Gerimis Mengundang

Pagi kemarin dan malam kemarinnya titik-titik air berjatuhan akibat gravitasi dari langit. Tidak besar diameter butiran air, sehingga diwaktu sekolah dulu yang macam itu digolongkan sebagai gerimis.

Malam ini bulan purnama, namun kemarin awan berarak menghalangi sang dewi malam kelihatan. Ah inikah pertanda itu?? Sudah demikian lama, setiap malam gemintang dan bulan dengan bermacam bentuknya menjadi hiasan angkasa. Bintang yang saat ini kelihatan mungkin sebenarnya sudah tidak ada lagi ditempatnya. Jaraknya yang ribuan tahun cahaya dari bumi menjadikan apa yang kita lihat sekarang sebenarnya adalah beberapa atau bahkan mungkin jutaan tahun yang lalu. Menakjubkan bukan??

Sekarang ini, malam-malam lebih hangat sehingga tak jarang beberapa pria menanggalkan baju, entah untuk sedikit mengurangi gerah atau memudahkan kerja istri membuka baju?? Sementara yang wanita mulai memakai daster tanpa lengan, sehingga sebagian kulit pundak dan pangkal lengan menyembul menggiurkan. Lagi-lagi entah untuk memerangkap angin atau mendukung kerja suami?? Ah jahil saya…

Pagi itu, perjalanan pagi saya menemukan hiasan, setelah terasa beberapa titik air menetes diatas rambut. Eh dikejauhan sesosok bidadari berlari mendekat, kakinya bergerak mengiringi gerak pinggul dan goyang?? Wah maafkan kekurang sopanan saya. Dia semakin mendekat, dan sebagian t-shirtnya basah, ada peluh yang bercampur dengan gerimis, yang paling menakjubkan adalah hiasan diatas rambutnya, berkilauan seperti mutiara, laksana mahkota bertahta nyaman diatas rambut ikal mayang berombak, yang ternyata hanyalah air tersesat di ujung rambut.

“Goop, jalan bareng boleh??” kata teman saya yang biasa itu…???

Sekejap saya terhenyak, dan ketika melihat kearah bidadari itu datang ternyata dia telah tiada. Mungkinkah gerimis yang berpadu dengan halimun telah menciptakan bayangan bidadari itu? Atau ah saya telah berkhayal kiranya…

Yah gerimis, bersamanya datang harapan akan tibanya musim hujan. Sebuah kabar gembira untuk petani dikampung saya. Kemarau selalu menjadi cerita sedih, sawah-sawah gagal panen, pekerjaan bertambah karena harus mencari air sampai jauh ke hulu, alih-alih memeluk nyaman istri di kamar, para petani harus berjalan diatas tanggul sungai berkawan sarung, dingin dan nyamuk.

Kini gerimispun telah tiba, walau diujung lain yang sana. Dimana kemarau atau penghujan serasa tak ada arti, betapa tidak bila duit tetap mengalir walau kering atau basah. Bila kering, semakin dalam bumi di bor mengambil air yang terjebak di perut bumi yang sakit maag, intrusi air laut koq sepertinya pernah dengar ya, namun sudah lupa lagi. Adapun bila gerimis, ternyata bukannya tak berarti, karena disebaliknya tersembunyi masalah.

Mulai dari janji yang tidak ditepati karena jalanan macet, akibat hujan. Sepatu yang harus ditenteng, atau payung yang harus disediakan. Kekhawatiran terbesar tentu saja bila banjir menyapa, betapa akan hilang buah karya bertahun-tahun. Sungguh sibuk pihak berwenang mengatur pengungsi dan distribusi bantuan. Walau sebagian ada juga yang menanggung untung dengan membantu mereka yang terjebak di genangan air, serta sebagian yang lain tebar pesona mengharumkan nama sendiri, untuk tujuan lain yang gak jelas. Berprasangka buruk lagi saya…

Sekarang gerimis telah datang, bocor rumah juga tanah becek. Motor saya tentu juga terkena imbas, menjadi kotor dan perlu sering dicuci. Piring dan mangkuk berubah fungsi, membantu kerja ember dan baskom yang tak kuat menahan bocor atap. Cucian di jemuran tak kunjung kering, gerutu ibu dan rengekan adik yang seragamnya bau karena kurang kering tentu akan terdengar. Kerugian penjual kerupuk karena kerupuknya tak mau mengembang setelah digoreng akibat kurang kering dijemur.

Walau begitu, agaknya karena gerimis bougenville saya mulai berbunga walau belum sempurna. Meski begitu, karena gerimis padi disawah melengut manja menikmati buaian air di kaki yang tercukupi. Ijinkan gerimis mengusir debu, ijinkan gerimis memicu rumput tumbuh mengganggu, menghilangkan retak di tanah kering. Dan biarkanlah gerimis menyatukan suami dengan istri dalam pelukan yang lebih hangat, dalam cumbuan yang lebih mesra, walau pendakian kelihatannya akan sangat melelahkan, namun esok pagi bangun dengan binar di mata.

“Sayang ya goop, kamu belum beristri!!” ah teman saya itu lagi-lagi menyadarkan saya.

Sayapun kelihatannya akan menengadah, menahan gerimis dengan bergoyang-goyang. Dalam tarian selamat datang kepada gerimis, biarlah bila memang baju saya basah, tak peduli bila celana juga basah. Yah…meski agak khawatir bila meriang yang tak diundang ikutan datang.

-Bersama rumput saya akan berdendang, menemani tanah dan bebatuan bertabuhan, menjadi sebuah nyanyian syukur dan kerinduan. Sampai kemudian saya tertunduk, mendengar nyanyian aneh kodok yang memanggil-manggil hujan dan bukan hanya gerimis.-

22 comments so far

  1. beratz on

    Langkah kaki gontai menuju kost ya goop?

  2. beratz on

    Awan mendung tiada mentari ya goop?

  3. beratz on

    Kesepian dalam kesendiriankah? Jadi meghayal yang bukan-bukan?

  4. morishige on

    wah, keempatz..
    salam kenal, mas…😆

  5. Resta on

    judulnya kayak lagu dr grup band malingsia:mrgreen:

  6. Bachtiar on

    kayak lagunya slam….

  7. goop on

    @Beratz
    Busyet, disamping mencetak rekor pertama sampai dengan ketiga, juga benar tiga commentnya Syaluth:mrgreen:

    @morishige
    Iyah, keempat😀
    Salam kenal pula, makasih sudi mampir:mrgreen:

    @Resta😀 iya Ohm Resta, temennya kangen band itu:mrgreen:

    @Bachtiar
    Wuah ternyata yang nyanyi slam?? paman bach tau juga ya??😀

  8. calonorangtenarsedunia on

    kesian..

    sini tak temenin..

  9. goop on

    @calonorangtenarsedunia
    Mau dunk, ditemani tante hana😀
    jangan lupa cerita angin dan awan gemawan pembawa hujan yah tante!!

  10. Sawali Tuhusetya on

    -Bersama rumput saya akan berdendang, menemani tanah dan bebatuan bertabuhan, menjadi sebuah nyanyian syukur dan kerinduan. Sampai kemudian saya tertunduk, mendengar nyanyian aneh kodok yang memanggil-manggil hujan dan bukan hanya gerimis.-

    Weleh-weleh, lirik yang asyik punya nih, Mas Goop, mengingatkan romantisme alam pedesaan yang sunyi, damai, dan nyaman.

  11. Sawali Tuhusetya on

    Satu hal yang tak dapat saya lupakan ketika gerimis yang pertama kali jatuh, yaitu aroma dan bau tanah kebon di desa yang khas. Sayangnya, aroma semacam itu sudah sulit lagi kutemui setelah limbah pabrik dan rumah tangga mencemari lingkungan di sekitar tempat tinggal saya selama ini.
    *Sentimentil, yak*
    OK, salam.

  12. goop on

    @Sawali
    Terima kasih paman sawal😀
    Benar, sayapun suka sekali dengan bau tanah dan daun basah. Beruntung sekali tiap akhir pekan, insyAllah saya masih bisa menikmatinya.:mrgreen:
    Silakan, bila paman berkenenan bersama saya dan beruntung kita bisa menikmati gerimis di serambi…

  13. myresource on

    kangen kampung jadinya..
    meskipun bukan disana…

  14. goop on

    @myresource
    Yap, gerimis memang mendatangkan nostalgia.
    Lah memang dimana kampungnya🙄

  15. Imm on

    Tulisannya bagus.. Saya punya banyak kenangan tentang gerimis..

    Salam kenal..
    Imm

  16. goop on

    @imm
    Terima kasih, boleh tu kenangannya tentang gerimis bisa di share😀
    Salam kenal pula:mrgreen:

  17. cka on

    gerimis….
    mulai musim ujan neh…
    tp krn ujan (lagi2) mngingatkan ku tentang dia:(
    hujan prnh mnahan ‘dia’ di teras kosku (untukku:D)

    tp gara2 ujan jg jemuranku ga kering2😦
    cape de…

  18. goop on

    @cka
    wah, cerita di teras kos jg ada tu di trilogi hujan
    kasian, makana pake dry cleaning:mrgreen:

  19. ponakan on

    kayanya ujan bikin orang pada melow ya?
    hehe

  20. goop on

    @ponakan
    Iya tuh, kenapa ya??

    *pura-pura ga ngerti*:mrgreen:

  21. haryono on

    grimis buat sebagian orang menyebalkan
    tapi buat sebagian orang lagi grimis bisa mandatangkan aura tersendiri
    salam

  22. goop on

    @Haryono
    wuah, benar sekali
    AURA…
    yah, kata yang hilang dari otak saya😀
    -terima kasih-


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: