Malam-malam Ramadhan 2

Catatan 24.00 – 05.00

Tak banyak cerita di sekitaran tengah malam, tidur menjadi pilihan hampir semua makhluk. Meski mungkin pungguk masih juga mengangguk-angguk sambil terkantuk. Kalong entahlah, tak pernah tau aktivitas makhluk satu ini, mungkin dia sudah temukan buah matang, sedang menikmatinya, atau bahkan sedang putus asa karena buah matang semakin jarang dia temukan, sudah teronggok diatas meja mereka yang buka, terpenjara rapi di etalase mall, atau sekedar terserak di pasar tradisional yang kian kumuh.
Sekelompok peronda, duduk memutar kian mendekat, larut dalam permainan kartu yang itu-itu juga, berputar-putar sampai kartu lecek tak terasa. Berbatang putung menjadi saksi, berapa paru-paru yang telah teracuni, semakin berkurang jumlahnya dalam pak yang lecek di kantung tipis karena uang sudah tak ada guna membeli batang demi batang, atau pak demi pak. Tapi mereka harus terjaga, menunaikan kewajiban sesuai jatah yang menjadi keputusan bersama.

“kamu dimana goop waktu itu??” kata teman saya
“aku ya di kamar kosku tidur, pake selimut tebal, memeluk guling yang bau itu.” jawab saya
“lah koq kamu tau, situasi waktu itu?” kata teman saya lagi
“hayo ngarang to, gitu aja ko repot!!” jawab saya sekenanya
Dari tarikan wajahnya saya tau, teman saya sedang berfikir keras, ha mbok ben, wong jawaban ngawur ko difikir batin saya

Kira-kira pukul 02.00 (ini saya tau betul, karena saya pernah “sekali” bangun pas jam itu), mulai terdengar suara-suara, memang awalnya ga begitu saya perhatikan. “Masak, masak, masak!!!” terdengar dari musholla di pinggir desa, busyet peringatan apa lagi ini?? Bukannya sahur, sahur tapi ko malah masak…masak…ah benarkah yang saya dengar?? Kembali saya perhatikan, dan memang “Masak, masak, masak!!!” Otak kotor saya harus bekerja cukup lama untuk menerjemahkannya, sampai akhirnya sampailah saya pada satu kesimpulan, memang tereakan itu berbunyi masak, dan agaknya ditujukan kepada ibu-ibu agar bangun, dan memasak, persiapan untuk sahur tentunya (oya teriakan masak ini terdengar di dekat kos saya di klaten).
Kenapa ibu? Ya iyalah kan memang ibu-ibu yang “tugasnya” masak, dahsyat bukan?? Ketika bapak-bapak masih mendengkur dengan keras dan sama sekali tidak merdu, ibu-ibu harus bangun dan memasak, damn!! Kelakuan macam apa ini??

“bukannya kamu juga tidur goop?? Dan agaknya sekali waktu kamu juga mendengkur!” eh tiba-tiba teman saya nyeletuk.

Hehe iya sih, saya juga tidur, tak sanggup saya ikut-ikutan ibu saya di kampung bangun, berjalan-jalan kesana kemari nyalakan kompor, ambil gelas, cuci piring, potong cabai, goreng telur dan seabreg kegiatan lainnya. Ha mbok mending saya membetulkan selimut dan melanjutkan mimpi saya yang terputus tadi (meski saya sudah coba berulang kali dan bagaimanapun indahnya mimpi yang telah terputus, tak kuasa untuk sekedar menyambungnya lagi). Setelah semuanya siap, jam 3 an ibu-ibu luar biasa ini kemudian mulai bergerak, membangunkan putra putrinya, membelai sayang suaminya, menyadarkannya dari istirahat yang katanya akibat kecapean setelah bekerja seharian (padahal ibu-ibu itu, ga Cuma seharian bekerja). Terlihat hidangan sudah tersedia diatas meja, teh anget ada di gelas, putra-putri ga tahu diri itupun masih sambil kucek-kucek, mulai memenuhi piring dengan makanan, setel tv dan duduk manis sambil makan.
Beberapa yang usianya lebih kecil, nampak ogah sangat untuk bangun, masih mengantuk dan ngulat-ngulet kesana kemari ketika dibangunkan. Meski akhirnya bangun juga, yang bikin tambah repot, karena ada yang menangis, mengompol, berteriak-teriak dan kegilaan lainnya. Di televisi, para pelawak beraksi, meski ada juga yang bukan pelawak ikut-ikutan cari rezeki. Berlomba-lomba memenangkan rating dengan kuis, walopun ada sebagian yang menganggapnya judi namun tak kuasa menahan gelombang telepon, para pencari duit instan (sudah ah, lama-lama jadi iri saya dengan para penelepon yang berhasil dan memenangkan sesuatu).
Tiba-tiba terdengar suara lain yang bersahutan, “Imsak…imsak…” ada yang diam saja tak beraksi, ada yang mengumpat karena baru 3 sendok masuk ke perut. Ada yang bilang imsak itu seperti lampu kuning di perempatan, boleh jalan namun hati-hati sebelum nanti menjadi merah, atau berhenti saja sekalian biar aman. Kurang lebih 10 menit kemudian, berkumandang adzan yang sedikit berbeda, ada penambahan atau pengingat bahwa sholat itu lebih baik dari pada tidur. Walaupun kenyataannya, ada yang memilih untuk menggelosor tidur-tiduran dan menjadi tidur beneran. Sebagian yang lain malah benar-benar membaca do’a menjelang tidur, eh malah ada seorang teman yang tidak tau bahwa adzan shubuh itu berbeda, dipikirnya sama saja dengan adzan yang lain???
Sholat shubuh pun dijalankan, hanya 2 rakaat saja sebenarnya, namun sungguh shaf dimasjid hanya sekitar 2 baris di wilayah bapak-bapak dan 3 sampai 4 baris di bagian ibu-ibu (kenapa lagi-lagi ibu-ibu lebih eksis??). Sebagian ada yang dengan do’a kunut, namun belahan lain tak pakai kunut (kiranya ini jadi perdebatan bukan??)

“Kenapa sih goop, ko mereka ga berdebat tentang yang membaca do’a menjelang tidur di saat adzan shubuh berkumandang, atau berapa jumlah shaf yang ada??” eh teman saya yang tak pikir tidur, tiba-tiba ngoceh

Selepas salam, sehabis wirid dan dzikir sebentar, mulai terdengar kultum dengan beragam tema. Tak hirau walaupun pendengar hanya sedikit, sudah sepuh pula. Mendengar sambil terkantuk, seperti bayi yang dinina bobo, agaknya pengeras suara dengan volume maksimal itu layaknya seperti suara misteri dari tempat-tempat yang jauh tak bernama. Ketika masjid dan musholla menjadi kosong kembali, kembali dari rumah-rumah terdengar madah agung dinyanyikan, bertimpalan dengan kokok ayam yang bermunajat dengan caranya sendiri. Bgitulah, dan jam 5 ketika matahari di ufuk timur mulai menampakkan sinarnya menerobos awan tipis mengusir dingin, tiba saat untuk saya tidur, sebelum nanti dimulai dari jam 8 sampai seharian saya harus berperang menghadapi brightness dan contrast monitor.

“Hrrrrrr…..Hrrrrrrr….Hrrrrrr” itu suara dengkur teman saya, yang sekarang sudah benar-benar tidur…

-Menjadi bagian akhir dari sebuah potret, tidaklah mungkin lengkap karena kesubyektifan sudut pandang, dan keterbatasan lensa. Harap bisa menjadi catatan, atau lebih tepat nukilan dari sebuah bulan yang luar biasa, Terima Kasih-

10 comments so far

  1. hoek on

    yay, fertamax!
    hmm…deskripsinya detail sangadh kawan! sefertinya kamuh memferhatikan afa yang saia ferhatikan, yaitu IBU-IBU yang slalu lebih siap saad sahur, fadahal mereka fun sama aja lelahnya kek suami atau anaknya, bahkan hari-harinya lebih lelah lage…uda geto mereka juga yang mesti bangun lebih ceped tiaf fagi…hmm…..nice posting bro! mnampilkan sisi laen dari bulan fuasa…sep!

  2. Goop on

    @hoek

    Selamat ohm,cetak rekor lagi…
    yap, memang ibu-ibu itu luar biasa kiranya…
    Thanks for de first comment

  3. xwoman on

    hebat ya ibu2 itu… terlalu banyak berkorban buat keluarganya walaupun kadang-kadang keluarganya tidak tahu diri:mrgreen:
    makanya tidak salah kenapa Rasulullah menyuruh kita mendahulukan ibu kita 3 kali lebih utama dibanding dengan bapak.

    Jadi inget ibu😥

  4. goop on

    @xwoman
    hehe…benar, saya juga setuju klu ibu2 itu hebat, namun saya agak tidak sepaham bila terlalu banyak berkorban..ibu saya misalnya, tidak pernah beliau merasa itu sebagai pengorbanan, beliau merasa itu adalah tugasnya, kewajibannya dan sudah selayaknya seperti itu..entahlah kalo ibu-ibu yang lain..aniway, makasi sudah mampir…

  5. Nurul Wahida on

    IBU ADALAH SEGALA-GALANYA

  6. goop on

    @nurul wahida

    yap ibu memang sosok yang penting, tapi menurut saya bukan segala-galanya, karena masih ada pula yang lain, hehe…

  7. beratz on

    Lha temenmu ini siapa goop?
    katanya di kost?
    temen imajinasi ya?
    Aku ra komen masalah IBU yang sangat KUAT dibandingkan LAKI-LAKI atau BAPAK-BAPAK.

  8. goop on

    @beratz

    Temen saya itu…
    rahasia dunk…
    btw, kenapa ga comment tentang ibu-ibu ohm beratz??

  9. ponakan (^-^)/ on

    iya ya unc…
    padahal waktu di kos tuh sok2an masakin (ups…. bukan masakin tapi manasin dink..he) punya ade segala loh…
    lah… nyampe di rumah… tuh… yang ada mirip spt cerita uncle gt deh.. mentang2 dah ada ibu eh… sok telat-telatin bangun gt…

    tu dia unc… ni juga salah satu alasan yang bikin berasa lebaran g seindah dulu (eh, maksdnya g lebih indah dink… coz dulu2 juga mirip crt unc si..hehe)… (maksudnya???hehe.. ku juga binun… intinya gt lah)

  10. goop on

    @ponakan
    Walah..ini ponakan muter-muter ga karuan, bikin binun aja…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: