4 Heran Tanya Kelas

maloe-maloe

ini seri sebelumnya

Ah hari ini aku senang sekali Bu Har…

Pelajaran yang menyenangkan, guru-guru yang pintar serta ramah dan suasana kelas yang bersahabat. Seperti biasa kami se-gang, Aku, Dina, Mira, Windi pasti akan membuat keributan di kelas.

Mulai dari sekedar menjahili teman-teman lain, membuat coretan di meja, bermain halma saat guru menerangkan. Serta tak lupa, mengajukan pertanyaan yang sukar dijawab oleh guru-guru itu, sehingga membuat beliau-beliau ini mati kutu hihihi…

Uhm, tapi pada saat pelajaran kimia, tak ada diantara kami semua yang berani berkata-kata. Bukan karena gurunya galak Bu Har, eh tapi itu semua karena kami merasa bahwa dalam pelajaran ini, kami benar-benar tak menguasai sama sekali. Sayangnya guru satu ini, seringkali memberikan pertanyaan yang harus dijawab oleh murid-murid.

Tak disangka dan tak diduga, hape si Windi berbunyi… ting… tong… dia memang menggunakan ring tone mirip bunyi bel. Guru kimia itu, entah sengaja atau tidak melihat ke arah pintu, yeah, tentu saja tak ada orang disana hohoho… kemudian celingukan kesana kemari dan memandang ke arahku. Aduhhh apesnya nasibku, gara-gara duduk semeja dengan Windi, membuat beliau melihat ke arahku.

Nah… parahnya lagi, beliau baru saja menulis sebuah soal, tanpa basa-basi beliau menyuruhku mengerjakannya. Arghh dan si Windi cengar-cengir, lirak-lirik, pasang tampang tak berdosa dan memberikan jalan untukku. Terpaksa sekali akupun maju, sedetik melihat soal, ambil kapur, corat-coret dan tidak bisa. Ahhhh malunya itu Bu Har… pelan-pelan aku berkata :

“Maaf Pak, saya belum sampai mempelajari bagian ini” sambil aku tersenyum…

Bapak itu tidak marah, kumisnya bergerak-gerak dan tersenyum, eh kenapa beliau ini, tanyaku dalam hati. Kemudian seperti biasa, beliau akan menasehati murid-murid di kelas, tentang perlunya memperhatikan dan lain-lain. Kelihatannya lupa kalau aku masih berdiri dekat papan tulis, celingak-celinguk mirip orang hilang.

Dan semua murid, tak ada satupun yang memperhatikan, mereka melihat ke arahku, dengan macam-macam tingkahnya, membuatku makin keki. Ahh… inginnya aku bisa terbang, untuk sekedar meninggalkan tempat itu segera.

Dari depan kelas ini, aku bisa mengamati semua orang. Kemudian hey…. bukankah itu si lelaki akasia?? Yah disana kulihat Bintang, Bu Har… melihat sebentar ke arahku, prihatin, kemudian menunduk lagi… memang dia selalu menunduk sepanjang yang aku tahu, duduk di sudut belakang sendirian.

Kalau tidak salah, ada seperempat jam aku berdiri di depan kelas Bu Har, mengetuk-ngetukkan ujung sepatuku, menunduk, menoleh ke kiri, ke depan, ke kanan. Memelintir ujung-ujung rambut yang aku bisa. Sampai kemudian Guru kimia kami tersadar dan menyuruhku duduk kembali.

“Hey, kamu yang dibelakang, jangan mengantuk, ayoo maju ke depan kerjakan soal ini!!”

Semua murid memandang, dan ternyata Bintang yang kena perintah Bu Har. Kasihan anak itu, tak sadar juga kalau mendapat perintah, sampai seseorang yang duduk didepannya memberi tahu, barulah dia beranjak. Tenang saja dia berjalan, pandangannya tertuju ke papan tulis, tak menarik perhatian ke seantero kelas. Semua anak kemudian sibuk, atau berlagak sibuk aku tak tahu Bu Har, sepertinya semua berlagak agar tidak ditunjuk maju untuk giliran berikutnya hehehe… dasar, pikirku.

Saat aku melirik, Bintang telah duduk lagi. Pak Guru di depan tersenyum-senyum, dan JRENGGGGG!!!!! Ternyata jawaban Bintang ini benar Bu Har… Ughhh ko bisa ya dia, padahal seingatku dia jarang sekali memperhatikan hanya menunduk saja. Ah.. aku penasaran sekaligus juga kagum. Pelajaran dilanjutkan kembali, namun hatiku, sudah penasaran sekali sama si Bintang ini. Aku bertekad untuk mengajaknya berkenalan… karena meski satu kelas, dia anak baru dan aku belum kenal…

mmmHhhhh sudah ah Bu Har, lagi-lagi aku ngantuk ehehehe…

Nb: tapi aku tak sabar Bu Har untuk bercerita padamu, akhirnya aku berhasil berkenalan dengannya, saat istirahat. Dia sih cuma diem aja, kenapa ya?? Duhh kenapa makin penasaran begini sih Bu Har???

Nb lagi: aduhh ada yang lupa Bu Har, pulang sekolah tadi aku tidak bersama Mas Han, jadi ini sudah hari kesembilan kami tidak bareng pulang. Dia kian sibuk rapat persiapan reuni akbar. Kulihat Astri, sekretarisnya yang cantik itu, masih suka sama-sama dia, rantang-runtung kesana kemari. Eh, tapi itu kan memang tugas sekretaris mendampingi ketua, ah sudahlah… aku mau tidur dulu Bu Har, barangkali nanti aku akan mimpi Mas Han…

-Pandan Wangi-

mungkin akan nyambung lagi *:mrgreen: *

__________________________________________________________

Ditulis oleh : Kata Buta Aksara

yang bangun bersama subuh berkawan embun dalam gelap kabut, dipinjam siang bersama celoteh bocah dan tolol camar dalam terik mentari, terpenjara malam pada sunyi dan kerinduan pungguk disinari rembulan

asal gambar

21 comments so far

  1. goop on

    Goop:::
    Oiya, pokoknya™ ini cerpen *:mrgreen: *
    Saya bukan bayut, atau orientasi saya berubah *😆 *
    Terima kasih

  2. caplang[dot]net on

    *liat komen atas*
    😆 wah kok udah antisipasi duluan…
    btw, justru yg diam itu katanya menghanyutkan

    Goop:::
    *:mrgreen: *
    yup bro, seperti air tenang…

  3. sawali tuhusetya on

    Loh, emang apa ada yang selama ini mas goop tuh bayut? *halah*

    Goop:::
    menurut bapak gimana?? *😀 *

    Terlepas dari itu, saya senang pada deskripsi suasana kelas yang hidup, seperti “medan magnet” yang mampu menyedot rasa penasaran pembaca, khususnya tentang sosok Bu Har, yang saya sendiri masih sebatas meraba-raba. sedemikian pentingkah sosok Bu Har di mata tokoh “aku” sehingga setiap jengkal peristiwa selalu dikisahkan dan diceritakan kepada bu har itu?

    Goop:::
    ah bapak lupa ya, bu har itu kan buku harian
    *😆 *

  4. Aulia on

    hiihihihi…. lutju..

    Goop:::
    ah mas aulia ini…
    saya jadi maloe *😳 *

  5. hadi arr on

    bayut apaan sih?
    Goop, kalau gurunya Pak Sawali
    Pandan Wangi pasti salting kali yaa?

    Goop:::
    bayut itu artinya cakep, eh ini katanya lho pak!!!
    *:mrgreen: * *dimassa, mengartikan ngawurr*
    wah, kalu gurunya Pak Sawali, mungkin Pandan Wangi… malah ngeblogg
    hahaha *dijewer pak sawali*

  6. gempur on

    Jadi pengen kenalan ama BU Har, susah loh bisa dapat kepercayaan dari murid,, butuh membangun hubungan yang tak sekedar relasi guru dan murid semata.. meski sosok bu har unidentified, tetap menjadi menarik, siapakah beliaunya?

    kenalin dong! hehehehehe

    deskripsi terakhirnya apik! Salut abis!

    Goop:::
    makasih pak, Bu Har itu Buku Harian
    silakeun membaca seri-seri sebelumnya😀

  7. Goenawan Lee on

    Konfirmasi palesu™.😎

    Ini malah jadi pembuktian.😛

    Goop:::
    asyem….
    *tendang Goen*

  8. Sir Arthur Moerz on

    hihihi..
    lucu paman…
    jadimaunulisbuharjuga….

    Goop:::
    eh moerz punya juga??
    Buku Harian??

  9. extremusmilitis on

    Goop, ente ke-sambet apa-an sih Goop?
    Btw, cerpen-nya menarik, makin afdol aja nih kalau nge-tulis cerpen…

    Goop:::
    makasih Bang…
    lha… lha… saya g kesambet lho ya…
    ah abang ini, jadi maloe😳

  10. antarpulau on

    dari karya-karya ‘besar’ pujangga Goop…
    sepertinya menampilkan sosok yg begitu ‘romantis’…

    Uhuiiii…..:mrgreen:

    Goop:::
    ah tuan kepala suku bisa ajah:mrgreen:
    saya jadi maloe nih😳

  11. erander on

    Sudah baca berulang2 .. tetap ga ngerti Goop.

    1. Aku, Dina, Mira, Windi .. apakah aku disini betina atau jantan ya?? soalnya .. tiga lainnya itu betina. Hmm. Ga jelas deh.

    Goop:::
    iya aku disini itu pandan wangi, seorang gadis pak

    2. Bu Har itu ibu guru apa pak guru ya?? ato hemaprodite ya??

    “Maaf Pak, saya belum sampai mempelajari bagian ini” sambil aku tersenyum…

    Goop:::
    Bu Har itu buku harian pak

    3. Koq malah curhat sama bu Har?? bilang mau kenalan sama anak baru??

    Goop:::
    silakan membaca seri-seri sebelumnya pak, karena ini cerpen berseri, gampang ko tandanya… judulnya diawali dengan angka… mulai dari 1 sketsa gerimis indah, atau bapak bisa mencari dengan kategori sunyinya waktu

    4. Siapa pula Mas Han .. tokoh mendadak .. hmmm, jangan2 dirimu emang bayut deh.

    Goop:::
    lihat jawaban untuk pertanyaan nomor tiga pak:mrgreen:

    5. Ga jelas blas. Tapi dari nilai sastra-nya sih ok. Kan kalo karya sastra emang mesti gitu. Sering ga jelas hahaha *otak saya jongkok koq malah nyalahin penulis sih*

    Goop:::
    seperti juga ketidakjelasan Pak Kurt, si santri buntet, waktu membaca seri pertama, jadi sekali lagi silakan membaca seri-seri sebelumnya pak, terima kasih
    *😀 *

  12. stey on

    bintang?saya?tapi pas SMA saya g pernah bisa menjawab semua soal kimia..hiks.hiks

    Goop:::
    sama, saya juga g bisa
    *😆 *

  13. tukangkopi on

    asek..asek..cerpen bersambung ni..gw juga sedang mempersiapkan karya baru. tapi otak kemalasan masih belum bisa diajak kompromi..teruskan berkarya bung..gak sabar nunggu halaman2 buhar berikutnya..😀

    Goop:::
    hahaha, makasih sobat😀
    ditunggu juga kopi-kopi racikannya…
    jangan menyerah… smangadhhh

  14. andex on

    sekretarisnya Mas han? sapa iku Mas Han? ada skrinsut si sekretaris gak?

    Goop:::
    silaken baca seri-seri sebelumnya sobat…
    terima kasih

  15. Ina on

    wah…sekarang bayut bisa nulis cerpen juga yach😆
    *kaburrrrr*

    Goop:::
    yah, kak ina ikut-ikutan😦
    *tendang kak ina*
    kakak ko ditendang
    *😆 *

  16. Hoek Soegirang on

    jooohhh?
    bukannya ini lanjutan kmaren? brarti cerbung dunk kawand? hohoho…saia jadi fenasaran buadh mbaca lanjutannya? berasa nostalgila ke jaman SMA lagi……
    *fadahal baru lulus taon kmaren*

    Goop:::
    yess hoek, ini seperti cerpen berseri gitu😀
    eh, lanjutannya belum tau nih ada apa ga:mrgreen:
    memang mengambil setting cerita jaman sma, tapi di benak pembaca silakan saja apakah akan bernostalgia, atau merasa menjadi bagian dari kisah, dipersilakeun

    be te we, ko saia ngrasa ini kisah nyata ya? faman goof ini bintang atau guru kimianya? ato malah…
    fandan wangi?

    Goop:::
    saya hanya pencerita saja hoek,
    dan ini murni imajinasi

  17. gempur on

    Asem… njenengan ternyata oke juga bikin cerpennya.. jadi pengen ngelanjutin cerbung saya yang “menyambut hujan”.. hehehehehe

    Bu har itu ternyata buku harian.. ah, jadi malu atas ketololan saya…
    *ngacir*

    Goop:::
    ah makasih pak…
    btw, saya ko belum tau cerpen bapak yak😦
    maaf saya terlambat lapor pada pak gempur

  18. Andrew Anandhika Wijaya on

    karya kali ini komentar saya adalah….

    *save as html*

    nggak ada waktu buat baca bro… mungkin ntar saya baca dirumah terus baru komen😆

    Goop:::
    whatever…
    terserahhhh….
    *:mrgreen: *

  19. deethalsya on

    akh.. jd inget jg ama tmn dt yg kyk si Windi itu.. xp
    *nostalgia masa SMA bgt nih*😳

    Goop:::
    emang ada temen yg namana windi??
    *:mrgreen: *

  20. funkshit on

    bu har. . keren juga
    tapi lebih keren “mem” donks… memory
    hihihi jadi ingat greatest memory nya yasika
    *lanjut nyari cerpen sebelumnya

    Goop:::
    ya ini juga dalam rangka biar ga sama dengan mem itu tuan😀
    btw, suka dengerin juga ya?? kekekeke….

  21. anam on

    🙂 cerpen na bagus….!!!

    Goop:::
    aih makasih mas… ini hanya percobaan saya yang lain😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: