Selat
Selat adalah lautan yang memisahkah dua pulau. Ah itu kunoo… Selat adalah perairan diantara dua pulau. Ah sama saja… Selat mirip jembatan, menjadi penghubung diantara dua tempat. Selat seperti dan, seperti atau, seperti tapi, adalah kata hubung diantara dua anak kalimat.
Melewati selat adalah percampuran rasa. Seperti juice, campuran dari air, buah, dan gula, yang akhirnya nikmat. Ada takut yang mengendap, ada kegembiraan yang menelusup, ada khawatir yang menyeruak. Melewati selat adalah sebuah perjalanan rasa.
Saat pergi
Di kejauhan, terlihat teluk, dermaga, perbukitan hijau yang semakin jelas. Matahari memantul pada permukaan air yang keemasan. Kapal nelayan melaju cepat, ada pula yang lambat menuju pantai. Nelayan yang mengantuk, berseri-seri karena ikan di buritan yang menumpuk menggelepar malas.
Saat dimana gairah meluap-luap, membayang tempat tujuan yang begitu menarik. Lengkap dengan angan, yang seakan-akan menggembirakan. Benarkah demikian?? Karena ternyata khawatir, bagaimana bila harapan tidak sesuai dengan kenyataan? Benarkah kegembiraan yang akan ditemukan di tempat tujuan?
Di tempat asal, teluk, dermaga, dan hamparan sawah pun perbukitan kian mengecil. Matahari masih juga memantulkan cahaya keemasannya, membentuk bayangan memanjang, yang menyentuh pipi gadis yang merona, memandang gelisah.
Saat dimana kesedihan mengudara, meninggalkan tempat asal. Memandang pada kenangan, pada nostalgia yang hanya akan dikenang. Kerinduan meraja, dan rasa ingin kembali begitu besar. Ragu dan bimbang menjadi satu, pada hati, pada tempat pada embun.
Semakin ke tengah, semakin bimbang. Haruskah terjun ke laut saja? Tapi konyol. Akhirnya keberanian, gairah dan penasaran memegang peranan. Dilupakan sejenak asal, untuk nanti akan dikenang setelah sampai tujuan. Dijelang tujuan dengan pandangan pasti. Ternyata memang benar, tujuan itu begitu indah, dengan ikan-ikan kecil, berenang di tepian kapal. Walau sampah juga ikut terombang-ambing. Walau karat, juga menghiasi dermaga.
Saat kembali
Ombak memang telah tenang, mentari sore menampar dinding-dinding perbukitan. Menyembunyikan sebagian dalam bayang, dan mewarnai langit dengan tinta senja. Mayapada seakan sedang menuju peraduan, pada selimut, bantal dan guling, akan dipersembahkan seluruh pujian.
Tetapi hati, lebih gemuruh dari badai. Perasaan bergolak laksana kawah. Bercampur aduk, mirip adonan kue menjelang di masukkan dalam oven. Ada paradoks hampir pada semua wajah. Di luar terlihat begitu tenang, namun dalam hati seakan perpaduan orkestra, yang menghentak-hentak, Berdebum-debum, dalam rahasia terdalam.
Tempat tujuan yang baru saja beberapa hari dipijak, sudah akan ditinggalkan. Cerita yang terangkai seakan belum lengkap, masih ada kalimat-kalimat tambahan yang belum dibubuhkan. Seperti pekerjaan yang belum selesai, ada yang kurang. Saat dimana keraguan kembali datang, kebahagiaan ikutan nimbrung, ragu, takut, khawatir, gairah, berani, pendek kata hampir semua rasa kembali teraduk.
Bersamaan dengan berangkatnya kapal nelayan melaut, dermaga pun ditinggalkan. Oleh-oleh cerita, dan beberapa buah tangan dipeluk mesra. Tersenyum sendiri, mengenangkan hari-hari yang baru lewat. Khawatir kalau-kalau tak sempat lagi berkunjung. Sedih, karena jejak di pantai belumlah benar-benar hilang.
Tapi letih, melenakan, membuat lupa. Dibiarkan semua sedih, semua khawatir, semua ragu. Dibungkus rapi, dijadikan sebuah cerita, meski tak lengkap. Dibuka, pada malam-malam sunyi. Dikenang dalam buaian angin yang mengabarkan duka lara. Menjaga senyuman, selarik tipis tanda cinta.
Rumah adalah gairah, tempat perlindungan. Pulang adalah perjalanan paling agung, pelabuhan untuk semua resah, gelisah, gundah. Tidak selalu indah, pun megah, tapi bahkan bahagia, bisa mewujud di sudut jendela.
Dermaga asal belum berubah, dan masih sama seperti saat ditinggalkan. Temaram lampu kota menyambut malam. Gemintang dan bulan hilang, malu pada gadis berpiyama di beranda. Mengurai rambut, memandang bahagia..
Dan selat? Masih disana, menyimpan rahasia rasa…
__________________________________________________________
-Ketapang-Gilimanuk, Gilimanuk-Ketapang-
30 comments so far
Leave a reply

mana oleh-olehnya??
Goop:::
dasar…
oleh-oleh mulu
huaduuuhh..lagi liburan juga sempet mikir bahan posting..hehehe..
Goop:::
wah saya ko g mikir yak…
*sembah Guru yang sudah pulang mencari ilmu dari negeri seberang*
Guru, dimanakah dirimu menemukan kata-kata yang menyihir ini
Berserakan di pantai kah?
Atau Guru kumpulkan di sekitar jejak perjalanan?
Sudah terangkai kah ketika Guru temukan?
Atau gadis yang pipinya merona tersentuh bayangan matahari itu yang membantu Guru untuk merajutnya?
Ah, mungkin juga Guru yang dengan sabar seperti perupa2 Bali memahat kata demi kata sebagai tanda mata. Persembahan buat gadis berpiyama di beranda ketika bersauh di dermaga romansa.
Kata-kata tak banyak berserak, saat ditemukan juga tak selalu mampu menjelaskan. Tapi Guru selalu bisa membangunnya untuk menggilas batas ruang dan waktu.
*malah bikin postingan sendiri di blog orang*
Goop:::
wuah…
inih keren, asli…
tapi jangan guru donks…
ga nyaman tauuukkkk
oleh-oleh…. oleh-oleh….
*demo mode on*
seru juga tuh ke bali lewat darat dan laut gitu….
Goop:::
dasar kalo’ istrinya edy
kekeke….
benernya kalo lewat udara, mungkin bakalan lebih keren tantee
Weh…bagus juga tuh gambarnya…minta dunk
Goop:::
silakan di klik link-nya sahaja tuan
hihihi…sorry Goop. Kata Guru itu cuman ungkapan bahwa gw banyak belajar dari blog ini.. Nggak bermaksud buat memberi beban kok. Nyante lah…
Goop:::
nah gitu dunk…
hihihi…
saya sudah berdebar inih
Weh, dari pulau Dewata nih?
Ketemu Dewa apa saja?
Ahmad Dhani ada nggak?
Goop:::
hihihi…
kalau dani ada, akan saya tendang hohoho
manis… udah…
Goop:::
horee….. saya menemukan sesuatu “beberapa buah tangan dipeluk mesra”. hayo…..mbok dibagi2 unc…. hehe
Goop:::
ya ga bisa
kan lagi dipeluk mesra
“Pulang adalah perjalanan paling agung, pelabuhan untuk semua resah, gelisah, gundah”
apanyaa..
lha kalo pulang langsung inget bakal disuruh ngepel…
Goop:::
hihihi iya juga sih…
tapi katanya ngepel pun menyenangkan lho
saya mah pas ke Bali nyebrangnyah malem2 Om, jadi ga kliatan deh pemandangannyah…
Goop:::
tetep keliatan kalo saya sih…
lampu-lampu very…
pernah ngerasain jakarta-bali via darat..
emoh lagi, ga bisa menikmati!
Goop:::
barangkali dikau tidur
itu buat postingannya di mana tuh?
Goop:::
di kamar kos mas
huhuhu…pengen jalan2
Goop:::
ayuukkkk
happy valentine…..
Goop:::
makasih
*walah, lagi telat komen negh. untung sempat buka BOTD WP, halah*
Mas Goop, dalam jiwa dan eohani kita konon ada juga selat mas goop, tempat bermuara dan mengalirnya segala rasa. di situlah rasa kita selalu mengalir, setiap saat. ada suka, duka, cinta, kebencian, dendam, iri, bahkan juga dengki. semakin seringdilewati erbagai macam rasa, selat rohani kita akan semakin kuat sehingga tak terkejut lagi ketika datang rasa-rasa yang lain. tak juga marah, apalagi dendam. dan di ujung selat, akan tampak tumpukan rasa kita yang telah melewat seiring dengan perjalanan hidup kita. aha, ternyata selat indah juga untuk dikatakan. Mas goop memang piawai mengambil tamsil.
BTW, ini oleh2 yang dari Bali itu, yak mas goop. salut jugak. oleh2 rohaniah lebih bermakna ketimbang nyang lain mas goop.
selamat valentina day mas goop, semoga mendapatkan cinta terindah dari seseorang yang mau menerima mas goop apa adanya. Tulus. Tak ada pamrih, tak ada dengki, tak juga amarah.
“jaahhh, pak sawali mesti begidu”
*hiks, nebak2 pikiran mas goop saat mbaca komeng ini, hiks*
@Pak Sawali

*
makasih sangat pak, komentnya keren sekaliiii
dan ikut meng-amienkan untuk doa’nya
semoga demikian adanya
*membaca pikirannya g berhasil yakz
hoyoh…
nggak ngajak2…
minta arca aja deh…
eh gak ada yah…
hehehehe….
pasti kulit om nambah item nih….
Goop:::
buat apa arca??
ho oh moerz, dikit terbakar nih, perih dan mengelupas…
*berasa model saja, khawatir dengan kulit hihihi*
Wah waha ini tulisan bersajak, hebat nian. Aku suka banget.
Goop:::
sukurlah bila pak ersis bisa menikmati…
makasih ya pak
dari pandansari ke bali,..
tambah item donk jeung
Goop:::
ho oh…
makin banyak yg terbakar…
tapi menyenangkeun ko bozz
Selat bisa jadi inspirasi juga ya…
Goop:::
bgitulah hihihi
makasih sudah mampir
rumah saya di selat an GOR UNY…. deketnya selat an UGM…
duh… oleh-oleh plus makan-makan… tapi kapalnya nggak tenggelam kan…???
Goop:::
ga baca mesti….
kenapa gaya berceritanya selalu seperti ini?
*siul siul
Mana ole-olenya??? *nagih mode on*
Goop:::
selalu seperti ini, itu gimana kak??
apakah membosankeun?
oleh-oleh udah abis
nemu gadis separo ikan ndak di selatnya
Goop:::
hihihi…
putri duyung???
ngga tuh…
wah bakal seneng kalo nemu, akan saya pigura kang hihihi
enak ya bisa jalan2
Goop:::
ho oh
Kini giliran saya yang jalan-jalan..
Goop:::
oke bro, selamat jalan-jalan
jalang2 nggak ngajak-ngajak…
Goop:::
jalang2 apa jalan2?
rugi kalee ngajak dikau beee
baca kok… cuman lagi g niat komen aja…
lagi males bloggwalking….
Goop:::
oh iya ya, saya lupa keunikanmu tuan…
I Like this one
Goop:::
makasih
on trips terus jeng? lagi sibuk nih?
Goop:::
ngga juga benernya
lha dikau saja yang nikmatinya barengan…
ini rangkaian piknik ke Bali kemaren ko hohoho