Diantara Kepalan Cotto dan Butiran Bakso

Pertandingan tinju di minggu pagi, bukanlah hiburan yang menyenangkan. Diantara film kartun, acara kuliner dan gosip, terpaksa saya memilihnya. Baku pukul, lelehan keringat dan terkadang percikan darah menjadi hiasan. Saya bukanlah pencinta kekerasan, sangat anti bahkan. Namun, tinju di pagi itu menyadarkan saya pada sebuah warna lain, pada suatu nilai kekeluargaan, pada pelajaran kepahlawanan dari seorang ayah kepada anaknya.

Kepalan Cotto

Keluar dia dengan gagah, dari kamar gantinya. Bermantelkan warna perak yang menutupi wajah dan kepalanya. Membayangkan keangkeran, keberanian sekaligus juga ancaman. Tak dihiraukan sapaan penonton, diiringkan pelatih, awak ring dan dua anaknya.

Saya tak habis fikir, kenapa anak-anak yang masih kecil-kecil itu harus ikut dalam perhelatan ini?? Bukankah itu sama dengan mengajarkan kekerasan pada usia yang begitu dini? Menontonkan keringat, darah dan pukulan pada mereka ini jelaslah bukan hal yang bijak. Atau adakah sesuatu yang lain yang ingin diperlihatkan??

Pertandingan dimulai, beribu pukulan dihujamkan dan terhujam, jab, hook bersicepat dengan double cover. Walau tak urung, terkadang sarung tinju mendarat di pipi, hidung, dan iga juga ulu hati. Mandi keringat, lebam dibeberapa tempat, sampai pelipis robek dan mengucurkan darah dibagian akhir laga. Kemenangan angka dia dapatkan, disambut sorak sorai membahana, atau cacian dan acungan jari tengah melecehkan. Ada kelelahan disana, walau samar rasa sakit itu terlihat.

Anaknya kini sudah berada di ring, tersenyum dia, tersenyum ayahnya menghampiri dan sebuah ciuman di kening. Entahlah apa kata dia, namun sepertinya ada pesan “beginilah nak, ayah bekerja!!”

Belum lagi kelelahan itu hilang, rasa sakit juga masih ada, namun bersamanya terlihat kebanggan, kemenangan. Dimenangkannya hati seorang anak, yang akan menghargainya lebih dari apapun, walau diantara senyum anak itu tersembunyi khawatir, takut, gelisah yang berselang-seling dengan bangga dan haru. Entahlah, saya kebingungan memaknai senyum yang sebentar nampak seperti tangis itu. Pahlawan telah muncul, walau mungkin hanya untuk seseorang saja.

Butiran Bakso

Selama saya melihat pesta rakyat, perut saya juga memberontak, minta segera diisi untuk menopang tubuh dan membuka mata. Tersebutlah gerobak bakso, tapi harap jangan membayangkannya sebagai tempat yang nyaman, ber AC atau kipas angin. Hanyalah gerobak, dengan perkakas memasak, piring, sendok, garpu tempat mie dan mangkuk. Bila ingin makan, digelar tikar plastik disebelah belakang gerobak pada tempat yang agak tinggi. Diiringi tatapan mata iri penonton lain, tatapan nanar yang kesurupan dan bermandikan hawa malam, makanlah saya sambil mendengar cerita si tukang bakso.

Sudah sejak 1986 dia berjualan bakso, dengan gerobak. Semenjak harga bakso Rp250,- sampai sekarang Rp3500,-. Menyusuri jalan yang sama, dengan kontur datar, melandai sampai berbukit di kaki Gunung Sumbing. Mengetuk pintu-pintu pelanggan yang sama, dengan kombinasi bunyi mangkuk dan sendok.

Racikan bakso masih sama sederhananya, kombinasi daging dan pati yang tidak seimbang, karena daging kian mahal. Entah rempah-rempah macam apa lagi yang dicampurkan dalam kuahnya. Pendek kata rasanya pas, nikmat dan khas, lebih jauh pas untuk lidah saya, nikmat diterima perut saya dan khas buatan si abang ini.

Terbayang saya pada hidangan di hotel mewah, resto mahal, junk food yang tak kalah mahal, juga lesehan yang tidak lagi murah. Semua itu sepertinya tidak pas dengan lidah saya, perut saya agak ogah menerimanya, dan menjadi tidak khas, entah karena apa?? Sepertinya saya membeli bukan untuk kebutuhan badani saya, agaknya saya memuaskan nafsu dan keinginan saya. Keinginan untuk dihargai karena sebuah merk hotel, keinginan untuk dilihat, karena makan junk food tepat dipinggir jendela yang dibawahnya ada pengemis belum lagi makan. Menjadi modal bila sewaktu-waktu berbicara, dan harus mengeluarkan semua pengetahuan kuliner. Ah bodoh saya!!

Abang bakso, telah berkeluarga dengan satu bini dan empat anak. Anaknya yang pertama sudah SMP, sementara yang bungsu masih 6 bulan. Penghasilannya tak pernah mengikuti hitungan pasti matematika, karena keuntungan dan kebutuhannya tidak menunjukkan neraca seimbang, tetapi justru jomplang lebih berat pada kebutuhan. Tapi dari pengakuannya, dia merasa cukup dan tidak kekurangan. Mungkin dia inilah yang pantas disebut kaya, menerima jatahnya dengan ikhlas dan terus berusaha dengan cara yang benar. Tidak korupsi lah wong yang dikorupsi tidak ada, kecuali sekerat daging dan beberapa sendok kuah. Hal yang sepertinya tidak akan dia lakukan, mengingat hubungan baiknya dengan pelanggan tak jarang bahkan dilebihkan porsinya, ada bonus daging bumbu kuah.

Saya tak kenal istrinya yang mungkin cantik, saya belum pernah juga bertemu dengan anaknya yang mungkin lucu. Tak ada dalam ceritanya bagaimana istrinya menghardik bila dia pulang dari mendorong gerobak bakso, sama halnya tak ada cerita mengenai pujian atau belaian yang diterima selepas memarkir gerobak disamping rumah. Sebatas pengetahuan saya, dia adalah pahlawan untuk sebuah mulut lain dan empat buah mulut mungil, dengan gerobak, mie, sendok, mangkuk dan butiran bakso.

__________________________________________________

Ditulis untuk memperingati hari pahlawan, walau agak telat, untuk siapa saja, yang memandang keluarga adalah persemaian nilai kepahlawanan. Lebih khusus untuk yang baru saja jadi ayah, yang rindu ayah, ayah dari sebuah warga bernama kelas. Semoga berkenan:mrgreen:

26 comments so far

  1. itikkecil on

    Ayah yang baik akan melakukan apapun demi keluarganya
    jadi inget ayah…… sms ayah ah….

    Goop :::
    yap tante benar banget,
    hanya sayang, melakukan apapun itu tak jarang melanggar rambu??
    sedih memang, bila tidak melihat alasan disebaliknya:mrgreen:
    -Ah sok teu saya-

  2. extremusmilitis on

    Huhuhu, ngingetin ke Papa lagi nih😥
    Masih ada lagi-kah yang seperti tukang bakso-nya yaks?🙄

    Goop :::😀 maaf sobat, hanya pas saja ketertarikan kita sama
    dan mungkin masih ada tukang bakso atau ayah yang lain, juga pahlawan
    karena lensa dan sudut pandang saya sangat terbatas

  3. caplang™ on

    saya juga suka jajan bakso yg gerobakan itu
    dan biasanya saya letakkan mangkok yg udah kosong ke ember pencuci
    dng harapan sedikit mbantu abang tukang bakso di tengah kesibukannya
    sukur-sukur dapet diskon:mrgreen: becanda ah…

    Goop :::
    wah mulia sekali kau sobat😀
    diskon selalu diberikan koq, kepada pelanggan terutama
    eh itu terjadi sama tukang bakso saya, ga tau klo sama yang lain:mrgreen:

  4. rozenesia on

    Wiw, saya jadi keingat papa. Yah, saya bahagia, sebelum meninggal papa sempat secara khusus menemani saya, membimbing saya, sebelum masuk dunia perkualiahan. Ah, sebentar lagi hampir 2 bulan papa sudah tiada…

    Do I make you proud, papa? I want you to know, that I’m proud of you… You’re my hero… Rest in peace, God bless you. Amin…🙂

    Goop:::
    wah saya merinding membacanya,
    syaluth bro!! yah bikin papa bangga😀
    -terima kasih-

  5. morishige on

    tulisan yang bagus, paman goop..
    saya jadi terharu…..

    Goop:::
    terima kasih sobat,
    tapi ko malah jadi terharu ya??🙄

    yahh, kesannya memang beda-beda tiap orang:mrgreen:

  6. cka on

    ayah….?
    jarang sekali aku mengingatnya, coz dr kecil dah tertanam istilah ‘surga di bawah tlapak kaki ibu’…maafkan aku Apa (panggilan 4 bokapku)
    moga kau slalu dlm lindungan-Nya….

    btw adem2 gini kyknya enk neh kl ngebakso….
    mas..mas…bakso mas…..

    Goop :::
    smoga sobat…smoga…

    iya, adem-adem enak makan bakso dan teh anget:mrgreen:
    dan berpelukan tentu saja🙄

  7. ardians on

    Mas Goop,
    Sampeyan nanti akan lebih “mengerti” bagaimana menjadi seorang bapak kalo sudah punya anak. So, kapan nyusul? Apa perlu dicariin? apa mau nunggu expat UNDP😀 ?
    Buat para bapak, jangan permalukan sayangi anak dan istrimu. Jangan ikut2an nyabu lho ya…

    Goop :::
    Iya sobat, saya hanya sedang berjalan-jalan diantara teori dan imajinasi😀
    Kapan nyusul, pertanyaan apa inih??
    Apa perlu dicariin, wah ngece ya mas??
    Nunggu expat UNDP, malah lebih ngece??

    * membisiki paman ardians pelan : “cariin dong mas!!” *

    Pesannya untuk bapak itu loh, nyindir orang kondang yakz??:mrgreen:
    Syip

  8. Sawali Tuhusetya on

    Saya percaya, mas Goop, Bapak penjual bakso itu juga pahlawan bagi istri dan anak2nya. Betapa besar pahalanya seorang kepala keluarga yang mengeluarkan keringat bercucuran demi memperjuangkan nasib keluarganya. Tapi sang petinju yang robek pelipisnya hingga berdarah-darah? Bisakah juga digolongkan sebagai pahlawan? Wah, ini pertanyaan yang rumit dan sulit dijawab, Mas Goop. Bisa jadi pahlawan, bisa juga nggak. Hal itu sangat tergantung pada pilihan prinsip hidup yang dianut oleh setiap orang, hehehehe😆

    Goop :::
    *termenung*
    kenapa begitu pak??
    heran, malah saya yang mandan bingung🙄

  9. Aulia on

    memandang sisi yang jarang dilihat orang lain… salut!

    Goop :::
    wah paman aulia datang juga??😀
    terima kasih paman, saya banyak merujuk pada paman:mrgreen:
    Saya sering juga berkunjung ke blog paman, bahkan itu sudah nampang di blogroll saya
    maaf ya kemaren ga ijin😀
    hanya saya ga pernah ninggalin jejak disana, karena commetnya rada susah
    eh ko malah jadi curhat:mrgreen:

  10. kurtubi on

    kayanya yang jadi pahlawan itu
    Petinju = pahlawan (diupah u melawan)

    Tukang bakso juga = pahlawan (mencari upah untuk melawan ya kemiskinan, penindasan, pendidikan anak-anaknya)

    aduh maaf bos, sudah malam ngantuk sekali jadi komentnya kacau…🙂

    Goop:::
    Paman Kurt bisa saja menumbuhkan kepanjangan baru:mrgreen:
    tapi memang benar paman, mungkin itu juga salah satu arti yang lain😀
    terima kasih

  11. morishige on

    btw udah naik sumbing berapa kali, paman??
    saya baru sekali..

    Goop:::
    saya jadi malu, biarpun tinggal didekat sana😀
    bahkan kakek saya ada di kaki gunung sumbing:mrgreen:
    saya belum pernah naik sumbing, suwerrr
    ga hobi barangkali saya😀

  12. aLe on

    Andaikan ayah ku masih ada😦 *menangis rindu ayah*

    Goop :::
    wah paman ale tiba juga😀
    terima kasih paman atas kedatangannya:mrgreen:
    maafkan bila saya mengingatkan, sini-sini, cupz..cupz… sayang

    *berasa gay*

  13. andex on

    hnggg… jadi inget kemarin siang. jam istirahat, ngacir ke Kramat Raya buat jajan Soto Kramat yang katanya wuenak tenaaannn… tapi ternyata pas nyampe sono warungnya dah ilang! lokasinya malah buat t4 nongkrong satpol PP. begitulah nasib ‘mobile-warung”. tapi… eh, baru inget. soto itu beda sama bakso yak?

    Goop:::
    Kramat raya??:mrgreen:
    nda ngerti, emang disana ada soto ya??
    klo diklaten soto-nya enak2, mau??:mrgreen:

    *berasa jadi blog kuliner*

  14. andex on

    Kramat Raya itu di deket senen juga… deket gedung Astragraphia, gedung PMI sama Pertamina… masih gak dong juga? mampir ke Jakarta lagi, paklik! Ntar tidur bareng lagi satu kasur satu hati kayaq dulu lagi *halah!*

    Goop:::
    Teteup ga dong
    dan ga mau satu kasur lagi!!! kecuali kepaksa
    Thanks untuk tumpangannya waktu ituh😀

    *berasa gay*

  15. danalingga on

    Wah, cerita kesederhanaan dalam hidup namun menginspirasi. Memang bapak itu seorang pahlawan.😀

    Goop:::
    Ya paman, saya pun setuju
    terima kasih suka mampir ya😀
    tabik

  16. qzink666 on

    Tukang bakso keliling memang pahlawan, paman..
    Bukan hanya bagi keluarganya, tapi juga bagi kita yg laper pas malam-malam..😛

    Goop:::
    Ah ya, benar sekali
    Terima kasih paman,
    walaupun makan malam-malam bikin ndutz katanya

  17. ponakan on

    wah… mudahan uncle bisa jadi kaya mang yang jualan bakso deh…. hehe

    Goop:::
    insyAllah ponakan,😀
    dalam jiwanya, harapan dan pengorbanannya:mrgreen:

  18. deKing on

    Maaf Uncle … telat lapor…

    [?] Masak berapa takar hari ini mak?
    [+] Sedikit dikurangi dari takaran kemarin?
    [?] Kenapa mak?
    [+] Karena kemarin tidak ada yang membeli bubur kita nak.
    [-] oooo …..

    Keesokan harinya …
    [?] Apakah hari ini kita masak bubur dengan porsi yang lebih sedikit lagi mak?
    [+] Iya anakku. Kenapa kamu bertanya begitu?
    [?] Karena kemarin tetap masih belum ada pembeli juga mak. Benar kan mak?
    [+] Engkau benar anakku. Mari bantu ibumu ini …

    Keesokan harinya … lagi …
    [?] Kenapa masih masak bubur mak? Bukankah kemarin juga masih belum ada yang membeli bubur kita?
    [+] Itu kan kemarin nak. Kita belum tahu rejeki yang diberikan Alloh hari ini. Semoga saja hari ini kita dapat pembeli bubur …
    [?] Tapi mak …

    Sore harinya …
    [+] Benar apa yang emak bilang tadi kan nak? Kita tidak akan pernah tahu rejeki yang akan Alloh berikan pada kita.
    [?] iya mak … *tanpa berkata2 langsung memeluk emak*

    Ya..emak saya adalah seorang pahlawan bagi saya.
    Dan kisah di atas bukanlah suatu kisah fiksi. Kisah tsb adalah kisah nyata dari kehidupan masa kecil seorang deKing a.k.a manusia biasa dimana emak saya (saya tidak pernah memanggil beliau dengan sebutan ibu) berjualan bubur selama 3 hari tanpa pembeli, tetapi pada akhirnya kesabaran dan ketabahan beliau membuahkan hasil juga.

    Oh ya Uncle Goop … terima kasih atas tulisan ini. Saya anggap tulisan ini sebagai hadiah ulang tahun emak saya yang memang pada jatuh pada tanggal 15 November … (sama seperti ” kelahiran” tulisan ini)🙂

    Goop:::
    saya cuma berkaca-kaca😀
    *serius*
    sama-sama paman deKing, smoga mak berbahagia:mrgreen:

  19. deKing on

    Maaf ada yang ketinggalan … walau kisah di komentar saya merupakan kisah asli dalam kehidupan saya, tetapi sejujurnya kalimat2 dalam dialog tsb tidak sepenuhnya sama. Maklum hal tsb terjadi ketika saya berusia sekitar 5-6 tahun… jadi rangkaian kalimat saya buat tanpa merubah ” pelajaran” dan ” pesan2″ yang emak saya berikan waktu itu
    Tapi saya masih ingat jelas bahwa inti dari pelajaran yg emak saya berikan waktu itu adalah kesabaran. ketabahan, keuletan, semangat dkk

    Goop:::
    Memang tidak perlu sama bukan, paman deKing??
    hanya inti dan maksudnya, yang harus kita tangkap
    meski kadang samar, meraba-raba
    dalam kerutan kulit sekitar mata,
    gigi yang mulai ompong,
    dan uban yang berlajur diatas kepala :
    mak kita

  20. deKing on

    Tanpa bermaksud hetriks..cuma sedikit ralat tulisan saja
    Pada baris ke-9 tertulis:

    [?] Karena kemarin tetap masih belum ada pembeli juga mak. Benar kan nak?

    Yang benar adalah kata ” nak” diganti ” mak” , yaitu:

    [?] Karena kemarin tetap masih belum ada pembeli juga mak. Benar kan mak?

    Terima kasih uncle …

    Goop:::
    Syip paman, sudah dibenarkan ko’
    Terimakasih kembali

  21. cK on

    kirain tentang father’s day…

    *lihat kalender*

    Goop:::
    bisa juga sih father’s day
    emang tanggal berapa??
    emang ada ya?:mrgreen:

  22. myresource on

    ah paman…
    ternyata inget kalo dah tua..

    hauhauhauhuhsuhuhuahuhauh…..

    Goop:::
    Ah ini sepertinya mengejek ya??😀
    Bahasa apah itu??

    Pura-pura lupa, padahal tidak mengerti

  23. hoek on

    *tersentuh*
    emang bener-bener, uncle goop ini bisa sangadh mbawa saia mikir sangadh….
    saia jadi “kangen” sama “ayah” saia…

    Goop:::
    Hayah,
    kecuali bahasanya, paman hoek sepertinya sedang bertransformasi memang:mrgreen:
    Agak gimana gitu, ah tapi semoga tetap girang😀
    saia jadi “kangen” sama “ayah” saia…
    *memandang tidak percaya*
    Bukane dikau suka berseteru dengannya dengan sangadh sobat?
    Ya kan…Ya kan…

  24. GRaK on

    salam kenal.
    wah tulisnya bagus2.
    *jadi terharu😦 *

    Goop:::
    Hehe, bisa aja paman GRaK
    nama yang aneh, seperti punya saya, berawalan G *halah*
    Terima kasih suka mampir, dan salam kenal juga

  25. […] dialog tentang kisah bubur di awal tulisan ini saya cuplik dari komentar saya sendiri di blog Paman Goop. Dan apa yang ada dalam dialog tsb benar-benar kisah nyata yang dialami langsung oleh seorang […]

    Goop:::
    saya mo baca ah
    *ngacir ke sana*

  26. beratz on

    hem….. tadi siang habis capek kerja langsung pergi ke pamitan haji kepala kantor
    alhamdulillah disana juga ditemukan bakso yang sangat menawan hati… jadi teringat tulisan ini yang belum bisa kasih komentar. Nah akan saya bandingkan bakso-nya mas goop dan bakso yang tadi baru saja mengisi kekosongan perut dan memberi makan cacing-cacing dalam perut yang sudah menjerit jerit minta sesuatu. Nah dari segi butiran baksonya…. saya kira penggambaran dari mas goop kayaknya lebih mengena di lidah. Trus dari segi kuahnya… tadi saya lihat sendok untuk ambil kuah jatuh masuk ke baskom jadi illfill dah… hoeck…..
    dari segi tempat waaahhh…. panas banget.
    Jadi kesimpulannya adalah penggambaran segala sesuatu tentang bakso, kayaknya kangmas goop lebih mengena dimata pembaca.
    Met siang mas goop

    Goop:::
    ah ya, terima kasih paman beratz…
    maaf saya hanya baru bisa sekedar bercerita,
    kapan-kapan bila sempat silakan ke temanggung sendiri😀

    heran, beliau adalah yang baru saja jadi ayah, dalam track back saya, eh malah commentnya tentang bakso. Tapi ya nda apa-apa lah wong bliau ini memang hobinya dhahar ko’ makanya menjadi beratz mHehehe, piss dab


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: