Trilogi Hujan

Saat hujan hanyalah kabar

Awan bergulung diatas langit, dibagian atas putih namun semakin ke bawah menjadi kelabu gelap. Di beberapa tempat, telah menyatu antara bumi dengan langit menjadi semacam tirai bernama hujan. Kilat kadang terlihat, diikuti guntur yang menggemuruh. Disini belum lagi hujan, namun lihatlah langit seperti hendak runtuh. Kelabu gelap menyeramkan. Dimanakah mentari? Sudah sejak tadi awan menyembunyikannya, menjadikan dingin yang menyimpan sunyi.

Di jalanan sepeda motor ataupun mobil bersicepat, berkejaran dengan hujan. Meski masih kabar namun seperti kesetanan, motor-motor menderu, meski mobil tidak secepat motor, namun tetap saja lajunya lebih kencang dari pada biasanya. Sungguh jalanan seperti medan peperangan, siap mengancam mereka yang terlena. Sementara yang sudah siap dengan jas hujan dalam bagasi atau nyelip di tas lebih santai, walau tetap saja bersicepat agar senjata andalan itu tak perlu digunakan.

Di sawah, petani-petani mempercepat kerja dan sudah memikirkan rumah. Membayangkan nyaman di rumah walau kadang juga harus menyiapkan ember baskom dan kain pel bila saja bocor terjadi. Di dekat tempat penggilingan padi yang kini kian jarang karena adanya penggilingan keliling, beras-beras mulai dikumpulkan lagi, ditimbun dalam karung-karung lusuh yang sudah berlubang disana-sini. Makanan ringan yang perlu dijemur agar saat digoreng bisa mengembang sempurna juga mulai dikumpulkan. Wajah pengusaha kecil membayangkan duka memikirkan kerugian karena pesanan yang tak terpenuhi.

Dalam sebuah rumah gedong, pembantu sibuk berlarian kesana kemari. Menyiapkan kopi hangat dan penganan kecil untuk tuan, yang duduk santai di teras menanti hujan dengan membaca Koran dan berbatang rokok. Ditemani istri yang tersenyum-senyum membayangkan kecantikan dan gairah, memandang mesra. Tak jarang, pembantu yang sama harus mengawasi anak majikan yang masih bermain di halaman. Siap sewaktu-waktu memanggil atau menggendongnya bila hujan telah benar-benar turun.

Tanah, rumput dan pohon tak pusing, menggoyang seirama angin menanti dengan sabar. Adapun binatang, kelihatan pun tidak, suaranya pun hilang. Mungkin sedang waspada, sabar pula menanti meski dengan waswas.


Dan hujan-pun tiba

Tetes air itu berjatuhan dari angkasa, berbeda-beda butirannya. Menimpa siapa saja, apa saja tanpa pandang bulu. Bagi saya setiap tetes adalah rahmat, wujud kasih sayang dan nama lain dari cinta.

Pohon menengadah, membiarkan seluruh tubuhnya basah: daun, ranting, batang dan kemudian akar. Binatang dalam sangkar ikutan basah, kerbau yang berkeringat sehabis bekerja tak perlu berkubang, karena hujan cukup menyegarkan.

Tukang becak, duduk di jok becaknya berlindung dalam kibaran plastik sambil berdoa semoga ada penumpang yang kuyup kehujanan dan membutuhkan tumpangan meski jarak tak lagi jauh. Di bus ber AC, dalam mobil yang jendelanya rapat tertutup, alunan VCD bajakan atau radio mengisi suara. Di teras-teras rumah pinggir jalan, di pom bensin, di emperan warung, pengendara motor yang lupa jas hujan berteduh, harap-harap cemas menunggu hujan berhenti.

Dalam rumah sederhana juga tak ketinggalan, terdengar suara pula, denting baskom kala air mengetuk logam yang sudah bertambal. Detak ember yang diketuk-ketuk butiran air, penahan atap bocor agar tak banjir. Penghuni rumah menatap atap dengan cemas dibalik hangat sarung dan selimut. Di pinggir jendela rumah mewah, penghuninya berdiri menikmati tiap tetesan yang hinggap di jendela, menjadi berlajur-lajur laksana tirai. Tentu dengan cemas memikirkan bisnisnya yang tertunda, janji yang tak tertepati dan hal lainnya.

Dan air, tetap saja jatuh walau tanah disekitar akar ikut hanyut, menghilangkan bening menjadi suspensi yang ter-endap di tempat jauh. Tambah parah, karena akar penahan tanah kian jarang, erosi pun tak bisa dihindari. Air yang semula menyegarkan kerbau, masih juga jatuh merubahnya menjadi menggigil kedinginan. Baskom dan ember mulai penuh, halaman rumah mewah mulai tergenang. Tergenang pula jalanan, menjadikan motor dan mobil yang sudah meriang makin macet. Tak mampu selokan yang penuh sampah menampung, sungai yang biar bebatuannya sudah hilang juga nampak gendut, meski samudera masih menerima dengan sabar.

 


Jejak hujan

Langit sudah terang, awan hitam berangsur pergi menyisakan selapis tipis awan. Matahari meski tak terang namun nampak sudah, menerobos sinarnya diantara awan, menjadi lajur-lajur cahaya, menghangatkan.

Jalanan mulai tenang, motor bergerak lincah diantara genangan air. Jas hujan ditanggalkan, yang tadinya berteduh juga mulai berpamitan. Walau sebagian ada pula yang masih saja mengejar janji, menutup kerugian. Jendela mobil dibuka sedikit, mengistirahatkan AC dan membiarkan dingin hawa menyelusup masuk.

Selimut dan sarung dilipat, merapikan ember dan baskom serta menenteng kain pel, mencoba mengeringkan lantai. Biar anak bermain kembali nyaman, tak khawatir masuk angin. Di sudut lain, telephon rumah atau hand phone dihampiri, mengecek janji, mungkinkah masih bisa dilanjutkan kesepakatan bisnis yang tertunda? Memeriksa aset, adakah yang terbawa air?

Bau tanah dan rumput basah menyeruak, menghampiri hidung-hidung yang peka. Membawa pada kenangan, nostalgia dan cinta lama. Memberi kehangatan, mengingatkan akan kampung yang ditinggalkan, gadis desa yang tertinggal dalam rayuan serta ciuman mengharukan. Penyegaran kembali pada harapan, keinginan dan tujuan.

Sayapun teringat padanya, saat menikmati kopi hangat di teras kos-nya. Dia yang baru saja terbangun dari tidur siangnya, mengurai rambut. Matanya masih agak memerah, ada bekas bantal di pipinya, beraromakan tanah dan daun basah. Membuat saya kehilangan kata, canggung dalam semua tingkah, meski tak mungkin saya memeluknya, namun tak jemu saya mengingatnya, apa lagi bila jejak hujan belum lagi hilang.

________________________________________________________

Persembahan untuk dia yang katanya menunggu😀 dan meski tanpa skrinsyut semoga bukanlah hoax keparat:mrgreen:

27 comments so far

  1. qzink666 on

    Vertamaxxx, yess!!
    Puisinya mengingatkan saya pada pak Sapardi Djoko Damono..😛

    Goop :::
    Selamat atas rekor yang kau dapat sobat
    deuh, saya jadi malu ini bukan puisi ko, dan saya juga belum pernah membaca puisi Sapardi😦

  2. alex on

    Iya.
    Idem dgn diatas.

    Seperti Hujan Di Bulan Juni *bener gak sih? *😛

    Goop :::
    Deuh, makin malu saya…😦
    judulnya pun baru tau sekarang, pinjem dunk!!😀

  3. caplang™ on

    wow…

    *setel mp3 musikalisasi puisi*

    Goop :::
    *ikut dengerin*:mrgreen:

  4. caplang™ on

    maap komen sebelumnya bukan niat untuk nyampah
    tapi karena saya bener2 suka dan terpukau sama tulisannya

    Goop :::
    silakeun, ini memang bukan tempat samfah… tafi dimaklumi bila ada yang salah buang😀
    terima kasih, semoga paman caplang tidak terpukau saat naik motor:mrgreen:

  5. hoek on

    “Bau tanah dan rumput basah menyeruak, menghampiri hidung-hidung yang peka.”
    inih yang faling saia suka waktu selese ujan, tafi di furwokerto ujannya selse sekitar jam 1 malem..UGH!
    “Membawa pada kenangan, nostalgia dan cinta lama. Memberi kehangatan, mengingatkan akan kampung yang ditinggalkan, gadis desa yang tertinggal dalam rayuan serta ciuman mengharukan. Penyegaran kembali pada harapan, keinginan dan tujuan.”
    ah…kangen ya goop?:mrgreen:

    Goop :::
    iya sobat, di purwokerto ujan sampe malam. saran >> silakeun ditunggu sambil ngantuk-ngantuk:mrgreen:
    wuih, tau aja klo ada orang kangen😀 makasih yak

  6. Sawali Tuhusetya on

    Hehehehe😀 Mas Goop sedang bergolak romantismenya, ya? Hujan, seringkali dirindukan, tapi juga sekaligus dibenci. Masih ingat ketika kemarau panjang tiba? Wah, mesti banyak yang merindukan turunnya hujan. Ingat juga ketika musim penghujan jatuh? Wah, mesti banyak yang merindukan jatuhnya musim kemarau. Kok aneh ya? Kalau disuruh memilih, Mas Goop kira2 pilih hujan atau kemarau? Hehehehe😀 *Kok jadi ingin tahu aja sih?*

    Goop :::
    ah, saya selalu bergolak romantismenya paman sawal😀

    Masih ingat ketika kemarau panjang tiba? Wah, mesti banyak yang merindukan turunnya hujan. Ingat juga ketika musim penghujan jatuh? Wah, mesti banyak yang merindukan jatuhnya musim kemarau. Kok aneh ya?

    benar, mengeluh terus yang kita bisa… iba diri dan belum merdeka, belum bebas kalo paman kho ping hoo berkata!!
    wah kalo disuruh, sebagai manusia yang maruk!! (udah bawaan bayi:mrgreen: sepertinya) saya milih dua-duanya paman, nah klo paman??

  7. alex on

    @ caplang™
    Lho? Edy nyimpan juga musikalisasi puisinya Sapardi itu?
    Asyik ya?
    Aku sering dengar lho kalo lagi cari inspirasi buat nulis.😛

    Kena yang Aku Ingin itu… halahh… jauh deh rasanya😀

    Goop :::
    untuk paman caplang dan paman alex,
    saya ga ngerti musikalisasi puisi dan sapardi😦
    help me please???👿

  8. extremusmilitis on

    walau-pun hujan juga sering jadi dilema ketika hujan sudah tidak lagi “segar”🙄

    Goop:::
    yap, sengtuju misalnya hujan asam😀
    yang ada karatan ya paman extrem???

  9. beratz on

    Masih kurang mas goop tulisannya..
    belum ada tulisan tentang orang-orang di daerah kering yang memang mengharapkan air hujan itu.
    Pada dasarnya inilah mas goop yang sangat bisa menyeleraskan kata yang dirangkum menjadi suatu kalimat indah. Ciri khas mas goop.

    Goop:::
    ah iya, saya lupakeun mereka saya tidak tinggal di daerah sulit air soalnya
    terima kasih atas, peringatannya paman beratz, mungkin setelah dapat literatur *walah* akan saya update
    akh, paman beratz berlebihan👿 , makasih yak!!!😀

  10. deKing on

    Dalam sebuah rumah gedong, pembantu sibuk berlarian kesana kemari. Menyiapkan kopi hangat dan penganan kecil untuk tuan, yang duduk santai di teras menanti hujan dengan membaca Koran dan berbatang rokok. Ditemani istri yang tersenyum-senyum membayangkan kecantikan dan gairah, memandang mesra. Tak jarang, pembantu yang sama harus mengawasi anak majikan yang masih bermain di halaman. Siap sewaktu-waktu memanggil atau menggendongnya bila hujan telah benar-benar turun.

    Glek… benar2 seperti mata uang. Dua wajah dalam satu “tubuh”…

    Nice article….serius mantapzx

    Goop :::
    Terima kasih paman deking, semoga berkenan😀

  11. rozenesia on

    Ni-nice…😯

    Dan aku pun pulang dari warnet bakal diguyur hujan…😥

    Goop :::
    Thanks Bro
    semoga kau pulang tidak lupa membawa payung:mrgreen:

  12. itikkecil on

    saya suka berjalan di bawah hujan…….
    dan kayaknya pulang kantor ini, bakal kehujanan juga…

    Goop:::
    tante itik tidak sakitkah bila hujan-hujanan?
    ato mungkin hujan membawa cerita tersendiri untuk tante??😀

  13. )'.'( on

    aku mulai kesusu saat hujan mulai melunturkan warna kulitku sebab akumulasi kandungan daki.

    ..telah kutolak payung dan jas hujan.

    Goop:::
    wah, klo dakinya luntur, bukanne malah jadi bersih:mrgreen:
    menolak dua-duanya karena dalam rumah ya😀
    salam kenal paman, terima kasih suka mampir

  14. Resta on

    disini lagi hujan…ga bisa pulang…dah malam…takut geng motor

    Goop:::
    sungguh saya terharu mengetahuinya sobat,
    ah tapi maafkeun saya, karena tiada hal lain yang bisa saya lakukan,
    selain mendoakan semoga kau selamat sampai tujuan😀

  15. piets on

    Hujan…

    kata yang paling sering dikutip orang untuk menyampaikan rasa kerinduan, rasa kehangatan dan rasa haru…

    untuk seorang goop, hujannya memang lebih mengartikan kepada ‘hujan’ yang sebenarnya..
    pokoke hujannya ‘goop banget’…asik..nda terpengaruh sama tulisan orang lain…
    walaupun hampir tidak jauh beda ama tulisan ‘pulang’ nya…

    tapi amat disayangkan untuk orang sekelas Goop belom membaca Hujan di Bulan Juni nya Sapardi…
    ck ck ck…..

    Apalagi ditambah belom pernah denger musikalisasinya…carilah…kalo mau ada nih MP3nya…yang paling asik yang rekamannya dibuat ama Ari dan Reda…keren abiss

    Go Goop…teteplah menjadi Goop..

    Goop:::
    Hujannya saya banget?? Masak sih??,
    Tapi bener saya belum pernah membaca Hujan di Bulan Juni, juga Musikalisasi Puisi, sedihnya …😦
    Makasih atas doanya😀

  16. […] Trilogi Hujan […]

    Goop:::
    wah ada yang bikin hujan juga yakz??

    *meluncur ke sana*
    :mrgreen:

  17. nieznaniez on

    Bau tanah dan rumput basah menyeruak, menghampiri hidung-hidung yang peka.

    bau tanah setelah hujan benar2 segar…

    Goop :::
    Wew, memang segar tante😀
    Terima kasih ya, sudah mampir:mrgreen:

  18. nieznaniez on

    btw suka hujan juga, mas ??

    Goop:::
    ya saya suka hujan, tante niez gimana?? suka juga tak??
    Hujan-hujanan bareng yuuk:mrgreen:

    *wah ko jadi mupeng*

  19. owbeth on

    ujaaaaaaaan…….

    it’s makes me free…..

    thx ya dah nulis tentang ujan…..

    gw banget…hehehehehe siapa gw….🙂

    Goop:::
    Memang hujan membebaskan sobat, dari kekhawatiran kekeringan
    Membawa pada Kebebasan akar, daun dan bunga
    Hujan juga saya banget kok😀
    Terima Kasih sudi mampir:mrgreen:

  20. morishige on

    wuihhh……..
    paman goop tuker theme nih??
    ada apa ini??
    apa karena pengaruh hujan??
    he
    he
    he

    Goop:::
    iyah nih paman😀
    nda ada apa-apa koq,
    bukan karena hujan juga:mrgreen:
    lagi pengen aja
    tapi…
    ketawanya paman mori itu loh, mencurigakan??

  21. Kurt on

    Hujan jadi tilogi.. indah se-x
    si hujan dan si dia jadi menyatu dalam diri
    berakhir pada basah, sebasah tanah yang diujani…🙂
    salam kenal

    Goop:::
    Wah terima kasih paman kurt😀
    dan belum pernah terpikir oleh saya “dia dan hujan jadi satu dalam basah”
    Good:mrgreen:
    Salam kenal pula, terima kasih sudah mampir

  22. andex on

    inyong paling seneng karo mambu lemah bakda udan! segeeerrrrr

    Goop:::
    Ada temennya paman hoek😀
    selamat datang sobat, makasih udah mampir:mrgreen:

  23. dhe; on

    heeem mandi hujan ..setelahnya selimutan…sambil minum coklat hangat…..

    selalu merindukan langit setelah hujan…..’ langit setelah hujan biasanya lebih cerah’

    Goop:::
    Klo mnurut saya, mendingan mandi air biasa dulu sbelum slimutan biar nda mangsup angin😀
    iya, tante melihat langitnya, saya mencium harum tanahnya:mrgreen:
    ko saling melengkapi ya??
    Halah??!!

  24. dhe; on

    salam kenal pak

    Goop:::
    ah iya, salam kenal juga yakz
    terima kasih sudah mampir:mrgreen:

  25. vina cute on

    nggak nyangka…. si bapak satu ini ternyata.. hehehe

    Goop :::
    ah comment inih multi tafsir saya suka😀
    tapi saya juga ga jelas:mrgreen:
    tau ah, gelap

  26. strezheavy on

    hmm…

    sekarang lagi musim hujan..
    anak sekolahan(pun) kebingungan..
    haduh2..

    saluuT!
    the next chairil anwar!!

    -barucobablog2an-

    Goop:::
    Terima kasih, iya anak sekolah baju seragamnya g pada kering😀
    jadi suka bau:mrgreen:
    the next chiril anwar itu kayaknya terlalu berlebihan
    selamat nge-blog bro, ditunggu postingannya😀
    ah ya, ko link-nya ga ada ya??

  27. ponakan on

    wah lagi… walau g ngerti puisi2an..tapi mang bagus kok unc…
    Hujan emang keren…. palagi kalo da petir, mati lampu…. wah…seru tuh hehe
    pokoknya hidup ujan (nah loh???)

    Goop:::
    Ugh, klo g inget kamuh ponakan tersayang *halah*
    udah tak thuthuk😀
    makasih ya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: