AdaDanTiada

Benarkah bila tiada itu, selalu berarti tiada? Ataukah ada itu, selalu berarti ada?
Pada suatu sore yang cerah, saya duduk bersama Gita. Awalnya kami membicarakan kejadian sehari-hari, kemudian tanpa sadar, pembicaraan beralih tentang orang tua kami masing-masing. Mulanya tidak ada yang aneh, sampai kemudian dia bilang:
“Ya, Paman, almarhum Ayah saya pernah memberitahukan hal itu.”
Perasaan tidak enak itu merayap pelan, saya benar-benar tidak mengerti, bila ternyata Ayah Gita sudah almarhum. Buru-buru saya meminta maaf karena telah mengingatkannya, pada hal itu. Tapi tahukah, apa jawabnya?
“Apakah berarti, bila beliau telah tiada, kita tidak boleh membicarakannya?”
Benarkah bila tiada itu, selalu berarti tiada? Ataukah ada itu, selalu berarti ada?
Kehilangan, bagaimanapun tidak pernah mudah pada awalnya. Ada yang tidak lengkap, suka atau tidak suka. Tercerabut begitu saja, bahkan tanpa pernah memiliki pilihan. Seperti tercerabutnya gulma, di tangan para petani. Tak kuasa untuk melawan, apalagi menawarnya.
Kompromi kemudian dilakukan, penyesuaian secara bertahap, mengakomodasi hal yang tidak enak itu. Berkompromi dengan keadaan, sering; sangat sering bahkan harus dilakukan. Naif, bila saya menyarankan untuk menikmatinya. Tapi apa lagi yang harus dilakukan?
Pernahkah anda mendengar tentang mestia? Upacara pengorbanan, istri-istri Raja di Bali yang membakar diri, moksa bersama kekasihnya? Pun, budaya pagan di Eropa yang menyambut kematian sebagai sebuah perayaan? Mereka menghadapi kematian dengan senyuman. Pejalan Jauh telah menuliskannya, dengan sangat cantik.
Harry Potter, seperti kehilangan seluruh dunia, saat Dumbledore meninggalkannya. Tetapi dalam seluruh perjalanannya kemudian, ternyata Dumbledore tidak hanya meninggalkan warisan benda-benda. Sebuah semangat, pelajaran dan tekad yang bulat, telah membantu dan membimbingnya, menghadapi Pangeran Kegelapan. Dumbledore tidak pernah tiada, karena dia hidup, dalam kenangan, setiap nafas, gelora semangat Potter. Dumbledore, masih ada, namun dalam bentuk yang barangkali sedikit berbeda.
Beberapa hal yang telah tiada, ternyata tidak benar-benar tiada. Kenangan akannya masih tertinggal, membuahkan senyuman di kala malam. Pun, butiran bening air mata, bahkan saat terang siang. Beberapa hal yang dianggap ada, justru hanyalah bayang-bayang semu kerinduan. Tidak benar-benar ada, atau tersembunyi, dalam lipatan-lipatan kenangan.
Benarkah tiada, ternyata bisa menjadi ada? Ataukah ada, bukan tidak mungkin adalah ketiadaan?
Burung-burung beterbangan ke arah horizon, berebutan menuju kaki langit. Mata dewa itu seperti akan terpejam, hilang di balik kelopak cakrawala yang hampir terlelap. Sebelum benar-benar hilang, cobalah tanyakan kepada burung-burung, apa yang dilihatnya. Barangkali saja, sebuah kabar kegembiraan. Di ujung sana, fajar baru saja menyingsing. Memberikan kehangatan, mata dewa yang telah membuka kelopak cakrawalanya dengan sangat pelan; begitu pelan.
________________________________________________________
Terima kasih untuk Gita, yang telah bersedia membagi dan membicarakan ketiadaan. Bahkan, dengan cara yang begitu ceria, dan senyum tak lepas dari wajahnya. Bukan; bukan, karena menafikkan ketiadaan, tapi menghadapinya dengan senyuman. Bukan begitu Git?
Juga untuk seorang sahabat, yang kebahagiaannya direnggut oleh licin, lantai hujan. Saya setuju dengan sabda Baginda, bahwa ada hikmah di balik setiap hal.
________________________________________________________
Ah ya, dan Beliau Yang Mulia Hoek, tidak hanya duduk di singgasananya yang girang sangadh! Ternyata, eh ternyata, beliau benar-benar ADA. Saia sudah bersua, beliau yang begidu …. Hmfphmfphmfp *dibekaf* Hohoho…
Satu lagi, Dewa Naziebiyah, pun ADA. Sesosok Dewa yang pendiam; jangan mengusiknya, atau anda akan diberangus. Dituliskan nama anda, dalam layar komputernya, yang akan mengeluarkan huruf dengan tinta warna darah!!
kenangan itu akan selalu ada paman, meskipun orangnya sudah tiada. jadi untuk membincangnya justru akan menguatkan keberadaannya, karena itu berarti kita mengenangnya dengan sepenuh hati.
tulisannnya touching….trimakasih paman sudah menuliskan dengan demikian indah, ternyata obrolan di sore hari itu terekam kuat yah?
duh pertanyaannya dalem…
saya blom bisa jawab bahkan untuk ke diri sendiri
sama dng sms smalem, ga bisa jawab juga
jadi kopdar lagi???? bareng hoek?
pertanyaan yang sulit…..
siapa sih yang tahu definisi ada dan tiada itu? apakah sesuatu yang tidak ada benar-benar tiada?
*binun sendiri*
wah paman..
ada yang pernah bilang sama aku
“tidak usah bersedih karna aku kembali pada Kekasihku”
hehe..
ada dan tiada…
hmm…mungkin “beliau” yang punya teori relativitas yang bisa menjawab..
aprikot
tapi kan tidak semua “bisa” seperti itu Git, karena kehilangan, tetaplah tidak mudah.
edy
jah… informan baginda dipecat saja kalo gitu, hihi
itikkecil
iya mbak, kemaren ketemu hoek
lah ko malah nanya lagi, piye to?
lisa
yupe lisa, bener banget…
Kekasihku, yang menjagaku, dan menyayangiku setiap waktu, gitu ngga?
tukangkopi
emang ada hubungannya dengan “beliau”?
apa ntar ngga malah rumit yak?
wah.. wah.. wah… om goop abis tercerah kan…
thanks for share pencerahan nya om goop
kadang, ketiadaan bisa menjadi sesuatu yang diharapkan ya Paman?
karena bisa jadi, ketiadaan adalah suatu proses menuju kondisi yang jauh lebih baik
ada berarti tiada
tiada berarti ada
Yang meng – ada – kan
itulah ada yang sejati
Sebenarnya kita semua itu berasal dari tiada, akan tetapi kita berasal dari yang ada…
Dari ada kita menjadi tiada kembali dengan kehendak yang ada.
ada dan tiada….lha saya malah mendadak bingung mau komen apaan. woalah
Aslkm…….
Mulanya tidak ada, lalu ada, kemudian tiada, akhirnya abadi di sana, bahagia atau sengsara
Mulanya tidak ada……
lalu ada……
kemudian tiada……..
akhirnya abadi di sana………
bahagia atau sengsara.
tamat cerita
haha..haha
saya sangat takut untuk mengalami ketiadaan,..
tapi terimakasih Pak Ary ginanjar yang mengajarkan untuk menghadapi ketiadaan
Postingan paman selalu bagus…….
Kadang-kadang saya juga menyesal kenapa saya harus ADA, karena dengan begitu saya jadi harus merasakan KETIADAAN
–
Walah, ternyata sukak Heri Poter juga toh Pakde..
Hoooh… siapa bilang saya inih pendiam hah!
ulan
iya mbak, sama-sama…
tapi sebenarnya gita yang berperan
mrsfortynine
benarkah diharapkan?
dan adakah jaminan menjadi lebih baik?
barangkali, bagaimana menyikapi semua itu yak
ina
yupe, Ada di atas segala-galanya, apa begitu?
venus
~>> simbok pintar euy
nda’ ada komen dunk mbok, lah itu kok koment?
ada dan tiada lagi
olangbiaca
tamat cerita? sungguhkah?
bagaimana anda tahu?
alle
bagaimanapun, harus dihadapi bukan le?
indra1082
terima kasih mas
nazieb
yupe, kemaren baru baca harry potter
eh, bukan pendiam toh? masak sih? hihi
saya hanya tau bahwa skarang dia sudah mati.. dari alam kembali ke alam..
(
ah, sudahlah..
Kadang yang telah tiada (almarhum) masih selalu terkenang-kenang diingatan kita karena mereka meninggalkan sesuatu untuk kita kenang.
Kadang yang masih ada (hidup) tak meninggalkan ingatan bagi kita, karena hidupnya tak memberi arti bagi dirinya apalagi bagi orang lain.
—mungkin demikian ?—
jadi inget ungkapan seorang yg tidak suka bersahabat dengan teman, dimana filosofinya adalah :
qzink
daenglimpo
kesan yang ditinggalkan ya tuanku, kesan…
dobelden
betul sekali, mas…
terima kasih yak
yak. ada ketiadaan yang diharapkan selalu ada kok
eh, maksutnya…
ada ketiadaan yang selalu diharapkan kok Pak..
ada dan tiada hanya tak lebih dari selapis tipis tak berjarak yang membolak balikkan emosi dan perasaan manusia. logika, hati dan religi adalah cara untuk membedakan keduanya sekaligus untuk berdiri tegak di antara goncangan keduanya
Ah, paman kita yang satu ini……
Benarkah tiada, ternyata bisa menjadi ada? Ataukah ada, bukan tidak mungkin adalah ketiadaan?
Benarr…. aku setujuu unclegoop
wah, dalem juga ya…???
dengan kata lain… belum baca, udah ngantuk…. jan 2 pagi ini… ntar aja pagi-pagi sebelum kuliah saya komen yang bener….
*diciumin keponakan*
Ya log in dari hengpon. Kata2nya jumawa bener tuh. Ada dan tiada itu nggak beda jauh tergantung kita melihatnya dengan apa. Jika dengan kasat mata tentu saja ada tetaplah ada dan tiada tak mungkin ada. Tapi dengan kenangan,waktu pun bisa dilipat dan dinikmati. Sesuatu yang tiada bisa menjadi ada dengan kenangan. Lain halnya dengan kebiasaan.Dengan kebiasaan sesuatu yang ada seolah olah tiada disana.
Btw,saya benci dengan kenangan.Imo,pada umumnya kenangan hanya dijadikan alat untuk melarikan diri dari kenangan. Bila seseorang sudah tiada ya sudah. Jangan di ada2kan dengan kenangan.Toh yang tiada kan orangnya. Bukan ajaran2yang diwariskan. Hanya saja,sayang rasanya menerima kenyataan bila seseorang tiada sebelum merasakan seberkas sinar mentari. Tak ada kenangan yang menandakan ia pernah ada, ataupun kebiasaan yang menyatakan ia belum tiada. Yang tersisa hanya kenyataan ia sudah tiada,beserta semua penyesalan yang menyertainya. . . Seperti biasa.
Dah saiyah mau tidur.
*karna laptop bermasalah jadi ngeblogg d komen box orang lain*
hufff…
ada dan tiada hanya difisahkan oleh garis yang tifis sangadh faman, garis tifis tersebut bernama : faradigma!!! gyahahaha!!!! *lage-lage dari kitab suci saia lage…*
—
ah, ko jadi dibekaf segh, faman?
mrsfortynine
iya deh
jumawa
memang goncangannya kuat apa? hihi
g173cs
apaan?
sarah
makasih, sarah
cellodankloningnya
wah komennya panjang juga ya
makasih bro, sudah menambahkan postingan ini
hoeksoegirang
masak sih paradigma? eh, tapi mungkin benar juga sih…
ini kitab apa? covey, bukan?
Saya jadi teringat dengan Alm.Neneknda tercinta .. walaupun beliau sudah tiada sejak 1999, tapi saya masih merasa beliau memperhatikan saya dan sering hadir dalam mimpi-mimpi saya.
Semangat dan budi pekerti yang diajarkan kepada saya, telah tumbuh dan hidup dalam jiwa saya sehingga ketiadaan beliau menjadi keadaan saya saat ini.
Jika pernah nonton film HEROES dimana Hiro yang kehilangan bapak-nya tidak mau menyatakan salam perpisahan dengan bapak-nya. Karena jika dia mengatakan selamat tinggal, berarti bapaknya itu tiada.
Baginya .. bapaknya telah menjelma menjadi dirinya. Cool
pgn ketemu hoek jugah
Lhadalah…..
Ciamik tenan tulisannya….
Sayah merindukeun bisa nulis nyang begenee….
mas goop memang selalu menyisakan pertanyaan-pertanyaan yang dalan menghunjam ke dalam khazanah pemikiran pembaca. antara ada dan tiada memang ada yang menyebutnya, BBT, beda-beda tipis, *halah* ini juga merupakan salah keunikan manusia, mas goop. ketika ada itu ada, seringkali keberadaannya seperti benar2 tidak ada sehingga kita luput memperhatikannya. Namun, ketika tidak ada itu ada justru keberadaannya benar-benar ada sehingga kita selalu mengingat dan memperhatikannya. apakah ini pertanda bahwa mas goop memang sedang menghadapi sesuatu yang pernah ada, tetapi sekarang tidak ada, sehingga keberadaannya selalu menyita perhatian untuk selalu ada. *halah, mbulet ndak karu2an, kekekeke
erander
heroes seri berapa itu Bang? kok saya ngga lihat yang itu yak
ngomong-ngomong, makasih tambahan informasinya
JB
mo diapain klo ktemu? 40 Gig itu mau dikasih juga?
mbelgedez
hayah, ohm mBell ini logh…
jadi maloe
sawali
nah, ya kan?
pertanyaan pak sawali, justru yang selalu membuat jida berkernyit ~>> iki opo?
ah, ngga juga sih pak, saya cuma kadang rindu
*curhat terselubung*
tidak pernah tiada, namun hidup dalam nafas , kenanangan, semangat . .. haduh , bagaimana caranya biar bisa kaya gitu
Lha saya juga ADA lho..
tapi kamu ga tau kalo saya ADA kan?hehehe..mbah jingkrak?
funkshit
ya dicoba aja, hihi
stey
ayooo mbak…
kutagih pokoknya
jika benar ada mengapa dikatakan tiada dan bila benar tiada mengapa dikatakan ada ?
*moemet’z paman*
masmoemet
hihi… sama, saya juga moemetz kok
coba dibaca lagi deh,
Tuhan itu ada tapi tiada (wujudnya). Angin itu tiada tetapi ada.
Almarhum/almarhumah siapapun mungkin sudah tiada di antara kita tetapi mereka ada di hati kita, orang-orang yang mencintai mereka.
begitulah, ada dan tiada itu tipis.
thanks sudah memajang link-ku, bro.
MAW
yupe Pak, bukankah kenangan yang ditinggalkan, masih akan tersisa?
terima kasih
zen
wew… ini dia penulis-nya datang juga
ah, senang sekali sudah bersedia berkunjung
maaf, karena scriptopedia kematian begitu indah
sehingga saya ikut-ikutan memajangnya di sini mas
apapun yg pernah ada, suatu saat akan tiada. tapi semua yg ada meninggalkan jejak. supaya ketiadaan bisa membuat semuanya tetap ada.
eve
aha, benar sekali nona
supaya ketiadaan membuat semua tetap ada karena jejak, ah indah
terima kasih
[...] tulisan dari blog lama “Pernahkah Anda mendengar tentang mestia? Upacara pengorbanan, istri-istri Raja di Bali yang [...]