Kuasa

Coretan berikut ini, adalah hasil copy paste dari blog friendster saya. Keadaan bangsa dewasa ini, yang seakan mengingatkan kembali tentang kekuasaan menjadi sekedar pembenaran atas ditera-nya kembali tulisan ini. Saya sudah mencoba beberapa kali untuk menulis topik yang sama, tapi hasilnya selalu tak sesuai dengan yang saya harapkan, tak pernah lebih bagus daripada tulisan ini. Oya, sedikit gambaran juga saat masa-masa awal saya menulis, yang lebih banyak kegelisahan terasa disana. Menjadi ajang bernostalgia juga bagi saya, saat saya masih suka melihat rembulan, bersama alunan Emha Ainun Nadjib. Akhirnya, selamat menikmati….

Kuasa menggerakkan gelombang air

Adigang Adigung Adiguno

adalah simbol kekuasaan karena kelebihan yang dimiliki oleh seseorang

adigang adalah lambang dari kijang yang memiliki kecepatan
adigung adalah lambang dari gajah yang memiliki kekuatan
adiguna adalah lambang dari ular yang memiliki bisa

kelebihan, yang dikaruniakan Tuhan yang maha baik kepada manusia
seyogyanya digunakan untuk memakmurkan bumi-Nya

ada orang dengan kecepatan, kekuatan dan kemampuan lain yang mengagumkan
sehingga dia dipilih oleh sebagian yang lain untuk menjadi pemimpin
harapannya tentu saja agar ia dapat memimpin yang lain menuju kepada kebaikan

namun
menjadi pemimpin ternyata dibarengi dengan berbagai hak yang menyertainya
hak untuk mengatur orang lain, hak untuk menjalankan dan mengambil keputusan
hak untuk mengimplementasikan aturan yang ada di bawah ketiaknya dan seterusnya

bagaimana kemudian jika hak tersebut terselip keinginan pribadi di dalamnya
keinginan untuk menjadi lebih dari orang lain
lebih kaya, lebih mampu, lebih berkecukupan, lebih jaya?

dia akan menggunakan kekuasaannya, untuk mencapai keinginannya tersebut
kekuasaan menjadi absolut, dan akan diusahakan agar tetap langgeng
diktator bukanlah hal yang terlalu mengejutkan kemudian

akhirnya, biarkan aku menjadi diktator
yang berkuasa penuh atas diriku
menguasaiku untuk tidak berkuasa atas orang lain

Emha Ainun Nadjib tentang kekuasaan:

Menyorong Rembulan

oleh : Emha Ainun Nadjib

Gerhana rembulan hampir total, malam gelap gulita,

matahari berada pada satu garis dengan bumi dan rembulan

cahaya matahari yang memancar ke rembulan

tidak sampai ke permukaan rembulan karena ditutupi oleh bumi

sehingga rembulan tidak bisa memantulkan cahaya matahari ke permukaan bumi

matahari adalah lambang tuhan, cahaya matahari adalah rahmat nilai kepada bumi yang semestinya dipantulkan oleh rembulan

rembulan adalah para kekasih allah, para rasul, para nabi, para ulama, para cerdik cendekia, para pujangga

dan siapapun saja yang memantulkan cahaya matahari atau nilai-nilai allah untuk mendayagunakannya di bumi

karena bumi menutupi cahaya matahari maka malam gelap gulita

dan didalam kegelapan segala yang buruk terjadi

orang tidak bisa menatap wajah orang lainnya secara jelas

orang menyangka kepala adalah kaki

orang menyangka utara adalah selatan

orang bertabrakan satu sama lain

orang tidak sengaja menjegal satu sama lain

atau bahkan sengaja saling menjegal satu sama lain

di dalam kegelapan orang tidak punya pedoman yang jelas

untuk melangkah,

akan kemana melangkah,

dan bagaimana melangkah

ilir-ilir, kita memang sudah nglilir

kita sudah bangun, sudah bangkit bahkan kaki kita sudah berlari kesana kemari

namun akal pikiran kita belum, hati nurani kita belum!

kita masih merupakan anak-anak dari orde yang kita kutuk di mulut

namun ajaran-ajarannya kita biarkan hidup subur

di dalam aliran darah dan jiwa kita

kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik

kita mencerca maling dengan penuh kedengkian kenapa bukan kita yang maling

kita mencaci penguasa lalim dengan berjuang keras untuk bisa menggantikannya

kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara setan,

yakni melarangnya untuk insyaf dan bertobat

kita memperjuangkan gerakan anti penggusuran dengan cara menggusur

kita menolak pemusnahan dengan cara merancang pemusnahan-pemusnahan

kita menghujat para penindas dengan riang gembira

sebagaimana iblis, yakni kita halangi usahanya untuk memperbaiki diri

siapakah selain setan, iblis dan dajjal

yang menolak khusnul khotimah manusia

yang memblokade pintu surga

yang menyorong mereka mendekat ke pintu neraka

sesudah ditindas, kita menyiapkan diri untuk menindas

sesudah diperbudak, kita siaga untuk ganti memperbudak

sesudah dihancurkan kita susun barisan untuk menghancurkan

yang kita bangkitkan bukan pembaharuan kebersamaan,

melainkan asyiknya perpecahan

yang kita bangun bukan nikmatnya kemesraan,

tapi menggelegaknya kecurigaan

yang kita rintis bukan cinta dan ketulusan,

melainkan prasangka dan fitnah

yang kita perbaharui bukan penyembuhan luka,

melainkan rencana-rencana panjang untuk menyelenggarakan perang saudara

yang kita kembang suburkan

adalah kebiasaan memakan bangkai saudara-saudara kita sendiri

kita tidak memperluas cakrawala dengan menabur cinta,

melainkan mempersempit dunia kita sendiri dengan lubang-lubang kebencian

dan iri hati

pilihanku dan pilihanmu adalah apakah kita akan menjadi bumi

yang mempergelap cahaya matahari?

sehingga bumi kita sendiri tidak akan mendapatkan cahayanya

atau kita berfungsi menjadi rembulan, kita sorong diri kita bergeser ke alam yang lebih tepat

agar kita bisa dapatkan sinar matahari, dan kita pantulkan nilai-nilai tuhan itu kembali ke bumi??

32 comments so far

  1. goop on

    Goop:::
    Mohon maaf hanyalah nostalgia dan copy paste, ide-ide itu masih ada namun berlarian, mengular dan berkejaran saling membelit. Terlalu liar untuk tak tertangkap.
    Tidak menyinggung pula cinta, sehingga semoga tidak menimbulkan penafsiran adanya pernikahan ataupun undangan:mrgreen:๐Ÿ˜ณ

  2. itikkecil on

    bukankah power does tend to corrupt?

    Goop:::
    sepertinya sih begitu, seperti saudara kembar, yang seiring sejalan๐Ÿ˜†

  3. caplang[dot]net on

    paman, yg nyemplung ke air itu apa?:mrgreen:
    kuasa?

    Goop:::
    barangkali bro…:mrgreen:
    saat kuasa menggoyangkan ketenangan, bayangan rembulan pun memudar
    *ahh apa lagi ini??*

  4. tukangkopi on

    minta cerpen! minta cerpen!๐Ÿ˜ˆ

    Goop:::
    hahaha…:mrgreen:
    sabar ya… lagi direbus nih๐Ÿ˜†

  5. bisaku on

    Kekuasaan itu semenarik goyangan samba – membuat ketagihan bak kena pelet, sehingga tiada orang yang mau turun dari tempat duduk jabatannya walau sudah diperingatkan kalau dia bakal kena ambeien …๐Ÿ˜€

    Goop:::
    heeee….
    berarti pemain bola brasil pada kena ambien semua mas??๐Ÿ˜†
    *ditabok, karena OOT sendiri, makasih ya mas๐Ÿ˜€ *

  6. Sawali Tuhusetya on

    *hahahahahahahaha๐Ÿ˜† udah nembak duluan, koment vertamax menjadi milik sahibbul blog, halah. eeee, masih ditambah ndak boleh nyinggung masalah pernikahan dan undangan, hehehehehe๐Ÿ˜† Emang ada ya Mas Goop komen yang selalu nyinggung2 soal begituan? hiks. Tiarap!!! *

    Goop:::
    ahaha…
    lah inilah pak, perjuangan manusia yang paling berat, yaitu melawan lupa๐Ÿ˜†

    Mas Goop, tiba2 saja saya jadi teringat pernyataan sejarawan Inggris Lord Acton yang menyatakan bahwa kekuasaan pada dasarnya cenderung korup, dan kekuasaan absolut hampir pasti korup secara absolut pula. Konsep kultur Jawa yang senantiasa manjing-ajur-ajer dalam setiap peradaban sebenarnya sudah banyak memberikan “warning” bagaimana seharusnya manusia menjaga “laku” hidupnya. Adagium “adigang, adigung, adiguna” sebenarnya konsep yang bagus. sayangnya, seperti yang disentil novelis Cheko, Millan Kundera”, salah satu perjuangan manusia yang terberat adalah perjuangan melawan lupa. Kalo seseorang sudah masuk dalam lingkaran kekuasaan orang jadi lupa pada jatidirinya. itulah sebabnya, belakangan ini makin banyak saja penuasa yang harus berurusan dengan KKN.
    *halah, maaf kalo sok tahu mas goop*

    Goop:::
    yak pak, tepat sekali…
    karena lingkaran lupa itu pula yang katanya membuat sejarah juga berulang-ulang terus:mrgreen:

  7. Sawali Tuhusetya on

    *aku ndak nyinggung2 pernikahan dan undangan loh*
    *slamet, slamet*

    Goop:::๐Ÿ‘ฟ
    lha ini apa pak?? jahhhh๐Ÿ˜ฆ

  8. extremusmilitis on

    Seperti-nya ini per-tanya-an yang sering men-dengung dalam hati tiap orang yang masih peduli akan ke-adil-an Goop. Dan Cak Nun, telah me-nuang-kan-nya dalam baris kata demi kata. Dan kamu, Goop, telah meng-angkat-nya sebagai bentuk ke-gelisah-an mu.
    Semoga, ini bisa ber-ubah yaks, tapi ntah kapan๐Ÿ™„

    Goop:::
    asal harapan itu masih ada Bang, barangkali ada pula jalan
    semoga Bang, semoga…

  9. Hoek Soegirang on

    mhuehuehueheuheu…..
    ternyata begidu pendapatmu wahai faman? bagoss..bagoss…!!!

    Goop:::
    begitu bagaimana hoek??๐Ÿ˜†
    makasih

  10. Mbelgedez on

    Tapi sayah justru merindukan bangsa ini dipimpin oleh diktator nyang baek ati…. ๐Ÿ™‚

    Goop:::
    semoga kerinduan itu segera terjawab ohm mBell…
    tapi apakah ada? karena kutipan Pak Sawali mengatakan kita ini sering lupa๐Ÿ˜ฆ

  11. andex on

    dulu saya juga demen sama album Emha Ainun Najib… tapi sekarang saya malah lagi demen sama albumnya anaknya Emha Ainun Najib! we he he…

    Goop:::
    oh…
    emang siapa yak anaknya beliau??๐Ÿ˜†

  12. hadi arr on

    kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik
    kita mencerca maling dengan penuh kedengkian kenapa bukan kita yang maling

    GOOP, tersinggung saya dengan kalimat Cak Nun di atas, banyak memang diantara kita (juga saya) melihat orang lain berhasil dengan cara yang salah timbul iri terhadap hasilnya, bukankah seharusnya perbuatan nya yang kita luruskan?
    Itu karena kita tidak punya kekuasaan
    ya kekuasaan untuk berbuat kotor, juga kekuasaan untuk memperbaikinya.
    Ah, ngelantur ya GOOP, saya nggak minta di undang kok, siapa yang ngomong?

    Goop:::
    setuju pak, barangkali saat kita punya kekuasaan kita juga bisa saja menjadi lupa, dan ikut melakukan hal yang sebelumnya kita cerca…
    menjadi polemik memang๐Ÿ˜†
    dan apakah bapak diundang?? ini undangan apa ya??:mrgreen:

  13. atapsenja on

    O,ow…
    Aku komengnya kutip sebait puisi laozi ya, Paman?

    “yang bermaksud menguasai dunia dan merekayasa dunia
    kukira tak akan berhasil, sebab
    dunia adalah sarana rohaniah yang bukan untuk dikuasai
    siapa yang melakukan sesuatu padanya, akan merusaknya,
    siapa yang mengenggamnya di tangan , akan terlepas lagi.”

    Goop:::
    wah bagus mbak, tapi…
    kemudian apa yang harus kita lakukan bila kita tak boleh melakukan sesuatu, pun sekedar menggenggam??:mrgreen:

  14. stey on

    tidak masalah asal dia menggunakan kuasanya dengan bijak..oke?

    Goop:::
    yup, tapi semoga saja dia tidak lupa:mrgreen:

  15. erander on

    Kegelisahan telah melahirkan kata
    Ketika melihat kuasa kembali nyata
    Kegalauan telah menetaskan kata
    Ketika merasa kuasa kembali jaya

    Seperti rembulan yang selalu setia
    Muncul setiap genap purnama
    Nanti kemudian menghilang dibalik gelap
    Menunggu dengan gagap

    Begitulah kehidupan semula jadi
    Berputar terus kembali lagi
    Tapi kita sering alpa dan lupa diri
    Padahal cukup berkaca pada matahari

    Goop:::
    yup Bang, kegelisahan, kegalauan, berputar dan kemudian lupa *:mrgreen: *
    btw, saya suka rima-nya Bang

  16. beratz on

    kekuasaan tidak bisa dilepaskan dari korupsi sepanjang masih ada oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Sebaik apapun sistem pemerintahan tersebut kalo masih ada oknum, pasti akan ada penyalahgunaan kekuasaan tersebut. Jadi kesimpulan saya adalah bagaimananpun bentuk sistem kepemerintahan apakah demokrasi, diktator, kaisar, kerajaan atau apapun itu adalah baik sepanjang yang memegang kekuasaan dan kroni-kroninya menggunakan kekuasaan tersebut sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat atau menomorsatukan rakyat dan bukan untuk diri sendiri.
    Maaf jika salah
    Hanya ingin berkomentar yang agak berat dibaca *halah*.

    Goop:::
    yup pak, betul sekali dan oknum itu bisa siapa saja, dari mulai penguasa, sampai dengan aparatnya, bila ada kesempatan serta peluang untuk itu. *๐Ÿ˜€ *

  17. bedh on

    huhuuh dalem banget
    saya juga pengen jadi diktator kalo gitu.
    yang saya tangkap dari coretan kedua seringkali kita menyelesaikan persoalan anarkis dengan gak kalah anarkisnya.

    semoga saya dapat belajar lebih banyak dari sana.
    thx

    Goop:::
    eh, dia ikut-ikutan *:mrgreen: *
    tapi awas penyakit lupa lho mas *๐Ÿ˜€ *
    makasih yak

  18. gempur on

    Ah, paman goop, dirimu mengingatkan kembali diriku pada buku terfavorit tulisan Emha Ainun Nadjib, “Sedang Tuhan Pun Cemburu”… sayangnya, buku itu ilang, dipinjem tak dikembalikan.. sampean punya.. minta dong fotokopinya..๐Ÿ˜‰

    Goop:::
    aduh, maaf pak gempur, saya malah belum pernah dengar itu *๐Ÿ˜ฆ *
    keliatannya bagus, lha dulu dapet dimana *๐Ÿ˜† *
    makasih yak *๐Ÿ˜€ *

  19. eMina on

    bagus sekali puisinya.
    emha ya? saya jarang baca karya beliau. tapi yang ini bagus banget.

    Goop:::
    benernya ini bukan puisi yang tertulis mbak,
    aduh gimana ya, *๐Ÿ˜† *
    soalnya ini jadi satu dalam album padang mbulan-nya *maaf sudah agak lama, jadi lupa judul persisnya*

  20. qzink666 on

    Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa..
    -Milan Kundera-

    *nunggu undangan*

    Goop:::
    *๐Ÿ˜ˆ *
    mana undangan hah!! hah!!
    *๐Ÿ˜ฅ *

  21. Ajie on

    wah berat nih Mas … berat postingannya, kayak baca bukunya Emha Ainn Nadjib๐Ÿ˜€
    Btw makanya dulu saya ikutan demo thn ’98 karena itu , melawan kediktatoran.

    Goop:::
    *:mrgreen: *
    wah mungkin memang puisi Emha Mas, yang lumayan mengernyit *๐Ÿ˜€ *
    btw, saat 98 saya masih SMP *๐Ÿ˜† *
    makasih mas

  22. Sayap KU on

    Yang pasti setiap perubahan, setiap desakan, setiap kekuasaan kita kembalikan kepada pemilik napas kita … dan berlindung dibawah ke Maha-anNya agar tidak menabrak matahari ketika sedang jawa dan tidak ditabrak bulan ketika sedang gelap.

    -Ade-

    Goop:::
    yup mbak…
    namun jangan lupa, godaan lupa selalu mengintai
    *:mrgreen: *
    makasih ya mbak

  23. jiki on

    hati sifatnya bolak-balik
    =================
    mangkanya ada lagu yang judulnya JAGALAH HATI๐Ÿ˜‰

    eh lam kenal ya mas

    Goop:::
    iya, memang segumpal daging itu yang menentukan *๐Ÿ˜€ *
    salam kenal pula, terima kasih sudah mampir yak

  24. manusiasuper on

    perhaps those who are best suited to power are those who have never sought it.

    Albus Dumbledore – Harry Potter and the Deathly Hallows

    Goop:::
    belum baca
    *๐Ÿ˜ฆ *
    tapi barangkali benar apa yang dikatakan tuan Albus
    makasih mas

  25. morishige_toyotomi on

    kekna bisa jadi saingan Cak Nun nih.. hehe..

    kita masih merupakan anak-anak dari orde yang kita kutuk di mulut

    bener itu… lihat aja “mereka” yang di kursi sekarang…

    analogi gerhana bulannya bagus sekali, paman…
    masuk.๐Ÿ™‚

    Goop:::
    eh itu kan yang buat cak Nun, saya hanya pengantar tentang AdigangAdigungAdiguno saja *๐Ÿ˜€ *
    makasih mas

  26. atapsenja on

    Aiya, aku suka dengan puisinya. baca lagi, baca lagi.

    Bukan tak boleh melakukan sesuatu, Paman. Ia berjasa tapi tak menuntut apa-apa. Ia memimpin tapi tak memerintah. Tapi, ya, susahlah. Manusia sering lupa siapa dirinya ketika berkuasa.

    Goop:::
    yup, saya juga suka *:mrgreen: *
    nah ya kan, lupa lagi ujung-ujungnya…
    lama-lama saya malah bertanya, lupa beneran atau sengaja lupa *๐Ÿ˜† *

  27. Goenawan Lee on

    bukankah power does tend to corrupt?

    Power tends to corrupt, and absolute power corrups absolutely. Great men are almost always bad men.๐Ÿ˜Ž

    (kutipan favoritku sepanjang masa, dari Lord Acton):mrgreen:

    Setelah berkuasa? Ya, mempertahankan kekuasaan! Semuanya naluri, naluri yang bekerja!!

    Goop:::
    Yup Goen, setuju *๐Ÿ˜€ *

  28. Goenawan Lee on

    Eh, kebalik almost dan always… Edit dong.๐Ÿ˜ฆ

    Goop:::
    udah tu bro, makasih
    *:mrgreen: *

  29. Ulan (lg makan nasi goreng) on

    Huaaaaaaa… Bentar lagi makan2!!!,
    Aku lapeeeerrr,
    Undangaaaaann oommm

    Goop:::
    *๐Ÿ‘ฟ *

  30. antarpulau on

    …akhirnya, biarkan aku menjadi diktator
    yang berkuasa penuh atas diriku
    menguasaiku untuk tidak berkuasa atas orang lain…

    *ngayal*
    enak kali ya punya kekuasaan….
    jgn seperti sayah… jgn-kan memiliki kekuasaan thd orang lain, terhadap diri sendiri aja sayah ndak punya kekuasaan sama sekali….

    lho, kok bisa…?

    Iya, soalnya siapa yg tenggelam dg kekuasaan, posisinya berada “diambang” menjadi Tuhan…
    Sekalipun dia hanya berkuasa pada dirinya sendiri, tetap saja dia ‘dekat’ dengan ‘persaingan dg Tuhan’… yaitu … me-nuhan-kan dirinya sendiri…๐Ÿ™‚

    *kalo salah, mohon saya dicubit*

    Goop:::
    *cubit dulu, meski ga salah *๐Ÿ˜€ *
    btw, bener juga apa yang tuan antar pulau bilang, berkuasa atas diri sendiri bisa menuju kepada penuhanan diri sendiri,
    makasih mas, sehingga dengan rambu-rambu ini ada kehati-hatian disana, semoga

  31. Zan's on

    Bingung ah…

    Goop:::
    *:mrgreen: *

  32. aLe on

    […]Emha Ainun Nadjib tentang kekuasaan:

    Menyorong Rembulan

    oleh : Emha Ainun Nadjib

    Gerhana rembulan hampir total, malam gelap gulita,

    matahari berada pada satu garis dengan bumi dan rembulan

    cahaya matahari yang memancar ke rembulan

    tidak sampai ke permukaan rembulan karena ditutupi oleh bumi

    sehingga rembulan tidak bisa memantulkan cahaya matahari ke permukaan bumi

    matahari adalah lambang tuhan, cahaya matahari adalah rahmat nilai kepada bumi yang semestinya dipantulkan oleh rembulan

    rembulan adalah para kekasih allah, para rasul, para nabi, para ulama, para cerdik cendekia, para pujangga

    dan siapapun saja yang memantulkan cahaya matahari atau nilai-nilai allah untuk mendayagunakannya di bumi

    karena bumi menutupi cahaya matahari maka malam gelap gulita

    dan didalam kegelapan segala yang buruk terjadi

    orang tidak bisa menatap wajah orang lainnya secara jelas

    orang menyangka kepala adalah kaki

    orang menyangka utara adalah selatan

    orang bertabrakan satu sama lain

    orang tidak sengaja menjegal satu sama lain

    atau bahkan sengaja saling menjegal satu sama lain

    di dalam kegelapan orang tidak punya pedoman yang jelas

    untuk melangkah,

    akan kemana melangkah,

    dan bagaimana melangkah

    ilir-ilir, kita memang sudah nglilir

    kita sudah bangun, sudah bangkit bahkan kaki kita sudah berlari kesana kemari

    namun akal pikiran kita belum, hati nurani kita belum!

    kita masih merupakan anak-anak dari orde yang kita kutuk di mulut

    namun ajaran-ajarannya kita biarkan hidup subur

    di dalam aliran darah dan jiwa kita

    kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik

    kita mencerca maling dengan penuh kedengkian kenapa bukan kita yang maling

    kita mencaci penguasa lalim dengan berjuang keras untuk bisa menggantikannya

    kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara setan,

    yakni melarangnya untuk insyaf dan bertobat

    kita memperjuangkan gerakan anti penggusuran dengan cara menggusur

    kita menolak pemusnahan dengan cara merancang pemusnahan-pemusnahan

    kita menghujat para penindas dengan riang gembira

    sebagaimana iblis, yakni kita halangi usahanya untuk memperbaiki diri

    siapakah selain setan, iblis dan dajjal

    yang menolak khusnul khotimah manusia

    yang memblokade pintu surga

    yang menyorong mereka mendekat ke pintu neraka

    sesudah ditindas, kita menyiapkan diri untuk menindas

    sesudah diperbudak, kita siaga untuk ganti memperbudak

    sesudah dihancurkan kita susun barisan untuk menghancurkan

    yang kita bangkitkan bukan pembaharuan kebersamaan,

    melainkan asyiknya perpecahan

    yang kita bangun bukan nikmatnya kemesraan,

    tapi menggelegaknya kecurigaan

    yang kita rintis bukan cinta dan ketulusan,

    melainkan prasangka dan fitnah

    yang kita perbaharui bukan penyembuhan luka,

    melainkan rencana-rencana panjang untuk menyelenggarakan perang saudara

    yang kita kembang suburkan

    adalah kebiasaan memakan bangkai saudara-saudara kita sendiri

    kita tidak memperluas cakrawala dengan menabur cinta,

    melainkan mempersempit dunia kita sendiri dengan lubang-lubang kebencian

    dan iri hati

    pilihanku dan pilihanmu adalah apakah kita akan menjadi bumi

    yang mempergelap cahaya matahari?

    sehingga bumi kita sendiri tidak akan mendapatkan cahayanya

    atau kita berfungsi menjadi rembulan, kita sorong diri kita bergeser ke alam yang lebih tepat

    agar kita bisa dapatkan sinar matahari, dan kita pantulkan nilai-nilai tuhan itu kembali ke bumi??[…]

    Cukup panjang dan mengena๐Ÿ˜€

    Goop:::
    wah mas ale CoPas doang nih *๐Ÿ˜€ *
    emang jadi panjang, commentnya juga *๐Ÿ˜† *


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: