Partiture
Bila kita mendengarkan musik, pada awalnya adalah intro. Entah itu, bunyi denting gitar yang berdenting dalam petikan senar-senar, atau cabikan kuat penuh distorsi, hasil dari pengaruh sound effect. Terkadang bunyi piano, atau gesekan biola. Tentu semua berserah kepada musisi yang menggubah sebuah aransemen musik.
Verse kemudian akan memainkan perannya. Berupa perkawinan musik dengan lirik yang juga bernada. Ada sebuah saat, sebuah jeda, tak berapa lama namun itu menentukan. Beberapa saat hening, seperti ditunggu-tunggu, dan mulailah bunyi suara vokalis mewarnai bangun tembang.
Vokalis tadi membawakan bait-bait lirik, seperti puisi namun bernada. Bila di suatu tempat dijumpai musikalisasi puisi, di saat lain ada lirik lagu yang di copy paste begitu saja. Hasil jiplakan ini, dimasukkan dalam surat-surat cinta, saat benar-benar jatuh cinta, saat pernyataan cinta, bahkan saat patah hati. Akhirnya, menjadi semacam puisi.
Beragam alasan menjadikan lirik lagu begitu bermakna. Tak seperti tulisan yang berbusa, berparagraf-paragraf, terdiri dari ribuan kata dan huruf. Lirik lagu, hanyalah berupa bait-bait, beberapa larik saja. Terkadang hanyalah perulangan atau repetisi bunyi dan suara yang sama.
Perkawinan antara musik latar, dengan bunyi vokal ini, menjadikan sebuah lagu bermakna. Lebih bermakna, dari sebuah tulisan, semisal tulisan ini yang sudah memasuki paragraf ke lima dan seratus sembilan puluh lima kata.
“Sabda Alam”nya Chryse; “Saat Tangan dan Kaki Berkata”-nya Chryse; “Berita Kepada Kawan”-nya Ebiet; “Mahadewi”-nya Padi; “Sobat”nya Padi; “Time of Your Life”-nya Greenday; “Spirits Carries On”-nya Dream Teathre. Maaf, beberapa yang sudah disebutkan tersebut hanya yang terlintas di benak saya. Tentu masih banyak lagi yang lain, yang memberikan makna yang berbeda pada masing-masing orang.
Membicarakan sebuah lagu, maka akan selalu ditemukan chorus. Sebuah puncak, titik equilibrium (bener tidak ya??) dari nada-nada yang membangun sebuah lagu. Di titik inilah, nada-nada akan merangkak, mendaki dan kemudian melengking tinggi. Mengawan, membumbung dan seakan hendak menyentuh langit. Mengabarkan semangat, kegairahan atau juga kegeraman perasaan marah??
Tak jarang, sampailah nanti pada interlude. Dimana barisan nada-nada rendah menggeram, merayap pelan namun syahdu. Mengantarkan pada kekelaman, kedalaman, pada suatu alam mistik. Menyentuh-nyentuh kalbu, menggugah perasaan terdalam dari hasrat kemanusiaan. Saat inilah, ada kerinduan, kedukaan, keharuan menemukan jalan, mengular kemudian memudar.
Outro adalah akhirnya. Bisa berupa repetisi, yang diulang-ulang kian lama kian tenggelam. Bisa pertahanan dari chorus yang kemudian diakhiri dengan diam, yang serentak. Mungkin pula sebuah kelanjutan dari interlude, yang berakhir pada kesunyian.
Itulah sebuah lagu dan tembang dalam pandangan saya. Bukan seorang musisi, meski pernah menyanyikan “Don’t Look Back in Anger” dan “Live Forever” punya OASIS pada pentas seni sekolah. Seseorang, yang sangat jauh dari musik, kecuali sebagai penikmat. Menerima informasi serba sedikit dari Banoe Johns, gitaris saya yang masih juga merindukan Daniel Johns “Silverchair”. Sangat mungkin banyak kesalahan dalam istilah, dan pemaknaan pada beberapa paragraf yang telah tertulis sebelumnya. Maaf, tidak sengaja, saya teringat dan sedikit bernostalgia. Berputaran pada lingkaran diri dan narsis yang menjemukan.
Lagu, dalam arti sempit seperti kisah cinta diantara dua anak manusia. Bukankah selalu diawali dengan perkenalan? Entah melalui sebuah jalan panjang bernama persahabatan terlebih dahulu, atau serba kilat melalui pandangan pertama. Namun perkenalan ini, adalah syarat, seperti intro.
Setelah perkenalan, banyak hal yang telah terjadi. Bila saya seorang Don Juan, mungkin saya akan bisa bercerita panjang lebar. Sayang saya bukan, dan jarang melabuhkan hati pada pelabuhan-pelabuhan berserakan, kecuali beberapa saja yang terpilih. Pendek kata, bangun sebuah lagu, adalah sebuah kisah cinta.
Saat pernyataan cinta, dan bersatunya dua hati dalam sebuah janji. Mungkin inilah verse itu, dimana musik bertemu dengan lirik untuk pertama kalinya. Ada kelegaan, saat entry point sebuah lagu benar. Dalam sebuah ajang pencarian bakat yang masih juga marak, entry point ini, kerap menjadi masalah. Kontestan, banyak yang lepas, dan tidak tepat pada saat menentukan ini. Laiknya pernyataan cinta, akan lega ataukah berantakan, mungkin semua bergantung pada intro.
Janji-janji terucap, lengkap dengan rayuan manis yang tak jarang hanyalah gombal belaka. Sampai pada akhirnya perasaan yang melambung, khayalan yang terbang menyangkut pada gemawan di ketinggian. Salahkah bila saya menyebut ini mirip sebuah chorus? Entahlah, mungkin nama lain dari chorus adalah ekstase, sebuah kemabukan, sehingga tak jarang dalam kondisi ini banyak yang benar-benar mabuk kepayang.
Bila dua hati telah tak seiring lagi. Bergandengan tangan adalah hal yang mahal kemudian. Beradu pandang, hanyalah siratan kegeraman dan marah yang tersimpan. Pendek kata, istana gading itu kini kelihatan aslinya. Ternyata tak lebih sebuah gedung yang rapuh, seperti rapuhnya hati. Perlahan runtuh, dan meninggalkan bekas-bekas luka yang menjadi borok. Ah inilah interlude itu, saat duka, dan haru serta masih ditambah luka meraja.
Sampailah pada outro kisah. Perpisahan, yang akan selalu dikenang dalam malam-malam bertabur bintang. Ditinggalkan begitu saja, seperti sampah dalam comberan. Alasan dan pembenaran untuk mengakhiri hidup? Kemudian menjadi pilihan, yang entahlah semua bisa dan telah terjadi dalam sejarah manusia.
__________________________________________________________
Ditulis begitu saja, selepas melihat film berjudul “Music & Liric”, sambil mendengarkan musik. Membuat saya kadang mengangguk-angguk seiring irama. Membawa saya pada kesadaran bahwa lagu pun tembang, adalah sebuah kisah kehidupan, tak hanya sebuah kisah cinta. Adapun bagaimana kisah kehidupan itu, silakan dirangkai sendiri, diuraikan dan dimaknai sendiri, mungkin akan lebih nikmat barangkali.
Ps : sekali lagi mohon maaf atas ke-sok tahu-an ini. Lagi-lagi saya harus mengaku bahwa saya bukan musisi, yang mungkin menyebabkan timbul banyak kesalahan dalam penulisan istilah. Alangkah akan bahagia, bila ada seorang sahabat, musisi atau pernah belajar musik yang berkenan memberikan koreksi, atas semua pemakaian istilah dalam bermusik, seperti tersebut diatas. Terima Kasih.
Ps Lagi: penghitungan kata dan huruf pada paragraph-paragraf awal, pernah pula digunakan oleh sang penguasa chaos region, saya hanya mencoba untuk mengikutinya, terima kasih mas, sungguh menginspirasi.
28 comments so far
Leave a reply

Ah..!!!! ada narsisnya
Goop:::

Biarin weeee
Ah tapi saya malu sangat
yang saya sukai setiap kali membaca postingan mas goop adalah gaya narasinya yang lentur, mengalir, dan enak dibaca. sangat cocok kalo mas goop menulis feature. sungguh. diksinya kok enak sekali dinikmati. ttg istilah2 musik jangan tanya saya mas goop *halah* hehehehehe
justru saya tertarik utk menggaris bawahi istilah “perkawinan” yang saya perhatikan belakangan ini selalu muncul di setiap postingan mas goop *hayah* kayaknya kata2 ini kok seperti memberikan isyarat tertentu yang dihembuskan oleh hujan, angin, dan senja.
*berlalu sambil ngarep-arep undangan, ceileh*
*hayah*
Goop:::


wahhh cepet banget disamber sama Pak Sawali nih
ah ya, terima kasih pak, saya masih perlu belajar banyak nih
wahhhh…. istilah perkawinan pak?? yah itu kan karena tidak ada padanan lain yang dapat saya temukan *halah*
Sumpah, yang itu iseng. Memanfaatkan fitur WP saat saya menulis artikel.
Goop:::

eh… emang ada feature di WP tentang itu ya?? lha saya malah ga tau
pokokna makasih aja mas
hoah penyanyi yang ditulis itu keren2…
coba tambah the beatles..
hihihi….
Goop:::

maaf mas, itu hanya yang sepintas lalu terlintas saja
saya pun tau the beatles hanya “yesterday” dan “hey jude” saja
jangan bilang katro’ ya, karena memang iya
bagus -bagus lagunya
saya mau ngundang nech buat baca ini
http://realylife.wordpress.com/2007/12/21/aku-rindu-pada/
Goop:::
makasih, segera *meluncur* kesono
habis pulang kampung makin mantabh aja nih,
kayanya lagi kasmaran berat, wueleh-wueleh
Goop:::
ah pak hadi bisa ajah
waduh..kelihatan banget nih yang nulis lagi jatuh cinta.
Goop:::


ah mbak cK inih, jadi maloe saya
ko bisa tau ya, padahal enggak koq, sungguh
ah kenapa bisa menjadi begini yak
tapi deskripsinya bener tuh. lagu itu seperti alur kehidupan kita aja..
Goop:::
ya kan.. ya kan…
jadi mbak cK setuju juga?? btw, mengenai istilah bagaimana mbak?? bener tak itu semua??
Khusus untuk kehidupan yang majemuk …partitur sepertinya bisa kita menganggapnya sebagai tuntunan (atau aturan?) dalam kehidupan
Kita bisa membayangkan suatu grup orkestra yang memainkan ,musik tanpa menggunakan partitur. Resiko terjadinya kesalahan akan lebih besar daripada dengan menggunakan partitur.
Partitur (yang ditujukan) untuk mencapai keselarasan harmoni … jika ada satu yang menyalahi pakem partitur mungkin nada yang tercipta akan sedikit “aneh” … ya walau tidak bisa dipungkiri keanehan tidak selalu berkonotasi negatif, tetapi bisa juga dari penyelewengan partitur tersebut justru akan tercipta nada yang lebih indah.
Tetapi dalam kehidupan bermasyarakat yang dalam hal ini saya analogikan sebagai suatu kumpulan musisi, maka partitur akan sangat membantu terwujudnya keharmonisan bersama.
Memang terkesan partitur tsb akan membatasi kreativitas individu … dimana masing2 individu akan terkekang untuk melakukan improvisasi. Tapi, manakah yang lebih penting dalam kehidupan majemuk … ego pribadi atau keharmonisan bersama?
Goop:::

seperti biasa mas, dikau menemukan dimensi lain itu
tidak pantas sebenarnya saya menambahkan koment ini,ah tapi dikau pasti protes
jadi, saya hanya kagum saja padamu…
haibat lah…
hooo…ternyata benul. dari kmaren-kmaren dolo sangadh, uda bicara soal cinta, dan sekarang bicara lagi dengan agak lebih terang-terangan, mhuehuehuehuhue
ah ya, uda nonton film music and lyric yak? filmna bagos sangadh yak! keren! walofun saia lebih suka fada bagian semi-akhir, waktu si cora corman jogedh-jogedh erotis…
ah ya, ada film yang lebih bagos lho faman! judulna holidays. uda fernah nonton belom?
Goop:::
lebih terang-terangan bagaimana hoek??
eh memang ada cora corman jogedh erotis?? saya lupa
holidays belum pernah liat, seperti apa??
gw mo komen apa yak? ntar deh..nonton pelemnya dulu..
btw, goop ini emang tukang dongeng
Goop:::


yupe, silakan nonton dulu kang
wah… setelah didongengkan terus tidoo ke??
btw ko bisa ya?? apa dikau sekarang ini terlelap sobat??
Aku setuju dengan pandangan-mu yang mengatakan kalau hidup ini memang seperti alunan musik kok Goop. Ada tinggi rendah-nya, tempo-nya juga, persis seperti hidup kita. Bahkan dari sudut pandang improvisasi musik dan tidak sekedar mem-baca partitur-pun tidak jauh ber-beda dengan kehidupan kita.
Goop:::
yupe Bang!!! setujuuuuu
Dan seperti-nya menurut-ku postingan ini tentang kamu yang sedang jatuh cinta? Kalau iya, ber-arti semoga ber-hasil ya Goop, dan semoga alunan musik itu tidak akan ber-henti
Goop:::
wah, makasih Bang!!!
tapi ini bukan saya ko’
mohon teteup do’akan saja yakz, amiennn
saya cuman bisa genjrang-genjreng ga keruan
Goop:::

lha masih mending bro
daripada saya cuman tereakk-tereaakkk ga karuan
jatuh cinta?
+makan tu cinta+
kabur…..
Goop:::

eh… emang bisa??
makasih sudah mampir
don’t look back in anger?
kalo saya yang nyanyi pasti semua kaca pecah
Goop:::

ah tante itik tau lagu itu jugak ya???
ugh senengnya….
gapapa ko tante, saya akan dengerin
meski sambil pasang earphoneAh, cinta tak bermakna kalau tidak dirasakan seperti halnya Edwin VDS – penjaga gawang Juventus dulu – berhasil mempertahankan gawangnya dari serangan pemain Inter Milan. Tapi tidak sama dengan tulisan yang kreatif, biar jarang dibaca tapi indah tak terkira. Tokh pastinya Tuhan ikut membaca, apalagi tulisan kreatif dan banyak yang baca seperti yang Anda tulis ini. Sungguh keren – dibuang sayang
Goop:::

cinta tak bermakna bila tidak dirasakan, yup, setuju bro…
tapi contohnya edwin VDS itu maksudnya bagaimana bro??
ah, makasih mas atas apresiasinya, saya hanya mencoba bertutur saja koq
Pada saat chorus berlangsung, disinilah emosi penikmat diaduk..
Dan kemudian turun merendah.. Perlahan..
Inilah fase dimana penikmat disuguhkan kenyataan lain bahwa sebentar lagi kegandrungan ini harus berakhir..
Ah, jadi ingat bukunya Cak Nun yg “Ayunan Ritmis Kaki Sang Kyai”, paman..
*maafken dgn ke-sotoy-an saya*
Goop:::
kegandrungan pada apa mas??
dan tidak ada yang perlu dimaafkan dengan soto, malah enak koq
makasih yak
Chrisye kalee mas..
hhmm, kalo dt sih skrg lagi suka dengerin lagunya DUO MAIA – Ingat Kamu..
*gak ada yg tanya yah?! he5x..*
Goop:::

wah… makasih dt utk koreksi nama Chryse…
tapi biarlah tetap begitu, saya lupa dimana penghapus berada
*ikutan dengerin maia*
heeeeeeem…..
daku pernah menuliskan ini dan kujadikan comment disini
Melodi of life ..yup hidup ini memang seperti.melodi….at least menurut gw…coba aja lo dengerin radio or Muziek…
..ada nada sendu, bahagia , suka duka ….bahkan mungkin ada nada yang lo nga ngerti…alias nada gubrak2( kata sponge bob)…sambil berkata apa sech nich maksud nya…nga jelas
begitu juga hidup ..klo lo tertawa nada (lagu) yang lo nyanyiin pasti nada bahagia
klo lo lagee sedih nada lo pasti nada duka….
klo yang lagi putus asa pas dengerin lagu sheila on seven …emmm ” berhenti berharap” ( bukan saran lho ..he3 ..)
tapi semua nya depend on u dalam milih irama nya…bisa aja khan lagu sedih klo yang nyanyi serius band , jamrud,greenday, emmm …lo jinkrak..sambil cengengesan ..atw sambil teriak ….ayoooo …mang…..begitupun sebalik nya klo lage bahagia n yang nyanyi om crysh (cryshe red..)..lo bayangin aja dech…..(gambaran cara lo menghadapi hidup)
aduuuuuuuuh pokoknya ..ya begitu dech…all depend on u to understand what I have been saying…
..yang jelas apapun nada lo , irama yang lo pilih …life must go on…
halaaaaaaaaaah paman daku maki tambah ngak nyambung ajah
hehehehhehhehehhe
paman nyanyiin lagu kembang pete nya iwan Fals dunk hehhehehhe
numpang nyampah
Goop:::
dhe…
meski namanya dhe nggak pernah nyambung, tapi yang ini lebih dari pada nyambung…
malah memberikan dimensi lain, dan itu bagus sekali
makasih ya dhe…
Tulisan paman ini memang sangat enak dinikmati. Seperti alunan musik yang selaras itu. Dari nada rendah ke nada tinggi, dari nada tinggi ke nada rendah kembali. Tinggi, rendah, keras, lembut berbaur menjadi satu lalu bisa menciptakan sesuatu yang baru dan merdu.
Goop:::
ah mbak hanna bisa aja
saya jadi maloe
*ditabok*
saya beberapa kali membaca puisi yang bergaya prosa dan prosa yang bergaya puisi. dan kategori terakhir itu yang sepertinya cocok dgn tulisan ini.
Goop:::
kalo teman saya bilang, saya kebingungan antara prosa dan puisi mas
tapi, bukankah itu hanya media saja??
terus terang, saya lebih menikmati alur ceritanya dan pilihan kata yang lentur dan mengayun. saya terbuai dan akhirnya melupakan apa maksud dari tulisan ini. i’m sorry…
Goop:::
mungkin memang tidak bermaksud apa-apa mas…
dan kesan yang timbul silakan saja, tak ada batasan disini
saya cuma tidak bisa membayangkan seandainya musik tidak ada di dunia ini. seperti apa kita ya ?
Goop:::

saya pun mencoba membayangkan,
menurut saya jawabannya biasa saja hehe
bila musik tidak ada, bukankah kita tidak pernah mengenal apa namanya musik??
ah maaf sok tau barangkali saya, dan makasih mas untuk apresiasinya
paman, musik n lirik itu udah beredar di pedagang dan pembroker VCD2 bajakan di SOLO blm yah? di blkg kmps UNS ada jg kan harusnya?
waa, sy harus liat nih paman..
humm, paman dr klaten ini memang pnya intuisi yg joss tenan, seperti teh anget di wedangan hik blkg kmps.
Goop:::
wah saya kurang tau tu… lha coba aja dicari…
btw bukannya bagusan yang original ya?
oya, di solo ada juga penyewaan VCD kan??
nggghhh saya dari magelang mas, kebetulan aja lagi di klaten gituuu
lebih menikmati musik dari nada-nada nadi yang menggetarkan jantung, dan debar-debar cinta yang memudakan napas….
Goop:::
ah… tak ada yang lebih bisa mengungkapkan itu, selain dikau mas
terima kasih, telah mampir di sini
lagu,musik kadang lebih bisa mengatakan perasaan kita,lebih bisa mewakili otak kita dalam bernubuat..
Goop:::
eh mungkin juga mas, karena musik bisa melewati batas ruang dan waktu
ah, semoga saya tidak salah ataupun sok tau
ya, saya juga sangat suka dengan musik
tapi musik itu nggak enak cuma di tulis doang. di buat di partiture dan nggak pernah di maenin.
untuk memainkan musik juga diperlukan sebuah partiture kadang2 tapi nggak mesti juga.
cuma, tiap2 orang kadang memainkan partiture yang sama ataupun lagu yang sama dapat memberikan warna yang lain.
seperti kalau ngeliat band membawakan satu lagu. ada beberapa alat musik yang dimainkan di sana walaupun lagunya tetap sama bahkan ada yang memakai alat musik yang sama dalam satu band tapi memainkan nada2 yang berbeda tapi malah mebuat lagu yang dimainkan semakin indah dan nyaman buat di dengar.
latar belakang dan kepribadian seringkali membuat lagu yang dimainkan memberikan kesan yang berbeda bahkan sering kali seperti menjadi lagu yang baru alias nggak sama seperti lagu asalnya tapi kadang2 malah jadi lebih bagus dan makin enak di dengar.
mungkin saya sedikit memaksa comment saya ini sedikit nyambung sama pragraph terakhir2, menyamakan lagu dengan kehidupan. tapi mungkin aja nggak ada yang protes kalau saya bilang didalam “kisah cinta diantara dua anak manusia” masing2 juga memainkan instrumen yang berbeda dengan selera dan background yang berbeda pula. seperti dalam ngeband kadang perbedaan tersebut menimbulkan warna baru yang bagus dan nyaman wat di dengar. tapi kadang2 perbedaan tersebut yang membuat hubungan tersebut menjadi hancur dan berantakan. “ego dan keharmonisan” memang sangat perlu diperhatikan dalam bermusik, tapi kadang2 dalam suatu musik justru yang dipentingkan adalah lagunya jadi kadang2 ego justru di tuntut berperan penting menjaga keharmonisan. tapi juga kadang sangat diharamkan muncul karna akan membuat perpecahan dan menghancurkan harmonisasi. tidak ada patern yang jelas untuk musik yang bagus dan enak di dengar ma saya, tapi yang penting saya nyaman dan suka dgn cara membawakannya. dan lagu itu terdengar nyaman di telinga saya. walaupun kadang2 kata orang gak ada harmonisasinya. lagu itu akan saya putar terus berulang-ulang yang penting saya suka lagunya nggak peduli dengan aturan, patern2 serta jenis kategori musiknya. saya toh bukan orang musik. tapi saya suka dengerin musik huhuhu
Goop:::
ah maaf bila sok tau saya ini 

ini malah seperti ahli musik, meski mengaku hanya mendengar musik dan bukan orang musik
oya, kalo boleh, saya hanya akan menggarisbawahi, bahwa apa yang dikau tekankan adalah perbedaan yang harmonis…
tapi tentu, harmonis disini juga berbeda, karena dikau tidak peduli pada harmonisasi sebuah musik yang dikau dengar, sementara ada orang lain yang begitu peduli
oya, dan makasih sudah mampir
Dunia sepi tanpa musik
Goop:::
yup bro, setuju
wah, indah sekali ini, sungguh sebuah filosofi yang berdentingan dari kedalaman musik. kukopi ya, siapa kubutuhkan untuk sesuatu. bolehkah?
Goop:::
wah terima kasih mas,
boleh saja, silakan…
hanya saya tidak berani menjamin kebenaran semua istilah diatas
mungkin perlu di cross chek dengan musisi terlebih dahulu
tanpa perlu cross check ah.
cuman mau komentar gini….
mumpung ada yang baru di kantor, mbok yao dicoba to mas paman uncle goop…. biar kita tahu kualitas vokal mas paman uncle goop.
Sip… lah pokoknya
Goop:::
*
Hahaha *
tentu pak, bila ada kesempatan akan ikut mencoba
makasih
saya percaya partiture adalah suatu hal yang perlu dilestarikan.
sepertinya partitur itulah yang merangsang kreatifitas…. kalau belajar secara auditorik… pake kuping…. biasanya kreativitas gak muncul, yang ada ngopi….
Goop:::
hehe, malah nda’ pernah terpikir oleh saya
makasih mas, tambahan informasinya ini