Tua
Saat waktu memainkan perannya, sebuah hal yang sia-sia untuk sekedar mengharapkannya bisa melipat. Apakah saat waktu dilipat itu adalah sebuah kesengajaan? Karena waktu, jelas tidak bisa untuk sekedar berhenti barang sedetik. Waktu memainkan perannya justru saat dia dilupakan, diingkari dan dibiarkan berlalu.
Menjadi tua, tidak pernah terasa. Diikuti dengan pertanyaan sudah dewasakah kita saat kita tua? Apa parameter dewasa, dapat memahami segala sesuatu kah? Menyikapi segala permasalahan dengan benar? Atau mengambil keputusan yang tepat saat segalanya begitu menghimpit? Pertanyaan itu biarkan saja menjadi sesuatu yang menggantung di awan, yang terus bergerak. Dewasa ditentukan saat tanggung jawab yang disampirkan di pundak bisa dituntaskan, begitu kata seorang teman. Apakah jawaban ini benar? Karena bagaimanapun dewasanya kita, sifat kekanakan seakan tak lekang, bahkan oleh waktu yang tidak kunjung melipat itu.
Sawah adalah saksi dari perjalanan waktu. Perubahan penggunaan lahan sawah menjadi hunian, sawah menjadi pertokoan, sawah menjadi jalan, atau sawah menjadi medan lumpur menyisakan masalah tak kunjung usai. Adalah saksi, sawah yang sama masih ada saat ini, juga bertahun lalu saat di sana terjadi baku tembak memperebutkan kemerdekaan.
Sawah mengajarkan pada kita, bagaimana menikmati waktu berlalu. Tentu bersama dengan petani yang silih berganti mengolahnya. Bersama dengan kerik jangkerik saat kemarau, atau berisik kodok saat hujan. Pada tubuhnya dihujamkan cangkul, berkali-kali, diberikan aneka ragam pupuk, seperti obat yang overdosis. Tak ketinggalan, mata bajak ikut mengaduk-aduk tanah yang ada, dari saat masih ditarik kerbau yang berjalan pelan seakan membelai, sampai sekarang berpenarik traktor yang seakan menggaruk.
Sawah tak pernah protes, pada rumput yang tumbuh, pada mandi matahari, atau pada hujan yang membanjiri. Semua seakan menemukan muaranya, rumput akan hilang saat petani yang rajin menyianginya, menghilangkannya dari pematang menjadi jalur setapak yang nikmat dilewati. Mentari dibiarkan menelusup pada kelindan rambut padi yang berkelisik ditiup angin. Mengenai jangkerik, mengusik belalang yang berayun santai. Menyentuh tanah, dan menghangatkannya seperti ketiak ibu pada dekapan bayi. Hujan pun seakan bertemu dengan kekasih saat jatuh ke sawah. Tak ada lagi basa basi, seperti protokoler yang membatasi jelata bertemu dengan bangsawan. Hujan akan bebas, menggenang tanpa takut menjadi banjir. Mengalir, tanpa khawatir mengusik pematang yang terbaring tenang. Menyusup di pori tanah, memperkaya air tanah, menjadi kabar cinta bahkan di tempat yang tak terjangkau pandangan mata.
Mengolah sawah, seperti programmer jatuh cinta pada contrast dan brightness monitor. Mengolah sawah, adalah penulis yang senantiasa menajamkan mata pena. Seorang pelukis menggoreskan kuas pada kanvas yang kosong. Gubahan lagu pada sebuah orkestra hasil perenungan komponis. Mengolah sawah, adalah seni, mengeringkannya, membanjiri dengan air, mengaduk dengan cangkul dan mata bajak. Pendek kata, mengolah sawah adalah menyusun baris tag dan kode HTML, merangkai kata, menorehkan cat, atau menyusun partiture.
Biarpun tak pernah ada penghargaan akademis bagi seorang petani. Menjadi petani tidaklah mudah, ada pendidikan yang dilakukan bersamaan dengan praktek. Begitu banyak hal yang harus dikuasai, mulai dari penanggalan pertanian yang khas, penentuan rotasi tanaman, pemahaman bibit dan pupuk. Tak lupa, juga pengetahuan tentang harga hasil pertanian yang tidak jelas naik dan turunnya. Kira-kira apa ya, gelar yang pas untuk beliau-beliau ini?
Tapi, seperti diketahui bersama *halah* petani tidak pernah sibuk dengan itu semua. Harga bibit, pupuk, sewa traktor, tidak pernah sebanding dengan harga hasil pertanian. Hasil yang lahir dari rahim sawah yang diolah. Kesibukan mencari dan melakukan pembagian air bila kemarau tiba dan air jarang, juga begitu menyita waktu. Tak jarang, bahkan ditingkahi dengan perselisihan dengan tetangga rumah, tetangga desa, sesama petani yang juga butuh air. Bila penghujan tiba, air melimpah, namun bukan berarti tanpa masalah. Kadang pematang akan bocor, dan sawah tetangga kebanjiran, padahal sudah saatnya dikeringkan. Ah perselisihan yang membikin keki itu, masih saja terjadi.
Di pagi itu, saya melihat gelisah yang lain di sawah, batang padi masih bergoyang. Belalang masih beterbangan di antara batang padi. Bebek sibuk menyusupkan kepalanya di antara genangan air dan tanah. Kerbau menyusur saluran irigasi, membungkuk mencium pucuk rerumputan, mengunyah pelan. Petani sibuk mencangkul, gembala kerbau dan bebek menatap tak lepas piaraannya. Tetapi semua gelisah.
Pada siapakah tongkat gembala akan diserahkan? Kemanakah padi akan mengucapkan terima kasih atas air yang melimpah saat kemarau? Memandikannya dengan siraman mentari dan guyuran angin? Siapakah yang akan menyiangi rumput dan membersihkan pematang?
Sebentar lagi semua itu akan terjadi. Petani itu telah tua, kebanyakan sudah berumur. Masih giat mencangkul, seperti giatnya mereka ke masjid, membenamkan seluruh harapan pada sujud panjang. Niat mereka adalah ibadah, dengan mencangkul, dengan sujud. Menuju pintu gerbang kematian yang sudah terbuka, melambai mesra penuh cinta. Seperti kerinduan, seperti syukur, seperti cinta terpendam yang menemukan muara. Dan do’a, tercurah tiada henti, pada anak di kota, yang tersesat di hutan beton, mengukur panjang jalan, melupakan waktu pada keringat di badan, menghitung hari sepi di tempat ramai.
Sawah pun masih di sana, menunggu tangan-tangan segar mengolahnya. Menjadi saksi perjalanan waktu, peran yang dimainkan waktu. Menemani petani menikmati hidangan dalam rantang, yang dibawakan istri dari rumah sambil berdendang. Lagu kerinduan, madah do’a, pujian syukur, untuk anak, untuk alam, untuk batang padi, butiran air, dan gubug persegi.
Kemudian sambil berpegangan tangan dan berpandangan, bersama mereka akan menerawang….
__________________________________________________________
Sebuah postingan untuk mendukung Pak Gempur dalam kampanyenya untuk petani. Mohon maaf Pak, bila saya menerjemahkannya seperti ini.
Terima kasih, untuk Jiki, yang meminjamkan “waktu memainkan perannya” dan maaf karena tidak sempat memohon permisi. Polesan itu masih ada, tidak untuk menjadi bukan seakunya, tapi barangkali itulah aku. Ekstase saat kutitipkan makna pada lipatan ornamen kata. Saat fokus justru baur, mengular tiada bingkai. Entahlah…
26 comments so far
Leave a reply

sayangnya memang tidak mudah untuk menjadi petani saat ini. kurangnya keberpihakan pemerintah kepada petani membuat banyak petani menjadi menyerah dan pindah untuk mengejar uang di tempat lain.
belum lagi lahan sawah yang semakin menyusut karena industri.
*jadi miris*
Goop:::
begitulah tante…
adakah yang bisa dilakukan?
aku pernah membekukan sekelumit waktu
memotongnya sedikit
lalu kusimpan dalam lipatan album
tapi waktu adalah pembangkang
dia tidak bisa diam
lalu potongan itu adalah kenangan
terinspirasi dari gambar pak tua yang pegang foto itu bro…
Goop:::
god job bro,
brilliant
Lah, saya kok malah melihat indahnya kehidupan di artikel ini bro? Saya masih normal nggak ya? *kontemplasi*
Goop:::
mungkin kita lebih sedikit dari normal…
hahaha
Muda itu pasti..
Tua belum tantu nyampe..
Jadi harus menghormati orang tua yang pernah muda…
Nyambung gak?!?!?!
Goop:::
barangkali sedikit nyambung,
tapi apakah cukup hanya menghormati?
kalopun *mungkin* nyampe, kita akan menjadi tua juga bukan?
apakah dihormati itu yang kita butuhkan?
mungkin harus menjadi tua dulu hehe…
saya pernah ketawa melihat seorang insinyur pertanian tak berkutik di hadapan petani tua. Sang insinyur dengan pedenya mencoba mengajari beberapa petani tua di lereng gunung merapi tentang sebuah tanaman yang terserang penyakit.
Tapi pada saat sang insiyur kepentok masalah, dia tak bisa berbuat apa-apa, sementara sambil tersenyum, petani tua hanya bilang bahwa dirinya sudah berbaur dengan sawah sepanjang umurnya. Dia tahu persis masalah sawahnya dari A sampai Z. Hingga akhirnya, sang insinyur harus bertekuk lutut di hadapan pak petani tua.
Dengan tetap sopan, pak petani tua bilang bahwa tanaman di sawahnya terserang penyakit karena bibitnya yang tidak cocok dengan lingkungan sekitar. setelah diganti dengan bibit lokal, ternyata penyakit yang ada hilang dengan sendirinya…
wah renungan paman goop sangat dalam nih
Goop:::
ingin juga sih mengungkapkan itu, hehe, tapi saya tidak mengerti detail ceritanya. makasih mas, karena menambahkan sebuah guratan yang lupa tidak saya sentuh
yang terjadi saat ini adalah, banyak bayi bertubuh dewasa. Meski sudah tua umurnya, tapi kelakuannya masih kayak anak-anak. begitu kali yah paman…
Goop:::
hihi, paradoks ya mas
kita semua menjadi tua dalam aliran waktu.
Dan tak ada yang bisa menghentikannya.
Namun, yang tak pernah menua adalah kenangan kita pada setiap momen kehidupan.
Saat kita mengingatnya kembali, maka waktu pun seolah abadi.
^_^
Goop:::
seperti menitipkan dalam lipatan waktu ya teh
ah, makasih teh
Hidup Petani……..tanpa mereka kita mau makan apa?
Goop:::
entah…
tanpa petani…kita mau makan apa?
Goop:::
saya juga bertanya-tanya
Sebentar Paman, saya kok agak bingung… habis membahas Tua kok malah membahas sawah?
*berasa deja vu
Goop:::
hahaha…
baca kan?
ya begitulah…
Ah, paman bisa saja..
serius, postingan kau kali ini membuat saya merasa tertampar..
Seperti ada yang salah pada diri saya, tapi saya nggak tau apa yg salah itu..
Goop:::
walah
apakah ada bekasnya? mau saya poto hihi
Polesan keprihatian akan nasib petani yg sedari muda ampe tua, yach hidupnya gitu-gitu aja.
Malahan kyknya mulai tersingkirkan lantaran bangsa ini lebih senang mengimport segala sesuatu dr luar sana.
Bukannya menikmati masa tua dgn bahagia dan tenang, mlh masih hrs berjuang utk hidup yang nga menentu.
*sedihprihatinkesal*
Goop:::
bgitulah kak, senyatanya yang terjadi.
tapi pernahkah menanyakan apa kebahagiaan bagi mereka?
Kalau guru mogok ngajar….murid masih bisa belajar sendiri, lha kalau petani yang mogok menanam….bukan main…. harga harga sembako meroket, sementara kantong rakyat semakin menipizzz…akhirnya habizzzz….rakyat akhirnya memakan para koruptor dan pejabat….rakuzzzz
Goop:::
yang saya bayangkan adalah saat petani menanam untuk dirinya sendiri…
kapok kowe gyahahaha
tapi sepertinya ini tidak mungkin, karena petani tidak hanya butuh makan, hiks
saya sedih paman karena pekerjaan saya dulu menanam bawang di probolinggo……yang kaya bukan petani tafi tengkulaknya
Goop:::
argh, sisi yang terlewat lagi.
barangkali ini bisa menjadi postingan yang menarik tuanku Daeng
bolehkah, saya menunggu dikau menorehkannya?
Sayangnya petani Indon
gembelmiskin terus, ya Goop….???Kapan ya, kayak di Korea, Jepang,…..
Goop:::
mungkin seorang marketing handal bisa membantu ohm mBell hehe…
Ya kolaborasi dalam perumpamaan yang sangat mengena … Sawah selalu memberi yang dengan kepasrahan penuh tidak pernah mengeluh, hanya … memberi, dan … petani adalah pecinta tangguhnya.
Goop:::
kolaborasi pemberian yang indah ya Pak Ersis
Sepertinya petani harus mogok kerja dan melakukan boikot tanam agar orang kota tak arogan, juga pemerintah tak semena-mena. agar perut ini kembali pada habitat aslinya. Petani oh petani.
Indonesia harus membuat petani menjadi makmur seperti petani Jepang. Di sana, petani rumahnya mewah dan lux, menurut penuturan salah seorang tokoh politik jatim, lebih makmur dari para politisi.. lho kok?
Goop:::
ah, terima kasih pak untuk tambahan informasinya ini
Atasnya tentang tua eeh kok jadi ke sawah. Atau kalau sudah tua atau pensiun mending berbisnis sawah saja
Kasihan para petani, mereka selalu dipinggirkan, dicekik tengkulak, diabaikan pemerintah, padahal hasilnya dinimati orang banyak. Nah kalu sawahnya kagak ada, mau makan apa? paving blok ? jalan tol? atau Mal?
Goop:::
bukankah memang sekarang sudah banyak yang makan benda-benda yang dikau sebutkan itu mas? hihi
oya, memang awalnya tua, sawah, kemudian bila tidak salah tua lagi
demikianlah…
“Sawah tak pernah protes”
bukan tak pernah..cuman tak bisa. sekalipun mereka protes..mungkin kita nda bisa memahami aksi protes mereka
Goop:::
ahaaaa….
senang sekali ada orang luar negri yang tau sawah hihi…
demo ya boz, klo bisa protes
kalo gk ada petani, saya musti makan apa jeng?
Goop:::
makan aspal, perumahan, atau pabrik mungkin juga lumpur…
barangkali enak kalo di rica-rica hihihi
*ditabok*
Afa maksudnya?
*dibajak kerbau*
Goop:::
*merasa keluarga petani*
Lha? nasib saya nanti gimana?
*merasa sebage penghabis kebun buat sekolah*
bantu saya nebusnya, Paman…
Goop:::
ditebus dgn sebuah gelar, barangkali akan lebih menggembirakan suwiwi
selamet berjuang
mas goop, *wih ndak tahu kalo dah mosting dua kali ternyata, hiks, jadi malu* saya juga seringkali sedih melihat nasib sawah yang sering diperlakukan sesukanya. saudara2 petani kita memang tidak salah. mereka mengharapkan hasil terbaik untuk menopang kehidupan. namun ketika sawah dipaksa harus menanggung beban tanaman berulang kali dngan model penggarapan yang berbeda2 pula, konon itu juga akan membikin lahan persawahan jadi terseok2 memanggul beban berganti2. habis padi, palawija, lalu tembakau, lalu … wew… sawah sekarang ini kayaknya juga sudah cukup menderita kali ya sehingga hasil panen tidak semelimpah dulu.
Goop:::
barangkali terjadi perkosaan pada kemampuan terbaik sawah ya Pak
kalo dua gelar bagemana?
*congkak.com*
Goop:::
silakeun saja pasti akan lebih senang
saya ikut doakan saja yakz
SDM oh SDM..
Goop:::
jujur..saya takut sekali menjadi tua..karena saya merasa belum pantas menjadi tua dan berarti dan bijaksana..heh..
Goop:::
masih mending dikau sadar itu mbak hehe
kan banyak yang sudah tua, namun belum sadar juga, gimana kalo ditendang saja hihi