Kebahagiaan Saphira

Medio 1342 – 1362, Kerajaan Aiegea

Putri Saphira masih merenung dalam taman sari, taman yang indah, dengan bunga, kolam ikan dan rumput liar tak sanggup usir bayangan sendu di benaknya. Melayang fikirannya pada beberapa tahun yang telah lewat, tahun-tahun kegembiraan dan gairah.

Semua berawal dari pertemuannya dengan Shade, dukun ilmu hitam yang menjelma menjadi kakek tua. Saphira muda, masih lugu, jujur, polos dan baik hati. Tatkala dilihatnya seorang kakek, yang menderita karena dingin dan lapar jatuh iba hatinya. Diajaknya turut serta, ke gubugnya, sebuah gubug hampir rubuh dipinggir ladang sempit. Tempat Saphira tinggal, menghitung hari yang kelam bersama ayahnya. Seorang pemburu yang hampir pensiun, karena binatang buruan kian langka.

Waktu itu, seperti biasa Ayah Saphira sedang berburu, mencoba mencari kijang tersesat yang kesulitan menemukan jalan pulang, karena salju mengubah jalan setapak, menjadi tumpukan putih, licin dan samar. Disuguhkannya semangkuk, bubur beras, sederhana namun menghangatkan, yang diterima dengan binar mata murka Shade. Setelah bubur beras, berpindah tempat dalam perut Shade, mulailah Kakek tua itu dengan rayuannya. Dijanjikannya Saphira, sebuah harapan bahwa dengan kecantikan dan sedikit mantra, dia dapat mengubah hidupnya yang sengsara.

Saphira yang remaja, berbinar, membayangkan harapan dan mimpi. Diturutkan keinginan Shade, melalui meditasi, ritual mistik dan perjanjian dengan makhluk-makhluk jahat dari dunia lain. Kini gadis remaja itu, telah menjelma menjadi sosok yang anggun, cantik dan mempesona. Dimulailah petualangannya, petualangan yang kelam, gelap dan penuh gairah. Prajurit Aiegea yang berlalu lalang, di desa tempat Saphira tinggal, mendengar kecantikan si dara remaja. Bergilir mereka, mabuk dalam lautan kenikmatan yang disuguhkan melalui pinggul, lengan dan dada mungil sang putri.

Makin lama, makin terkenal betapa kecantikan dan surga yang disuguhkan sang dara, hingga ke negara tetangga, dan bahkan sampai ke telinga Raja Eragon. Puluhan selir yang sudah ada, dan menghiasi kamar-kamar istana, tak kuasa menahan keinginan sang Raja untuk mempersunting Saphira. Menjadikannya salah satu diantara, permainannya yang paling dicinta.

Saphira, bukannya tidak sadar akan semua yang terjadi. Terkadang dalam malam-malam, diantara pelukan dia menyesali akan semua yang terjadi. Namun keinginan, harapan dan hasrat untuk kian sejahtera menguatkan batinnya, membawanya pada mimpi-mimpi yang makin gelap. Biarpun dirinya sudah terkurung dalam sangkar emas, bernama bilik istana, namun hal itu tak mengurangi hobi dan hasrat hatinya, yang tak pernah puas, apalagi bila hanya disuruh melayani Sang Raja tua. Prajurit dan Panglima, serta Pangeran-pangeran muda yang ganas dan liar menggodanya, dan digodanya. Satu keanehan terjadi, semakin banyak dia membawa, para ksatria, prajurit dan pangeran dalam kenikmatan, semakin bahagia dirinya, semakin cantik wajahnya dan makin mempesona saja.

Kiranya Saphira telah sakit pada mentalnya, hatinya membatu dan telah mati. Kini tak ubahnya Saphira menjadi seorang hantu, bergentayangan menyebarkan ketakutan, namun sekaligus juga hasrat, dan gairah. Entah dari mana, sebuah penyakit berbahaya menyerang Saphira, belum ada obatnya dan sungguh-sungguh berbahaya. Datangnya tanpa diduga, diantara dengus dan rintihan kenikmatan, laten, tersembunyi dan tidak terdeteksi. Tanda-tanda dirinya terserang penyakit ini, juga tidak nampak, hanya Saphira merasa ada sesuatu yang tidak beres dalam tubuhnya. Satu-satunya jalan untuk meredakannya adalah dengan melakukan hobinya, bersama-sama dengan pacar-pacarnya yang tak terhitung jumlahnya.

Dia dan penikmatnya tidak sadar, bahwa saat-saat membahagiakan diantara mereka, itu juga menjadi saat-saat berpindahnya penyakit. Kini penyakit itu menyebar, menjadi wabah dan menyerang pula kepada Raja Eragon, kepada para prajurit, kepada para panglima. Kerajaan Aiegea yang perkasa menjadi lemah, tidak bijaksana, dan tidak sadar bahwa bahaya mengancam. Satu-satunya kenikmatan mereka, adalah saat-saat bersama Saphira, yang artinya juga saat-saat persebaran penyakit berbahaya tadi. Dikejauhan terdengar suara tawa membahana, itulah suara Shade sang dukun jahat yang tertawa penuh kemenangan, entah apa maknanya.

Para tabib istana, orang-orang pandai, orang-orang alim tak henti mengusahakan penawar dari derita. Namun sudah demikian lama, obat yang diharapkan tak kunjung tiba. Sampai pada suatu kesimpulan, bahwa jalan satu-satunya untuk menyelamatkan Aiegea adalah dengan membunuh Saphira. Raja Eragon menentang keras upaya ini, walaupun lama-lama berhasil pula dibujuk dan setuju, asal bukan dirinya sendiri yang melakukan hukuman itu. Telinga Saphira yang tersebar, juga telah mendengar rencana ini.

Kedukaan dan nasib yang menantinya sungguh berat ditanggungnya, itulah yang membuatnya kini merenung dalam taman sari. Coba dirunutnya siapa sebenarnya yang bersalah dan layak bertanggung jawab. Bila fikirannya bersih dan nuraninya jujur, tentu dia akan menyalahkan dirinya sendiri, dan sadar bahwa mungkin hukuman itu yang paling pas, benar dan bijaksana. Namun sayang, fikirannya sudah menyimpang berjalannya, sehingga dirinya tidak bersedia disalahkan apalagi bertanggung jawab. Toh dia merasa bukan hanya dirinya yang menginginkan kenikmatan itu, namun juga mereka yang tiap malam menjamahnya.

Akhirnya tiba utusan yang akan membunuhnya, seorang Algojo yang terkenal kekejamannya, menyeretnya. Saphira dibawa kedalam sebuah hutan jauh dari Istana, tempat yang kelam, gelap dan menyeramkan. Dalam benaknya Saphira berfikir keras, bagaimana caranya agar dia tidak perlu terbunuh. Akhirnya, digodanya Algojo, yang tentu juga sudah mendengar kecantikan dan kenikmatan Saphira. Saat yang melenakan Algojo itu, dimanfaatkan dengan baik oleh Saphira, dan menikamkan pedang pada tubuh tuannya sendiri. Kini dalam hutan diluar benteng ibukota itu, muncul seorang monster, yang cantik namun membawa penyakit, jadi hati-hatilah bila anda tersesat disana😀

___________________________________________

Ditulis untuk memperingati Hari AIDS, meski mungkin sedikit terlambat dan agak OOT. Karakter-karakter yang ada, adalah fiktif belaka dan diilhami selepas melihat Film Eragon. Terima kasih untuk beliau yang telah mengingatkan, hari AIDS sedunia, dan anda juga dapat menemukan tulisan tentang AIDS di tempat lain, yang maaf karena tidak sempat membuat link ke masing-masing tulisan itu.

22 comments so far

  1. caplang™ on

    itu Saphira pake susuk yak…:mrgreen:

    Goop:::
    Hayah😀
    Barangkali paman,
    susuk di kerajaan itu ada tidak ya??😆
    -Terima Kasih-

  2. iman brotoseno on

    Eragon memang bagus dan inspiratif..but AIDS ?

    Goop:::😀
    maaf Paman Iman,
    Eragon itu hanya untuk membantu penamaan karakternya saja:mrgreen:
    btw, bukankah keduanya inspiratif??
    kalau bagus, menjadi relatif kemudian
    akhirnya, terima kasih sudah mampir🙂

  3. Hanna on

    Menarik cerpennya. Duh, perempuan kenapa selalu takut zeleq yach…
    Saphira yang malang.

    Goop:::
    mungkin sebaiknya kita bertanya pada perempuan tante😀
    tapi, ini bukan tentang jelek-nya ko😦
    kekhawatiran Saphira, pada nasib dan harapannya itu yg menggelisahkannya
    demikian barangkali, terima kasih

  4. syafriadi on

    saphira itu seperti koin ya?
    ada 2 sisi

    Goop:::
    memang demikian barangkali paman,
    seperti kepribadian ganda, namun entahlah mungkin juga bukan??
    saya pun kurang mengerti😀
    terima kasih, sudah mampir

  5. morissupersaiya™ on

    [serius mode ON]
    om goop, bagaimana kalo kita bikin novel?
    saya ada ide cerita nih, om..
    …😀

    Goop:::
    saya setuju saja:mrgreen:
    apa ide ceritanya??
    ___________________________________
    btw, masak bikin novel keroyokan?😀
    aya-aya wae??

  6. qzink666 on

    Shapira-nya pake Bella gak, paman?
    *halah, komen gak mutu*

    Goop:::
    Hayah,
    itu nama naga sebenarnya,
    dan saya belum sempat menanyakan nama lengkapnya,
    maaf ya:mrgreen:

  7. […] Kebahagiaan Saphira – Goop […]

    Goop:::
    yeah, terima kasih linknya paman extrem,
    maaf saya tak sempat buat link banyak2😦

  8. extremusmilitis on

    Goop, bingung nih, ini cerita tentang AIDS apa cerita saru yaks?😈
    Pesan tentang AIDS-nya sih emang kena. Kalau di-tengah gairah dan nafsu ada penyakit yang me-rong-rong.
    Tapi cerita-nya itu lho? Semi Vulgar…:mrgreen:

    Goop:::
    Ini bukan cerita saru, emang ada ya yang mengindikasikan itu??
    Btw, semi vulgar??
    ah ya, jadi begini, ini untuk mengakomodasi pembaca saya yang beraneka ragam latar belakangnya
    *halah nggaya*😀
    makasih ya paman extrem, seenggaknya dikau menangkap pesannya walau samar:mrgreen:
    salam

  9. Sayap KU on

    Ade pernah mengenal seorang ODHA, dan memang hidupnya terbuang dari keluarga bahkan pacarnya membuangnya… tapi Ade peduli dengan mereka, tapi cerita diatas koq lebih ke hubungan esek-esek ya mas? apa Ade salah baca?

    -Ade-

    Goop:::
    Mungkin Ade, tidak salah baca
    Hanya interpretasi tiap orang berbeda,
    Kalau saya niatnya, sama sekali tidak akan bercerita tentang “hubungan” itu
    *mencari alibi*😀
    akhirnya, terima kasih sudah mampir

  10. SirArthurMoerz on

    sepertinya saya belum cukup dewasa yah….:mrgreen:
    ora mudeng…

    Goop:::
    ini memang untuk 17 tahun kesamping:mrgreen:
    mana sing ora mudeng?
    Terima kasih

  11. Tentang Saphira:
    Ya kadang ambisi memang berujung pada keserakahan …

    Tentang AIDS:
    Tetap semangat wahai saudara2ku yang mengidap AIDS.
    Kami masih bersamamu…
    Bagi teman2 non pengidap AIDS … janganlah kita kucilkan saudara2 kita yang mengidap AIDS. Coba bayangkan seandainya kita ada posisi mereka … sudah menderita ech masih ditambah dengan pengucilan.

    Goop:::
    Tentang saphira:
    tentu paman deking, ambisi yang tidak terkendali
    Tentang AIDS:
    Setuju paman Deking!!😀

  12. Sebentar…nambah sedikit Oom.
    Setuju dengan pernyataan Uncle kalau cerita ini akan sangat tergantung dari interpretasi kita, tapi saya sendiri langsung menangkap kalau ini ada kaitannya dengan AIDS bahkan sebelum saya membaca bagian akhir cerita tsb.

    Tetapi memang dalam hal ini uncle menyoroti AIDS hanya dari satu cara (sisi?) penyebarannya saja, yaitu melalui hubungan sexual.
    Tapi…
    NICE STORY😉
    Thumbs up

    Goop:::
    Lama juga boleh, kenapa sebentar??😀
    Benar paman, saya agak kecewa sebenarnya dengan hasilnya, karena beberapa ada yang interpretasinya lain. Ah tapi tentu, saya tidak akan menyalahkan, karena bukankah kita memiliki sudut pandang yang berbeda-beda?? Demikian juga halnya dengan saya, sudut pandang yang saya gunakan sangat sempit dan terbatas pada pengetahuan saya yang juga cekak ini *hehe alibi lagi* dan bukan kebiasaan saya, menghapus ide, saya cenderung akan membiarkannya liar, mengular untuk kemudian mematuk😆 maaf, ini udah mulai ngaco.
    terima kasih paman deKing

  13. Sawali Tuhusetya on

    Kisahnya kok dah terjadi pada abad ke-14 ya, Mas Goop? Walah, ketularan gejala anakronisme nih, hehehehehe😆 Tapi bicara AIDS sebenarnya nggak harus dalam momentum 1 Desember. Kita bisa bicara kapan saja, apalagi konon virus itu bener2 mbandel. Yang kita perlukan sekarang adalah tetap membangkitkan semangat hidup kepada saudara2 kita yang tengah mendapatkan cobaan penyakit mematikan ini, bukannya mengisolir mereka di tengah2 peragulan masyarakat luas. OK, salam.
    *Teringat penderitaan Saphira yang telah kena jerat Shade di tengah rimba belantara yang sunyi dan mencekam*

    Goop:::
    hehe, iya paman, itu latar waktu benar-benar ngawur dan sekedar menambah unsur dramatis saja😀
    Anakronisme, apa itu?? *lugu dan benar-benar tidak mengerti*:mrgreen:
    Saya sangat setuju dengan Paman Sawal, kapan saja kita bisa mengingat dan saling mengingatkan, hanya mungkin ini momentumnya saja sedang pas.
    Teringat Saphira?? jangan-jangan Paman Sawal akan menolongnya ya?? pesan saya hati-hati Paman, jangan tergoda!!:mrgreen:

  14. Sawali Tuhusetya on

    *Ikut2an Pak deKing, ah! Boleh tanduk ya, Mas Goop*
    Agaknya masyarakat kita tengah mengalami masa transisi nih Mas Goop. Konon, menurut Durkheim *halah sok tahu nih* bangsa kita sedang mengalami kondisi anomie, modern nggak, primitif pun nggak. Tapi justru malah serba ngambang. Termasuk stigma yang diberikan kepada para pengidap virus HIV itu. Banyak masyarakat yang belum paham cara penularan virus mematikan itu, sehingga cenderung menjauhi para penderita AIDS. Di sinilah nilai2 kemanusiaan pada masyarakat anomie ini dipertanyakan.
    *Halah, maaf Mas Goop kalau komennya kepanjangen*
    Sampun kepareng rumiyin, badhe mlampah2 malih, Mas Goop. Matur nuwun.

    Goop:::
    silakan pak eh paman, hanya jangan dihabiskan kalo tanduk, kasian yang lain😀
    kondisi anomie?? nilai-nilai kemanusiaan yang dipertanyakan??
    ah, sungguh paman Sawal malah memberikan informasi baru yang berguna untuk saya.
    Syumonggo paman, dalem derekaken, ingkang ngati-ati lan matur nuwun ugi.

  15. aLe on

    keren jhe,

    jadi kapan neh novel nya diterbitin:mrgreen: suit suit😆

    Goop:::
    terima kasih,
    novelnya??
    deuh, kapan ya??
    mungkin sebaiknya kita bertanya pada rumput yang bergoyang saja *halah*

  16. hoek on

    WOGH!!!!!!!!!!!!!!!
    KHAS SANGADH!!!
    FUITIS SANGADH!!!
    AH YA, ERAGON…
    UDA KLUAR YANG NOMER TIGA BLOM YAH?
    * oot:mrgreen: *

    Goop:::
    terima kasih, sobat
    btw puitis?? yang mana ya😆
    ah lagi-lagi interpretasi yang berbeda barangkali:mrgreen:
    kalo komik, jangan tanya saya, karena di Klaten hanya yang punya KTP lokal yang boleh pinjam😦
    dikau mengingatkanku pada kesenangan saya yang terkebiri itu sobat, hiks

  17. tukangkopi on

    Wups..kok karakter saphira jadi begitu? ato emang begitu ya? tapi perasaan di filmnya nggak gitu deh. ato gw yang lupa ya?
    *ikutan hoek oot*

    Goop:::
    dikau tidak lupa sobat,
    hanya memang saya sengaja mengacak-acak karakter sekehendak saya
    karena kesulitan menemukan nama-nama yang pas, dan menurut saya nama-nama itu bagus😀
    demikian, sobat
    terima kasih

  18. itikkecil on

    telat……… tapi bagus kok ceritanya…..

    Goop:::
    maaf tante itik,
    saya telat postingnya, harus naik mesin waktu ke abad 13:mrgreen:
    terima kasih, untuk komennya, jadi malu😀
    btw, baca beneran ga nih?? ko kesannya hanya absen, hayooo!!!!

  19. katasa07 on

    ooo jadi penyebar AIDs n HIV itu si shapira toh…..( oon mode on)

    Goop:::
    Bukan, kan dia terkena dari orang lain😀
    *halah oon aja dijawab serius*

  20. Dhe' lagi nga' nyambung on

    parah***

    kalian jangan salah orang yak…secara ke cantikan gw mirip si shapira…… tapi kecantikan gw tidak menyesatkan loh…. ( di obral- di obral ..hehehheheh)

    Goop:::
    masa sih?? apa buktinya kalo kecantikannya tidak menyesatkan😈

  21. kurtubi on

    baru tahu sejarah AIDS itu lahir dari Saphira… btw, bisa aja paman ini membuat dimensi lain.🙂

    Goop:::
    iya Paman Kurt, memang AIDS lahir bersama lahirnya Saphira
    *lha sok pede👿 *
    Terima kasih Paman Kurt:mrgreen:

  22. ponakan on

    hehe… comentnya lucu… pesannya juga…. TOP aja deh

    Goop:::
    makasih😳


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: