Suara Hati dalam Suara Iklan

Suara latar : “Kring…kring”

Ibu : “Assallamualaikum, sampai dimana nak??

Anak : ”Masih di jalan bu”

Ibu : “Dimana??”

Anak : “Ada bu.”

Ibu : “Bagaimana puasanya?”

Anak : ”Lancar bu”

“Kejujuran yang hakiki, diawali dengan jernihnya suara hati”

Ibu : “Esnya dibungkus aja ya!!”

Anak : ???

“kemudian iklan sebuah provider sellular”

Iklan sebuah provider seluler ini dapat ditemukan disesela acara empat mata bersama dengan Tukulnya itu. Saya tidak dibayar oleh provider tersebut untuk mengiklankan merk dagangnya. Saya juga tidak kenal dengan Tukul, meskipun dia berasal dari Semarang, kota yang secara berkala saya kunjungi. Tapi agaknya saya tertarik dengan iklan itu, dan bagaimana iklan itu menyadarkan saya.

Adalah seorang anak kecil, masih SD mungkin sekitar kelas 4, alias kurang lebih berusia 10 tahun. Setting iklan di pinggir jalan, dengan latar waktu saat anak SD pulang sekolah, saya bukan anak SD jadi tidak tau jam berapa mereka pulang, namun agaknya siang hari ketika matahari tepat di ubun-ubun. Sangat panas memang, dan agaknya di panas yang terik itu segelas dawet atau es campur mampu menghilangkan haus di kerongkongan.

Berdiri di depannya, seorang penjual es campur yang berdiri gagah, menyembunyikan senyum simpul penuh arti. Sibuk dengan perangkat kerjanya, beberapa buah stoples penuh berisi cairan baragam warna dan beragam isi, sebuah sendok besar menjadi pelengkap, menari lincah keluar masuk diantara stoples, memindahkan isi cairannya kedalam sebuah gelas kecil. Tak urung denting sendok yang bertemu dengan pinggir stoples menjadi irama merdu, apa lagi di siang terik itu, menimbulkan jakun si anak yang belum lagi tumbuh nampak naik turun. Ting…ting…ting bunyinya.

Di lain tempat, dalam sebuah rumah seorang ibu yang membayangkan kesabaran dan keteduhan di wajahnya. Mengenakan jilbab, duduk dipinggir meja tersenyum simpul, wajar tanpa dibuat-buat. Tangannya terulur menyambut anaknya yang sudah SMP, yang mencium tangan dan nampaknya baru pulang juga dari sekolah. Walau tersenyum, namun membayang pula kekhawatiran, karena anaknya yang SMP sudah pulang, namun si kecil yang masih SD justru masih di jalan.

Percakapan diantara ibu dan anak itu, yang melalui sebuah telepon genggam terekam dengan baik dalam ilustrasi dialog diatas. Keunggulan yang ditawarkan oleh provider agaknya adalah disamping suara si ibu dan si anak yang jelas, juga denting sendok beradu dengan toples ditangan penjual es campur. Bila dalam kondisi biasa, mungkin hal itu tidaklah aneh. Anak SD yang kepanasan dan coba ditawarkan dengan segelas Es campur adalah sudah wajar. Sayangnya saat itu si anak sedang puasa, sehingga denting yang terdengar si ibu sudah menjelaskan bahwa anaknya itu sedang membeli segelas es campur, dan meminta si anak untuk membungkus saja, dan mungkin agar meminumnya ketika saat berbuka tiba.

Dalam sudut pandang saya sebagai seorang penonton adegan tersebut, bukan provider bersuara jernih yang menarik hati saya. Saya sudah memiliki provider sendiri yang kebetulan berbeda, diawali dengan nomor 0815 sekian…sekian. Bukan juga siang yang panas, apalagi meja atau sendok dan toples. Tiga orang actor yang berakting itulah yang menarik kesadaran saya.

Ibu itu begitu sabar menurut saya, menerima ciuman di tangan dari anaknya yang pertama dengan senyum. Sementara hatinya diliputi kekhawatiran menyadari anaknya yang kedua (masih SD) masih belum pulang. Dicobanya menghubungi anaknya dengan ponsel, dan menyadari kenyataan yang lumayan mengecewakan hatinya, anaknya masih di jalan dan sedang memesan es campur agaknya. Alih-alih marah, ibu itu masih tetap sabar menanyakan kondisi si anak dan keadaan puasanya, juga anjuran agar es campurnya di bungkus saja. Betapa sabar bukan ibu itu?? Tidak membabi buta memarahi anaknya, menurunkan tangan besi, atau bahkan menancapkan palu di kepala anaknya (inget ga, peristiwa beberapa saat yang lalu??)

Seumuran anak SD tentu masih sederhana fikirannya, ketika kecewa menangis, ketika lapar makan dan saat haus tentu dia minum. Namun lihatlah, anak yang kecil itu bisa mengekang keinginannya untuk minum karena teguran dan diingatkan oleh ibunya bahwa ia sedang berpuasa. Mungkin ada yang berfikir “berarti anak tersebut puasa karena takut sama ibunya?? jadi bukan karena kesadaran agar dia beriman seperti orang-orang terdahulu yang juga beriman??” Saya bukan tukang debat, dan biarkanlah bila fikiran tersebut muncul di benak. Tapi tolong, lihatlah juga betapa anak tersebut merubah keputusannya, tidak jadi minum es langsung dari gelas, namun membungkusnya, menentengnya di stang kiri sepedanya dan mengayuh cepat sepedanya pulang. Jadi anak tersebut telah belajar, dia berkomitmen dan dia tidak ingin melihat ibunya marah. Meskipun sebenarnya, kalau dia berkenan tentu bisa saja es tersebut di bungkus namun telah diminum sebagian, toh ibunya juga tidak akan mengetahui hal ini!!

Di lain pihak, lihatlah si penjual es. Saya tidak akan terlalu usil untuk menanyakan agamanya, lalu kenapa kalau dia seagama dengan si anak, atau dia berbeda?? Benarkah bila berjualan makanan di siang hari nan terik di saat orang berpuasa adalah sebuah pelanggaran?? Bagaimana bila hanya itu kepandaiannya, mungkin saja istri dan anaknya di rumah sedang mengharap cemas kedatangan suami dan bapak, membawa pulang uang receh. Tidak menutup kemungkinan, senyum penuh artinya menyembunyikan harapan tentang recehan pengganti THR. Paling tidak menurut saya dia sudah jujur, mengenai keadaanya, harapannya dan usahanya.

“Kejujuran yang hakiki, diawali dengan jernihnya suara hati” kembali rangkaian kata ini mengingatkan saya. Pada ibu yang jujur menunjukkan kesabaran dan kasih sayangnya pada sang anak. Kejujuran seorang anak kepada ibunya, bagaimana pun suasana dan niat tidak menghalangi untuk sedikit berbohong. Jujurnya seorang penjual es campur akan harapan dan keadaannya.

Sungguh jernih bukan?? Suara hati mereka, tidak perlu bantuan provider untuk mendengarnya, sedikit rasa dan kepercayaan cukup untuk menjelaskan.

19 comments so far

  1. beratz on

    1. Begitulah kenyataan realitas di kehidupan sehari-hari. Jangan lantas mentang-mentang umat islam sedang berpuasa maka semua yang berhubungan dengan makanan harus dipindah aktivitasnya di malam hari kayak yang dilakukan oleh beberapa aktivis/ormas islam di daerah tertentu (sengaja nggak nyebut nama)
    2. Aku pingin bisa nulis runtut koyo kowe ndes.
    3. …….. hatiku senang bisa berharap dapat duit lalalalalalalaallaallalala (senandung rindu bapak pada anaknya). Halah ra ono hubungane babar blas

  2. Resta on

    iklan yang menyentuh…bulan puasa banyak iklan2 yg bagus.

  3. caplang™ on

    saya juga pake XL!😛

  4. uwiuw on

    sy ingin menulis bisa mengalir seperti ini. Bagaimana caranya ? apakah harus jujur jg ?

    hhehehe…just wonder😀

  5. aCiL on

    keJuJuRaN meRuP. kuNcI keBaHaGiaaN haTi buKaN..

  6. hoek on

    ah ya, analisa yang bagus kawand! saia salud sama kamuh!be te we, emang ndak ferlu mikirin si anak itu fuasa buad siafa, tafi yang jelas, saia salud sama iklan itu! diantara iklan-iklan ga genah yang laen…

  7. Sawali Tuhusetya on

    Postingan yang bagus ini, Mas Goop. Ada nilai kejujuran dan kesabaran yang diangkat. “Kejujuran yang hakiki, diawali dengan jernihnya suara hati” Idiom yang bagus nih. Jujur dan suara hati itu memang seperti satu pintu. Begitu dibuka dua2nya ada di sana. Sayangnya, sekarang ini kedua2nya itu sering ngumpet entah di mana. Fenomena yang sering muncul adalah kemunafikan dan kebohongan. Nah, yang kita perlukan sekarang adalah bagaimana membangun kejujuran seperti si anak SD dan ketabahan seperti potret sang ibu itu.
    OK, salam, Mas Goop.

  8. goop on

    @Beratz
    1. Betul, ohm sengtuju
    2. Wah, nulis runtut ga sukar…perhatikan aja subyek predikat dan obyeknya (jawaban ngawur, *dijitak sama ohm sawal*)
    3. Dapat duit tyus buat anak ya ohm?? (ketoke mung pamer ki??):mrgreen:

    @Resta
    Menyentuh apa ta??😀

    @Caplang
    Wah kita ga bisa freetalk dong!!:mrgreen:

    @uwiuw
    Caranya liat jawaban untuk ohm beratz *kembali di jitak ohm sawal*:mrgreen:

    @acil
    Btul ohm acil…

    @hoek😀 kadang-kadang kita malas liat iklan ohm, tapi saya justru menunggu yang seperti ini:mrgreen: dan mohon maaf comment anda, saya edit ya..kasian ntar kena serbuan spam club, gpp kan??😀

    @Sawali
    Terima kasih ohm sawal, wah..wah..
    analogi satu pintu itu juga benar-benar luar biasa ohm, saya malah baru sadar
    btw mari kita mencari yang ngumpet😀
    *lagi bahu membahu bersama ohm sawal mencari jujur dan suara hati*

  9. Shelling Ford on

    asyik lho…gratis 100 sms tiap hari

  10. Resta on

    menyentuh hati😛

  11. goop on

    @Shelling Ford
    Wah…lumangyan juga kalo free 100 sms perhari, tapi saya udah kadung trisno sama freetalk:mrgreen:
    Thanks Bro sudi mampir

    @Resta
    Hehe😀 kirain apaan…
    Yap, memang menyentuh hati…:mrgreen:

  12. warmorning on

    akhirnya sampai juga dsini setelah kejar2an yg melelahkan😀 ternyata penggemar iklan dan pengguna mentari toh..

  13. goop on

    @Warm
    Aha…selamat datang ohm warm…sudah capekkah kejar2annya??😀 , iya..kadang-kadang saya liat iklan kalo kbetulan lupa pindahin channel atawa lagi baca, biasanya ga niat liat acara teve. Ho’oh…saya juga penggemar freetalk…:mrgreen:

  14. epa on

    em….se7 ama kamu, iklan tu bukan sekedar iklan. jarang lho….ada iklan yang bisa di ambil hikmahnya.
    Met kenal ya…..!!!!!

  15. goop on

    @epa
    Yap bener banget, tapi banyak ko iklan yang bagus bila mommentnya lagi special kyak ramadhan gini…
    Met kenal juga…:mrgreen:

  16. warmorning on

    kejar-kejaran banyak yang ngeliatin
    met lebaran mohon maap lahir batin😀

  17. goop on

    @Warm
    Terus kenapa kalo banyak yang liatin? memang ga pakai celana??:mrgreen:
    met lebaran juga, maapin saya yak😀

  18. ponakan (^-^)/ on

    wah…(aja!)
    he eh,jujur, waktu pertama kali liat iklan ini langsung nyentuh banget, unc…

    setuju…. (apa coba?!!)
    selanjutnya …moga kita bisa lebih jujur deh…
    jia you…

  19. goop on

    @ponakan
    Ya betul, kejujuran memang perlu diusahakan (halah) ko kayake ga nyambung ya??:mrgreen:


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: