Malam-Malam Ramadhan

Catatan 18.00 sampai dengan 24.00

Tidak ada yang berubah sebenarnya, matahari tenggelam seperti biasa, kegelapan mulai mengepung dan lampu-lampu berkelap-kelip mencoba menerangi. Rembulan di angkasa juga tidak ketinggalan, menjalankan siklusnya yang sudah berjalan selama berjuta tahun. Kadang tidak kelihatan, kemudian menjadi bulan sabit, bulan separo dan purnama. Setelah purnama, kemudian siklus terjadi secara terbalik, mula-mula bulan menjadi separo, sedikit demi sedikit beranjak menjadi bulan sabit dan pada akhirya akan menghilang dan tenggelam.

Peran makhluk pun beragam, ada jangkerik yang mengkerik, pungguk yang mengangguk-angguk, kalong yang mencari buah matang, dan serigala berlolongan dikejauhan. Di lain pihak, sebagian yang lain sedang beristirahat, bangau yang lelah setelah berseliweran diatas samudera mengistirahatkan sayap, berlindung di sangkarnya yang sederhana. Ayam, bebek dan itik patuh masuk ke kandang, ikan-ikan berenang tenang, namun terkadang diselingi kucing-kucing yang berlarian berkejaran dengan tikus, atau mungkin sedang mencari ikan asin tak bertuan diatas meja.

(intronya sepertinya koq kebanyakan ya??)

Dan manusia dimanakah mereka, kiranya tidak mungkin untuk mengabsen satu demi satu kegiatan mereka. Sebagian masih bekerja, sebagian mencari hiburan ditempat-tempat hiburan, sebagian bersantai menikmati malam bersama keluarga dan orang-orang tercinta. Oya, ada pula yang menulis blog ga karuan temanya (hehe). Tapi sebagian yang lain, memenuhi masjid bertarawih, bertadarus beriktikaf dan lainnya. Agaknya, sebaiknya kita urutkan satu demi satu, agar uraian menjadi jelas (cieeee).

Adzan magrib berkumandang, mengiringi tenggelamnya sang surya di ufuk barat. Angin beristirahat, tak bergerak dan memang seyogyanya seperti itu, karena suhu yang menyebar di muka bumi hampir sama. Tak memicu perbedaan tekanan yang menyebabkan gerakan angin. Beberapa wajah menyiratkan kegembiraan, selepas kelesuan yang setengah hari ini menggelayut. Segelas es campur, semangkuk kolak, beberapa potong pisang, tempe dan tahu goreng diatas meja siap diembat. Saat berbuka memang menggembirakan, ada binar disana, ada kegembiraan terpancar, walau bagaimanapun sederhananya hidangan. Tak jarang, beberapa orang berkumpul mengagendakan acara, berbuka bersama, lebih lengkap menunya, lebih beragam cemilan terhidang, dan lebih beragam tema pembicaraan.

Tak lama kondisi itu bertahan, sayup-sayup makin jelas adzan isyak ganti berkumandang, berbondong orang menuju masjid, ada yang berjalan sendiri sambil merenung, ada yang berjalan berkelompok sambil bersendau gurau. Satu tujuannya bersama-sama mereka ke masjid untuk bertarawih. Selepas sholat isya dijalankan, tak kenal lelah kemudian mereka masih berdiri lagi, menjalankan sholat tarawih. Beragam macam cara menjalankan tarawih ini, ada yang 23 rakaat, beberapa 8 rakaat, ada yang 2 rakaat kemudian salam, namun tak jarang yang 4 rakaat baru diakhiri salam. Di bagian paling akhir selepas mendengar kultum, atau ada pula yang tanpa kultum, shalat witir menjadi penutup yang rata-rata terdiri dari 3 rakaat.

Kembali pemandangan yang sama ketika terdengar adzan terulang. Jamaah berbondong atau bersendiri pulang kerumah, namun sebagian masih tetap tinggal di masjid. Beberapa muda-mudi justru ada yang mencari jalan pulang sendiri, sedikit memutar menikmati kebersamaan bersama-sama sejenak, melepas rindu. Mereka yang masih tinggal di masjid kemudian bertadarus, menyanyikan madah agung, membaca surat cinta Tuhan dalam kitabNya. Tak ketinggalan suara-suara lirih syahdu mengalun pelan, naik turun bergelombang dari rumah-rumah. Mengisi ruang-ruang udara, suara-suara itu bersautan, menembusi dinding-dinding pedesaan, menelusup diantara gedung-gedung perkotaan, tak jarang meresap pula di hati mereka yang sedang terkantuk, mungkin juga melamun. Membangkitkan kesadaran, menggugah namun ada pula yang tak terpengaruh. Madah itu begitu agung, megah dan menggema membisikkan cerita-cerita masa lalu, kabar gembira dan peringatan.

Setengah sepuluh kurang lebih ketika madah agung itu menjadi sayup-sayup sampai, timbul tenggelam diantara helaan nafas. Satu demi satu para qori dan qori’ah pulang, menjumpai keluarga yang sebagian sudah terlelap disudut sofa, sebagian yang lain menunggu dengan binar cahaya. Atau jumpa acara televisi kegemaran. Mengistirahatkan badan, melenakan fikiran sambil menunggu kantuk datang dengan setia. Ketika suara-suara syahdu itu benar-benar berhenti sebagian telah tergolek kecapean, sebagian sudah berlindung dibalik selimut tebal, atau mungkin ada yang mencumbu istri, beristirahat di balik ketiak, dalam pelukan hangat menentramkan??

Meski begitu, sebagian lain ada yang tetap terjaga, menunaikan kewajiban meronda menjaga keamanan lingkungan. Ditemani kartu remi pengusir kantuk, guyon saru penambah malam menjadi seru. Sebagian lainnya menghembuskan asap mengepul bergumpal pekat, sekedar usir dingin sambil berharap hilang segala penat. Ah, kiranya malam yang menggemaskan …damai…megah…syahdu…yang sayang hanya sebulan???

6 comments so far

  1. hoek on

    wow! bahasanya lho! puitis, sejuk, tenang sangadh lage! keren bro! salut saia sama postingan begini ini! saia jadi terbawa…walopun cuma kalo dibaca sekilas aja, tapi ko kekna punya makna yang dalem sangadh ya?

    “Ketika suara-suara syahdu itu benar-benar berhenti sebagian telah tergolek kecapean, sebagian sudah berlindung dibalik selimut tebal, atau mungkin ada yang mencumbu istri, beristirahat di balik ketiak, dalam pelukan hangat menentramkan??”

    “Sebagian lainnya menghembuskan asap mengepul bergumpal pekat, sekedar usir dingin sambil berharap hilang segala penat. Ah, kiranya malam yang menggemaskan …damai…megah…syahdu…yang sayang hanya sebulan???”

    SEP!

  2. goop on

    @hoek
    Benarkah apa yg ohm hoek katakan?? Sungguhkah seperti itu?? Sek coba tak baca lagi…

    *manggut-manggut membaca, sambil lirak-lirik cermin, eh disana diriku sedang senyum-senyum sendiri, maklum ya mas kan narsis mode nya lagi on*

    Aniway, thank you ohm hoek

  3. beratz on

    serigala berlolongan dikejauhan <== nih kayaknya terlalu belebihan deh mosok nang kos ono serigala

  4. goop on

    @beratz
    Haha, saya konangan…
    itu memang sengaja ohm ber..
    agar supaya rasanya lebih kena..
    barangkali jika diibaratkan, seperti vetsin dalam masakan
    bgitulah..

  5. ponakan (^-^)/ on

    hehe aja.. sambil senyum2 juga ngebaca dan ngebayangin gimana unc yang lagi narsis (menuhin comment..)

  6. goop on

    @ponakan
    Ugh…ni ponakan, ikut-ikutan senyum-senyum juga..ada-ada aja


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: