Gerak

setannn

Magelang, 13 Januari 2008

Dalam sebuah keramaian pasar malam, kerucut terbalik itu begitu jumawa berdiri. Di sekitarnya lapak-lapak penjual mainan anak, makanan, sampai dengan permainan ketangkasan berdiri takut-takut. Lampu-lampu benderang, meski tidak ribuan watt, namun cukup menyinari binar wajah pengunjung maupun penjual dan penjaga lapak-lapak itu.

Pengunjung sudah berdatangan selepas kumandang adzan magrib menggema. Mengalir satu per satu atau berombongan, berjalan kaki atau dengan kendaraan roda dua. Otomatis tempat parkir tak mampu menampung, akibatnya bahu jalan dan bahkan pinggir selokan menjadi tempat parkir dadakan.

Kerucut terbalik itu tetap tegak berdiri, dengan atapnya berkibar-kibar ditiup angin. Sebuah lampu neon menempel di tiang tengah penyangga atap, sementara menggantung malas sebuah lampu lagi. Menampakkan bagian dalam kerucut, sebuah lingkaran yang dari bawah ke atas kian membesar garis tengahnya. Itulah arena tong setan.

Para penjaga meneriakkan pengumuman di luar kerucut, pada sebuah panggung kecil. Mengumumkan bahwa pertunjukan beberapa saat lagi akan dimulai. Di latar belakang, suara musik campur sari berbaur dengan suara pengumuman, lewat pengeras suara menambah ramai keadaan.

Selepas menebus tiket seharga tiga ribu rupiah, satu per satu, pengunjung dan saya diantaranya menaiki tangga dari besi, berpengaman, sekaligus sebagai tempat berpegangan tangan. Tangga ini ada dua buah, satu sebagai tempat naik dan satu lagi sebagai tempat turun. Pengunjung yang telah sampai di atas, kemudian akan berpencar sesuai lingkaran, yang juga berpengaman, membatasi tempat berdiri pengunjung dengan arena permainan.

Kesan saya, wah tempat ini menyeramkan, meski benderang namun itu justru memperlihatkan beberapa kejanggalan. Diantaranya tangga yang hanya diikat dengan tali rafia (tali plastik kecil). Kelihatannya saja tangga ini seperti baru saja di cat, namun nampaknya sudah dipakai sejak lama, dan saya dapat menduga, tentu di balik cat itu sudah banyak karat. Tangga yang bila dinaiki sedikit bergoyang. Tak ketinggalan lantai tempat berpijak pengunjung dari besi yang diinjak bergetar, seakan-akan tidak kuat menahan tubuh saya.

Arena permainan sendiri, terbuat dari kayu, entah apa jenisnya dengan paku-paku yang menahan dipasang rapi, berkilauan menyeramkan. Sebagian dari kayu itu sudah menghitam bekas ban sepeda motor yang digunakan untuk pertunjukan. Di sebelah bawah sana, sebagai dasar dari kerucut tampak tanah berumput meranggas. Sebuah sepeda motor butut, berwarna hitam, yang sepertinya tak lengkap perlengkapannya, karena saya tidak melihat adanya tuas rem depan, juga spatbor depan yang sudah dilepas. Satu jerigen bensin campur, yang isinya tinggal separuh juga melengkapi arena pertunjukan yang sangat sederhana itu.

Tak berapa lama, keluarlah sang penunggang motor dari sebuah pintu yang dibuat menyatu dengan arena. Setelah menutup pintu, mulailah memutar mesin motor keras-keras memekakkan telinga. Memandang ke atas, kepada para penonton dengan bengis, entah apa maksudnya. Apakah melihat jumlah pengunjung, ataukah ingin menyombongkan sepeda motornya..? Tanpa perlu melihat kondisi motornya, untuk sekedar memastikan apakah rem berfungsi dengan sempurna, atau hal lain. Setelah memasang sebuah kaus tangan di tangan kanannya, mulailah atraksi dilakukan. Oiya tanpa helm, pelindung lutut, siku atau penahan punggung seperti kostum para pembalap GP, sang penunggang itu pun beraksi.

Mula-mula berputar pelan, di bagian bawah dari lingkaran. Lama kelamaan semakin naik, semakin naik, seiring dengan meningkatnya kecepatan perputaran sepeda motor. Suara mesin meraung-raung memekakkan telinga, bila sampai pada tempat yang saya injak, lantai pun akan semakin keras bergetar, dan bunyinya menyeramkan seakan hendak runtuh. Memang di awal pertunjukan hanya berputar saja, kemudian sambil berputar mulai lepas tangan, tangan mengembang seakan-akan sayap rajawali. Saya kurang tahu bagaimana cara menjaga agar kecepatan tetap konstan. Ternyata tidak sampai disini, beberapa penonton mulai mengulurkan lembaran uang, yang dengan sigap disambut oleh tangan yang mengembang itu. Wah, hebat sekali, mirip seperti bangau mengambil ikan di telaga.

Gerakannya itu mirip tawafnya haji, berputar dan terus berputar. Boleh juga laksana tarian sama’ para darwis yang sedang ekstase. Sang penunggang itu pun seperti mabuk, tidak menghiraukan apapun juga. Rambut di kepala tanpa helm itu berkibaran, diikuti pula dengan kibaran pada pakaiannya. Bahkan di akhir pertunjukan, dia memainkan kopling dan gas. Akibatnya jalannya motor melonjak-lonjak tidak karuan, berkelak-kelok pada arena yang sempit itu.

Pengunjung beraneka ragam lagaknya, ada yang tertawa-tawa, ada yang takut-takut. Bahkan seorang anak kecil tidak berani melihat, bersembunyi menghadap pada perut ayahnya. Sebagian yang lain menahan nafas, dan masuk ke dalam golongan inilah saya.

“Ah, paman takut ya??” tanya keponakan saya itu

Saat itu memang saya berdiri dengan khawatir, antara kagum dan takut. Tidak bisa saya mengikuti bagaimana mabuknya sang penunggang, mencengkeram pengaman yang saya bisa. Terngiang cerita ibu, yang mengatakan bahwa beberapa pernah gegar otak, beberapa juga pernah meninggal dalam atraksi ini. Oya, ibu saya dekat dengan kalangan ini, karena mereka sering mandi di tokonya. Enggan saya menjadi saksi, sebuah kesakitan karena gegar otak, atau sebuah kematian.

Saat perputaran mesin melambat, melambat pula kecepatan, dan motor perlahan-lahan turun, hingga kemudian berhenti di dasar lingkaran. Sang penunggang seperti terengah, kemudian bertepuk tangan dan menghormat. Namun penonton, sudah berjalan keluar arena melalui tangga.

Beberapa saat saya menunggu sampai tangga sepi, ngeri melihat tangga ringkih, karatan dan bertali rafia itu dijejali pengunjung yang berebut turun. Waktu yang singkat saya manfaatkan untuk bertanya dengan salah seorang penjaga. Ternyata untuk belajar beratraksi tidak terlalu lama, cukup 5 hari saja, dimulai dengan menggunakan sepeda terlebih dahulu. Apakah ada yang tertarik??

Saya beranjak pulang, sambil melihat beberapa lapak yang menawarkan permainan berhadiah rokok, bahkan ada yang berhadiah hape. Tapi saya tidak bisa lepas dari bayangan berputaran sang penunggang motor yang seakan menyeringai kepuasan. Benarkah kepuasan karena sudah menghibur pengunjung?? Ataukah takut yang membayang sebuah tekad untuk melanjutkan hidup, agar besok bisa makan?? Saya kagum, saya bertepuk tangan, dan saya menghormat.

Ada pula yang lupa, apakah harga tiga ribu rupiah sebuah harga yang pas untuk ketrampilan, nyali sekaligus juga nyawa? Terbayang pula beragam profesi lain, sebuah pilihan ataukah jalan hidup?

Asal gambar

23 comments so far

  1. caplang[dot]net on

    saya juga pernah baca ttg atraksi tong SETAN! ini di koran
    cukup latian bbrp hari sama modal motor boetoet
    tentu motornya ga sembarang motor
    walopun boetoet tapi jeroannya udah dimodip

    mungkin kalo pake helm jadi ndak bisa pamer
    kan mukanya ketutup😆

    Goop:::
    oh.. pantesan itu motor kuat banget kayaknya…
    ah ingat salak saya kemaren *😆 *
    iya ya, kalo pake helm rambut jg g berkibar, haaa tapi kepala bisa lepas
    *😦 *

  2. hadi arr on

    terkadang jalan hidup bukanlah pilihan begitu juga sebaliknya, tapi kenyataan yang di hadapan kita adalah buah hasil masa lalu kita dan ini hanya akan berubah bila sang Maha Kehendak merubahnya. Yang Pasti untuk mencapai tujuan kita harus terus bergerak dan bergerak jika berhenti akan ambruk, penonton ada yang menangis ada yang menjerit bahkan mungkin ada yang tertawa bahkan mungkin bersukur, jadi jangan berhenti bergerak.
    salut, paman Goop

    Goop:::
    setuju pak, jangan berhenti dan terus bergerak
    *:mrgreen: *
    karena penonton toh tidak mengerti
    begitu barangkali, terima kasih

  3. qzink666 on

    Tong setan tuh ternyata seru juga ya, bro..
    Jujur, saya belum pernah sekalipun menyaksikan pertunjukan tersebut.
    btw, mengenai pertanyaan apakah itu pilihan atau jalan hidup, saya pun pernah punya pertanyaan mengenai preman yg berbadan gede2 di terminal, paman..
    Apakah pekerjaan yg membentuk fisik mereka atau fisik yg membuat mereka bekerja sedemikian rupa?

    Goop:::
    hairan, ini orang koq isinya pertanyaan mulu
    *😀 *
    wah preman itu, ada juga yang ceking kan bro??
    mungkin karena timbal balik ya, jadi fisik atau pekerjaannya bisa sedemikian rupa
    *:mrgreen: *

  4. sawali lagi "mengembara" on

    Gerak, mengingatkan saya akan dinamika perjalanan hidup manusia, kadang stagnan, kadang dinamis. sang pengendara motor yang beratraksi di atas panggung merupakan salah sebuah contoh betapa utk menghadapi sebuah hidup, banyak tantangan yang mesti dilalui. *halah, sok tahu, yak!* atraksi2 semacam itu seringkali menyisakan sesuatu yang tragis. tapi bagaimanapun juga, “the show must go on”, begitu layar kehidupan terbuka, di situlah eksistensi hidup kita diuji. makasih mas goop, sudah mengingatkan saya betapa pentingnya memahami dinamika hidup di tengah2 sekolah kehidupan yang sesungguhnya.
    *berlalu sambil terus mengembara dan jalan2 tanpa berpikir utk dapat undangan, hiks*

    Goop:::
    yup pak, show must go on
    koq ada undangan lagi yak??
    *😆 *

  5. deethalsya on

    hhmm..
    hidup ini emang penuh dengan pilihan, mas.. (smua org jg tau itu?!)
    profesi itu pilihan yg nanti-a mrpk jln hidup Qta..
    *jd dt gak milih salah satu*

    duh, knp sih org2 suka nanya bla…bla.. atau bla..bla…???!
    dt tuh sulit utk memilih salah satu, mas..
    *gak sinkron ama klmt pertama dt di atas yah?!*

    ::gak jls mode on::😦

    Goop:::
    lha kemudian dt milih apa??
    oh ternyata dt, sulit milih salah satu
    terus kemudian milih apa??
    *maksa* *:mrgreen: *

  6. antarpulau on

    “…..sebuah pilihan ataukah jalan hidup?……”
    ====================

    2-2’na Om Goop…🙂

    Goop:::
    syip…
    *:mrgreen: *

  7. Mardies on

    Belum pernah lihat yang beneran. Cuma lihat yang di tv.

    Goop:::
    wah kalo di tv mungkin yang bagusnya aja mas
    *😀 *
    makasih sudah mampir

  8. Hoek Soegirang on

    hooo…terakhir kali saia lihadh tontonan yang begiduan itu waktu es De di balikfafan. tafi saia takudh, soale mbokan ntar motorna tiba-tiba keluar terus ngantem muka saia. jadina saia ndak berani nonton….

    Goop:::
    sama hoek, saya juga khawatir sangadh dengan itu arena…
    bgaimana kalo rubuh, dibuat puter-puter yang buat pusing sangadh itu??

    ______________________
    “Ternyata untuk belajar beratraksi tidak terlalu lama, cukup 5 hari saja, dimulai dengan menggunakan sepeda terlebih dahulu. Apakah ada yang tertarik??”
    saia tertarik kalo tidak dengan motor ataufun sefeda, tafi dengan helikofter atau boeing….

    Goop:::
    wah buat arenannya yang susah ituh
    *😆 *

    ______________________
    Benarkah kepuasan karena sudah menghibur pengunjung?? Ataukah takut yang membayang sebuah tekad untuk melanjutkan hidup, agar besok bisa makan?? Saya kagum, saya bertepuk tangan, dan saya menghormat.
    *ikudh menghormadh*
    ______________________
    Ada pula yang lupa, apakah harga tiga ribu rupiah sebuah harga yang pas untuk ketrampilan, nyali sekaligus juga nyawa? Terbayang pula beragam profesi lain, sebuah pilihan ataukah jalan hidup?
    kalo menurudh saia sih hobi faman. frofesi-frofesi yang begidu itu emang karena hobi. entah hobi tawaf, atau hobi tripping *halah*

    Goop:::
    seperti profesi ngeblog dunk kalo hobi
    *😆 *

  9. jeki on

    piye kabarmu dab?
    wis sukses yo saiki…!
    cah -cah sagan rindu ma kamu…..!
    dapat salam dr lemetz, karso, skr

    Goop:::
    kabare apik dab…
    lha sukses apane??
    miss you too
    *:mrgreen: *

  10. tukangkopi on

    bro, terinspirasi dari cerpennya Seno Gumiro ya?:mrgreen:

    Goop:::
    eh saya g ngerti, emang ada??
    *😀 *

  11. ridu on

    Ternyata untuk belajar beratraksi tidak terlalu lama, cukup 5 hari saja, dimulai dengan menggunakan sepeda terlebih dahulu. Apakah ada yang tertarik??

    wah.. cepet banget itu.. dikirain membutuhkan waktu minimal 5 tahun.. ternyata 5 hari aja.. gila,, ntar takutnya bukannya bisa malahan jatoh lagi..

    Goop:::
    wah saya kurang tau kalo jatuh de el el itu
    *😀 *
    ah tapi sebagai bagian dari proses, mungkin bisa saja terjadi jatuh dan terluka, bahkan sampai meninggal

  12. Nazieb on

    Mempertaruhkan nyawa demi rupiah..

    Ah, tak apalah..

    Goop:::
    *:mrgreen: *

  13. gempur on

    Saya pernah melihatnya sekali bersama mantan pacar yg kini istri saya di alun-alun utara yogyakarta.. hehehe…

    sejujurnya harga tersebut tak sepadan… tapi, apa boleh buat, kapan mereka diberi kesempatan untuk memilih? juga pernahkah mereka dapat yang lebih baik? saya kira jawabnya tidak!

    *merenung kembali untuk bergerak bersama hidup*

    Goop:::
    Setuju Pak Gempur
    *ikut-ikutan merenung*
    makasih

  14. Ina on

    Suatu pilihan atau jalan hidup????
    masing2 nga ada yang bisa nolak saat nasib berbicara. Hidup ini penuh dengan tantangan.😀

    Goop:::
    yup, bener banget tinggal bagaimana menghadapi tantangan itu
    semangattt *:mrgreen: *

  15. bisaku on

    Tidak ada itu jalan hidup, tidak ada pula jalan mati! Karena manusia punya kebebasan memilih dan apa yang dipilih itu juga yang didapatkan. Sama seperti monyet disuruh milih pisang didalam stoples yang mulutnya mengecil – jadi pas monyet itu ngambil pisang tanggannya gak bisa keluar – atau mengambil kacang di atas lantai.

    Karena monyet itu binatang dan binatang hanya mengandalkan naluri dan pengalaman, biasanya dia pasti milih pisang dalam stoples
    *sumpah-biasanya gitu-tau kalau kagak😀 ”

    Nah apalagi manusia yang punya akal pikiran? Buat si manusia motor *apapun namanya* itu adalah sebuah pilihan bagi dia, karena dia sedari dulu sudah diberikan 1001 pilihan dan menjadi manusia motor adalah hasil dari pilihannya dahulu.
    *duh mulai gak nyambung neh goop*

    *cabut😉 *

    Goop:::
    wah analogi yang keren mas…
    terima kasih

  16. Ram-Ram Muhammad on

    Wah… kayanya kalau menyaksikan langsung, sensasinya bisa terasa lebih nonjuok. Wong bacanya saja sudah ikut berdebar begini.
    *nunggu diajak*

    Goop:::
    *:mrgreen: *
    wah… saya males nonton lagi pak, takuuutt
    *😳 *

  17. mbelgedez on

    Puwas banyak nyang nonton.
    Binus tambah gede.
    Bisa beli tempe….

    Goop:::
    salah ketik ya Ohm??? *😆 *

  18. mbelgedez on

    Puwas banyak nyang nonton.
    Bonus tambah gede.
    Bisa beli tempe….

    Goop:::
    wah… bagi-bagi dong mendoannya
    *😆 *
    makasih ohm mBell

  19. Sir Arthur Moerz on

    inget lagu bang iwan fals..
    yang manah yah judulnya..
    duh lupa…

    tetap semangat paman…

    Goop:::
    eh emang ada lagunya Bang Iwan??
    makasih moerzz

  20. ponakan on

    wah… unc… malang kali nasibku….
    maenan apaan seh itu? jangankan tau, wong denger aja g pernah….
    kayanya seh maenannya ekstreem yak…
    dimana liatnya ya?jadi pengen liat hehe

    Goop:::
    kasian…
    *😆 *

  21. extremusmilitis on

    Hohoho, lagi cerita tentang “Roda Gila” yaks Goop, aku juga paling seneng nonton ini, selain karena aku emang demen motor pas lagi kenceng (sensasi raungan mesin-nya) plus persis dengan apa yang kamu pikir-kan, per-paduan antara entertainment dan ber-usaha ber-tahan hidup dari mereka-mereka yang men-jadi joki-nya😉

    Goop:::
    wah… abang malah seneng bang??!!
    haibat lha…
    *:mrgreen: *

  22. itikkecil on

    saya kok lebih prihatin sama tidak diperhatikannya unsur keselamatan bukan cuma buat penunggang motor, tapi juga buat penonton.

    Goop:::
    yup tante, memang itu juga perlu diperhatikan
    karena arenanya sangat tidak mendukung, apa lagi kalau penonton banyak
    *😀 *

  23. […] membaca postingan UncleGoop di “Gerak” dan baca komentnya, jadi kepingin buat bikin tulisan deh tentang […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: