Resepsi

 

Nikahan

Musim kawin tiba :

Suara burung-burung hari ini terdengar berbeda, sepertinya ada keceriaan disana. Yah, memang tiap kicau-pun terdengar ceria, walau tidak selalu, seperti saat burung nazar melihat bangkai, atau celoteh camar tolol mengabarkan tentang kapal karam, laiknya dendang Bang Iwan. Tapi hari-hari ini, entahlah kicau itu terdengar lain.

Busana burung-burung pun gemerlapan indah, bukan karya desainer tentu, tidak juga berkonsultasi pada konsultan fashion. Bahkan, tak ada sentuhan salon kecantikan yang paling terkenal sekalipun. Kilaunya, kepaknya, dan geraknya mengundang decak kagum, matanya pun bergerak-gerak liar dan binal. Semua terjadi karena memang sekarang ini musim kawin burung, begitulah katanya.

Saya kurang mengetahui sebenarnya, apakah burung mengalami cinta monyet, cinta pada pandangan pertama, cinta pada puber kedua, atau cinta-cinta yang lain. Saya juga kurang tahu, apakah burung-burung itu ber-poligami, ber-selingkuh, atau ber-kumpul kebo (mungkin ga ya?? Mereka kan burung bukan kerbau😆 ).

Rasa-rasanya kok, tidak terlalu sukar ya, bila musim kawin burung tiba. Tak ada pranata yang harus diikuti, tahap pacaran dihilangkan, tak ada rangkaian adat yang dilakukan, tak ada mas kawin, tak ada akad nikah, tak ada undangan, tak ada resepsi. Semua berjalan begitu saja, saat saling tertarik kemudian dilanjutkan dengan ritual purba itu.

-Mohon koreksi saya, bila ada ahli biologi yang lebih mengetahui saat musim kawin tiba-

Musim nikah datang :

Bulan ini, kata orang-orang tua adalah bulan baik. Saat yang tepat untuk melakukan hal-hal baik, dan nikah salah satunya. Beberapa undangan diterima bersamaan, dalam satu hari bisa tiga atau empat resepsi dilangsungkan bersamaan. Dalam satu bulan, kadang sampai mencapai dua digit perhelatan pernikahan yang harus dihadiri. Musim liburan ini, juga dimanfaatkan untuk melakukan khitanan, yang tentu menambah panjang daftar sumbangan untuk bulan ini. Tapi perbandingan pernikahan dan khitanan itu, masih lebih banyak perhelatan pernikahan yang dilangsungkan. Mungkin inilah musim nikah manusia.

Selepas berpacaran, atau sebagian ada pula yang tidak melalui tahap berpacaran. Dua sejoli memutuskan untuk melanjutkan hubungan ke jenjang selanjutnya, pernikahan. Begitu banyak persiapan dilakukan, daftar undangan, sewa tempat, sewa dekorasi, sewa sound system, catering, dokumentasi, baju penganten dan masih banyak lagi. Setelah semua siap, pernikahan-pun dilakukan.

Eh, tapi ada pula adat istiadat yang harus diikuti, bergantung dimana perhelatan akan dilakukan. Bila kebetulan dua mempelai berasal dari satu suku, maka akan lebih sederhana kemudian. Lain hal-nya bila yang menikah berbeda suku, maka akan lebih banyak lagi hal yang dilakukan. Pernikahan kemudian, menjadi bukan hanya terjalinnya hubungan lebih “serius” antara dua orang. Pernikahan menjadi kepentingan dua buah keluarga besar, dua kantor besar (bila yang menikah berbeda tempat kerja), serta mengikuti pula beberapa perbedaan yang lain. Pernikahan menjadi tidak sederhana lagi, kian rumit, tak jarang bahkan menimbulkan beberapa perselisihan awal yang menggembirakan diantara dua mempelai.

Lebih jauh, pernikahan menjadi simbol status sosial. Bagaimana tidak? Bila tempat perhelatan menentukan kemeriahan suatu acara. Hidangan dan bagaimana cara penyajian, menggambarkan bagaimana tebal kantong penyelenggara. Tim dokumentasi yang lengkap, mulai dari kamera dengan lensa bongsor, dilengkapi dengan blitz menyilaukan, jenis media perekam dari hanya sekedar handycam sampai dengan kamera canggih, berteknologi maksimum, dengan kekuatan bermega piksel dan fasilitas penyimpan mulai dari pita, HD sampai dengan piringan DVD, kemudian menentukan pula kekuatan ekonomi seseorang. Ini belum seberapa, karena pertimbangan tim rias penganten dari salon terkenal belum dimasukkan. Belum masuk pula, bagaimana dekorasi mewah nan indah dari event organizer kondang. Ah lagi-lagi, pernikahan menjadi tidak sederhana lagi, kian rumit, tak jarang menghabiskan berjuta-juta rupiah.

Oya, hampir lupa. Pernikahan juga mendapat penonton yang mendapat kehormatan di-undang. Jadi tidak sembarang penonton. Mereka memiliki semacam tiket bernama undangan. Biasanya, semakin banyak undangan akan semakin meriah pernikahan. Mereka yang di-undang ini juga beragam, merembet kepada barisan kursi-kursi ada VIP, VVIP, biasa sampai ekonomi, yang artinya berimbas pada jenis hidangan, yang tentu akan berbeda untuk masing-masing kelas. Keluar di pelataran parkir, akan nampak pula perbedaan jenis-jenis mobil, dari mobil sedan dengan hiasan bunga untuk pengantin, sedan para tamu, bus untuk yang berombongan, sampai sepeda motor atau sendal pejalan kaki yang putus, mungkin bisa juga ditemukan. Pada akhirnya pernikahan menjadi tidak sederhana lagi, kian rumit, tak jarang ada yang menganggap itu merepotkan dan menunjukkan kelas-kelas sosial dalam masyarakat.

Raja sehari, begitu katanya. Menuntut beberapa hal yang telah tersebut di atas. Coba bandingkan dengan musim kawin burung. Lebih menarik yang mana??

Kata kyai saya di kampung, pernikahan akan barokah bila dilakukan secara sederhana. Saat yang diundang adalah mereka yang fakir dan miskin, yang ikut berbahagia bersama dan mendo’akan dengan ikhlas.

“Lantas, bagaimana dengan yang sudah terjadi itu paman??” ponakan saya yang imut-imut itu-pun usil bertanya.

Well entahlah, seperti biasa kemudian hanya akan menjadi tanya yang menunggu jawab. Tapi, sebenarnya saya sendiri senang bila menghadiri pernikahan. Banyak makhluk cantik bertebaran, terbalut dalam pakaian rapi dan tidak ada yang akan nampak sembarangan. Hidangan lezat dan tak biasa dijumpai dalam menu sehari-hari juga akan ditemukan. Belum lagi aura cinta dari dua mempelai yang memenuhi udara, menyesakkan nafas dan memancarkan gairah.

“Jadi kapan nikah paman??”

“Hush, nanti dulu ngger, nunggu calon bulekmu dulu yang masih sibuk jalan-jalan😀 “

Sebenarnya, dari keseluruhan rangkaian acara pernikahan, yang paling saya senangi adalah : “icip-icip temanten putri” sayangnya belum pernah ada yang menyelenggarakannya😆
asal gambar

30 comments so far

  1. goop on

    Bu Lek dimanakah kamu??😆

    Goop:::😳

  2. itikkecil on

    resepsi yang ideal menurut saya, hanya mengundang teman-teman terdekat. jadi bisa ngobrol dan pasti kenal semua dengan yang datang. tapi entah kapan…

    Goop:::
    sepertinya itu memang seru tante😀
    smoga secepatnya deh

    *menerawang*

    cari bu lek atau pak lek paman?

    *ditabok goop*

    Goop:::
    ah ini pasti gara-gara postingan kemaren, ya kan??😈

    Sebenarnya, dari keseluruhan rangkaian acara pernikahan, yang paling saya senangi adalah : “icip-icip temanten putri” sayangnya belum pernah ada yang menyelenggarakannya

    emang ada yang mau ngadain?

    Goop:::
    ya kali aja ada😆

  3. tukangkopi on

    Sebenarnya, dari keseluruhan rangkaian acara pernikahan, yang paling saya senangi adalah : “icip-icip temanten putri”

    maksudnya itu lo ikut icip2 pengantin cewenya??? GILA APA??? Kalo ada yang ngadain ikutan donk!!!:mrgreen:

    Goop:::
    nah… dikau pun tertarik kan sobat?😆
    ntar… saling berbagi info yakz

  4. ika on

    eh mau dong sayah kawin cara begituan,,gak usah pake adat,,apalagi saya anak tunggal, pasti tuntutannya banyak,harus adatlah,harus inilah,harus itulah,,, ;p

    Goop:::
    maksudnya begituan itu, yang burung??
    hahaha…
    coba aja mbak… langsung tunjebh point ya😆

  5. Dekisugi on

    ya..ya..musim hujan memang enak buat kawin😈

    Goop:::
    haha… katanya sih memang gitu mas joe,
    saya sendiri, enak buat slimutan

  6. Dhe' lagi nga' nyambung on

    sabar ya ..saya lagi jalan – jalan di awan…😉

    Goop:::
    eh… inikah bu lek-nya??
    cepet mendarat dunk:mrgreen:

  7. stey on

    ahli biologi burung? pakdhe mbilung gitu maksudnya?

    Goop:::
    ???🙄
    saya ga kenal, memang beliau ahli ya??

  8. Moerz on

    woah…
    saya ndak pernah kondangan…
    nggak ngerti…
    pikirannya kok nikah kawin 69 mulu yah….
    *woahgawatmasihkecilinget*
    hihihih….

    Goop:::
    tenang sobat:mrgreen:
    ada waktunya nanti
    *berlagak sok tua*

  9. Ajie on

    Buleknya jgn sering jalan2x … kelamaan nikahnya😀 hehehe salam kenal Goop, saya link Blog ini.

    Goop:::
    iya tuh sobat, bu lek-nya suka menggoda:mrgreen:
    ah ya, salam kenal pula dan terima kasih sudah mampir.
    oya, mau tautin kabel kesini yak?? nyetrum lho tapinya😀

  10. ordinary on

    😆😆😆

    udah… cepet nikah cepet kawin
    jadi para komentator kan bisa ikutan icip2 temanten putri nya

    *kaburrr*

    Goop:::
    iya, ini juga mau cepet-cepet bu’ tapi kan bu lek-nya lagi jalan-jalan😆

  11. awaludin on

    kalo icip nya sekedar cipika cipiki sih, sudah banyak mas.

    Goop:::
    ohh…
    barangkali cipika cipiki bukan icip sobat😆

  12. qzink666 on

    Gara-gara mandangi hujan dari jendela kantor sambil membayangkan mas Han-mu akhirnya terciptalah tulisan ini ya, paman??
    *lari terbirit-birit*

    Goop:::
    gyahahaha, bukannnn!!!!👿
    gara-gara dua kali kondangan😀 di bulan ini

  13. fauzansigma on

    kapan kawin?
    bulan apa?
    ehehhehe..
    salam kenal
    *salaman*

    Goop:::
    yahh… jangan ditanya bulannya😆
    terserah bu lek yang lagi jalan-jalan saja koq:mrgreen:
    salam kenal pula, terima kasih sudah mampir
    *jabat erat*

  14. deKing on

    Hehehehehe duch yang sudah ngebet ketemu bulik:mrgreen:
    Pernikahan memang selalu berkaitan dengan status, mulai dari status di KTP sampai status materi yang lain … makanya tidak heran jika ada yang rela menikah walau sekedar kontrak hanya untuk mengejar status.

    Goop:::
    mengejar status ya mas??
    wah…
    ada juga toh?? *baru nyadar*

  15. deKing on

    Ada yang ketinggalan:

    Lebih jauh, pernikahan menjadi simbol status sosial. Bagaimana tidak? Bila tempat perhelatan menentukan kemeriahan suatu acara.

    Mari kita tonton acara kompetisi pernikahan

    Goop:::
    mari mas…
    siapa panitia kompetisinya??🙄

  16. hadi arr on

    Resepsi itu sebenarnya semacam maklumat agar masyarakat tau bahwa Paman Goop dan Bulek yang lagi jalan-jalan sudah resmi menjadi suami istri, sehingga tidak timbul fitnah gitu lho, nah kapan nih bulek suruh berenti jalan-jalannya.
    Postingan ini buat cari masukan yaaa. OO kamu ketauan.
    siip lah ditunggu undangannya

    Goop:::
    hahaha, pak hadi ini senangnya menebak-nebak
    sayang pak, tebakannya meleset kali ini… undangan sudah siap, hanya nama yg menemani saya masih tanda tanya😦

  17. awan sundiawan on

    Yang paling indah itu malam kedua, karena tidak ada yang mengganggu…

    Goop:::
    habis itu, malam pertama ngapain mas??
    wah, ga bisa ikut icip-icip dunk😆

  18. Hoek Soegirang on

    hohohoho…
    mo nikah kawin ya faman? undangannya dunk? undangannya dunk? undangannya dunk? mhuehuehuehuehue

    Goop:::
    Gyaaaaaaahhhhh😈
    anak inih…
    ga baca ya, sepertinya??
    hairan kenapa kesimpulan dia, selalu aneh sih😆
    *tendang hoek*

  19. almascatie on

    woloh nikah lagi… om goop nikah sama tante sapa??

    btw icip2 penganten??😯

    Goop:::😆
    ehehehe….
    begitulah bozz…
    adapun tantenya masih tanda tanya tuh:mrgreen:
    btw, komeng dikau ketelen akismet lagi tuh… knapa ya??

  20. aRuL on

    Selamat menikah… upz salah yah..😀
    btw koq avatarnya bang rhoma? hehehe, tadi kirain bang roma beneran yang ngeblog😀

    Goop:::
    oh… avatar itu😳
    iya mas, soalnya manusia purba yang kemaren capek jalan-jalan…
    nanti setelah istirahat, dipakai lagi😆
    terima kasih sudah mampir:mrgreen:

  21. celo =3 on

    Eh, tapi ada pula adat istiadat yang harus diikuti, bergantung dimana perhelatan akan dilakukan.

    yang susah adalah pernikahan gadis jawa dengan pria aceh… kalo dua-duanya ningrat dan nggak ada yang mau mengalah… bukannya nikah yang ada malah kerusuhan…

    Adat Jawa menikah harus diadakan di tempat si putri sedangkan adat Aceh menikah dilaksanakan di tempat putra (CMIIW) bukannya nggak malah tawuran itu kalo begitu…???🙄

    Goop:::
    hahaha, bukan nikah tapi kerusuhan ya Cell???😆
    intinya jadi repot kan bro??:mrgreen:

  22. shinobigatakutmati on

    he…. kirain apa…. hmm…. apa iya gadis jawa dengan pria aceh susah… *melirik teman wa* kayaknya sih adem ayem aja😛

    Goop:::
    mungkin ada pula yang berhasil menyelaraskannya mas:mrgreen:
    terima kasih sudah mampir

  23. fauzansigma on

    wong SOLOOOOOOOO………hidup klaten (loh?) hehe

    Goop:::
    HIDUUUPPPP!!!!!😆
    tapi saya aslinya magelang lho mas:mrgreen:

  24. antarpulau on

    …celoteh camar tolol mengabarkan tentang kapal karam, laiknya dendang Bang Iwan…..

    ——————
    Bang Iwan… atau Bang Oma Irama nih….🙂

    Goop:::
    kalo’ diantara bloger bersaudara,😳
    tentu diantara singer pun berkawan, ya gak??😆

  25. sawali ndak login on

    walah, lagi musim kawin, ya, MAS GOOP? emang selalu menarik. yang mengusik saya sudah diungkap oleh temen2 sebelumnya. saya hanya ingin menegaskan ulang. Kapan giliran mas goop *halah*
    Siap2 nunggu undangan, hehehehehe😆
    *maaf mas goop baru bisa berkunjung ke sini. ceritanya lage ada kerjaan. halah.

    Goop:::
    oh, tak apa pak… slamat bekerja, sukses yakz:mrgreen:
    giliran saya pak??
    nunggu bu lek yang lagi jalan-jalan😆

  26. Andrew Wijaya on

    …celoteh camar tolol mengabarkan tentang kapal karam,

    saiyah nggak tolol…😦

    Goop:::
    lha, yang bilang sapa??😆
    orang camar-nya koq:mrgreen:

    @ shino… kalo dua-duanya ningrat dan nggak mau ngalah itu baru bisa terjadi kerusuhan… kalo salah satu ada yang easy going keknya aman degh😕 kakak saya juga dapet orang Aceh soalnya😆

    Goop:::😆

  27. deethalsya on

    @celo =3
    setau dt, adat Aceh malah diadain 2x.. di t4 wanita & pria-a (kalo sama org Aceh sih).. 😀
    hhmm.. bkn-a enak, mkn2-a jd dobel kan..:mrgreen:

    Goop:::
    wah mau dunk, makan dobel😆

    tujuan dr resepsi yg ptg adlh membagi kabar bahagia, jgn sampe malah nguras kantong & pengen ‘hebat2an’ doank..
    *sok serius utk hr ni*

    Goop:::
    yup, setuju banget dt:mrgreen:

  28. extremusmilitis on

    Per-nikah-an itu kan sesuatu yang sakral, di-satu sisi wajar kalau sering sekali di-adain gede-gede-an. Tapi sih, kalau kesan-nya udah maksain seperti lebih besar pasak dari pada tiang, nah itu tuh yang gawat, bisa-bisa ngebayar-nya 7 turunan:mrgreen:

    Yang penting itu arti, makna, dan proses men-jalani-nya. Tapi aku juga belum ngalamin lho Goop, pengen-nya sih seperti itu😆

    Goop:::
    ikut meng-amien-kan ke-pengen-an-mu Bang
    dan ke-pengen-an saya juga:mrgreen:
    *ikud-ikudan bang mus, pake strip strip*

  29. ponakan on

    hm…. begitulah adanya….
    iya yah… kenapa jadi rumit banget ya…
    ntar kalo punya anak, jangan dipersulit unc kalo mo nikah…. hehe…

    Goop:::
    punya istri dulu kali mbak😆
    dan nikah dulu, smoga aja tak rumit:mrgreen:

  30. […] sebelum “Smallville” di malam yang sama. Bukankah sebuah cinta telah menyederhanakan resepsi yang semestinya megah, mewah dan tidak jarang bahkan sampai dibela-belain […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: