Pulang

bebatuan yang tak terserak

Akhir pekan adalah saat yang menyenangkan bagi siapa saja, masa ketika pelajar untuk sementara meletakkan buku pelajarannya. Waktu dimana seorang pekerja dapat berkumpul dengan keluarga meski sesaat, atau moment spesial ketika dua sejoli memadu kasih. Pendek kata, dalam weekend (baca : akhir pekan) banyak yang berharap semoga tak pernah end (baca :berakhir).

Tak terkecuali saya, sudah menjadi rutinitas jika weekend adalah saat yang tepat untuk pulang. “Loh bukankah tiap hari kamu pulang?” kata teman saya. Memang tiap sore selepas lelah mata memandang brigthness dan contrast monitor saya pulang. Lebih tepatnya pulang ke kos.

Yah kos, hanya sebuah kamar 3×4 meter, dengan fasilitas seadanya. Dinding kepunyaan ibu kos, almari juga tempat tidur pula. Beberapa perkakas saya jejalkan ke dalamnya, sebuah tv 14 inch lengkap dengan antenanya, rak buku berisikan buku-buku butut, cantelah baju yang biasa menumpuk, beberapa botol obat bagus (baca : kosmetik) yang bahkan tak ada efek untuk sekedar membuat rambut saya lebih klimis.

Meski begitu, kamar kos tetap memberikan makna : bagi mereka yang sedang kasmaran, kamar kos menjadi ajang berasyik masyuk yang private (meski kadang ada pula 3gp, hasil mengintip dari kamar kos). Di lain pihak, kamar kos menjadi tempat pelarian dari kemarahan orang tua, yang sebal melihat sang buah hati tak kunjung pulang membawa gelar sarjana. Eits namun ada pula, peran kamar kos sebagai wadah sumber inspirasi, dimana dari sana berawal ide untuk menulis di blog ini misalnya, atau mungkin yang lebih menyinggung nasib seseorang, sebagai tempat untuk penyelesaian skripsi mungkin? dan entah apa lagi…??

-Namun, sepertinya saat ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan kamar kos-

Kembali ke pulang di awal tulisan ini, tiap akhir pekan saya pun pulang ke kampung halaman. Dari Klaten, selepas menempuh 2 jam perjalanan sampailah saya di Dusun Harjosari, Desa Madyocondro, Kec. Secang, Kab. Magelang. Harap jangan terpesona dengan namanya yang seperti di pewayangan itu, karena kenyataannya sangat jauh dari sebuah desa ideal. Jalan yang membentang menembus perkampungan kami, belumlah beraspal. Batu-batu yang tak terserak tanpa kesengajaan (artinya diatur) mencoba menjadi penghubung di perkampungan kami. Akibatnya saudara-saudara, adalah debu yang membumbung ketika kemarau tiba dan becek yang menempel di sepatu ketika penghujan datang.

Seperti saat ini, kemarau belum lagi usai, penghujan bahkan belum menampakkan tandanya. Debu yang terbawa angin mengetuk dimana saja, tak peduli di pintu, jendela, kursi, meja atau apapun. Menjadi selapis tipis diatas tiap-tiap permukaan, membawa penyakit, mulai dari flu sampai alergi. Ibu-ibu yang marah juga terkadang di picu lapisan sialan ini. Bapak-bapak yang enggan berlama-lama duduk, hanya karena mencoba menjaga agar tetap bersihlah pakaiannya. Anak kecil yang tak mengerti arti kebersihan memanfaatkan debu yang ada sebagai bahan permainan, tak peduli jika pulang nanti wajah galak ibu sudah menanti.

Ternyata tidak hanya sampai disitu, puasa yang harus dijalani sekarang juga menambah kurang nyamannya suasana. Atau mungkinkah ini sebagai bagian dari ujian?? Haus yang membakar kerongkongan menimbulkan amarah, tak sabar, dan cenderung mau menang sendiri. Kue-kue yang tertata di meja, harus ditutup rapat-rapat jika tak ingin menjadi cemar karena debu. Tak jarang, es degan yang niatnya untuk usir haus justru bikin pening karena kebanyakan. Uooouggghhhh.

-Namun biarkanlah sekali lagi saya ingin menulis mengenai pulang, dan bukan kampung saya-

Bertemu ibu yang baru saja berbuka puasa, bapak yang masih berlilit handuk di sebagian bawah tubuhnya. Adek-adek yang tetap saja berebut acara televisi, meski setelah sekian lama. Memberikan nuansa yang berbeda, ada capek disana, ada haus yang belum lagi terobati, ada panas yang masih terasa di kulit. Namun ada pula rasa nyaman yang berbeda, yang khas namun saya tak mengerti apa namanya. Ada aman terasa, walaupun tanpa penjaga dan senjata, ah rasa ini. Sungguh dirindukan setiap akhir pekan datang, mencecap-cecapnya bila malam tiba. Kembali tercium aroma itu, sendau gurau yang sama, hardikan yang khas ibu, batuk ayah akibat nikotin yang coba saya ikuti, tingkah adek-adek yang membuat keki, dan semuanya.

Memang rumah lebih memberikan makna, tempat kos bagaimanapun nyamannya tak pernah mampu untuk sekedar menggantikannya. Goenawan Muhammad (GM) jika saya tidak salah juga pernah menulis bahwa “negara hanyalah alamat tinggal, namun tanah air adalah tempat pulang”. Saya belum sempat belajar dari GM, dan agak naif jika saya memasuki ranah beliau yang sudah sampai negara levelnya. Sehingga ijinkan saya menganalogikannya seperti ini”kamar kos hanyalah alamat tinggal, namun rumah adalah tempat pulang”. Meski berdebu, becek, kadang bocor, suka mati lampu, hanya bertemu dengan tempe dan tahu, tapi betapa tiap-tiap dari kita membutuhkan tempat untuk pulang. Selayaknya rajawali selepas terbang melanglang angkasa, ingin tuk sekedar pulang, ke sangkarnya. Oiya…sayup-sayup sampai teringat Dik Doang ketika berdendang :

“Aku rindu ibu, wibawa ayah dan suasana yang ada…”

“Aku harus pulang….”

*&*

7 comments so far

  1. jensen99 on

    Masih bisa pulang tiap akhir minggu ya, mas? Enak lo…
    Banyak anak kos laen yg cm bisa pulang setaon skali. Rumah’e laen pulau…

  2. unclegoop on

    @jensen,
    Memang jen, tiap minggu saya pulang dan saya bersyukur untuk itu. Jika ada sahabat lain yang pulang satahun sekali, saya harap mereka juga tetap bersyukur, karena bagaimanapun juga mereka masih ada rumah, lebih jauh lagi mereka masih bisa pulang, ya kan…???

  3. Pulang (2) « DalamLipatanWaktu on

    […] menurut lirik diatas, kembali solusi dari semua itu adalah pulang. Mungkin ide awalnya sama dengan Pulang saya yang terdahulu, alasan-alasan yang sama, suasana dan harapan yang sama. Namun kenapa harus ke […]

  4. Resta on

    hidup anak kos hahaha semangat!!!

  5. goop on

    @resta

    Hidup juga ta…
    Semangat juga…
    tapi capek boz lama-lama (udah 7 tahun ngekoz sih)

  6. Oooo Secang ya Uncle?
    Saya sering lewat Secang kok … maklum setidaknya 1 bulan sekali saya menuju kampung saya di Banjarnegara

  7. goop on

    Lah…
    kenapa tidak mampir??😀
    memang dikau dimana sih paman??
    Bukannya sekarang sedang di Negeri Belanda?
    oleh-olehnya ya, sekuntum tulip:mrgreen:
    terima kasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: