Memaknai Mudik

“Jalur pantura, masih tahap pembenahan, sementara pemudik sudah mulai melewatinya.”

“Sebuah truk terlibat tabrakan maut, merupakan tabrakan karambol, melibatkan 3 buah mobil lain berbagai jenis dan dua sepeda motor yang tergencet.”

“Ribuan pemudik memadati Pelabuhan Tanjung Priok, menunggu kapal yang akan membawanya ke pulau-pulau tujuan.”

Beragam cuplikan berita itu mewarnai media saat hari raya menjelang. Tak tau saya kebenarannya, karena berita tersebut hanya karangan saya. Tak perlu pembuktian yang pelik karena memang seperti tersebut diatas, agaknya kondisi saat ini. Mudik menjadi berita, pengisi halaman utama media, menjadi bahan breaking news, atau sekedar bahan pembicaraan di warung-warung kecil.

Mudiknya orang kota ke desa

Kegiatan ini dilakukan oleh sebagian besar orang kota? Benarkah bisa disebut sebagai orang kota, karena sebenarnya asal mereka dari desa. Lantas siapa sebenarnya yang layak disebut sebagai orang kota?

Beberapa saat yang lalu, mereka datang berbondong atau bersendiri ke kota, dari desa-desa asalnya. Kaki gunung di tinggalkan, pesisir pantai dibiarkan, sawah hijau nan subur hanya dikerling lalu, tak cukup menarik hati mereka. Itulah orang-orang desa yang pergi kekota, dengan beragam alasan mereka ke kota. Ada yang bertujuan mulia untuk mencari ilmu, di lain saat ingin meringankan beban orang tua, tak ketinggalan ada pula mereka yang mencari kebahagiaan.

Kini menjelang hari raya, tiba saat mereka untuk kembali ke desa, mudik mereka mengistilahkannya. Tak kalah banyak alasan mereka mudik, ingin jumpa dengan keluarga, orang-orang tercinta, bersilaturahim dengan handai taulan. Meski sebagian juga ingin memperlihatkan keberhasilan di kota, betapa macam model dan bahan baju serta celana mereka sudah berubah. Sedikit logat mereka yang juga menjadi aneh, kota tidak desa pun bukan. Cara pergaulan baru yang serba tanggung juga menjadi hiasan desa ketika mereka telah sampai.

Desa yang semula tenteram dan damai, seperti kaget menyambut mereka. Mulai terdengar alunan musik yang tak biasa dari seperangkat stereo baru yang dipasang pada volume maksimal. Entah tujuannya untuk menghibur diri, menulikan telinga, atau agar tetangga yang berjauhan juga dapat ikut menikmati. Debu yang biasanya bergerak alami, mengikuti angin berjalan. Saat tertentu bergulung-gulung liar ketika mobil-mobil ber plat asing lewat dengan derum gagah. Udara desa yang bersih dan alami, juga sekali waktu cemar karena harum parfum asing, tak jarang mereka yang mencium malah menjadi pusing, entah karena tak biasa atau karena bahannya yang murah.

Ada keriangan yang aneh di desa, keriangan yang tak wajar. Desa tak kuasa untuk menolaknya, menerima dengan jengah terasa. Kegagahan itu, atau lebih tepat kesombongan?? Suara-suara itu, mungkinkah lebih tepat kesombongan?? Aroma-aroma itu yang mungkin akan lebih pas jika disebut kesombongan?? Retorika saya yang mungkin juga lebih pas disebut sebagai apriori, atau bahkan bisa disebut juga sebagai kesombongan?? Entahlah, karena terlalu pelik untuk otak kotor saya.

Mudiknya manusia

Dari pada capek dengan retorika dan apriori, kenapa tidak kita lihat sejenak manusia yang melakukan mudik?? Saya selalu berpendapat bahwa kehidupan adalah sebentuk perjalanan agung, setiap manusia dalam hidupnya melakukan perjalanan pulang.

Maulana Jalaludin Rumi dalam sebuah sajaknya menggambarkan manusia seperti alang-alang, yang rindukan rumpun alang-alang. Ingin berjumpa, bersatu dan bergerak bersama seirama gerak angin. Di kesempatan yang lain, beliau juga menulis bahwa manusia dalam kecintaanya kepada Tuhan seperti laron yang menuju ke cahaya pelita, silau oleh cahayaNya, menuju kepada Nur itu sebelum akhirnya terbakar dan hangus bersama dalam nyala.

Rabiah Al Adawiyah, seorang sufi yang lain pernah ditemukan oleh seorang sahabatnya dalam kondisi yang aneh sekali. Pada suatu malam dia berlari-lari membawa obor ditangan kirinya dan seember air di tangan kanan. Ketika ditanya untuk apa kedua benda itu, jawabannya sungguh sangat mengharukan. Katanya, akan digunakannya obor itu untuk membakar surga, sementara air dalam ember akan disiramkan ke nyala neraka. Lebih jauh dia berkata, dia ingin agar ibadahnya bukan karena dua iming-iming dan bayangan ancaman tersebut. Kecintaan kepada Tuhan menjadi dasar dalam semua gerak tubuhnya dalam ibadah. Kerinduan kepada wajahNya, persatuan denganNya menjadi alasan yang mendasari. Ternyata keinginannya untuk pulang kepadaNya.

Kematian kata Syeh Siti Jenar, sang sunan controversial, adalah pintu gerbang pada kehidupan yang sebenarnya. Sementara kehidupan di dunia, menurut beliau adalah kematian, dan manusia adalah bangkai-bangkai yang berjalan. Entahlah, saya terlalu bingung untuk mengomentari mereka yang telah melewati tahapan syariat ini, mereka yang sudah berjalan-jalan dalam teras makrifat dan kamar-kamar hakikat. Menjadi begitu absurd bagi saya, yang masih berkutat dengan ritual saja. Tak sanggup rasanya membuat menjadi kongkrit hal yang begitu abstrak, tak terlihat, mungkin pula tak kuasa untuk dicium, dan agaknya hanya rasa yang cukup untuk menerjemahkannya. Kata-kata yang dimata saya selalu berwarna, juga kehilangan arti, tak kuasa makna untuk mencapainya.

Tetapi agaknya, ada satu benang merah yang mengikat mereka. Keinginan untuk pulang. Kembali lagi kehidupan adalah perjalanan pulang, kepadaNya. Pertanyaannya kemudian, sudahkah oleh-oleh disiapkan?? Oleh-oleh yang menentukan, apakah akan diterima dengan tangan terbuka, atau hanya disambut oleh wajah suram.

Akhirnya selamat mudik untuk semua, berjumpa dengan kenangan, merajut lagi cinta lama, menjadi bayang-bayang kehangatan. Mohon maaf lahir dan batin atas segala salah, khilaf dan dosa. Agaknya sayapun harus mudik, menyampaikan oleh-oleh dan membawa lagi beberapa catatan yang mungkin bisa dibagi.

 

20 comments so far

  1. Shelling Ford on

    kalo saya sih memang orang kota. lahirnya di denpasar soale. kalo mudik pun mudiknya ya tetep aja ke kota, bukan ke desa…kekekekekekekeke!

  2. goop on

    @shelling ford
    Walah, ini edit teks belum selesai, kok ya ohm joe sudah tiba:mrgreen:

  3. goop on

    @shelling ford
    Yaiy Lupa, thanks sudi mampir, dan mungkin ohm joe bukan termasuk mereka yang saya bicarakan di bagian pertama😀 …met lebaran brother…

  4. beratz on

    Desa yang semula tenteram dan damai, seperti kaget menyambut mereka. Mulai terdengar alunan musik yang tak biasa dari seperangkat stereo baru yang dipasang pada volume maksimal. <== jadi teringat masa kecil dulu ada serial si unyil, dimana ada tokoh si john muncul di hadapan pemirsa persis seperti penggambaran si uncle goop. Gubrak

  5. alex on

    Eh… sori OOT nih; penggemar Kho Ping Hoo juga kah?
    Salam kenal ya😉

  6. Sawali Tuhusetya on

    Yah, mudik!!! Agaknya bukan lagi sebuah kebiasaan, melainkan sudah menjadi budaya. Lebaran tanpa mudik kok rasanya ada yang hilang. “Pulang!” Yang dikatakan Mas Goop itu benar. Pada dasarnya setiap manusia akan pulang. Dan mudik adalah salah satu contoh ritual pulang yang merepotkan, tetapi banyak orang yang merindukannya.
    OK, salam hangat.
    Selamat hari raya Idul Fitri 1428 H, mohon maaf lahir dan batin.

  7. MiaW on

    Lebaran tanpa berkumpul dgn sanak saudara bagai sayur tanpa garam…

  8. imcw on

    sekali sekali, orang kampung yang diajak ke kota…:)

  9. goop on

    @Beratz
    Wah…sayang ohm, dulu saya ga ngikuti si unyil, saya malah sudah liat The A Team,:mrgreen:

    @Alex
    Betull, saya pembaca karya kho ping hoo, Salam kenal juga, makasih sudi mampir😀
    Ah ya memang Taihiap Alex, suka juga dengan Bu Kek Siansu?? si manusia setengah dewa?? Maafkan bila teecu lancang bertanya:mrgreen:

    @Sawali
    Betul pak, eh ohm Sawal😀
    Menjadi budaya dan dirindukan, salam juga ohm, dan selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan bathin,
    Memang ohm Sawal mudik kemana??

    @MiaW
    kurang ASIN ya tante??:mrgreen:

    @imcw
    Sepertinya bukan hanya sesekali ohm, lihat aja selepas lebaran saat arus balik, akan nampak wajah-wajah baru di kota, yang akan ikut mewarnai kota:mrgreen:

  10. caplang™ on

    saya mudik demi nemenin mertua
    pengennya sih turing aja yg jauh
    mumpung jalanannya bagus😆

  11. hoek on

    met mudig juga yach kawand!
    n minal aidin wal faidin!
    maafkan atas segala ksalahan saia, yang saia sadari ataufun tidak..yang kamuh sadari ataufun tidak…:mrgreen:

  12. goop on

    @caplang
    wuah jalanan sekarang emang udah bagus ohm…
    met nemenin mertua, sekaligus touring (anggap aja gitu):mrgreen:

    @hoek
    syip, mohon maaf lahir dan batin pula, selamat mudik pula, dan selamat berhari raya😀

  13. extremusmilitis on

    Sedikit logat mereka yang juga menjadi aneh, kota tidak desa pun bukan. Cara pergaulan baru yang serba tanggung juga menjadi hiasan desa ketika mereka telah sampai.

    Ini ciri-ciri orang urban yang malu mengakui kalau kita semua-nya berasal dari desa:mrgreen:

    Tapi yah di-atas semua-nya itu ya kita harus kembali ke tujuan-nya mudik, untuk dapat bertemu sanak saudara, melepas rindu, ber-silaturahmi, seperti-nya itu akan lebih baik😉

  14. iman brotoseno on

    pada akhirnya kita manusia akan mudik juga ketempat yang sama.
    Minal aidin wal faidzin.

  15. goop on

    @extremusmilitis
    Sengtuju banget saya sama ohm extrem…, kembali kepada tujuan utamanya mudik,😀

    @iman
    betul banget ohm iman, bahkan brotoseno yang gagah perkasa juga mudik ketika telah sampai waktunya:mrgreen:
    btw…
    btw, panjenengan suka wayang to??

  16. ponakan (^-^)/ on

    hidup mudik…. (nah loh????)

  17. Bachtiar on

    saya mudik ke kota . eh namanya “mudik” ?

  18. goop on

    @Ponakan
    Hidup mudik?? pasti karena menjadi salah satu pemudik ya nak??:mrgreen:

    @Bactiar
    Klo ga salah itu arus balik yak namanya, ato urbanisasi, tau deh mana yang benar😀 terima kasih sudi mampir:mrgreen:

  19. piets on

    Mudik….???
    Dulu..kalo pas temen2 siap2 u mudik aku selalu ngetawain kerepoten mereka..mulai cari tiket, oleh2, dsb…
    tahun ini kali pertama dalam hidup mengenal yang namanya mudik…(ngga perduli dengan istilahnya)
    rasanya..??? nda tau gimana tapi excited banget
    jadi tau apa yang biasa dirasain temen2 dulu..
    jadi tau kalo ternyata keluarga di rumah juga sangat menanti kita..
    jadi lebih mengerti artinya kebersamaan dalam keluarga..walaupun hanya sesaat..tapi rasanya..lebih banyak dari sesaat…
    I love mudik…

  20. goop on

    @piets
    “walaupun hanya sesaat..tapi rasanya..lebih banyak dari sesaat..”
    😀 ungkapan yang bagus, meski terlambat selamat merasakan mudik, lengkap dengan segala rasanya:mrgreen:


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: