Tersesat di Mall

mall.jpgMall…tempat beragam macam barang ada mulai dari kutang berenda sampai neon pun ada. Meski begitu sampai detik ini saya belum bisa menemukan sarung yang dilengkapi dengan tempat sabuk?? Sampai sekarang saya juga masih kesulitan jika ingin mencari celana dalam yang dilengkapi saku?? hehehe. Namun meski begitu, mall bukanlah hutan rimba, bukan pula lautan tak bertepi apa lagi gurun tandus. Mall adalah tempat belanja, simbol orang modern dan sangat mustahil bila sampai tersesat disana.

Begini kira-kira awal mulanya.

Jum’at siang selepas menunaikan jum’atan adalah saat yang tepat untuk memejamkan mata. Tidak peduli orang tua, anak muda sampai dengan mereka yang belum khatam menghitung sampai 10, pasti menjawab jika selepas sholat jum’at adalah saat yang tepat untuk tidur. Namun siang itu, Jum’at (28/09/07) tidak demikian dengan saya, sebuah undangan rapat memaksa saya berjauhan dengan kantor saya, dan lebih lagi dengan kamar kos saya yang panas itu. Rapat yang digelar di sebuah kota besar, menimbulkan ide di benak saya, orang-orang daerah yang sok aksi untuk berbelanja memenuhi budaya menjelang hari raya yang harus berpakaian baru, serta mumpung ke kota, adalah alasan saya yang saya anggap cukup kuat untuk menuntun kaki kami ke sebuah mall.

Dalam sebuah mobil selepas merundingkan apa yang hendak dibeli dan dimana sebaiknya tempat tujuan, akhirnya diputuskanlah, nama sebuah tempat belanja. Eits tapi sebelum kesana, teman saya berkeinginan untuk membeli atau lebih tepat mungkin melihat baju koko, sarung dan lainnya. Akhirnya sebuah toko saya usulkan kepadanya, sebuah toko yang dikelola oleh seorang anak muda, menjadi pusatnya dara remaja jika ingin mencari pakaian muslim, lebih jauh bukan hanya pakaian muslim untuk dara remaja saja. Ada pula baju koko untuk bapak-bapak, sarung, mukena, dan memang pakaian untuk gadis-gadis remaja, dan ibu-ibu menempati porsi yang paling besar di toko tersebut.

Masuklah kami berdua kedalam toko, lirak lirik kanan kiri akhirnya setelah di lantai dua bertemu pula dengan bagian untuk remaja putra dan pakaian lelaki. Sesampai ditempat tersebut, dibolak-baliklah baju yang ada, liat model, liat harga pindah lagi, bgitu seterusnya sampai capek kaki mengikuti. Tidak hanya sampai disitu rupanya, karena disana tersedia pula sarung dan sajadah yang beraneka ragam bentuknya, jadilah dua benda ini juga menjadi sasaran tangan-tangan haus saya dan teman saya. Akhirnya teman saya mengambil beberapa buah sarung dan meninggalkan semua baju koko yang bagus-bagus itu. Menurut saya bagus, namun tidak demikian dengan pandangan teman saya, karena ternyata dia tidak suka.

Perjalanan dilanjutkan menuju ke sebuah mall di tengah pusat kota, lebih besar, lebih megah dan lebih banyak barang tersedia. Jika di toko pertama yang khusus menyediakan pakaian muslim untuk beragam umur, dan jenis kelamin. Toko kedua semua benda dijual dari mulai buku, kopi, kaos oblong, celana, sepatu, makanan cepat saji dan lainnya namanya juga mall mas!! Ditempat ini, teman saya lagi-lagi mencari baju koko sasarannya. Akhirnya di akhir waktu belanja didapatkan 2 buah baju koko dengan warna dan renda yang menarik. Selamat untuk teman saya dan apes untuk saya, kenapa??

Saya sudah tau jika siang itu ada rencana untuk pergi membesuk mall, namun saya lupa tidak menggesekkan kartu ATM saya di tempat yang semestinya, sehingga saya bisa mendapat tambahan rupiah di dompet saya yang sejak dulu tidak pernah tebal itu. Akhirnya seperti orang berjalan di tengah rimba tanpa membawa peta, kompas dan perbekalan. Saya seperti tersesat di belantara dua toko. Apa yang saya lakukan kemudian adalah melihat-lihat dan beberapa hasil intipan yang kiranya layak untuk dilaporkan adalah :

– Menjelang hari raya mall, toko dan tempat perbelanjaan lain kian ramai, melebihi hari biasa.

– Menjelang hari raya, banyak discount dan potongan harga, oya potongan kupon dari koran juga berlaku

– Banyak gadis cantik berjalan-jalan di mall, banyak yang digandeng cowonya, banyak yang sendiri, banyak pula yang bersama ibunya.

– Menjelang hari raya, pelayan toko jadi bertambah, karena adanya anak-anak SMU yang lagi PKL

Masih banyak pula laporan yang lainnya, namun lepas dari itu semua, ada keengganan kembali tersesat di mall ini. Saya sebagai bujangan dengan dibekali berlembar rupiah tentu tidak masalah sekedar berjalan-jalan dan membeli beberapa hal (sombong mode on). Tapi masalah bukan disana kawan, benar-benar saya membutuhkan sebuah peta untuk memasuki tempat bernama mall ini. Dalam mall tak ada tempat bertanya yang akan menunjukkan kepada tempat tujuan, karena tempat tujuan itupun juga tidak ada. Semua menjelma menjadi tujuan, counter baju koko mendadak begitu menarik, rak-rak berisi sepatu entah kenapa tiba-tiba menyilaukan mata. Berderet kaos, dasi yang menggantung, jajaran sepatu dan entah apa lagi. Saya seperti kelaparan ingin memakan semuanya, saya ingin berputar menubruk kaos disudut sana, mengajak berdansa sebuah setelan jas, atau membelai sayang sebuah sepatu sport.

Pendeknya saya menjadi kehilangan akal sehat, memasuki tempat itu. Logika tak lagi dipakai, semua pengetahuan atau ilmu memadu padankan baju di putar ulang, rekaman memori dari sinetron coba digali, tentang bagaimana si aktor selalu nampak cakep dengan kombinasi warna dan model terkini. Bayangan group band idola dengan kostumnya yang menarik dan keren tiba-tiba melintas, menuntun kaki dan kesadaran diri melihat, memilih dan berjalan. Saya laksana tanpa tuan saat itu, menari dalam alunan musik bernama celoteh manusia, berjingkat-jingkat dalam nada bernama keinginan. Yah..keinginan ternyata dalang dibalik semua semangat saya, aktor utama penggerak badan saya, dokter pembius kesadaran otak saya.

Untunglah keinginan saya siang itu terkebiri, karena tanpa peta, tanpa bekal dan tanpa senjata saya hanya bisa berjalan kesana kemari, hanya bisa melihat memandang ingin, tak kuasa untuk sekedar mencoba, sekedar memegang, bahkan hanya untuk mencium aroma. Saya bersyukur siang itu, kealpaan saya tidak menggesek ATM membawa saya kepada kesadaran, bahwa keinginan adalah monster yang cantik.

“Hehehe”, monster itu tertawa

16 comments so far

  1. hoek on

    hmm…curhad di mall yang dibungkus dengan kalimad khas unclegoop!!!keren sangadh kawand, afalagi yang ini
    “Pendeknya saya menjadi kehilangan akal sehat, memasuki tempat itu. Logika tak lagi dipakai, semua pengetahuan atau ilmu memadu padankan baju di putar ulang, rekaman memori dari sinetron coba digali, tentang bagaimana si aktor selalu nampak cakep dengan kombinasi warna dan model terkini.”
    *ngikik geli*
    suka nonton sinetron?:mrgreen:

  2. Sawali Tuhusetya on

    Mall merupakan, menurut pendapat saya ini lho Mas, produk kapitalis. Apa pun yang dijual di sana jelas yang bisa mendatangkan keuntungan. Ingat mall, saya jadi ingat nasib pedagang kecil yang terpaksa kena gusur akibat serakahnya kaum kapitalis itu. sebab itu, hingga sekarang jika beli produk yang sama saya lebih suka beli yang di pedagang kecil. Kalau semua belanja di mall, lantas siapa yang menghidupi pedagang kecil, hehehe😀

  3. bakazero on

    kenapa monsternya ketawa???
    memang fenomena biasa di Indonesia tiap tahunnya ya, mall pada “sibuk” mengalirkan arus uang…

  4. Resta on

    napsu memang menguras dompet… bersukurlah klo bisa melawan hawa napsu…

  5. itikkecil on

    Memang Mall kadang-kadang bisa membuat orang kehilangan akal sehat

    *nasib shopaholic*

  6. antobilang on

    saya dan temen2 serombongan waktu piknik ke surabaya, juga sempet tersesat di Plaza Tunjungan.😛 gak kebayang deh tololnya waktu itu…:mrgreen:

  7. goop on

    @Hoek
    Iya ohm hoek, kadang-kadang saya liat juga, dulu tapi, kan namanya aja menggali memori…

    @Sawali
    Benar ohm sawal, (meski saya ga ngerti juga produk kapitalis itu, habis udah terlalu banyak si, disekitar). Betul, saya setuju pedagang kecil, harus diingat

    *liat ohm sawal, sedang membatin “hanya diingat buat apa mas??”*:mrgreen:

    @bakazero
    Kan, monster bernama keinginan itu cantik…😛

    @Resta
    Wah keliatannya bukan hanya dompet Ohm Resta, air mata juga terkuras loh
    *walah, ketoke ini berlebihan*

    @itikkecil
    tante itik, hendak bilang gila, gak enak ya??
    shopaholic juga kah??

    @antobilang
    emang gimana tololnya waktu itu ohm anto, bolehlah dibayangin lagi untuk kami.:mrgreen:

  8. beratz on

    betul mall tidak pro poor makanya coba liat di http://beratz.wordpress.com/2007/09/03/semua-ada-disini-pasar-tiban-manahan/
    dan kayaknya lebih asyik disana.
    “Ngacir mode on”

  9. goop on

    @beratz
    Makasih atas infonya ohm ber,…
    *lagi ngacir ke manahan*

  10. ann on

    jadi teringat jaman dulu…
    ak pernah ketemu seseorang di depan sebuah mall bersama seorang dara cantik yang didampingi sang mami tercinta dengan membawakan setumpuk belanjaanya…
    tapi seingatku waktu itu om gop tidak “tersesat”…
    jadi … kesimpulannya…. ap ya????

  11. goop on

    @ann
    walah isyu lama yang pernah menghiasi infoteinment ko dibuka lagi, hiks hiks hiks😀

    :::Kesimpulannya ya, jangan pergi ke mall sendiri, ajaklah pasangan atau kalo perlu calon mertua, geetu..:mrgreen:

  12. caplang™ on

    😆

    ga pernah tuh nyasar di mal
    soalnya emang jarang ke sana

  13. uwiuw on

    iya, keinginan adalah mosntser yg cantik….apalagi bila tidak terpenui keinginannya. Bila situasi itu sudah terjadi, maka dunia terasa sempit.

    hehehehe
    sy ingin cepat menikah !😀

  14. goop on

    @caplang
    wah sekali waktu perlu tu ohm caplang, biar tersesat seperti saya:mrgreen:

    @uwiuw
    Betul, dunia terasa sempit bila keinginan tak terpenuhi, tapi bila menikah, yang terasa sempit mungkin ranjang ya ohm??:mrgreen:

  15. ponakan (^-^)/ on

    SETUJU… (apa coba?)
    belakangan ku juga takut nge-mall soalnya takut “membabi buta” hehe…syukur sebelum lebaran uang jajan dah habis bayar tiket… hehe…kalo gak… wah gaswat… bisa g nyadar deh unc….
    dan syukur lagi pasca lebaran masih banyak “hutang” numpuk hehe….

  16. goop on

    @ponakan
    duh..malang nian nasibmu nak😀 masak kecil-kecil udah berhutang:mrgreen:


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: