Ziarah

Tahun 1724 menjelang Dzulhijah

Jalan-jalan

Hakan dan Sukur adalah sahabat karib, mereka berdua berencana untuk pergi ke tanah suci melaksanakan haji. Dari desanya yang permai di kaki Gunung Wilis, mereka berangkat diiringi oleh tatapan keluarga dan tetangga. Keduanya sudah tidak muda lagi, dan mendekati tujuh puluh tahun usia mereka. Hakan adalah seorang kakek yang sangat serius, dan terperinci serta selalu melakukan perhitungan untung rugi dengan benar. Kebalikannya Sukur, kakek yang sederhana, selalu ceria dan tidak terlalu memperhitungkan keuntungan dan kerugian.

Suatu hari, mereka sampai pada desa yang sedang mengalami bencana wabah penyakit. Wabah ini muncul karena kegagalan panen di tahun itu, mengakibatkan kelaparan dan berujung pada munculnya wabah yang berbahaya. Dua orang kakek ini tidak mengetahui keadaan ini, hanya keduanya merasa janggal karena desa yang terkenal ramah kepada musafir itu kini seperti perkampungan mati ditinggal penghuninya. Sukur merasa haus sekali dan bermaksud untuk meminta minum pada penghuni gubuk yang ada di pinggir jalan.

“Saudaraku, aku akan meminta minum kepada penghuni gubug disana. Tak perlu kau menungguku, berjalanlah terus nanti bila dahagaku hilang, tentu aku akan menyusulmu.”

Kedua kakek yang baik itu kemudian terpisah. Hakan melanjutkan perjalanan dan Sukur berjalan menuju ke gubuk yang sederhana dan hampir rubuh di pinggir jalan itu. Setelah mengucapkan salam dan mengetuk pintu berkali-kali tak juga dibukakan, dia sudah bermaksud akan pergi lagi melanjutkan perjalanan. Mendadak telinganya yang masih peka, mendengar erangan dari dalam rumah. Dicobanya mendorong pintu yang ternyata tidak terkunci. Pemandangan di dalam rumah, sungguh mengenaskan. Seorang lelaki terbaring begitu saja di lantai, seorang wanita terduduk lemah, bersandar pada lengan kursi, dan dua orang anak lelaki dan perempuan saling berpelukan, menangis kelaparan.

“Kakek, apa yang kau kehendaki, kami sudah tak memiliki apa-apa lagi, bahkan tak kuasa untuk sekedar berdiri.” Menggumam pelan si wanita.

“Aku tadi hanya ingin meminta seteguk air, saudaraku”

“Oh, bila hanya itu, ada sumur di belakang rumah ini, kau ambillah sendiri menggunakan ember yang tadi pagi kutinggalkan begitu saja didekat sana”

Sukur bergegas kebelakang rumah, mengambil air untuk dirinya sendiri, dan juga untuk orang-orang yang berada dalam rumah itu. Diminumkannya air itu, pada si wanita, kemudian pada si lelaki yang sekarang sudah terduduk dengan lemah di lantai, juga pada anak-anak yang masih terisak. Diturunkannya buntalan pakaiannya, tempatnya menyimpan sebungkus nasi dari warung didusun terakhir. Dibukanya, dan dipersilakannya semua anggota keluarga itu untuk makan, sementara dia hanya melihat dengan trenyuh.

Kini semua orang sudah terisi perutnya meski sedikit, dan mereka bercerita mengenai musibah yang menimpa desa mereka. Sukur mendengarkan penuh perhatian, hatinya bimbang apakah akan kembali melanjutkan perjalanan atau menolong mereka ini. Akhirnya dia mengambil keputusan, akan tinggal sebentar bersama keluarga itu, barang satu dua hari dan membantu mereka. Dibelanjakannya uangnya, untuk membeli beberapa bahan makanan, juga bibit tanaman dan alat pertanian, karena memang keluarga itu sudah tak memiliki apa-apa lagi. Semua sudah dijual untuk menebus bahan pangan, selama masa paceklik.

Tanpa terasa, sudah tiga hari dia berada disana. Saat itu malam hari menjelang dia tertidur, berbagi tempat dengan kepala keluarga. Tak bisa barang sebentar dia memejamkan mata, sementara seluruh keluarga miskin itu tertidur, damai dan menyunggingkan senyuman. Pikirannya masih bimbang, apakah dia akan membantu mereka ini terus atau harus meninggalkannya? Dalam mimpinya, dia sudah berjalan keluar dari pekarangan gubuk itu. Saat dua pasang tangan kecil mungil menarik baju dan celananya, memandangnya penuh harap belas kasihan. Sukur sadar, tak mungkin dia berada disana terus, juga tak mungkin dia begitu saja meninggalkan keluarga itu. Diputuskannya esok pagi akan dibelinya kerbau yang sehat, untuk membantu pertanian keluarga ini.

Sambil berjalan pelan, dituntunnya seekor kerbau yang gemuk dan sehat. Tuan rumah bingung, dengan semua ini.

“Ambillah secukupnya rumput, dan berikan pada kerbau ini!” perintahnya pada kepala keluarga.

“Kakek, kakek yang baik berceritalah apa saja pada kami.” Rengek dua orang anak kecil.

Sukur kemudian sibuk bercerita, tentang legenda kerajaan sampai jauh malam, hingga anak-anak itupun tertidur, dan seluruh keluarga tertidur. Dia beringsut pergi, membawa buntalan pakaiannya dan melanjutkan perjalanannya. Sampai di tengah jalan, dihitung-hitung uang yang dibawanya sudah tak cukup untuk membayar ongkos perahu yang akan membawanya ke tanah suci. Dia pun pulang, dan diambilnya jalan berputar, agar tak perlu melewati dusun dimana keluarga malang yang ditolongnya berada. Sampai di dusunnya disambut oleh keluarganya dengan suka cita, walau mengandung keheranan kenapa sudah pulang meninggalkan Hakan di belakang. Dia hanya bilang, bahwa dalam perjalanan uangnya hilang dan tidak bisa melanjutkan perjalanan lagi.

Berbulan sudah Sukur berada dirumah, kembali melakukan kesibukannya, bertani bersama istri dengan dibantu anaknya yang bungsu. Dalam waktu luangnya dia akan mengunjungi anaknya yang sulung, dan bercerita tentang macam-macam hal kepada cucu-cucunya. Sampai kemudian dia mendengar Hakan pulang dari tanah suci.

Pagi itu, seperti biasanya Hakan berjalan-jalan dan melewati rumah Sukur, melihat istri Sukur yang sedang sibuk dengan jemuran.

“Selamat pagi, dimanakah sahabatku Sukur berada?”

“Dia, ada dibelakang sedang sibuk mengurus burung kepodangnya yang sedang sakit, marilah saya antarkan kau kepadanya.”

“Suamiku, seorang sahabat datang mengunjungimu.”

Sukur berpaling dan sungging senyum menghiasi bibirnya.

“Ah, agaknya kau saudaraku, bagaimana kabarmu, sampaikah engkau di tanah suci?”

“Ya, aku telah sampai dengan selamat disana, dan ini kubawakan beberapa butir kurma, juga air Zam-zam.”

“Tak lupa, aku juga menyampaikan salam dari keluarga di sebuah dusun yang tahun lalu kelaparan.”

“Ah sudahlah, biarkan itu menjadi rahasia Tuhan saja.”

Berlalu keduanya meninggalkan istri, yang sudah sibuk kembali dengan jemurannya.

“Dimanakah kau menyalipku kawan?? Tanya Hakan

“Apa maksudmu? Sementara aku tidak pernah sampai ke tanah suci, karena aku tidak mempunyai uang lagi, kemudian aku berjalan kembali pulang, mungkin belum saatnya aku kesana.”

“Mungkin ini rahasiaNya yang lain, karena saat aku disana aku melihatmu, berada di barisan paling depan saat sholat, di tempat yang paling baik, di Multazam. Bahkan tak hanya itu, aku pun melihatmu, mencium Hajar Aswad, saat wukuf di Arafah, juga waktu Sa’i kau berlari-lari dengan penuh semangat dan tersenyum. Hanya aku tak sempat bertegur sapa denganmu, ribuan orang menghalangiku untuk menyapamu.”

_______________________________________

Judul dan ide cerita, meminjam dari kumpulan cerpen karya Leo Tolstoy, dengan perubahan pada nama, latar tempat dan waktu kejadian. Juga cerita yang sudah mengalami modifikasi dari cerita aslinya.

Ditulis saat banyak jemaah menunaikan haji, dan lebih banyak lagi yang masih sekedar niat karena berbagai keterbatasan membelenggu. Semoga bisa mengingatkan perlunya pengorbanan pada sesama, guna meraih cintaNya, seperti halnya saat Ibrahim bersedia mengorbankan Ismail. Akhirnya, selamat menikmati…

26 comments so far

  1. goop on

    Dan pesan atau kesimpulannya apa??

    Goop:::
    Hgggg, saya lupa 
    Tapi, tentu pembaca berhak menyimpulkan atau menarik garis sendiri.

  2. beratz on

    akh…. pertamax
    tapi….. kenapa hanya komentar nyampah kawan?
    janganlah…. beliau paman goop sudah bersusah payah membuat cerita yang sangat mendalam artinya kenapa engkau hanya komentar nyampah yang tiada arti?
    entahlah… karena mungkin hati dan kepala saya sedang tidak satu kata. Hanya Tuhan yang tahu

    Goop:::
    yay, maaf disini bukan pangkalan minyak:mrgreen:
    ini pertanyaan atau pernyataan?? ko saya menjadi binung??
    aniway, terima kasih sobat😀

  3. caplang™ on

    indahnya pengorbanan terhadap sesama
    termasuk merelakan komen pertamax😈

    Goop:::
    Ooo Iya, terima kasih sobat, mengingatkan:mrgreen:
    maaf, ya podium kehormatan saya bajak sendiri😀
    *ko ini mulu, yang diungkit ya??*

  4. caplang™ on

    ehm di rumah saya ada pangkalan minyak
    tapi ga jual pertamax

    Goop:::
    Wagh, Kuno ituh:mrgreen:
    *Kaburrr di rumah sendiri*👿

  5. caplang™ on

    gpp siy, kan tserah empunya blog
    cuman jadi ga bisa ngebajak pertamaxnya😆

    Goop:::
    ah ya, terima kasih sobat atas pengertiannya…
    dan sudah saya bilang, saya g jualan bahan bakar disini mHehehe
    kalo hetrik nda’ papa
    *tendang yang hetriks*😈

  6. Hoek Soegirang on

    *merinding*
    .
    .
    .
    .
    *merenun*

    Goop:::
    Hgghhh🙄😆

  7. qzink666 on

    Ini yang membuat saya ketagihan membaca tulisan paman..
    Runut, menyentuh dan sarat pesan moral..

    Goop:::
    ah ya, terima kasih sobat😀
    saya hanya mencoba bertutur:mrgreen:
    salam

  8. Sawali Tuhusetya on

    Kisah yang luar biasa. Bener2 menunjukkan rahasia Tuhan. Bisa jadi ini buah dari amal kebajikan yang diamalkan oleh seseorang , yak, Mas Goop. Meski secara lahiriah Sukur gagal ke tanah suci, tetapi secara rohaniah, ternyata dia sudah sampai di sana.
    BTW, nama tokohnya kok kayak pemain bola Turki, *maaf kalau salah* Hakan sukur, hehehehehe😆

    Goop:::
    Iya Paman Sawal, barangkali ini salah satu contoh rahasia-Nya yang lain😀
    dan tentu masih banyak, simbol-simbol di alam ataupun dimana saja yang bisa kita jadikan pelajaran, amien
    Terima Kasih Paman, dan nama tokoh itu, hanyalah asal saja, namun memang benar, dari seorang pemain bola Turki:mrgreen:

  9. deKing yang biasa2 saja on

    Sepertinya saya pernah membaca kisah sejenis, tapi saya tetap menikmati kisah2 seperti ini.
    Hmmmm keihkhlasan sejati yang berbuah kenikmatan sejati pula …
    BTW iya … sepakat sama Pak Sawali. Saya juga terpikir Hakan Sukur sang sepakbolawan (istilah baru :D) Turki itu

    Goop:::
    Terima kasih sobat:mrgreen:

  10. Ersis WA on

    Wuaw memasuki kisah sufi … untuk direnungkan, dan … ditiru (dipraktikan), ah … berat

    Goop:::
    Tidak bila untuk dicintai barangkali Pak
    *berat jg yakz Hehe*:mrgreen:

  11. tukangkopi on

    Hoo…indahnya berbagi..😀

    Goop:::
    bgitulah sobat,
    sayang, tidak mudah diaplikasikan😀

  12. extremusmilitis on

    Keren…tidak ada se-orang-pun yang bisa mengetahui rahasia-Nya😉
    Ada sebuah kalimat yang aku pernah dengar “Ketuk-lah maka pintu akan dibuka-kan untuk-Mu”. Silah-kan jabar-kan sendiri makna-nya ya Goop😛

    Goop:::
    Terima Kasih sobat😀
    *mencoba menjabarkannya*

  13. stey on

    cuma mo bilang selamet idul adha buat semuah..

    Goop:::
    ah ya, terima kasih
    selamat idul adha pula😀

  14. rozenesia on

    Kok rasanya jadi kayak ingat sepakbola ya…😆
    *lirik komen Pak Sawali*

    AHHHH…. Masih adakah sekarang orang kayak Sukur ><

    Goop:::
    Masih ko mas, cuman udah g main bola lagi katanya:mrgreen:
    *OOT sendiri*

  15. Sayap KU on

    Bagus …. hidup memang mistery katanya.

    -Ade-

    Goop:::
    bgitulah mBak…
    *katanya juga*:mrgreen:

  16. andex on

    wah wah wah… mirip sama cerita saya, paklik. Hakan dan Sukur adalah sahabat karib. saking karibnya, mereka suka main bola bersama. masuk klub yang sama, make kaos yang sama, make celana yang sama… dan mencetak gol yang sama…. salah satu rekor mereka berdua yang sama adalah pas Hakan dan Sukur mencetak gol di gawang-nya Lee Won Jae di perebutan posisi 3-4 Turki vs Korsel… begitulah… mirip banget ‘kan?

    Goop:::
    Eh iya, ko masih inget sih:mrgreen:
    saya bahkan lupa dgn sgala rekor itu😀
    Terima Kasih sobat

  17. imcw on

    @ andex : Hakan sukur pemain bola.🙂

    Goop::::mrgreen:😈

  18. kurtubi on

    eh keren juga yaa, 3 peristiwa penting sekaligus di kenang dalam satu tuilsan ini.. mantaps paman goop…

    Goop:::
    dan, seperti biasa, malah saya yang bingung😀
    3 peristiwa??
    aniway, terima kasih paman Kurt

  19. bangbadi on

    good article

    Goop:::
    terima kasih, sobat😀

  20. itikkecil on

    salah satu sindiran juga buat orang yang lebih memilih untuk menunaikan ibadah haji berulang kali dan bangga dengan hal itu. padahal di sekitarnya masih banyak orang yang perlu dibantu.

    Goop:::
    err, saya tidak menyindir ko😀
    memang ada yak? yang naik haji berulang kali, sementara disekitar untuk makan saja susah??
    *pura-pura menutup mata*:mrgreen:

  21. mas ut on

    kadang banyak orang lebih senang cari kepuasan diri, berhaji berkali-kali padahal banyak saudaranya yang butuh uluran tangan.
    Wah pesan moralnya bagus dalam suasana seperti ini.

    Goop:::
    ah ya, barangkali memang ada beberapa yg seperti itu mas Ut😀
    terima kasih

  22. warnetubuntu on

    cerita yg dalam dan menyentuh… makasih makasih..🙂

    Goop:::😳 Hanya mencoba bertutur mas😀
    Terima Kasih sudah mampir

  23. hadi arr on

    Bila kita ikhlas berbuat baik karena Allah semata, maka balasannya akan langsung kita rasakan.
    Goop, menyegarkan kembali untuk berbuat kebaikan, trims

    Goop:::
    Wah, demikianlah mas, insyaAllah😀
    terima kasih kembali

  24. ponakan on

    (^-^)

    Goop:::
    ???😆

  25. celo =3 on

    paman… bagus sih… tapi basi~~~

    dimana-mana orang baiknya pasti sukses… kapan nih bikin cerpen yang orang baiknya pada mati semua🙄

    Goop:::
    hahaha…
    ide bagus bro…
    ah tapi…
    gimana bikinnya ya, ada ide??😆

  26. ponakan on

    baca coment ttg pergi haji berkali-kali…. bener juga… semoga ada alasan yang dibenarkan untuk yang selanjutnya…😦

    Goop:::
    yang selanjutnya ajak2 yak😀
    hajjah ponakan:mrgreen:


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: