Kuasa
Coretan berikut ini, adalah hasil copy paste dari blog friendster saya. Keadaan bangsa dewasa ini, yang seakan mengingatkan kembali tentang kekuasaan menjadi sekedar pembenaran atas ditera-nya kembali tulisan ini. Saya sudah mencoba beberapa kali untuk menulis topik yang sama, tapi hasilnya selalu tak sesuai dengan yang saya harapkan, tak pernah lebih bagus daripada tulisan ini. Oya, sedikit gambaran juga saat masa-masa awal saya menulis, yang lebih banyak kegelisahan terasa disana. Menjadi ajang bernostalgia juga bagi saya, saat saya masih suka melihat rembulan, bersama alunan Emha Ainun Nadjib. Akhirnya, selamat menikmati….
Adigang Adigung Adiguno
adalah simbol kekuasaan karena kelebihan yang dimiliki oleh seseorang
adigang adalah lambang dari kijang yang memiliki kecepatan
adigung adalah lambang dari gajah yang memiliki kekuatan
adiguna adalah lambang dari ular yang memiliki bisa
kelebihan, yang dikaruniakan Tuhan yang maha baik kepada manusia
seyogyanya digunakan untuk memakmurkan bumi-Nya
ada orang dengan kecepatan, kekuatan dan kemampuan lain yang mengagumkan
sehingga dia dipilih oleh sebagian yang lain untuk menjadi pemimpin
harapannya tentu saja agar ia dapat memimpin yang lain menuju kepada kebaikan
namun
menjadi pemimpin ternyata dibarengi dengan berbagai hak yang menyertainya
hak untuk mengatur orang lain, hak untuk menjalankan dan mengambil keputusan
hak untuk mengimplementasikan aturan yang ada di bawah ketiaknya dan seterusnya
bagaimana kemudian jika hak tersebut terselip keinginan pribadi di dalamnya
keinginan untuk menjadi lebih dari orang lain
lebih kaya, lebih mampu, lebih berkecukupan, lebih jaya?
dia akan menggunakan kekuasaannya, untuk mencapai keinginannya tersebut
kekuasaan menjadi absolut, dan akan diusahakan agar tetap langgeng
diktator bukanlah hal yang terlalu mengejutkan kemudian
akhirnya, biarkan aku menjadi diktator
yang berkuasa penuh atas diriku
menguasaiku untuk tidak berkuasa atas orang lain
Emha Ainun Nadjib tentang kekuasaan:
Menyorong Rembulan
oleh : Emha Ainun Nadjib
Gerhana rembulan hampir total, malam gelap gulita,
matahari berada pada satu garis dengan bumi dan rembulan
cahaya matahari yang memancar ke rembulan
tidak sampai ke permukaan rembulan karena ditutupi oleh bumi
sehingga rembulan tidak bisa memantulkan cahaya matahari ke permukaan bumi
matahari adalah lambang tuhan, cahaya matahari adalah rahmat nilai kepada bumi yang semestinya dipantulkan oleh rembulan
rembulan adalah para kekasih allah, para rasul, para nabi, para ulama, para cerdik cendekia, para pujangga
dan siapapun saja yang memantulkan cahaya matahari atau nilai-nilai allah untuk mendayagunakannya di bumi
karena bumi menutupi cahaya matahari maka malam gelap gulita
dan didalam kegelapan segala yang buruk terjadi
orang tidak bisa menatap wajah orang lainnya secara jelas
orang menyangka kepala adalah kaki
orang menyangka utara adalah selatan
orang bertabrakan satu sama lain
orang tidak sengaja menjegal satu sama lain
atau bahkan sengaja saling menjegal satu sama lain
di dalam kegelapan orang tidak punya pedoman yang jelas
untuk melangkah,
akan kemana melangkah,
dan bagaimana melangkah
ilir-ilir, kita memang sudah nglilir
kita sudah bangun, sudah bangkit bahkan kaki kita sudah berlari kesana kemari
namun akal pikiran kita belum, hati nurani kita belum!
kita masih merupakan anak-anak dari orde yang kita kutuk di mulut
namun ajaran-ajarannya kita biarkan hidup subur
di dalam aliran darah dan jiwa kita
kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik
kita mencerca maling dengan penuh kedengkian kenapa bukan kita yang maling
kita mencaci penguasa lalim dengan berjuang keras untuk bisa menggantikannya
kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara setan,
yakni melarangnya untuk insyaf dan bertobat
kita memperjuangkan gerakan anti penggusuran dengan cara menggusur
kita menolak pemusnahan dengan cara merancang pemusnahan-pemusnahan
kita menghujat para penindas dengan riang gembira
sebagaimana iblis, yakni kita halangi usahanya untuk memperbaiki diri
siapakah selain setan, iblis dan dajjal
yang menolak khusnul khotimah manusia
yang memblokade pintu surga
yang menyorong mereka mendekat ke pintu neraka
sesudah ditindas, kita menyiapkan diri untuk menindas
sesudah diperbudak, kita siaga untuk ganti memperbudak
sesudah dihancurkan kita susun barisan untuk menghancurkan
yang kita bangkitkan bukan pembaharuan kebersamaan,
melainkan asyiknya perpecahan
yang kita bangun bukan nikmatnya kemesraan,
tapi menggelegaknya kecurigaan
yang kita rintis bukan cinta dan ketulusan,
melainkan prasangka dan fitnah
yang kita perbaharui bukan penyembuhan luka,
melainkan rencana-rencana panjang untuk menyelenggarakan perang saudara
yang kita kembang suburkan
adalah kebiasaan memakan bangkai saudara-saudara kita sendiri
kita tidak memperluas cakrawala dengan menabur cinta,
melainkan mempersempit dunia kita sendiri dengan lubang-lubang kebencian
dan iri hati
pilihanku dan pilihanmu adalah apakah kita akan menjadi bumi
yang mempergelap cahaya matahari?
sehingga bumi kita sendiri tidak akan mendapatkan cahayanya
atau kita berfungsi menjadi rembulan, kita sorong diri kita bergeser ke alam yang lebih tepat
agar kita bisa dapatkan sinar matahari, dan kita pantulkan nilai-nilai tuhan itu kembali ke bumi??
32 comments so far
Leave a reply

Goop:::

Mohon maaf hanyalah nostalgia dan copy paste, ide-ide itu masih ada namun berlarian, mengular dan berkejaran saling membelit. Terlalu liar untuk tak tertangkap.
Tidak menyinggung pula cinta, sehingga semoga tidak menimbulkan penafsiran adanya pernikahan ataupun undangan
bukankah power does tend to corrupt?
Goop:::
sepertinya sih begitu, seperti saudara kembar, yang seiring sejalan
paman, yg nyemplung ke air itu apa?
kuasa?
Goop:::
barangkali bro…
saat kuasa menggoyangkan ketenangan, bayangan rembulan pun memudar
*ahh apa lagi ini??*
minta cerpen! minta cerpen!
Goop:::

hahaha…
sabar ya… lagi direbus nih
Kekuasaan itu semenarik goyangan samba – membuat ketagihan bak kena pelet, sehingga tiada orang yang mau turun dari tempat duduk jabatannya walau sudah diperingatkan kalau dia bakal kena ambeien …
Goop:::
*
heeee….
berarti pemain bola brasil pada kena ambien semua mas??
*ditabok, karena OOT sendiri, makasih ya mas
*hahahahahahahaha
udah nembak duluan, koment vertamax menjadi milik sahibbul blog, halah. eeee, masih ditambah ndak boleh nyinggung masalah pernikahan dan undangan, hehehehehe
Emang ada ya Mas Goop komen yang selalu nyinggung2 soal begituan? hiks. Tiarap!!! *
Goop:::
ahaha…
lah inilah pak, perjuangan manusia yang paling berat, yaitu melawan lupa
Mas Goop, tiba2 saja saya jadi teringat pernyataan sejarawan Inggris Lord Acton yang menyatakan bahwa kekuasaan pada dasarnya cenderung korup, dan kekuasaan absolut hampir pasti korup secara absolut pula. Konsep kultur Jawa yang senantiasa manjing-ajur-ajer dalam setiap peradaban sebenarnya sudah banyak memberikan “warning” bagaimana seharusnya manusia menjaga “laku” hidupnya. Adagium “adigang, adigung, adiguna” sebenarnya konsep yang bagus. sayangnya, seperti yang disentil novelis Cheko, Millan Kundera”, salah satu perjuangan manusia yang terberat adalah perjuangan melawan lupa. Kalo seseorang sudah masuk dalam lingkaran kekuasaan orang jadi lupa pada jatidirinya. itulah sebabnya, belakangan ini makin banyak saja penuasa yang harus berurusan dengan KKN.
*halah, maaf kalo sok tahu mas goop*
Goop:::
yak pak, tepat sekali…
karena lingkaran lupa itu pula yang katanya membuat sejarah juga berulang-ulang terus
*aku ndak nyinggung2 pernikahan dan undangan loh*
*slamet, slamet*
Goop:::


lha ini apa pak?? jahhhh
Seperti-nya ini per-tanya-an yang sering men-dengung dalam hati tiap orang yang masih peduli akan ke-adil-an Goop. Dan Cak Nun, telah me-nuang-kan-nya dalam baris kata demi kata. Dan kamu, Goop, telah meng-angkat-nya sebagai bentuk ke-gelisah-an mu.
Semoga, ini bisa ber-ubah yaks, tapi ntah kapan
Goop:::
asal harapan itu masih ada Bang, barangkali ada pula jalan
semoga Bang, semoga…
mhuehuehueheuheu…..
ternyata begidu pendapatmu wahai faman? bagoss..bagoss…!!!
Goop:::
begitu bagaimana hoek??
makasih
Tapi sayah justru merindukan bangsa ini dipimpin oleh diktator nyang baek ati….
Goop:::
semoga kerinduan itu segera terjawab ohm mBell…
tapi apakah ada? karena kutipan Pak Sawali mengatakan kita ini sering lupa
dulu saya juga demen sama album Emha Ainun Najib… tapi sekarang saya malah lagi demen sama albumnya anaknya Emha Ainun Najib! we he he…
Goop:::
oh…
emang siapa yak anaknya beliau??
GOOP, tersinggung saya dengan kalimat Cak Nun di atas, banyak memang diantara kita (juga saya) melihat orang lain berhasil dengan cara yang salah timbul iri terhadap hasilnya, bukankah seharusnya perbuatan nya yang kita luruskan?
Itu karena kita tidak punya kekuasaan
ya kekuasaan untuk berbuat kotor, juga kekuasaan untuk memperbaikinya.
Ah, ngelantur ya GOOP, saya nggak minta di undang kok, siapa yang ngomong?
Goop:::

setuju pak, barangkali saat kita punya kekuasaan kita juga bisa saja menjadi lupa, dan ikut melakukan hal yang sebelumnya kita cerca…
menjadi polemik memang
dan apakah bapak diundang?? ini undangan apa ya??
O,ow…
Aku komengnya kutip sebait puisi laozi ya, Paman?
“yang bermaksud menguasai dunia dan merekayasa dunia
kukira tak akan berhasil, sebab
dunia adalah sarana rohaniah yang bukan untuk dikuasai
siapa yang melakukan sesuatu padanya, akan merusaknya,
siapa yang mengenggamnya di tangan , akan terlepas lagi.”
Goop:::
wah bagus mbak, tapi…
kemudian apa yang harus kita lakukan bila kita tak boleh melakukan sesuatu, pun sekedar menggenggam??
tidak masalah asal dia menggunakan kuasanya dengan bijak..oke?
Goop:::
yup, tapi semoga saja dia tidak lupa
Kegelisahan telah melahirkan kata
Ketika melihat kuasa kembali nyata
Kegalauan telah menetaskan kata
Ketika merasa kuasa kembali jaya
Seperti rembulan yang selalu setia
Muncul setiap genap purnama
Nanti kemudian menghilang dibalik gelap
Menunggu dengan gagap
Begitulah kehidupan semula jadi
Berputar terus kembali lagi
Tapi kita sering alpa dan lupa diri
Padahal cukup berkaca pada matahari
Goop:::
*
yup Bang, kegelisahan, kegalauan, berputar dan kemudian lupa *
btw, saya suka rima-nya Bang
kekuasaan tidak bisa dilepaskan dari korupsi sepanjang masih ada oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Sebaik apapun sistem pemerintahan tersebut kalo masih ada oknum, pasti akan ada penyalahgunaan kekuasaan tersebut. Jadi kesimpulan saya adalah bagaimananpun bentuk sistem kepemerintahan apakah demokrasi, diktator, kaisar, kerajaan atau apapun itu adalah baik sepanjang yang memegang kekuasaan dan kroni-kroninya menggunakan kekuasaan tersebut sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat atau menomorsatukan rakyat dan bukan untuk diri sendiri.
Maaf jika salah
Hanya ingin berkomentar yang agak berat dibaca *halah*.
Goop:::
*
yup pak, betul sekali dan oknum itu bisa siapa saja, dari mulai penguasa, sampai dengan aparatnya, bila ada kesempatan serta peluang untuk itu. *
huhuuh dalem banget
saya juga pengen jadi diktator kalo gitu.
yang saya tangkap dari coretan kedua seringkali kita menyelesaikan persoalan anarkis dengan gak kalah anarkisnya.
semoga saya dapat belajar lebih banyak dari sana.
thx
Goop:::
*
*
eh, dia ikut-ikutan *
tapi awas penyakit lupa lho mas *
makasih yak
Ah, paman goop, dirimu mengingatkan kembali diriku pada buku terfavorit tulisan Emha Ainun Nadjib, “Sedang Tuhan Pun Cemburu”… sayangnya, buku itu ilang, dipinjem tak dikembalikan.. sampean punya.. minta dong fotokopinya..
Goop:::
*
*
*
aduh, maaf pak gempur, saya malah belum pernah dengar itu *
keliatannya bagus, lha dulu dapet dimana *
makasih yak *
bagus sekali puisinya.
emha ya? saya jarang baca karya beliau. tapi yang ini bagus banget.
Goop:::
*
benernya ini bukan puisi yang tertulis mbak,
aduh gimana ya, *
soalnya ini jadi satu dalam album padang mbulan-nya *maaf sudah agak lama, jadi lupa judul persisnya*
Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa..
-Milan Kundera-
*nunggu undangan*
Goop:::
*
*
*
mana undangan hah!! hah!!
*
wah berat nih Mas … berat postingannya, kayak baca bukunya Emha Ainn Nadjib
Btw makanya dulu saya ikutan demo thn ‘98 karena itu , melawan kediktatoran.
Goop:::
*
*
*
*
wah mungkin memang puisi Emha Mas, yang lumayan mengernyit *
btw, saat 98 saya masih SMP *
makasih mas
Yang pasti setiap perubahan, setiap desakan, setiap kekuasaan kita kembalikan kepada pemilik napas kita … dan berlindung dibawah ke Maha-anNya agar tidak menabrak matahari ketika sedang jawa dan tidak ditabrak bulan ketika sedang gelap.
-Ade-
Goop:::
*
yup mbak…
namun jangan lupa, godaan lupa selalu mengintai
*
makasih ya mbak
hati sifatnya bolak-balik
=================
mangkanya ada lagu yang judulnya JAGALAH HATI
eh lam kenal ya mas
Goop:::
*
iya, memang segumpal daging itu yang menentukan *
salam kenal pula, terima kasih sudah mampir yak
perhaps those who are best suited to power are those who have never sought it.
Albus Dumbledore – Harry Potter and the Deathly Hallows
Goop:::
*
belum baca
*
tapi barangkali benar apa yang dikatakan tuan Albus
makasih mas
kekna bisa jadi saingan Cak Nun nih.. hehe..
bener itu… lihat aja “mereka” yang di kursi sekarang…
analogi gerhana bulannya bagus sekali, paman…
masuk.
Goop:::
*
eh itu kan yang buat cak Nun, saya hanya pengantar tentang AdigangAdigungAdiguno saja *
makasih mas
Aiya, aku suka dengan puisinya. baca lagi, baca lagi.
Bukan tak boleh melakukan sesuatu, Paman. Ia berjasa tapi tak menuntut apa-apa. Ia memimpin tapi tak memerintah. Tapi, ya, susahlah. Manusia sering lupa siapa dirinya ketika berkuasa.
Goop:::
*
*
yup, saya juga suka *
nah ya kan, lupa lagi ujung-ujungnya…
lama-lama saya malah bertanya, lupa beneran atau sengaja lupa *
Power tends to corrupt, and absolute power corrups absolutely. Great men are almost always bad men.
(kutipan favoritku sepanjang masa, dari Lord Acton)
Setelah berkuasa? Ya, mempertahankan kekuasaan! Semuanya naluri, naluri yang bekerja!!
Goop:::
*
Yup Goen, setuju *
Eh, kebalik almost dan always… Edit dong.
Goop:::
*
udah tu bro, makasih
*
Huaaaaaaa… Bentar lagi makan2!!!,
Aku lapeeeerrr,
Undangaaaaann oommm
Goop:::
*
*
*ngayal*
enak kali ya punya kekuasaan….
jgn seperti sayah… jgn-kan memiliki kekuasaan thd orang lain, terhadap diri sendiri aja sayah ndak punya kekuasaan sama sekali….
lho, kok bisa…?
Iya, soalnya siapa yg tenggelam dg kekuasaan, posisinya berada “diambang” menjadi Tuhan…
Sekalipun dia hanya berkuasa pada dirinya sendiri, tetap saja dia ‘dekat’ dengan ‘persaingan dg Tuhan’… yaitu … me-nuhan-kan dirinya sendiri…
*kalo salah, mohon saya dicubit*
Goop:::
*
*cubit dulu, meski ga salah *
btw, bener juga apa yang tuan antar pulau bilang, berkuasa atas diri sendiri bisa menuju kepada penuhanan diri sendiri,
makasih mas, sehingga dengan rambu-rambu ini ada kehati-hatian disana, semoga
Bingung ah…
Goop:::
*
*
[...]Emha Ainun Nadjib tentang kekuasaan:
Menyorong Rembulan
oleh : Emha Ainun Nadjib
Gerhana rembulan hampir total, malam gelap gulita,
matahari berada pada satu garis dengan bumi dan rembulan
cahaya matahari yang memancar ke rembulan
tidak sampai ke permukaan rembulan karena ditutupi oleh bumi
sehingga rembulan tidak bisa memantulkan cahaya matahari ke permukaan bumi
matahari adalah lambang tuhan, cahaya matahari adalah rahmat nilai kepada bumi yang semestinya dipantulkan oleh rembulan
rembulan adalah para kekasih allah, para rasul, para nabi, para ulama, para cerdik cendekia, para pujangga
dan siapapun saja yang memantulkan cahaya matahari atau nilai-nilai allah untuk mendayagunakannya di bumi
karena bumi menutupi cahaya matahari maka malam gelap gulita
dan didalam kegelapan segala yang buruk terjadi
orang tidak bisa menatap wajah orang lainnya secara jelas
orang menyangka kepala adalah kaki
orang menyangka utara adalah selatan
orang bertabrakan satu sama lain
orang tidak sengaja menjegal satu sama lain
atau bahkan sengaja saling menjegal satu sama lain
di dalam kegelapan orang tidak punya pedoman yang jelas
untuk melangkah,
akan kemana melangkah,
dan bagaimana melangkah
ilir-ilir, kita memang sudah nglilir
kita sudah bangun, sudah bangkit bahkan kaki kita sudah berlari kesana kemari
namun akal pikiran kita belum, hati nurani kita belum!
kita masih merupakan anak-anak dari orde yang kita kutuk di mulut
namun ajaran-ajarannya kita biarkan hidup subur
di dalam aliran darah dan jiwa kita
kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik
kita mencerca maling dengan penuh kedengkian kenapa bukan kita yang maling
kita mencaci penguasa lalim dengan berjuang keras untuk bisa menggantikannya
kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara setan,
yakni melarangnya untuk insyaf dan bertobat
kita memperjuangkan gerakan anti penggusuran dengan cara menggusur
kita menolak pemusnahan dengan cara merancang pemusnahan-pemusnahan
kita menghujat para penindas dengan riang gembira
sebagaimana iblis, yakni kita halangi usahanya untuk memperbaiki diri
siapakah selain setan, iblis dan dajjal
yang menolak khusnul khotimah manusia
yang memblokade pintu surga
yang menyorong mereka mendekat ke pintu neraka
sesudah ditindas, kita menyiapkan diri untuk menindas
sesudah diperbudak, kita siaga untuk ganti memperbudak
sesudah dihancurkan kita susun barisan untuk menghancurkan
yang kita bangkitkan bukan pembaharuan kebersamaan,
melainkan asyiknya perpecahan
yang kita bangun bukan nikmatnya kemesraan,
tapi menggelegaknya kecurigaan
yang kita rintis bukan cinta dan ketulusan,
melainkan prasangka dan fitnah
yang kita perbaharui bukan penyembuhan luka,
melainkan rencana-rencana panjang untuk menyelenggarakan perang saudara
yang kita kembang suburkan
adalah kebiasaan memakan bangkai saudara-saudara kita sendiri
kita tidak memperluas cakrawala dengan menabur cinta,
melainkan mempersempit dunia kita sendiri dengan lubang-lubang kebencian
dan iri hati
pilihanku dan pilihanmu adalah apakah kita akan menjadi bumi
yang mempergelap cahaya matahari?
sehingga bumi kita sendiri tidak akan mendapatkan cahayanya
atau kita berfungsi menjadi rembulan, kita sorong diri kita bergeser ke alam yang lebih tepat
agar kita bisa dapatkan sinar matahari, dan kita pantulkan nilai-nilai tuhan itu kembali ke bumi??[...]
Cukup panjang dan mengena
Goop:::
*
*
wah mas ale CoPas doang nih *
emang jadi panjang, commentnya juga *