1 Sketsa Gerimis Indah

 

Gerimis

Langit kali ini tak bersahabat padaku, warnanya suram, kusam dan gelap. Tanda-tanda hujan demikian jelas nampak. Tak berapa lama, meneteslah air penuh rahmat tanda cinta itu. Dan akasia ini, melindungiku dari sedikit basah meski masih juga rambut dan seragamku basah.

Dia masih berdiri di sana, dalam kesendiriannya, berkawan sunyi nyaman dalam pagutan sepi. Seperti tak sadar pada datangnya gerimis, pandangannya masih tertuju di ujung sepatu, seakan-akan ada lukisan Monalisa dari Da Vinci yang menempel di sana dan menjaga pandangannya tetap terpaku.

Rambutnya yang hitam panjang, biasanya mengembang indah, kini basah. Beberapa helai menempel nyaman di dahinya yang licin, beberapa beruntung menggelayut manja di pipi. Lehernya terbuka, memperlihatkan tengkuknya yang demikian putih juga tertempel rambut.

Bibirnya ough, tak ada kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana indahnya. Antara tebal namun juga tipis, warnanya tidak merah sekali juga tidak gelap. Lipstik seakan bermusuhan dengan pigmen-pigmen dalam kulit tipis yang melapisi bibir. Pendek kata pas, baik dalam bentuk, warna dan melengkapi keseluruhan wajahnya. Pada wajahnya yang tirus tidak, bulatpun tidak. Dia seperti garis tengah, mungkin juga horison dia adalah batas yang indah. Sayang, bibir yang sama itu kini sedikit menggigil; membuat gerakan-gerakan; tarikan-tarikan sebenarnya, lebih tepat bila disebut geletar pada pipinya.

Pipi yang ditempel dan sedikit tertutup rambut, meski tentu tidak dapat menyembunyikan indahnya. Aku teringat buah durian?? Bukanlah kulitnya yang berduri yang sedang kubicarakan, tetapi buah masak di dalamnya, berlapis kulit halus lembut, dan begitu digigit manis, manis dan manis yang lembut dan masih tersisa rasanya di sesela gigi.

Sejenak pandangannya terangkat, menatap ke langit yang diperhatikan beberapa lama seolah-olah ingin mencari retakan di sana. Ingin kuberteriak, memperingatkanmu bahwa tak akan kau temukan, sedikitpun retakan tak jua celah apalagi dalam gerimis menjelang hujan badai seperti saat ini. Kucari dimanakah suaraku? Mendadak hilang tersesat di negeri antah berantah, tanpa peta atau kompas penunjuk arah.

Pandanganku, seluruh kesadaranku terpaku pada sketsa indah di hadapanku. Seorang yang berdiri menengadah, menciumi pucuk-pucuk air yang jatuh di bibir. Membiarkan rambutnya jatuh tergerai sampai ke punggung, membentuk tirai yang rapat. Dan garis air, adalah latar depan juga belakang, juga tirai yang jarang. Apa yang kusaksikan adalah sketsa, lukisan belum jadi dengan arsir yang sempurna.

Hey!! Kenapa dia menghadap ke sana, tanpa merobah posisinya berdiri, kepalanya membelakangiku memberikan rambutnya untuk kususuri. Sejenak kemudian memandang lurus ke depan, terus bergerak dan aku tergeragap ketika dia memandangku. Ada yang dilolosi dari kekuatan tubuhku saat kami beradu pandang, namun itu tak lama karena kini ujung sepatunya kembali menarik perhatiannya. Ingin kupukul pelipisku sendiri dengan keras, barusan dia tidak memandangku, hanyalah bagian dari rangkaian putaran gerak kepalanya. Dia seperti mencari, berharap dan menunggu pada apa, pada siapa dan pada dimana.

Pipiku memanas, tentu merah seperti tomat warnanya saat ini karena malu. Menjadi pengalih perhatianku sebentar dari gadis itu adalah, dedaunan akasia yang tak kuasa menahan butir air. Menjadikan tubuhku kian basah, dan memulai gigil di bibirku, ah seperti bibirnya yang juga menggeletar, menyadarkaku kembali padanya.

