe….
Goop:::
Hahaha
iya, kan bisa menelusup-menelusup
terima kasih sobat
kereen!!! jadi inget cerita topeng kaca. akting jadi angin. hmmm…lucu juga kalau dibikin film nih…
Goop:::
saya ga ngerti cerita itu neng,
yang lucu yang mana??
masa bencana puting beliung lucu??
tapi terima kasih ya, neng cK mau sibuk disini
Tulisan yg begitu runut.. Keren.. Keren..
Btw, turut berduka cita atas musibah angin puting beliung yg terjadi disana..
Goop:::

terima kasih sobat
iya, semoga mereka yang mengalami kerugian cepat pulih seperti sedia kala
gambarannya bener-bener detail
keren, paman!
Goop:::
terima kasih sobat
ttg yg more emang pilihan dan selera
tapi buat saya yg pakir benwit ini sangat membantu
bisa ngebaca lewat rss feed tanpa harus buka blognya
kalopun ndak komen bukan berarti saya ndak baca
lagian, tulisan udah bagus apa yg mo dikomenin
Goop:::
, akan lebih lengkap bila ada jejak yang ditinggalkan
biarpun bagus
jadi tau, apakah benar-benar ada yang baca atau tidak
ngomong-ngomong ttg angin, jadi inget sama masuk angin
kalo ngebahas masuk angin, nyambung ke jamu orang pinter
saya ndak pinter tapi sering masuk angin
dan saya ndak milih mengonsumsi jamu itu
tapi milih dikerokin sophia latjoeba
Goop:::


hahaha, benar minum jamu ga harus pintar
*bukan mendukung iklan itu lho*
dan sophia latjuba??
bagaimana dgn ibunda dari caplang jr??
bisa-bisa naik daun bliau sobat
ko sophia latjuba ya?? apa ga ada yang lebih muda?
paman ini yang mengajarkan aku akan pengunaan more pada tulisan…jadi kita reposisi nih paman hehehhe
Angin …i always imagine , me be the winds…..
Goop:::

hahaha, reposisi benar juga
mungkin karena ada kesenangan manusia untuk mencoba
ingin menjadi angin?? asal jangan puting beliung ya, klo sepoi-sepoi, mau saya dihembus-hembusnya
Soal more atau tidak, saya sih nggak peduli. Karena kebiasaan saya mengklik judul tulisan sebelum membacanya.
Goop:::
uhmmm bgitu yak??
ada pula yang punya kebiasaan seperti ini ternyata
Duh Gusti…
Goop:::
knafa??
yaa sebenernya lebih condong dng maria renata…
Goop:::

nah gitu dunk
lebih muda, bergairah dan segar
eh, trus ibunda Caplang Jr??
Pilihan kata-katanya bagus mas … ajari Ade cara merangkai kata sebagus itu.
-Ade-
Goop:::


ah terima kasih mBak Ade
kalo mau belajar sepertinya bukan kepada saya
tapi klo sekedar mau berdiskusi…
ayuukkk
anoo…maksudnya lucu kalau dibikin drama, ntar nia ramadhani jadi si angin, marshanda jadi katrina dll… eh itu bukan film ya? dibikin kayak teater gitu lho…
*bayangin yang aneh-aneh*
Goop:::
pasti neng cK ga nyaman ya?? hehe
maaf deh, saya juga cuma hairan mana yang lucu…
oiya, kalo misal dibuat teater barangkali bagus ya, hanya saya tidak suka artis-artis itu yang memerankan
tapi kata-katanya mantep. paman goop hebat..
Goop:::
terima kasih
hanya mencoba bertutur
ah..semoga yang kena musibah diberikan kekuatan…
Goop:::
amien…
akhirnya… setelah sekian lama nulis postingan yang mendayu-dayu… keluar juga aslinya! pakalik gopie ternyata cabul! mana bilang jadi angin lagi?! pantes masuk angin saya kemaren rada2 bau parfumnya paklik gopie!
Goop:::

Hehehe, bisa aja kau sobat
yang diliat jangan cuma
cabulnyaitu saja plissmasuk angin, memang ada bau parfumnya??
Rita, Katrina, Siska, atau Dewi … itu sudah terkenal di tv-tv, saya malah akan menambahkan satu lagi nama badai yang lucu dan “nakal” itu dengan badai goop… sungguh dari sudut si angin ternyata tak berperi kemanusiaan namun masih bisa bersenda gurau… rasanya, bagi rumah-rumah yang tersapu badai goop, sebaiknya membaca kronologi bagaiman mula-asal badai goop itu terjadi di sana…
Barangkali senyum2 atau terpingkal-pingkal bisa menghibur mereka…
Goop:::
Hehehe, maaf Paman Kurt,
saya ko malah merasa memparodikan kejadian itu ya, membaca comment ini
ah, tetapi semoga mereka mengerti, karena bukan itu maksud saya
paman enak yaa orang yang otak kanannya cukup berisi jadi memandang sesuatu dengan indah… meski sebuah badai…
Goop:::
saya tau, Otak Kanan Paman Kurt, malah lebih penuh pasti…
kita kan hanya memandang sesuatu dari sudut yang berbeda saja, ya ga??
pulang bawa oleh2 lagi…
Goop:::
mbok saya minta oleh-olehnya
[...] suatu hari, Socrates bertemu dengan seorang yang sebenarnya tidak begitu akrab dengannya. Tanpa angin tanpa hujan tiba-tiba orang tersebut langsung mengajak ngobrol Socrates, … “Wahai Socrates, [...]
Tidak masalah Uncle … karena dramatisasi yang Uncle tunjukkan itu menggambarkan suatu “kasus”. Memang hal tsb tidak bisa digeneralisasikan kalau semua yg berpakaian rapi tidak menikmati kebahagiaan, tetapi seringkali kita akan lebih belajar dari suatu “kasus” bukan dari suatu generalisasi
Saya akan setia menunggu kisah selanjutnya lho Uncle …
*jabat erat Uncle Goop*
Goop:::

Ya, benar sekali makanya ada studi kasus
maaf, saya OOT sendiri Hehe
*jabat erat pula*
terima kasih
Hmmmm……
Belahannya itu loohhh….
Mbikin deg-deg an….
Goop:::
Hahaha, pasti kalo Paman mBel kesitu deh…
tapi memang mBikin clegukan juga ya paman mBell
Terima kasih
oya, maaf commentnya saya edit
Koreksion :
yang benar ke tempat
yang benar bukan… bukan… atau bukan, bukan
demikian koreksi ini, dan terima kasih untuk paman Caplang yang demikian jeli melihatnya, apakah ada diantara anda yang melihat kejanggalan lain??
mulai besok pake rok lagi ahhhhhh….
Goop:::

tentu saya dukung
pasti akan lebih feminim,
entah lebih cantik atau tidak tapi pasti beda,
klo ada, ditunggu poto pake roknya
Paman Goop, ikatan kata-katanya membuat saya ikut merasakan suasana alam. Moga tidak terjadi bencana alam lagi pada negeri ini.
Oh ya ada nama sisca juga ya? Untung bukan nama saya, he he he.
Goop:::
Iya mbak Hanna, semoga kedamaian selalu di negeri ini
Ah itu kan, hanya nama ngawur aja
terima kasih
bahasanya indah sekali
Goop:::
Terima kasih sobat,
sudi mampir di lapak saya ini
bgs…klo ini ku ngerti…hehe… ponakan uncle… loadingnya lama…
Goop:::

yup, emang
tapi gpp, saya ngerti koq *halah*
makasih