<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>DalamLipatanWaktu</title>
	<atom:link href="http://unclegoop.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://unclegoop.wordpress.com</link>
	<description>merasakan~menikmati~mengisi~waktu</description>
	<lastBuildDate>Tue, 15 Nov 2011 13:41:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='unclegoop.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>DalamLipatanWaktu</title>
		<link>http://unclegoop.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://unclegoop.wordpress.com/osd.xml" title="DalamLipatanWaktu" />
	<atom:link rel='hub' href='http://unclegoop.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>akhirnya</title>
		<link>http://unclegoop.wordpress.com/2008/05/15/akhirnya/</link>
		<comments>http://unclegoop.wordpress.com/2008/05/15/akhirnya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 May 2008 12:02:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dewanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Ada Waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.wordpress.com/?p=155</guid>
		<description><![CDATA[waktu telah melipat -sudah-<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=unclegoop.wordpress.com&amp;blog=1717767&amp;post=155&amp;subd=unclegoop&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">waktu telah melipat</p>
<p style="text-align:center;">-sudah-</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/unclegoop.wordpress.com/155/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/unclegoop.wordpress.com/155/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/unclegoop.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/unclegoop.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/unclegoop.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/unclegoop.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/unclegoop.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/unclegoop.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/unclegoop.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/unclegoop.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/unclegoop.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/unclegoop.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/unclegoop.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/unclegoop.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/unclegoop.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/unclegoop.wordpress.com/155/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=unclegoop.wordpress.com&amp;blog=1717767&amp;post=155&amp;subd=unclegoop&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.wordpress.com/2008/05/15/akhirnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>51</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8bd5cf4852bb37610047be41e3f4fed3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dewanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Angkringan Semarang</title>
		<link>http://unclegoop.wordpress.com/2008/05/08/angkringan-semarang/</link>
		<comments>http://unclegoop.wordpress.com/2008/05/08/angkringan-semarang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 May 2008 02:22:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dewanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mengisi Waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.wordpress.com/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[Di tengah Kota Semarang, udara begitu panas. Pori-pori melebar dan keringat tak henti membasahi baju. Tenggorokan kering bagai berjalan di gurun yang mengharapkan oasis. Fatamorgana di kejauhan menyilaukan mata, indah namun hampa. Lampu merkuri yang begitu terang di pinggir jalan, membentuk bayangan dan bukan hanya satu. Seperti bayangan pemain bola, pada stadion beberapa waktu yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=unclegoop.wordpress.com&amp;blog=1717767&amp;post=154&amp;subd=unclegoop&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span>Di tengah Kota Semarang, udara begitu panas. Pori-pori melebar dan keringat tak henti membasahi baju. Tenggorokan kering bagai berjalan di gurun yang mengharapkan oasis. Fatamorgana di kejauhan menyilaukan mata, indah namun hampa.<span id="more-154"></span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Lampu merkuri yang begitu terang di pinggir jalan, membentuk bayangan dan bukan hanya satu. Seperti bayangan pemain bola, pada stadion beberapa waktu yang lalu. Bayangan itu bergerak, perlahan-lahan mengikuti kaki melangkah. Satu demi satu terbentuk, satu demi satu hilang. Sebuah bayangan baur, beranjak menjadi nyata. Tak berapa lama kemudian, sebuah yang lain terbentuk. Dimulai dari baur dan beranjak nyata. Bayangan yang pertama berangsur-angsur hilang, saat bayangan yang kedua kian jelas.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pak Kardi, mengantuk di atas becaknya. Di depan Novotel, memandang muak sopir Taksi yang berbaju rapi. Cak Salim, mendorong gerobak sate maduranya malas saat <em>staff delivery service</em> KFC menyalip kencang. Paradoks kehidupan begitu banyak tersaji, tidak peduli, semua berlari.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Hausku memanggil, memohon penawar satu gelas es teh manis. Dihampiri gerobak angkringan, dengan makanan-makanan yang dibungkus kertas minyak berlabel. Nasi goreng, rica belut, mie goreng, kira-kira begitu label yang tertulis pada tiap bungkus. Memesan es teh manis, diikuti dengan mengambil dua potong pisang goreng, dan tenang menunggu di atas tikar plastik yang dihamparkan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Saat rembang petang seperti ini, belum banyak pembeli. Pesanan cepat sekali, datang tersaji. Pak Paidi, si pemilik angkringan sendiri yang mengantar. Seperti kemarin, dia akan duduk sebentar menemaniku menyantap pisang goreng, dan es teh manis. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Bercerita tentang keluarganya, yang datang dari kampung tinggal di sebuah rumah petak di Semarang. Hari-harinya yang dilalui, berkawan panas Semarang yang menyengat. Peluh, bau badan dan got mampat di depan rumah adalah kawan karibnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Caranya bercerita yang ringan, seringkali tertawa hingga terbahak, menertawakan diri sendiri. Kadang lidahku kelu, bimbang bagaimana mestinya aku bersikap? Ingin menemaninya terbahak, tetapi yang keluar hanya diam, atau senyum miris. Bila sudah begitu, kutawarkan Djarum Super yang biasanya akan diterima dengan penuh semangat. Disulutnya, dihisap dengan penuh perasaan, dan dihembuskan pelan-pelan. Seiring dengan itu, berhembus pula cerita-cerita dari mulutnya yang hitam berjelaga, tertoreh sisa nikotin. </span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><span>…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Wati berjalan penuh kekhawatiran. Tak biasanya ia pulang selarut ini, lembur akhir bulan telah memaksanya turun dari bus tengah malam. Di terminal Banyumanik yang sepi, Wati sendirian beberapa preman memandang curiga. Wati tak kuasa balas menatap, hanya menunduk yang ia bisa. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Angkutan kota yang biasanya mangkal, sudah tiada saat seperti ini. Taksi memang banyak berjejer, namun akan musnah uang lemburnya bila digunakan untuk ongkos Taksi. Pernah seorang sahabatnya bercerita, di daerah Sukun banyak berjejer plat hitam yang siap mengangkut penumpang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Bergegas berjalan dengan khawatir dan lelah, dia menuju ke Sukun yang berjarak kurang dari satu kilometer.<span>  </span>Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Penerangan di Sukun ternyata tidak bersahabat, hal yang selama ini jarang ia perhatikan. Lebih parah, plat hitam yang konon mangkal di sana juga tiada. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kembali bingung dan ragu menguasai hatinya, haruskah ia naik Taksi dan mengikhlaskan uang lemburnya? Atau coba menghubungi bapaknya yang pasti masih bekerja? Sial, dia lupa bapaknya tidak mengenal HP, sementara yang ada ditangannya, <em>handphone </em><span> </span>lama yang habis pulsanya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Rasa bingung dan khawatir, berhasil membuatnya tidak waspada. Tak disadarinya, saat tiga orang preman menyeretnya ke dalam sebuah rumah kosong. Selintas,<span>  </span>dia teringat cerita di kampungnya yang juga gelap karena listrik belum merata. Bila gadis berjalan seorang diri dalam gelap, Banaspati si hantu kepala api akan menyeretnya, menjadikannya istri dengan cara membakarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Tangan-tangan kuat itu bergantian bergerak di sekujur tubuh Wati, hal yang tidak pernah ada dalam bayangan itu terjadi padanya. Setelah puas mempermainkan wanita malang itu, kemudian ia ditinggalkan begitu saja tergeletak. Wati kembali teringat Banaspati, bukan dirinya dibakar, tapi dia telah terbakar api kebencian tiada terkira.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><span>…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Di antara hembusan asap, Pak Paidi menutup cerita. Kasus ini, tak pernah terungkap. Polisi, hukum dan dia sendiri tak berdaya. Salah seorang pelaku, adalah putra pembesar daerah yang sedang kuliah di Semarang. Segepok uang, sebuah surat sakti bermaterai kekuasaan, telah menjamin binatang biadab itu masih bisa menghirup udara bebas. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pandangan beliau redup, tak bergairah. Coba kuikuti arah pandangannya, dan di sana dekat dengan gerobak angkringan. Wati duduk, matanya nyalang menatap setiap pengunjung, fikirannya telah terganggu semenjak kejadian itu. Sekilas dia melihat ke arahku, saat kurasakan pandangan sedingin es menusuk.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Ada pembeli datang, Pak Paidi beranjak dari sisiku akan melayani pembeli. Saat itu, setelah mempersilahkan Pak Paidi, terdengar jeritan memekakkan telinga. Pembeli yang baru datang itu berkelojotan. Wati menatapnya dengan beringas, dan ditangannya tergenggam garpu berlumuran darah. Bungkusan nasi berlabel; aneka gorengan; kerupuk dan sate usus sudah tidak nikmat. Beberapa percik warna merah telah menodainya. Menjadi catatan tak terhapus, pada malam yang beranjak larut. </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span>Semarang, 01 Mei 2008</span></em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/unclegoop.wordpress.com/154/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/unclegoop.wordpress.com/154/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/unclegoop.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/unclegoop.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/unclegoop.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/unclegoop.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/unclegoop.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/unclegoop.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/unclegoop.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/unclegoop.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/unclegoop.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/unclegoop.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/unclegoop.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/unclegoop.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/unclegoop.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/unclegoop.wordpress.com/154/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=unclegoop.wordpress.com&amp;blog=1717767&amp;post=154&amp;subd=unclegoop&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.wordpress.com/2008/05/08/angkringan-semarang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>81</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8bd5cf4852bb37610047be41e3f4fed3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dewanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sambal</title>
		<link>http://unclegoop.wordpress.com/2008/04/22/sambal/</link>
		<comments>http://unclegoop.wordpress.com/2008/04/22/sambal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Apr 2008 01:14:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dewanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Merasakan Waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.wordpress.com/?p=153</guid>
		<description><![CDATA[Menu istimewa yang biasa akan saya dapatkan bila saya pulang kampung adalah sambal. Ibu saya tidak ada garis keturunan Padang, yang terbiasa membuat makanan pedas. Tetapi, entah bagaimana, beliau berhasil membuat sambal yang begitu lezat. Beberapa jenis sambal yang biasa beliau bikin adalah sambal terasi; sambal tomat; sambal goreng ati, dan sambal bawang. Nasi putih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=unclegoop.wordpress.com&amp;blog=1717767&amp;post=153&amp;subd=unclegoop&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><img src="http://unclegoop.files.wordpress.com/2008/04/042208-0103-sambal11.jpg?w=480" alt="" /></p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-153"></span>Menu istimewa yang biasa akan saya dapatkan bila saya pulang kampung adalah sambal. Ibu saya tidak ada garis keturunan Padang, yang terbiasa membuat makanan pedas. Tetapi, entah bagaimana, beliau berhasil membuat sambal yang begitu lezat. Beberapa jenis sambal yang biasa beliau bikin adalah sambal terasi; sambal tomat; sambal goreng ati, dan sambal bawang. Nasi putih yang mengepul, dan berbau harum, dipadukan dengan sambal, tak masalah kemudian bila lauk yang melengkapi sekedar ikan asin; telur dadar, atau tempe dan tahu goreng. Bila Ibu membuat menu sambal, saya banyak makan, dan kemudian saya akrab dengan kamar mandi.</p>
<p style="text-align:justify;">Sakit perut adalah menu lain yang tersaji selepas memakan banyak sambal. Bagaimana mekanisme perjalanan sambal, sehingga kemudian menyebabkan sakit perut, tidak saya ketahui dengan pasti. Ibu saya sepertinya mempunyai misi untuk membuat saya sakit perut, tapi benarkah? Karena beliau juga tidak pernah memaksa untuk memakan sambal. Godaan aroma terasi yang begitu menggiurkan, dipadukan dengan telur dadar, menghilangkan logika dan lupa akan resiko sakit perut.</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap ibu, memiliki cara tersendiri untuk mengungkapkan rasa sayang beliau kepada anak. Dahulu, saya berfikir ibu tidak menyayangi saya, hanya karena beliau begitu &#8220;cerewet&#8221;. Setiap hal yang saya lakukan, jarang yang sesuai dengan kehendak beliau. Akibatnya, tidak jarang cekcok di malam hari, bertengkar di pagi hari, dan dimarahi saat siang dan sore hari. Jiwa pemberontak dan keras kepala yang saya miliki, memang benar-benar kokoh, kuat dan tidak mudah digoyahkan <em>*halah*</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Suatu ketika, pernah saya melakukan kesalahan yang mungkin dalam pandangan orang tua saya, sudah keterlaluan. Tidak pulang selama dua hari tanpa pamit. Sepanjang perjalanan pulang, saya sudah khawatir pasti akan terkena marah. Tapi, tahukah sobat, apa yang terjadi?  Tidak ada amarah, tidak ada sapaan, justru semua begitu diam. <em>Duhhh!!! </em>Ternyata semua melakukan aksi diam. Saat seperti itu, saya justru begitu rindu, didamprat, diomeli dan dimaki-maki.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibu saya &#8220;hanya&#8221; lulus SMP, lucu sekali bila beliau membaca koran atau buku. Saat beliau membaca, tidak pernah membaca dalam hati, selalu diiringi dengan gerakan kecil di bibir dan suara yang lirih seperti bisikan. Kami anak-anaknya, biasanya akan merubung beliau dan mendengarkan, terkadang ada salah seorang yang nakal, dan mengikuti gerakan bibir beliau. Tidak lama, sebuah cubitan atau pukulan akan mendarat di tubuh kami, kemudian tergelak bersama-sama.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun sebenarnya, jarang sekali ibu memiliki kesempatan untuk membaca. Menjadi paling cantik sendiri di rumah, memberikan konsekuensi kesibukan yang luar biasa. Semenjak dini hari, sampai jam delapan malam ibu tidak pernah berhenti bekerja. Ada saja hal yang menyibukkannya, di dapur, di kamar mandi, di dekat almari, semua hal sepertinya menunggu disentuh tangan-tangannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibu tidak mengenal kesetaraan gender, emansipasi atau ide-ide mutakhir yang sering didengungkan untuk kepentingan kaum perempuan. Bagi beliau, melayani suami, kemudian mengurus anak, telah memberikan kesibukan yang mengasyikkan. Lelah dan capek, tentu sering beliau rasakan, tapi keluhan tidak pernah terdengar dari mulutnya. Bila hari-hari ini, ibu lebih banyak mengerutkan keningnya, mungkin sebuah hal yang wajar. Bagaimana tidak? Bila uang belanja tetap, namun harga-harga kebutuhan rumah tangga, membumbung tidak wajar. Beliau kemudian harus pintar-pintar mengelola keuangan rumah tangga.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya tidak pernah membayangkan bagaimana bila ibu saya, menuntut kesetaraan gender, ide-ide emansipasi, dan sibuk dengan semua itu. Barangkali, kami anak-anaknya tidak akan terurus. Dahulu, saya suka iri melihat sahabat yang ibunya wanita karier dan bekerja kantoran. Sementara ibu saya, lebih banyak di rumah dan menelantarakan warung kelontongnya, untuk kami anak-anaknya. Tetapi, saya sadar kemudian, dengan ibu yang selalu ada disamping kami, sambal yang lezat bisa kami nikmati setiap saat. Saat ibu tidak bekerja, bisa kami dengarkan bisikannya saat membaca buku dengan cara yang lucu. Saat ibu capek dan tertidur, masih bisa kami peluk tanpa khawatir, akan membuatnya marah. Tidak seperti ibu-ibu sahabat, yang akan marah bila dipeluk, karena itu mengganggu istirahat, mengingat istirahat adalah saat yang maha penting, agar besok bisa bekerja.</p>
<blockquote><p>Ingin kudekap, dan menangis di pangkuanmu<br />
Hingga aku tertidur bagai masa kecil dulu<br />
Lalu do&#8217;a-do&#8217;a lalui sekujur tubuhku<br />
Dengan tanpa membalas, Ibu…..</p>
<p style="text-align:right;">Ibu-Iwan Fals</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Selamat hari Kartini, untuk para Ibu, pun calon-calon Ibu. Jadilah samudera, yang menampung aliran sungai-sungai kecil putra putri. Penampung semua keluh kesah dan gelisah, mungkin bahkan sampah. Simpanlah badai, pusaran arus dan tsunami dalam pengabdian, takzim dan bakti kepada suami juga sayang kepada kanak-kanak. Seperti halnya Ibu Bumi, yang tidak pernah bertanya bila suatu ketika Bapak Mentari tertutup awan. Seperti halnya Ibu Bumi, yang tetap diam, meski perutnya diaduk-aduk mengambil hasil tambang. Ah, tetapi mungkin perlu juga, seperti Ibu Bumi yang sekali waktu memberikan gempa, gunung meletus, sebagai kemarahan tanda cinta. Sekaligus juga selamat hari bumi, dan hijau… semoga tersebar di mana-mana.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://ade73.files.wordpress.com/2007/07/mother-and-child-morning-games-482.jpg" target="_blank">asal gambar</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/unclegoop.wordpress.com/153/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/unclegoop.wordpress.com/153/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/unclegoop.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/unclegoop.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/unclegoop.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/unclegoop.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/unclegoop.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/unclegoop.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/unclegoop.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/unclegoop.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/unclegoop.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/unclegoop.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/unclegoop.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/unclegoop.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/unclegoop.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/unclegoop.wordpress.com/153/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=unclegoop.wordpress.com&amp;blog=1717767&amp;post=153&amp;subd=unclegoop&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.wordpress.com/2008/04/22/sambal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>79</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8bd5cf4852bb37610047be41e3f4fed3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dewanto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://unclegoop.files.wordpress.com/2008/04/042208-0103-sambal11.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Terjepit</title>
		<link>http://unclegoop.wordpress.com/2008/04/17/terjepit/</link>
		<comments>http://unclegoop.wordpress.com/2008/04/17/terjepit/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Apr 2008 02:37:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dewanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Menikmati Waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.wordpress.com/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[Kondisi perut tak bisa lagi diajak kompromi. Terbirit-birit menuju ke kamar mandi. Pintu dibuka, mencoba sesegera mungkin menutup. BLAMM!! Pintu memang telah menutup, tapi jari, masih berada di antara pintu dengan bingkai pintu. Nyuuutttt!!! Dari jemari merambat cepat ke otak. Tak kalah sigap, otak memerintahkan mulut, kemudian : ArrrHHHggggg!!! Teriakan itu merobek pagi. Namun, tak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=unclegoop.wordpress.com&amp;blog=1717767&amp;post=149&amp;subd=unclegoop&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><img src="http://unclegoop.files.wordpress.com/2008/04/041708-0231-terjepit1.jpg?w=480" alt="" /></p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-149"></span>Kondisi perut tak bisa lagi diajak kompromi. Terbirit-birit menuju ke kamar mandi. Pintu dibuka, mencoba sesegera mungkin menutup.</p>
<p style="text-align:justify;">BLAMM!!</p>
<p style="text-align:justify;">Pintu memang telah menutup, tapi jari, masih berada di antara pintu dengan bingkai pintu. Nyuuutttt!!! Dari jemari merambat cepat ke otak. Tak kalah sigap, otak memerintahkan mulut, kemudian :</p>
<p style="text-align:justify;">ArrrHHHggggg!!!</p>
<p style="text-align:justify;">Teriakan itu merobek pagi. Namun, tak lama, karena perut kembali cerewet. Panggilan alam yang lain, harus segera dijawab, dan :</p>
<p style="text-align:justify;">EerrrrGGGGhhhhh!!!</p>
<p style="text-align:center;">…</p>
<p style="text-align:justify;">Terjepit ternyata tidak nyaman,  sakit, perih, gelisah, jengkel dan marah. Sebenarnya ingin marah, namun ternyata karena kesalahan sendiri. Jengkel sekali, namun lagi-lagi karena kesalahan sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Terburu-buru, kondisi darurat, dan desakan masalah, biasanya akan memicu kurangnya kehati-hatian. Perhitungan yang sembarangan, analisis resiko dan tanggung jawab yang kurang lengkap, terjepitlah hasilnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Terjepit tidak pernah disengaja, hampir sama dengan terpeleset, terjerembab, terjebak, tertabrak dan seterusnya. Satu hal yang terjadi tidak sengaja, namun memberikan efek yang menyakitkan, tentu tidak lucu kemudian.</p>
<p style="text-align:justify;">Salah posisi, betapa tidak? Terletak di antara daun pintu dan bingkai pintu. Ya, terjepit! Salah posisi, terletak di antara dua masalah atau lebih, ya terjepit masalah! Salah posisi, terletak di antara dua hutang, ya terjepit hutang! Pendek kata, salah posisi di antara dua hal tidaklah nyaman.</p>
<p style="text-align:justify;">Hati-hati dalam melangkah. Mencoba menghindar di saat yang tepat, saat himpitan sudah di depan hidung. Mempelajari peta permasalahan dengan baik, sebelum menentukan langkah. Mengambil keputusan yang tepat, saat masalah benar-benar sudah tidak dapat dihindari lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya pun, harus memutuskan, segera keluar dari kamar mandi. Kaki sudah pegal-pegal, pun urusan di dalam sudah selesai.</p>
<p style="text-align:center;">…</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Paman, kenapa tadi teriak?<br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;">Paman, terjepit pintu.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Wah, enak dong!<br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;">Hah, kok enak?</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Iya, kata Lek Nah, si janda kembang, kejepit enak!<br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;">Walah!</p>
<p style="text-align:justify;"><a title="dolar kejepit" href="http://www.piperreport.com/archives/Images/Dollar%20Squeezed.jpg" target="_blank">asal gambar</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/unclegoop.wordpress.com/149/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/unclegoop.wordpress.com/149/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/unclegoop.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/unclegoop.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/unclegoop.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/unclegoop.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/unclegoop.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/unclegoop.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/unclegoop.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/unclegoop.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/unclegoop.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/unclegoop.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/unclegoop.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/unclegoop.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/unclegoop.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/unclegoop.wordpress.com/149/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=unclegoop.wordpress.com&amp;blog=1717767&amp;post=149&amp;subd=unclegoop&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.wordpress.com/2008/04/17/terjepit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>58</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8bd5cf4852bb37610047be41e3f4fed3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dewanto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://unclegoop.files.wordpress.com/2008/04/041708-0231-terjepit1.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>AdaDanTiada</title>
		<link>http://unclegoop.wordpress.com/2008/04/15/adadantiada/</link>
		<comments>http://unclegoop.wordpress.com/2008/04/15/adadantiada/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Apr 2008 01:40:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dewanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Merasakan Waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://unclegoop.wordpress.com/?p=145</guid>
		<description><![CDATA[Benarkah bila tiada itu, selalu berarti tiada? Ataukah ada itu, selalu berarti ada? Pada suatu sore yang cerah, saya duduk bersama Gita. Awalnya kami membicarakan kejadian sehari-hari, kemudian tanpa sadar, pembicaraan beralih tentang orang tua kami masing-masing. Mulanya tidak ada yang aneh, sampai kemudian dia bilang: &#8220;Ya, Paman, almarhum Ayah saya pernah memberitahukan hal itu.&#8221; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=unclegoop.wordpress.com&amp;blog=1717767&amp;post=145&amp;subd=unclegoop&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><img src="http://unclegoop.files.wordpress.com/2008/04/041508-0140-adadantiada1.jpg?w=480" alt="" /></p>
<p><span id="more-145"></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Benarkah bila tiada itu, selalu berarti tiada? Ataukah ada itu, selalu berarti ada?</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Pada suatu sore yang cerah, saya duduk bersama Gita. Awalnya kami membicarakan kejadian sehari-hari, kemudian tanpa sadar, pembicaraan beralih tentang orang tua kami masing-masing. Mulanya tidak ada yang aneh, sampai kemudian dia bilang:</p>
<p><em>&#8220;Ya, Paman, almarhum Ayah saya pernah memberitahukan hal itu.&#8221;<br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;">Perasaan tidak enak itu merayap pelan, saya benar-benar tidak mengerti, bila ternyata Ayah Gita sudah almarhum. Buru-buru saya meminta maaf karena telah mengingatkannya, pada hal itu. Tapi tahukah, apa jawabnya?</p>
<p><em>&#8220;Apakah berarti, bila beliau telah tiada, kita tidak boleh membicarakannya?&#8221;<br />
</em></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Benarkah bila tiada itu, selalu berarti tiada? Ataukah ada itu, selalu berarti ada?</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kehilangan, bagaimanapun tidak pernah mudah pada awalnya. Ada yang tidak lengkap, suka atau tidak suka. Tercerabut begitu saja, bahkan tanpa pernah memiliki pilihan. Seperti tercerabutnya gulma, di tangan para petani. Tak kuasa untuk melawan, apalagi menawarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kompromi kemudian dilakukan, penyesuaian secara bertahap, mengakomodasi hal yang tidak enak itu. Berkompromi dengan keadaan, sering; sangat sering bahkan harus dilakukan. Naif, bila saya menyarankan untuk menikmatinya. Tapi apa lagi yang harus dilakukan?</p>
<p style="text-align:justify;">Pernahkah anda mendengar tentang mestia? Upacara pengorbanan, istri-istri Raja di Bali yang membakar diri, moksa bersama kekasihnya? Pun, budaya pagan di Eropa yang menyambut kematian sebagai sebuah perayaan? Mereka menghadapi kematian dengan senyuman. <a title="scriptopedia kematian" href="http://pejalanjauh.com/">Pejalan Jauh</a> telah menuliskannya, dengan sangat cantik.</p>
<p style="text-align:justify;">Harry Potter, seperti kehilangan seluruh dunia, saat Dumbledore meninggalkannya. Tetapi dalam seluruh perjalanannya kemudian, ternyata Dumbledore tidak hanya meninggalkan warisan benda-benda. Sebuah semangat, pelajaran dan tekad yang bulat, telah membantu dan membimbingnya, menghadapi Pangeran Kegelapan. Dumbledore tidak pernah tiada, karena dia hidup, dalam kenangan, setiap nafas, gelora semangat Potter. Dumbledore, masih ada, namun dalam bentuk yang barangkali sedikit berbeda.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa hal yang telah tiada, ternyata tidak benar-benar tiada. Kenangan akannya masih tertinggal, membuahkan senyuman di kala malam. Pun, butiran bening air mata, bahkan saat terang siang. Beberapa hal yang dianggap ada, justru hanyalah bayang-bayang semu kerinduan. Tidak benar-benar ada, atau tersembunyi, dalam lipatan-lipatan kenangan.</p>
<blockquote><p>Benarkah tiada, ternyata bisa menjadi ada? Ataukah ada, bukan tidak mungkin adalah ketiadaan?</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Burung-burung beterbangan ke arah horizon, berebutan menuju kaki langit. Mata dewa itu seperti akan terpejam, hilang di balik kelopak cakrawala yang hampir terlelap. Sebelum benar-benar hilang, cobalah tanyakan kepada burung-burung, apa yang dilihatnya. Barangkali saja, sebuah kabar kegembiraan. Di ujung sana, fajar baru saja menyingsing. Memberikan kehangatan, mata dewa yang telah membuka kelopak cakrawalanya dengan sangat pelan; begitu pelan.</p>
<p style="text-align:justify;">________________________________________________________</p>
<p style="text-align:justify;">Terima kasih untuk <a title="semanis aprikot kali, hihi" href="http://aprikot.wordpress.com/">Gita</a>, yang telah bersedia membagi dan membicarakan ketiadaan. Bahkan, dengan cara yang begitu ceria, dan senyum tak lepas dari wajahnya. Bukan; bukan, karena menafikkan ketiadaan, tapi menghadapinya dengan senyuman. Bukan begitu Git?</p>
<p style="text-align:justify;">Juga untuk seorang sahabat, yang kebahagiaannya direnggut oleh licin, lantai hujan. Saya setuju dengan sabda Baginda, bahwa ada hikmah di balik setiap hal.</p>
<p style="text-align:justify;">________________________________________________________</p>
<p style="text-align:justify;">Ah ya, dan Beliau Yang Mulia <a title="makhluk girang tiada tara" href="http://hoek.soegirang.com">Hoek</a>, tidak hanya duduk di singgasananya yang girang sangadh! Ternyata, eh ternyata, beliau benar-benar ADA. Saia sudah bersua, beliau yang begidu ….  Hmfphmfphmfp *dibekaf* Hohoho…</p>
<p style="text-align:justify;">Satu lagi, Dewa <a title="dewa keren" href="http://nazieb.com/">Nazieb</a>iyah, pun ADA. Sesosok Dewa yang pendiam; jangan mengusiknya, atau anda akan diberangus. Dituliskan nama anda, dalam layar komputernya, yang akan mengeluarkan huruf dengan tinta warna darah!!</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://nationalgeographic.com" target="_blank">asal gambar </a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/unclegoop.wordpress.com/145/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/unclegoop.wordpress.com/145/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/unclegoop.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/unclegoop.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/unclegoop.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/unclegoop.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/unclegoop.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/unclegoop.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/unclegoop.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/unclegoop.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/unclegoop.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/unclegoop.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/unclegoop.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/unclegoop.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/unclegoop.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/unclegoop.wordpress.com/145/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=unclegoop.wordpress.com&amp;blog=1717767&amp;post=145&amp;subd=unclegoop&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://unclegoop.wordpress.com/2008/04/15/adadantiada/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>45</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8bd5cf4852bb37610047be41e3f4fed3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dewanto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://unclegoop.files.wordpress.com/2008/04/041508-0140-adadantiada1.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