Apa yang kulihat sungguh tak dapat kupercaya, dia masih di sana, tapi tak lagi menunduk. Dia masih di sana, tapi butir air tak lagi menjamahi tubuhnya. Dia terlindung sebuah payung, yang digenggam kuat lengan kokoh seorang pemuda. Terlintas di benakku pada kisah Ramayana, saat utusan Dasamuka menjemput Shinta.

“Maafkan aku Han, teman-teman mengajakku rapat sebentar, tadi.”

“Tak apa, aku ngerti.”

“Sekarang kita pulang, atau kamu masih ingin menikmati hujan?”

Hanyalah cubitan di pinggang sebagai jawaban. Tangan yang mencubit kemudian menggandeng tangan pemuda yang tidak memegang payung. Jemari mereka saling bertaut, dan dimulai langkah kecil-kecil yang disela obrolan, senyuman juga tawa.

Hujan masih sama, tidak berubah menjadi badai, namun bagiku saat itu adalah prahara….

ini lanjutannya

__________________________________________________________

Ditulis oleh : Kata Buta Aksara

yang bangun bersama subuh berkawan embun dalam gelap kabut, dipinjam siang bersama celoteh bocah dan tolol camar dalam terik mentari, terpenjara malam pada sunyi dan kerinduan pungguk disinari rembulan

asal gambar

44 comments so far

  1. goop on

    Saya suka detailnya😀

    Goop:::
    *ditendang*

    Oya, saya ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada mas Aulia, LingkarDiri dan Biru Elang Bara, yang telah bersedia berdiskusi, membimbing dan mengajarkan bagaimana menulis. Hanyalah salah satu sarana percobaan dan pembelajaran dari saya yang lain.
    Akhirnya, liburrr dan pulang kampung:mrgreen:

    Terima Kasih

  2. itikkecil on

    kok prahara????
    bukannya harusnya bahagia tuh?

    Goop:::
    kalo dari sudut yang lain, memang semestinya bahagia
    tapi kalo narator-nya??:mrgreen:
    pada akhirnya, sebuah lukisan bisa diartikan beragam😀

    mau liburan ke mana kamu????
    jangan lupa oleh-oleh ya?

    Goop:::
    pulang kampung ke magelang
    Oleh-oleh??
    Getuk mau?? ato tape ketan??
    enak lho:mrgreen:

    *ditendang goop*

    Goop:::😳

  3. caplang™ on

    ya jelaslah jadi prahara
    wong lagi enak nikmatin eh cowoknya dateng

    Goop:::
    nah, barangkali demikian ini singkatnya tante itik😀

    …hilang tersesat di negeri antah berantah…

    ternyata paman suka nyasar juga toh?

    Goop:::
    Hggghh
    iya, bila berjalan tanpa kompas dan peta
    apa lagi bila tak ada penunjuk arah😀

  4. tukangkopi on

    Wahai suhu, tolonglah saya diajarin juga. Pliiisssss!!!!

    Goop:::
    baiklah…
    sekarang ambil air pake ember, penuhin gentong, dan mandi😀
    *berlagak jadi guru*:mrgreen:

  5. kurtubi on

    Cerita yang bisa dijadikan teman ngobrol saat pulang liburan…

    Goop:::
    benar Ustadz Kurt (minta ijin memakai panggilan ini😀 )
    agar pulang tidak membosankan:mrgreen:

    larikan kalimat dan kata-katanya hampir tak paham semuanya, lama merenunginya tapi dasar blas otakku paman… yang jelas paman telah mengajari aku bertutur kata yang indah.

    Konon, sebuah puisi, jika baitnya sulit dimengerti berarti puisi itu indah. Ya itulah yang kubaca di koran-koran. sama seperti ungkapan bahasa Inggris jika semakin susah dimengerti itu biasanya ditutur oleh penutur asli. heheh🙂

    Goop:::
    bgitukah Ust??😀
    ngeledek ini ya??:mrgreen:
    menurut saya, sebenarnya bila direnungkan atau coba dimengerti malah akan menjadi sukar
    santai saja Ust, ini bukan kitab… jadi sambil lalu saja
    dan terutama, hilangkan semua hiasan kata-kata, itu hanya ornamen saja untuk mempermanis, mungkin itu kuncinya😀
    ah, maaf saya sok tau
    terima kasih

  6. kurtubi on

    Cerita yang bisa dijadikan teman ngobrol saat pulang liburan…

    larikan kalimat dan kata-katanya hampir tak paham semuanya, lama menerunginya tapi dasar blas otakku paman… yang jelas paman telah mengajari aku bertutur kata yang indah.
    Konon, sebuah puisi, jika baitnya suliat dimengerti berarati puisi itu indah. Ya itulah yang kubaca di koran-koran. sama sperti ungkapan bahasa Inggris jika semakin susah dimengerti itu biasanya ditutur oleh penutur asli. heheh🙂

    Goop:::
    apa Ust Kurt sedang bersemangat??:mrgreen:

  7. Abah on

    bahasa paman goop memang indah. begitu dalam . . . perlu berulang kali membaca untuk memahami isi tulisan ini🙂

    Goop:::
    Aduh, benarkah perlu berulang kali??
    saya menghindari hal semacam ini,
    bagaimana caranya lebih simple ya??
    Apa Abah tau??:mrgreen:

  8. perempuan on

    Sketsa gerimis indah, tapi kok akhirnya jadi prahara? jadi ndak indah lagi dong uncle goop🙂

    Goop:::
    mungkin maksud si pencerita,
    keseluruhan moment itu Ibu😀
    terima kasih, sudah mampir:mrgreen:

  9. Sawali Tuhusetya on

    Ckckckckckckc, luar biasa! Nggak muji lho! Desksipsinya nyaris menyaingi Ahmad Tohari. Begitu hidup.
    Aku tertarik sama epilognya:

    yang bangun bersama subuh berkawan embun dalam gelap kabut, dipinjam siang bersama celoteh bocah dan tolol camar dalam terik mentari, terpenjara malam pada sunyi dan kerinduan pungguk disinari rembulan

    Peralihan waktu yang tak mudah untuk menggambarkannya. Salut nih, Mas Goop. Yang penting dicermati *halah lagi2 sok tahu* penulisan awalan dan kata depan mesti sedikit lebih cermat. Gampang aja kok mengingatnya. Yang membentuk keterangan tempat itu pasti kata depan yang penulisannya harus dipisah, seperti “di sana, di manakah, dll”. Yang membentuk verba pasti awalan yang berarti harus ditulis serangkai.
    Saya yakin Mas Goop dah tahu, kok, hanya saya aja yang usil dan cerewet, hehehehe:mrgreen: atau salah ketik, hehehehehe😆

    Goop:::
    ah ya, tentu terima kasih paman Sawal…
    seperti biasa, hanya belajar memotret sebuah moment
    dan benar, saya masih lemah dalam membedakan kata depan dan awalan
    ada tidak ya, daftar nya?? haha😀
    terima kasih paman Sawal, sedikit demi sedikit akan coba saya perbaiki

  10. ulan on

    om gup, tulisan nya bagus.., itu pengalaman pribadi kan om.. hayo.. ngaku aja lah.. aku enggak bilang siapa-siapa kok
    lanjutan cerita nya gini
    “seorang perempuan di dekat ku pun menjewer kuping ku yang merah karena marah dan perempuan itu sekonyong-konyong berkata “hayooo!!! liat siapa?? dasar jelalatan, ayo pulang!!”, dan aku pun melangkah pulang dengan tsunami dihati”

    *ampun om…*
    *aku tak kabur aja deh*

    Goop:::
    err!!!🙄
    bisa gitu jg ya lanjutannya??
    wah makasih untuk idenya:mrgreen:

  11. deKing yang biasa2 saja on

    Huh … keduluan Pak Sawali …
    Saya juga tertarik dengan epilog-nya (tentu cerita initinya juga).
    Nice Uncle …😉
    *jabat erat*

    Goop:::
    ah, tentu, terima kasih sobat
    *salaman*

  12. ardians on

    Sampai ketemu tahun depan mas. Pas mudik, saya juga mau lewat Magelang mas. Semoga hujan sudah reda…

    Goop:::
    saya persilakan mampir sobat:mrgreen:
    memang pulang kmana??

  13. Hanster on

    Missiii….
    Numpang Lewat ya….

    Goop:::
    Ah ya, silakan
    Tidak mampir dulu??:mrgreen:
    maaf mas, komennya mampir di akismet, knapa bgitu ya?

  14. Hanna Yang lagi bersemadi on

    Kata-kata paman selalu indah. Salut, paman. Hanna juga mau terbang pulang ke Singkawang.

    Goop:::
    terima kasih mBak Han😀
    selamat jalan, dan hati2

  15. mbelgedez on

    Ough….
    Romantis-romantisan…..

    Kayak mingsih ABG ajah yah….
    Jadi ngerasa ndak pernah tua….

    Goop:::
    bgitulah paman mBell
    sekali2 bernostalgia😀

  16. mas ut on

    pilihan katanya bagus, aku jadi ingat masa muda, KSIO2 (kelingan sing ora-ora) he hee,… bagus, bagus

    Goop:::
    wah terima kasih mas ut😀
    hanya mencoba bertutur
    terima kasih, juga sudah mampir:mrgreen:

  17. morishige_pulang_fieldtrip on

    pertama saya membayangkan BCL di pilem sunny, paman…
    tapi setelah diceritakan bahwa si cewek sudah punya gandengan, om-om lagi, saya jadi “gubrak”..
    kecewa..🙂

    Goop:::
    Lha, saya blom liat BCL di sunny, bagus apa??
    Btw, yg punya gandengan ohm.. ohm.. siapa yg bilang??

    btw, tulisan yang bagus paman..🙂

    Goop:::
    Ah ya, terima kasih sobat😀

  18. morishige_pulang_fieldtrip on

    oh, saya td salah baca, paman..
    ternyata pemuda itu diajak rapat teman2nya.. bukan bosnya..

    kemungkinan kedua : mahasiswa?

    Goop:::
    eh itu maaf ya,
    saya malah jadi nda’ kefenagh:mrgreen:
    kata si pencerita, itu masih skolah sobat
    kan pake sragam😀

  19. rozenesia on

    Kayaknya…be-benar-benar pengalaman pribadi…:mrgreen:
    *lari ke kamar kost*

    Goop:::
    *ngejar ke kamar kos Roze*
    Bukan sobat, itu hanya rekaan si pencerita
    sumfahh:mrgreen:

  20. cK on

    waduh, bahasanya puitis banget…😐

    kesian si “aku”…

    pengalaman pribadi ya?:mrgreen:

    Goop:::
    Ko’ malah waduh ya??
    *garuk-garuk kefala*
    bukan pengalaman pribadi ko neng cK😀

  21. costfix on

    Mau Nyoba SMS-an murah, gak peduli merk HP and operator download aja aplikasinya di http://www.costfix.net🙂

    Goop:::
    Errr…
    ini apa ya??
    ada yg bisa ngejelasin??

  22. Hanna Yang lagi bersemadi on

    Met Hari Raya Idul Adha, ya, Paman.

    Goop:::
    eh iya mBak Hanna…
    terima kasih,
    dapat daging tak???:mrgreen:

  23. Kurt on

    Sudah dibaca ulang,
    sedetil itukah menggambarkan si wanita hingga 7 bait lebih khusus menggambarkannya… tapi tetap pada akhirnya masih tanda tanya… tapi lagi2 biarlah ketidakmengertian dalam setiap saya membaca sastra dianggap sastra itu baguss…🙂

    mengenai panggilan pls paman don’t call me ust… cal mas or kang aja … sebab seolah ada jarak .. entahlah🙂

    Goop:::
    setelah diijinkan,😀
    jadi begini kang… *halah*
    tak usah tergesa-gesa, apalagi sampai buka peci… itu kelihatan ko dari sini:mrgreen:
    gyahh, jangan malah buka sarung pula😀
    *ah maaf saya becanda*
    saya harap, mas Kurt sabar saja… seperti menghadapi cobaan, nanti lak yo terang smuanya *halah*
    terima kasih

  24. StreetPunk on

    Bahasa yang bagus, uncle

    Goop:::
    eh terima kasih…
    atas mampirnya pula:mrgreen:

  25. extremusmilitis on

    Lagi jatuh cinta yaks Goop?:mrgreen:
    Jalan harapan tiap orang ber-beda-beda Goop, kamu ya harus sabar.
    Tapi juga tidak ada salah-nya lho untuk me-rubah-nya menjadi sesuatu yang Platonis.😉

    Goop:::
    Wuih, kerreen…. commentnya😀
    merubahnya menjadi sesuatu yang platonis?? apa mungkin saya bisa?? nafsu itu masih kuat sobat.😦
    eh tapi sejujurnya, ini tidak sedang jatuh cinta ko’, murni rekaan…
    klo lagi jatuh cinta, malah mungkin g bisa bikin kekeke, terima kasih yak!!!

  26. ordinary on

    Sweet, seperti manisnya bau hujan di pagi dan senja hari…
    koment pribadi.. aku suka sad ending *ga da yang nanya*😆

    Goop:::
    aneh!!!
    ada pula yg suka sad ending, kalo saya lebih suka sebuah ending yang diakhiri dengan ciuman:mrgreen:

    anw…
    saat konsonan merindukan vokal, kata menjadi jauh lebih bertenaga meretas barisan kalimat.. sebuah ektase
    *hayah ngomong po aku*
    lam kenal ya om..met liburan…

    Goop:::
    ha???
    menjadi lebih bertenaga???
    ko bisa??🙄

  27. Mihael "D.B." Ellinsworth on

    Wah, tulisan yang benar – benar berbicara”. saya ingin sekali menjadi penulis dengan gaya itu.😀

    Goop:::
    ah ya, hanya mencoba bertutur sobat:mrgreen:
    kau pun tulisannya, sudah sangat berbicara ko…
    terkadang saya pikir, ber-api-api bahkan,😀
    ah, maaf sok tau.

  28. bedh on

    huhuhu keren ih……
    jadi pengen dengerin lagu jealous guy nya john lennon

    Goop:::
    terima kasih,
    *ikutan dengerin*:mrgreen:

  29. kurtubi on

    Sebuah pesawat membawa email melintasi lumbung padi saya. Kemudian terjerambab dan jatuh di sana tanpa saya tahu saat itu.
    Sehingga setelah saya cek, isinya sudah mati. Aku tetap memandikannya dan menyolatinya… saya menangis dan membaca dengan jelas wasiat itu ohh nasib… maafkan saya tidak pandai dan menjaga lumbung padi… terlalu sibuk mengurusi dunia paman..🙂
    — maafkanlah —

    Goop:::
    Ah, tak apa Mas Kurt…
    penundaan, adalah nama lain dari penundaan *halah*
    opo iki😀
    terima kasih

  30. alief on

    bikin Kaleidoskop-Blog™ yuk… Liat contohnya di
    http://alief.wordpress.com/🙂

    Goop:::
    oh oke…
    btw itu apa??😀
    *ditendang*
    terima kasih atas ajakannya:mrgreen:

  31. warnetubuntu on

    deskripsi yg detail dan mengalir.. hebat bro.., bahkan cerita yg tipikal bisa menjadi menarik dan serasa mengalaminya sendiri… *acungi 2 jempol*

    Goop:::
    terima kasih sobat😀
    tapi perlu diingat, tulisan macam begini tidak semua orang suka😦
    sangat segmented *bener ga ya, istilahnya?*
    pokokna mah, ditunggu sarannya saja yak😀

  32. Moerz on

    saya ingat kalau malam gerimis melihat keaspal itu seperti ada titik2 pelangi indah paman…

    Goop:::
    Heee…
    saya malah belum pernah melihatnya…😦
    andai bisa menjadi kisah sobat, tentu akan sangat indah sekali🙂
    terima kasih

  33. qzink666 on

    Pengalaman pribadi ya, paman?
    Wah, pantesan jarang berkunjung ke rumah saya. Lagi jatuh cinta rupanya?
    *kabuur*

    Goop:::
    Errr, bukan sobat, ini murni rekaan😀
    ah ya, soal berkunjung, itu karena sedang libur
    net gretongan, yg biasa saya perdaya tidak bisa diakses dari rumah kampung😦
    bgitulah, terima kasih

  34. caplang™ on

    maap, apa ada orangnya?🙄

    Goop:::
    eallahhhh….
    ini orang napain pula??
    Yak, Hadir…:mrgreen:

  35. Ersis WA on

    Wuaw … sungguh bermakna. Lebih-lebih aku suka gambarnya, diambil sendiri? Susah jadilah menulis karena terpesona.

    Goop:::
    Terima Kasih Pak Ersis😀
    bukan, saya hanya pinjam gambar saja ko:mrgreen:

  36. antarpulau on

    inget gerimis.. » inget main becek-becekan….

    *jorokin goop ke becekan….*

    Goop:::
    errr, ada yang hendak berniat jahat pada saya😦
    toloongggg:mrgreen:
    terima kasih sudah mampir sobat

  37. andex on

    anuu… paklik goop nyontek tulisannya sapa tuh?! gak biasanya bisa ngerakit kata2… *we he he… mumpung masih gerimis, belum ujan lebat, kabuuurrrr*

    Goop:::
    itu, pembimbing dan guru-guru saya ada di comment pertama sobat😉
    *kejar andex pake penthung*:mrgreen:

  38. ponakan on

    walah…. ku cuma senyum-senyum aja baca commentnya unc…. mo comment apa binun…. hehe…

    Goop:::
    sama, saya juga bingung jawabnya😆
    makasih yak:mrgreen:

  39. celo =3 on

    ini bintang ya….???

    oke… mungkin kalo bintang seorang cewek kesan jatuh cintanya jadi jelek… tapi berhubung bintang cowok… slenge’annya dia ditengah-tengah terpesonanya dia pada sicewek jadi wajar dan bisa dimengerti meskipun secara pribadi aku nggak terlalu suka, kurang romantis.. penggambaran praharanya yang singkat itu benar-benar cocok untuk membalikkan semua perasaan romantis selama kurang lebih 7/8 post…

    overall… masih bagus yang kedua… lebih ada kesan jatuh cinta.. tapi itu berarti peningkatan soalnya yang paling baru lebih bagus… semoga part tiga *pasti dari sudut pandang han* bisa lebih bagus dari part duanya

    Goop:::
    Terima kasih, mas…
    brilliant, ini benar2 apresiasi namanya:mrgreen:

  40. stey on

    jadi kangen hujan dan semua keindahan didalamnya..

    Goop::::mrgreen:

  41. siapaindra on

    Hohoho….. jadi teringat sebuah lagu….

    Baru Ku Sadari….
    Cintaku Bertepuk Sebelah Tangan…
    Kau Buat Remuk….
    Sluruh Hatiku…

    ….sluruh hatikuuuu……

    hehehe….😀

    Goop:::
    ah merdu skalee sobat:mrgreen:
    terima kasih

  42. Dhe' lagi nga' nyambung on

    ke tempat saya ajah paman…di sini tidak ada prahara….

    Goop:::
    benarkah??

    ..btw malam akan sunyi tanpa suara pungguk…begitukan paman..

    Goop:::
    iya,
    barangkali:mrgreen:

  43. ponakan on

    hm….. jadi iri ma yang bener2 ngerti mksd cerita unc….
    mbok ku diajarin (apa ya?) hehehe… yang jelas suka bacanya tapi g ngerti…. Nah loh… gimana dunk

    Goop:::
    langkah pertama suka dolooo, katanya😆
    makasih

  44. […] sambungan dari sini […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: