Kran

Tetesan air

Suara tetesan air dari kran yang sudah agak rusak, di atas tempat cucian itu benar-benar mengganggu saya yang hendak lelap tertidur. Teng…. teng…. teng… demikianlah kira-kira bunyinya. Irama yang tetap, bunyi yang sama, dalam jeda waktu yang sama, perlahan-lahan membawa saya dalam keheningan, seolah-olah dibawa ke alam lain. Alam yang belum pernah dikenal, alam keheningan penuh dengan kesunyian dan kebimbangan.

Selayaknya air di pegunungan yang menetes di atas batu, dalam jangka waktu yang lama, membuat batu yang sama itu berlubang sedikit demi sedikit. Pun demikian dengan kran rusak, tempat pencucian dan bunyinya itu. Perlahan namun pasti, menelusup dalam keheningan gendang telinga saya, menampar dinding-dinding sepanjang saluran pendengaran dan syaraf, hingga diterjemahkan dengan berbeda oleh otak.

Saya terbawa, bukan pada air yang jatuh, sebaliknya malahan, pada air yang belum jatuh. Seakan-akan sebuah rewind, putar balik, saya akan menjadi air yang hendak menetes, masuk kembali ke dalam kran, bergabung dengan yang lain, mengikuti sepanjang saluran-saluran dari pipa pvc, beraneka ragam merk-nya. Berkumpul kemudian, dalam tempat penampungan, hingga sampai akhirnya berpusaran dari mata air di kaki pegunungan.

Air, demikianlah asal bunyi itu. Pernahkah mencoba membetulkan sebuah kran rusak pada pukul satu dini hari, saat tak banyak orang menggunakannya? Betapa kuat semburannya, terkadang saat tubuh telah menjadi kuyup, seakan-akan tercebur dalam sebuah kolam barulah kran itu bisa dibetulkan. Melayang sejenak, pada air bah yang melanda tempat wisata bertahun lalu, adakah yang bisa menahannya? Benda yang sama, yakni air telah memberikan peran yang berbeda. Satu saat kita dapat leluasa mengatur kuatnya semburan sesuai dengan putaran/bukaan kran. Pada saat yang lain, jangankan mengaturnya, bahkan untuk menahannya apalah artinya tenaga manusia yang sok jumawa ini?

Saat kran dibuka, mengalirlah air. Besarnya semburan air, berbanding lurus dengan besarnya bukaan kran. Ada syarat disini, bahwa untuk memenuhi sebuah ember dalam waktu yang cepat, membutuhkan bukaan kran dengan ukuran tertentu. Di lain pihak, saat ingin memasukkan air ke dalam sebuah botol, diperlukan bukaan yang pas, agar air bisa melewati mulut botol, terus ke leher botol, dan ke tubuhnya dengan lancar tanpa harus tertahan oleh gelembung-gelembung udara yang kerap kali muncul.

Kran hanyalah kepanjangan tangan dari syarat itu, sebuah kunci pembuka pada sebuah pintu kesadaran. Tak peduli berapa banyak air yang ada dalam penampungan, tetap akan mengucur sesuai dengan bukaan kran.

Orang dengan kekayaan berlimpah ruah, selayaknya tempat penampungan air. Beraneka ragam kekayaannya, mulai dari uang, benda bergerak, benda tak bergerak, deposito, kekayaan dalam bentuk mata uang asing dan lain sebagainya. Predikat yang disandang pun, menjadi bermacam, dari jutawan, milyader sampai konglomerat. Apakah mereka memiliki kran? Tentu, karena tiap orang kaya ini dalam rumahnya bukan hanya memiliki satu buah kamar mandi. Beberapa kamar mandi dimiliki, pada tiap kamar, di dekat ruang keluarga, khusus untuk pembantu dan beberapa yang terletak di luar, untuk mencuci kendaraan yang terpakir rapi di garasi, serta untuk menjaga hijaunya taman-taman yang terawat indah.

Tunggu, kita tidak akan membicarakan kemewahan dalam kamar mandi para konglomerat itu. Masing-masing dari kita, ternyata memiliki kran-nya sendiri-sendiri. Tak peduli bagaimana kondisi perekonomian kita, tapi kita pun memiliki bukaan kran yang berbeda dan berubah-ubah. Saat bersinggungan dengan kepentingan kita, bukaan kran itu tak jarang menjadi sangat besar. Tak perlu berpikir panjang lebar, bahkan seandainya tempat penampungan kosong, tak jua menjadi beban fikiran. Guna menebus sebuah handphone model terbaru, dengan feature paling canggih. Mengajak dinner, gadis pujaan di rumah makan paling romantis dengan dihiasi mawar, lilin dan dihibur gesekan biola. Menghias kendaraan dengan ornamen dan variasi tambahan yang tidak perlu. Biaya cat rambut, menicure dan pedicure, hingga perawatan tubuh dan kulit di spa terkenal, yang juga menawarkan layanan plus-plus? Bukaan kran sekali lagi, tak pernah diperhitungkan, selalu menunjukkan aliran yang maksimal.

Bagaimana saat kepentingan orang lain, saudara, teman dekat, tetangga atau siapapun yang tidak bersinggungan dengan kita? Eh kenapa kran yang sama itu, tiba-tiba menjadi sulit terbuka dengan leluasa? Agaknya perlu pelumas untuk sekedar memperbesar aliran. Sukar sekali mengalir lancar, tak jarang bahkan tersendat-sendat.

Keinginan kita dan bukan kita, kepentingan kita dan bukan kita, ke-aku-an-ku dan orang lain. Selalu membentuk batas, selalu menjadi sebuah syarat untuk sebuah hal sederhana namun sulit, bernama bukaan kran. Apakah menjadi pembenaran sebuah ke-egois-an??

“Lha bukankah itu manusiawi mas??” tanya teman saya.

Entahlah, kesadaran kemanusiaan itu sekali lagi “hanya” menjadi tanya yang menunggu jawab. Tapi setidaknya, dengan mengetahui kesadaran itu, semoga ada hasrat; kemauan yang harapannya akan berubah pada tindakan. Menjadi pengingat kemudian, sebuah pancuran di kaki bukit. Dimana kran tidak ditemukan disana, air mengalir begitu saja, sesuai besarnya mata air yang ada. Jatuh menimpa batu, memercik pada rerumputan, atau kepiting yang sedang sembunyi. Sebagian mengalir, menganak sungai bertemu dengan lautan yang menyembunyikan rahasia yang lebih besar.

Dan saya, tertidur…. bermimpi lautan, ATM, ibu, dan matahari. Adakah relevansinya?? Silakan dicari-cari dulu sendiri:mrgreen:

____________________________________________________

Ditulis begitu saja, selepas tidur yang tak nyenyak karena kran rusak, dan dentingnya melenakan jiwa. Di dini hari, pada pohon yang memiliki cabang-cabang sunyi.

asal gambar

31 comments so far

  1. tukangkopi on

    pertamax 10 liter!

    Goop:::😦 😦
    ga jualan pertamax bozz😦
    tapi demi pesan di tulisan ,
    direlakanlah komen pertama ini

  2. tukangkopi on

    beri untuk diri sendiri secukupnya. beri kepada orang laen sebanyak-banyaknya..
    *gw sebenernya nggak tau mo komen apa goop*:mrgreen:

    Goop:::
    Haha, mungkin begitu boleh juga sobat😀
    terima kasih

  3. Moerz on

    iya paman…
    kadang lebih hening lagi kalau malam hari…
    memecahkan pikiran yang nggak-nggak…
    krannya udah diganti paman?

    Goop:::
    Lha memang itu malam hari koq:mrgreen:
    sudah diganti dunk, tapi malah jadi sepi beneran skarang😀
    Terima Kasih

  4. caplang™ on

    “yang, tolong matiin krannya dong…”

    *tarik selimut*

    Goop:::
    terus bobok lagi ya boz👿
    enaknya jd suami😈

  5. Hanna on

    Kran berfungsi mematikan dan menghidupkan air. Kapan kran harus dinyalakan supaya airnya bisa ngalir dan bermanfaat untuk orang lain? Kapan kita harus mengirit air? he he. Kok OOT ya..

    Goop:::
    iya mbak, bener banget
    karena air kian langka skarang😀
    jadi kudu irit:mrgreen:

    Kalau buka krannya terlalu kencang airnya itu akan muncrat dan kita akan basah.
    Jadi, buka kran itu juga harus kira-kira ya…

    Goop:::
    Ya iya lah mbak😀
    *ditabok, karena sok gaul*

    Siip banget paman. Moga kran airnya cepat diperbaiki dan tidak menganggu lagi. Tapi, tenyata kran yang berisik itu malah memberi inspirasi ya.

    Goop:::
    Iya mbak, terima kasih:mrgreen:

  6. seva on

    krannya merk apa sih mas, kok bisa rusak gitu? *pertanyaan ga penting banget, ga usah dijawab mas he.. he..

    Goop:::
    maaf mas, tidak boleh menyebutkan merk disini:mrgreen:
    *pdahal karena ga ngerti*

    oia, salam kenal ya mas, mohon ijin nge-link nih

    Goop:::
    oh iya, salam kenal pula
    silakan kalo mo nge-link
    dan terima kasih sudah mampir😀
    btw, maaf URL-nya panjenengan apa ini??

  7. Sawali Tuhusetya on

    setiap ingat kata “kran” pikiran saya tertuju pada sebuah kebebasan yang terpasung dan terkekang. ketika kran dibuka, air bagai bah. deras sekali aliran airnya. ini juga sekalgius, dalam bayangan saya mas goop, ada baiknya kran sering dibuka biar tidak karatan. Kesadaran batin dan jiwa manusia *halah sok tahu* saya kira analog dengan itu, Mas goop. Kalao kran kesadaran kita jarang dibuka, ntar bisa karatan. kalo dah karatan ya agak sulit untuk dibuka malahan. Ini artinya, kita harus senantiasa eling dan sadar untuk selalu bersikap terbuka, manjing ajur ajer, tidak inklusif. *walah OOT nggak nih, mas? * hehehehe😆
    terima kasih mas goop telah mengingatkan betapa pentingnya membuka ruang kesadaran batin kita itu.

    Goop:::
    Ahaaa😀
    Pak Sawali malah mendapatkan ide itu ya??
    bukan main, malah menyadarkan saya ini, padahal maksud saya sebenarnya simple aja ko
    keris yang biasa, memang ditangan seorang empu akan nampak berbeda,
    bukan main, haibat Pak
    syaluth:mrgreen:

  8. ordinary on

    sering kali kita tak tahu berapa banyak yang kita punya dan berapa banyak punya lainnya karena semuanya digabung dalam quota kita
    koment OOT

    Goop:::
    hee…???
    bisa juga bgitu ya…
    “smua digabung dalam quota kita”
    *manggut-manggut*
    bener juga tuch

  9. mbelgedez on

    Situ kok pinter Ndoboz….

    Andai sajah situ mbacain disamping sayah, sayah pasti terlena dan bisa tidur nyenyak…. 🙂

    Goop:::
    Hiks… Hiks…
    ini artinya apa paman mBell??
    membosankeun yak??😦

  10. kurtubi on

    Subhanallah… narasi “air kehidupan” dan kran benar2 hidup…
    kalau ini gak OOT deh, bahasanya jelas dan biasa seperti diurut badan saya..
    saya tidak bisa komentar sudah jelas dan tinggal dipraktekkin.. cuma yang terakhir suruh cari2 saya belum lakukan …
    pulang ah sudah malam..

    Goop:::
    Memang membaca sambil dipijit pak Kurt??😀
    Selamat jalan pak Kurt, hati-hati
    syukurlah, tidak perlu membaca berulang lagi:mrgreen:

  11. extremusmilitis on

    Mengulur-kan tangan akan lebih indah daripada menengadah-kan tangan, kata sebuah ujar-ujar, pernah dengar kan Goop?
    Memberi dengan ikhlas akan sangat sulit daripada mem-beri-kan dengan tujuan ter-sembunyi. 😕

    Hebat Goop, ini sebuah penyadaran akan tingkah kita manusia saat ini.😉

    Goop:::
    ah ya, bener banget sobat…
    tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah
    Hanya bener itu tadi, keikhlasan masih menjadi tanda tanya,
    Akhirnya terima kasih

  12. rozenesia on

    Filosofi kran yang mantabhh!!:mrgreen:
    Tahu kapan harus membuka kran dan kapan untuk menutup kran, serta tahu bagaimana mengontrol pengeluaran dari kran.😀

    Goop:::
    ah ya, terima kasih sobat
    memang sebaiknya mengetahui terlebih dahulu, agar tidak melimpah kemana-mana😀

  13. beratz on

    om goop….
    pesenanku belum datang
    nyang tulisan air di daerah kekeringan
    cepet buat ya….
    jadi kecanduan tulisannya om goop nech (selain nogososro dan sabukinten)

    Goop:::
    Hihihi…
    Maaf boz, lupa…
    cobalah kapan-kapan smoga saya bisa membuat pesenannya😀
    Terima Kasih

  14. Mihael "D.B." Ellinsworth on

    Hohohoh, bahasanya puitis.😀

    Goop:::
    terima kasih mas😀
    hanya mencoba bertutur

    Tapi saya masih kasihan sama krannya, masa air banyak terbuang smentara di Papua masih belum bisa menikmati air..😦

    Goop:::
    Iya boz, memang kita perlu berhemat
    terutama bila mengingat mereka yang mengalami kesulitan air di musim kmarau😦

  15. andex on

    ichi ritoru no namida… fotone wangun, paklik! ngopi dari mana? soalnya setauku kerannya paklik kan udah kuning en sowak en dah karatan gak higienis!

    Goop:::
    Hush!!!
    ojo sero-sero dab:mrgreen:
    nuwun

  16. hadi arr on

    Kalau mau betulin keran, matiin dulu mesin pompanya, kalau yang pake pam putar stopkran deket meteran, kasian jam satu kebasahan.
    Tapi memang tenaga air begitu dahsyat, kecil jadi kawan besar membahayakan, udah bangun belom, apa masih tidur? banjir!!!!banjir!!!!

    Goop:::
    Udah bangun Pak:mrgreen:
    terima kasih,
    dimana banjir?? dimana??

  17. Ersis W. Abbas on

    Ya ya kita bisa belajar dari air tentang kegunaan, ketangguhan, ketabahan, memberi, menyehatkan, keajekan, sampai ‘kemarahan’. Belajarlah dari air, Lebih 60% tubuh kita terdiri dari air. Air … air … pemberi berkah dan makna, petunjuk Allah SWT. Semoga.

    Goop:::
    bgitulah pak…
    semoga, dengan mengambil pelajaran itu…
    membuat kita lebih mawas
    amin

  18. extremusmilitis on

    Met Tahun Baru 2008
    Wish You All The Best And Success
    Salam Militis!!!:mrgreen:

    Goop:::
    Selamat tahun baru sobat😀
    terima kasih ya

  19. hadi arr on

    “SELAMAT TAHUN BARU 2008”

    Goop:::
    Selamat Tahun Baru pula
    terima kasih

  20. Hanna on

    Hello, Paman…
    Met Tahun Baru 2008
    Sukses selalu ya…

    Goop:::
    Hello mbak,
    selamat tahun baru pula
    terima kasih ya mbak

  21. antarpulau on

    Selamat Tahun Baru 2008🙂

  22. antarpulau on

    Dan saya, tertidur…. bermimpi lautan, ATM, ibu, dan matahari. Adakah relevansinya?? Silakan dicari-cari dulu sendiri

    —————–
    Lupa, belum ngasih komentar…🙂

    ATM » sekarang kan akhir bulan, berarti sebentar lagi kamu akan megang uang nih….
    IBU » inget ibu goop… pingin membelikan sesuatu untuknya….
    Matahari » Matahari Depart. Store……

    ARTINYA » Sebentar lagi Goop akan gajian, trus akan pergi ke Matahari Depart. Store untuk membelikan sesuatu untuk Ibu Goop… » Gituh……🙂

  23. antarpulau on

    Lautan » Apa yaa…. ?

    Oooo Habis belajna, trus Goop pergi ke Ancol kali…. hehehe…….

    Goop:::
    ahahaha, bisa aja kau sobat:mrgreen:
    mungkin juga bgitu, cuma sayang saya tidak di Jakarta skarang
    dan ke laut saat ini bukan, waktu yang tepat😀
    akhirnya
    *tendang yang hettrix*😆
    terima kasih

  24. […] Goop, blogger yang aktif dalam kegiatan sosial dari lembaga dunia ini saya kenal dengan komentarnya yang halus. Makna ungkapan dalam postinganya juga enak dibaca. Dia sendiri mengaku bukan ahli sastra tapi tak kalah dengan para penulis sastra. Komentar-komentar di sini juga menyejukkan. Begitu pula di tempat=tempat lain. Entahlah segudang pengalaman dalam berkomunikasi rupanyayang menjiwai tulisan-tulisannya. […]

  25. stey on

    kran?inspiring story,sedang berusaha tidak menutup kran saya..

    Goop:::
    awas!! banjir lho mas😆

  26. deKing yang biasa-biasa saja on

    Besarnya semburan air, berbanding lurus dengan besarnya bukaan kran

    Ya…dan cepat(deras)nya semburan air, berbanding terbalik dengan luas penampang kran tsb
    Hehehe kok malahan membahas Fisika … debit air😀

    Goop:::
    nyerah saya mas😥
    btw, welcam back bro😀

  27. ulan on

    om goop aku nemu relevansi filosofi kran njenengan dengan mimpi njenengan, tapi relevansi versi ku sendiri,

    Goop:::
    oya?? apa mbak ulan relevansinya??
    saya malah jadi penasaran:mrgreen:

    filososi nya bagus om, kemaren aku mau nulis ttg air, tapi om goop nulis dengan lebih gayeng, hehehehe.. bagus om..

    Goop:::
    ah, terima kasih,
    hanya mencoba bertutur saja😀

  28. agus alexander on

    bagus…bagus….bagus buanget…..

    jadi pingin banyak belajar nich…..

    coba besok2 lihat2 juga donk blog saya……

    saya mau juga donk dikasi koment ttg apa isi yg ada disana.

    trim’s om……

    Goop:::
    terima kasih mas…:mrgreen:
    semoga kapan-kapan saya bisa berkunjung kesana
    makasih lagi ya, sudah mampir disini

  29. […] air yang sanggup memadamkannya? Menghitung detik demi detik menuju penghujung tahun, di mana lenyaplah […]

  30. […] Gambar Ilustrasi: unclegoop.wordpress.com Posted by meditation1234 Filed in Cerpen Tags: kehidupan, Psikologi, motivasi, inspirasiku, […]

  31. PERCIK! « Dien Ilmi on

    […] gambar dari sini […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: