RollingDoor

Istri Tidoorrr…

Malam sudah larut, sudah lewat tengah malam. Tak nampak lagi seorangpun yang masih terjaga. Tak juga mereka yang biasa begadang dengan main kartu, berkawan nyamuk dan mengandalkan sarung untuk usir dingin. Beberapa yang seharusnya bertugas, dan mendapat giliran siskamling juga sudah tidak berada di pos ronda lagi.

Mungkin saat ini, sarung sudah digantikan selimut. Lantai pos ronda, sudah berubah menjadi kasur yang menipis dimakan usia, dan berbau apek, meski keras tapi terasa empuk. Asap rokok, kopi pahit nan nikmat, juga candaan sahabat pun berganti. Bau, pada mulut istri yang lupa terkatup, pada dengkur lirih yang mengusap-usap, pada keringat yang meruap.

Saat itu, kamar adalah pusat aktivitas. Kamar bukan lagi ruang segi empat, berbingkai tembok dengan daun pintu tertutup rapat. Media pengembali gairah, penghilang penat dan charger untuk semangat, menjadi fungsi sebenarnya dari kamar. Meski tak jarang, kamar adalah lemari paling rahasia dari sebuah keluarga. Ketika pertengkaran tanpa kata dan dalam bisikan tersaji, pun saat geletar gairah bercumbu.

Maaf, sepertinya saya harus menjaga agar imajinasi kita semua, tidak semakin liar Photobucket .

Pada saat yang lain tertidur, saya masih bertengger di atas jok sepeda motor. Derum perlahan menjadi kabar kedatangan, sebelum saya bersama motor benar-benar tiba. Saat sampai di kos, rolling door yang terkunci rapat menyambut. Diam menyeramkan, kisi-kisinya membentuk bayangan yang berlarik-larik.

Saat itu, bukanlah hal yang mudah untuk membuka kunci. Anak kunci, seakan-akan baru pertama kali memasuki lubang, sehingga tak jarang meleset kesana kemari. Ada semacam perasaan tidak nyaman merayap di punggung, mendirikan bulu kuduk.

Ketika kemudian anak kunci berhasil memasuki lubang, dan dengan sedikit putaran seratus delapan puluh derajat, searah jarum jam, terbebaslah kaitan rolling door. Nah inilah saat yang mendebarkan. Perasaan tak nyaman itu kembali muncul.

Saya benar-benar merasa tak nyaman dengan suara motor yang stationer. Derum pelan dan konstan. Kini masih ditambah lagi dengan, calon bunyi rolling door yang akan saya buka. Dan benarlah apa kekhawatiran saya. Rolling door masih saja mengeluarkan bunyi yang berderit, tidak lancar dan menggores-gores hati.

Tidak ada yang salah sebenarnya dengan bunyi motor saya. Tak juga salah, bunyi akibat gesekan rolling door dengan besi penyangganya itu. Waktu yang tidak pas untuk bunyi motor, juga gesekan rolling door benar-benar membuat saya merasa enggan, khawatir dan was-was.

Ada kemerdekaan beristirahat yang mungkin saya rampas saat itu. Saat bebunyian yang saya sebabkan, mampir di kamar-kamar tetangga. Menimbulkan berisik sesaat, namun itu sudah bisa membuat terjaga barangkali. Menimbulkan umpatan, makian yang spontan, atau kegeraman yang dibatin dan menimbulkan dendam.

Saya teringat, saat bapak yang bila resepsi membawakan acara. Prakata di awal sekali (menggunakan bahasa jawa krama inggil), yang intinya, memohon maaf karena sudah melanggar kemerdekaan berbicara tamu undangan. Ah betapa sopan, dan halus budaya di sekitar saya.

Bila kesadaran sedang menguasai, maka saya pun akan menghentikan berbicara beberapa saat, dan mendengar apa kata pembawa acara. Deretan bahasa jawa yang jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, cenderung berlebihan dan teramat sangat sopan, tak jarang banyak yang tak saya mengerti. Tapi saya ikhlas, mewakafkan sebagian waktu saya, memberikan sejumput kemerdekaan kepada pembawa acara, dan mendengar dengan tenang, kadang mengangguk-angguk meski sebenarnya tidak mengerti.

Budaya yang bagi saya masih menjadi wacana. Masih berusaha untuk melakukannya dalam setiap tindakan. Secara sadar saya telah mencederainya, melanggarnya, untuk kepentingan diri saya. Kepentingan yang menjadi raja. Diktator yang membenarkan pelanggaran. Pengebiri kemerdekaan. Penafikan terhadap budaya.

Kepentingan itu pula, yang membuat saya tetap berbicara dengan tamu undangan lain. Meski saya mengerti, bahwa saat itu harusnya saya memberikan kemerdekaan saya pada pembawa acara. Kepentingan saya, yang menuntut tetap berbunyinya motor untuk kemudian dinaikkan ke garasi. Tak lupa, kepentingan membuka rolling door, agar motor saya bisa masuk.

Kepentingan saya yang menjadi raja, diktator juga pemimpin. Kepentingan orang lain, yang berhak dan merdeka serta bebas. Benturan kepentingan terjadi disini, saya dan bukan saya. Melayang-layang pada masa SMP, saat PPKn masih hafalan. Terdampar pada kenangan, saat guru menyuruh membuka buku paket, dan membahas kebebasan yang bertanggung jawab.

Ah saya ini pelupa memang…

__________________________________________________________

Maaf bila ada unsur budaya yang diangkat ditulisan ini. Bukanlah bentuk chauvinisme, hanya karena itulah budaya tempat saya hidup, mendarah daging dan begitu saya kenal. Barangkali di tempat lain, pada budaya yang lain, dapat pula ditemukan pelajaran yang sama. Terima kasih dan selamat menikmati…

asal gambar

31 comments so far

  1. sandemoning on

    pertamax yah

    Goop:::
    eh iya…😦
    oya, saya ga jualan bahan bakar tuan👿

  2. sandemoning on

    paman, kok pintu kosnya dari rollingdoor, bapak kosnya jualan ya,
    [tapi gak jualan bahan bakar ya], hehehe…

    Goop:::
    itu untuk garasi-nya koq bozz…😆

  3. Sawali on

    Bau, pada mulut istri yang lupa terkatup, pada dengkur lirih yang mengusap-usap, pada keringat yang meruap.

    aku kok tiba2 bingung berusaha memahami maksud kalimat ini, tak juga paham meski berkali-kali keningku berkerut-kerut. masih ada sisa tanya, apa maksudnya gerangan, hiks? maksudnya mungkin istri tetangga, yak!

    Goop:::
    yupe Pak, bener banget😀

    Baguslah kalau mas goop masih demikian tinggi mengapresiasi budaya yang sangat menghormati kebebasan orang lain. agaknya, suara rollingdoor itu yang mengusik kegelisahan mas goop. takut mengganggu kemerdekaan tetangga. wah, sungguh peka perasaan mas goop, sampai2 suara sandal jepit pun bisa jadi berusaha diangkat agar tak mengusik ketenangan tetangga. tak juga diseret-seret yang sengaja ingin caper dan membikin gaduh. ah, narasi mas goop memang menghanyutkan. indah.

    Goop:::
    walah, makasih pak…
    hanya kegelisahan di tengah malam sahaja😀

  4. caplang[dot]net on

    nahh ketauan paman sering pulang malem…

    Goop:::
    lha, dikau juga kan??
    untuk ngeblogg:mrgreen:

  5. Nazieb on

    Wew… Kalo sekarang yang ada malah rebutan kemerdekaan orang, Paman.. banyak-banyakan kemerdekaan:mrgreen:

    Goop:::
    iya juga bro😦
    mungkin akan dikoleksi barangkali😀

  6. funkshit on

    hehehhe.. . . .
    makanya jangan suka pulang malam . .ato rolling dor nya dikasih minyak yang banyak. . biar ngga berdecit2.
    tapi bagaimanapun jangan mau menjadi hamba bagi tetangga2 itu . .dengan mengalah dan lebih mementingkan tidur mereka
    *kata2 saya nga jelas nich

    Goop:::
    walah, dikasih minyak??
    mirip sama rambut😆
    jelas tidak bro, untuk menghamba… tapi…
    ah ya begitulah:mrgreen:

  7. indra kh on

    Jadi ingat. Beberapa waktu lalu dengan terpaksa saya gudangkan knalpot motor yang masih baru. Padahal saya masih suka dengan knalpot itu. Namun selalu saja ada perasaan bersalah ketika melewati pemukiman, terutama pada waktu malam telah larut.

    Goop:::
    sip bro…
    karena memang katanya banyak yang ga suka dengan bunyi yang menggelegar, meski keren itu😦

  8. danalingga on

    Lah, emang situ udah merdeka, emang orang orang yang terganggu itu udah merdeka?😆

    Goop:::
    wah iya juga yak…
    kemerdekaan yang dipertanyakan😦

    Btw, selamat menikmati penjajahan atas nama kepentingan sendiri.

    Goop:::
    wah, tepat sekali pernyataan tuan Dana inih…
    tapi saya kok tidak merasa terjajah yak😆
    entahlah, butuh wejangan tuan Dana, barangkali inih

  9. antarpulau on

    “………Maaf bila ada unsur budaya yang diangkat ditulisan ini. Bukanlah bentuk chauvinisme, hanya karena itulah budaya tempat saya hidup, mendarah daging dan begitu saya kenal. Barangkali di tempat lain, pada budaya yang lain, dapat pula ditemukan pelajaran yang sama. Terima kasih dan selamat menikmati………”

    ah paman goop bisa aja…..🙂
    tapi paman goop betul, budaya menunjukan karakter kita dalam bersosialisasi….
    tapi ngong2x….
    apakah di ‘kamar’ juga perlu budaya paman…..???:mrgreen:

    Goop:::
    waduh… tuan kepsuk udah nikah blommm???
    saya belum nikah soalnya…
    bagaimana kalau kita tanyakeun pada yang sudah pengalaman sahaja??😆

  10. rumahkayubekas on

    Kenapa ya koq bisa begitu?
    Mulaii dari klakson mobil yg memekakan saat minta dibukakan pintu,
    Sampai knalpot motor yang mengganggu,’
    Rupanya sudah tidak ada lagi kepekaan seperti dulu,

    Goop:::
    Menurut akang, apakah dulu lebih yahud dari saat ini??
    ataukah ini yang dinamakan evolusi??
    budaya yang gagap, dan dikebiri…
    sungguh ironi

  11. anggara on

    ahahahaha….
    aku kira mau dibawa ke mana… lewat gambar itu…lewat tuturan awalnya…
    ahahahaha….
    ternyata … melewati sebuah rolling door… melewati sebuah ingatan pada bapak…
    dan sebuah peringatan kepada kita untuk sebuah kebebasan yang bertanggung jawab…
    salut…. tulisan yang sungguh menarik

    Mdtk,ang

    Goop:::
    wew… makasih sobat😀

  12. dobelden on

    walah…. saat buka roling door aja bisa merangkai kata sepanjang ini?? salutee…😎

    harusnya rooling doornya di kasih oli tuh biar lancar😀

    Goop:::
    hohoho, barangkali juga sih😀
    makasih untuk sarannya sobat:mrgreen:

  13. aRya on

    mantab deh
    whheehhe

    Goop:::
    makasih bro….
    kekeke…

  14. itikkecil on

    oot : tumben pertamax nya bisa dibajak orang. i miss your dialogue with yourself😀

    Goop:::
    walah, jangan-jangan tante cuma ngeliat koment pertama aneh itu yak???
    saya udah ga ingin membudayakan itu tante…
    tapi ane zuzur, ane bukan penjual bahan bakar…
    *😆 *

  15. Abeeayang™ on

    mangsalah ewuh pekewuh yaks…?
    ah? salah?

    Goop:::
    yupe bro, bener bangetz😀

  16. tukangkopi on

    emm…di waktu pulang ada yang dibonceng nggak? seseorang tak dikenal yang berwujud wanita gitu..😆

    Goop:::
    bahasa mudahnya kuntilanak ya bro???
    emhhmhm…
    kurang tau yak, soalnya saya ga berani lihat belakang😆
    syerem euy

  17. detnot on

    heueheuueue, nasib bro

    Goop:::
    barangkali bozz… :mrgreen:

  18. Goenawan Lee on

    Kebebasan memasang emo kepala bawang mesum…🙄

    Goop:::
    hahaha…
    lagi nyoba-nyoba Goen….:mrgreen:

  19. qzink666 on

    Mangkanya jangan terlalu sering pulang malam, bro..
    Nenek bilang; itu berbahayaaa..
    *dengan nada mayor yang riang*

    Goop:::
    ah Qz… memang sudah kembali…
    *ikut nyanyi, dengan nada riang pula:mrgreen: *

  20. 'K, on

    waks
    ngapain pulang malem2
    jangan2 ,,hmmm👿

    Goop:::
    waduh…
    maaf jenderal, khusus yang itu rahasia:mrgreen:

  21. lil4ngel5ing on

    Lembut mas E…. eh, Uncle goop denk, kan ku bilang juga apa? pantes jadi seorang master piece… hehehe, ntar terbang lageee…

    Goop:::
    hayah, gita bisa ajah😀
    makasih yakz… 😳

  22. nico on

    ronda malamnya pindah di blogosphere*siul-siul*

    Goop:::
    wew….
    tau aja nico eh…:mrgreen:

  23. Ina on

    udah dibilangin jangan pulang malem2..masih aja bandel.
    *jewer kuping goop*

    Goop:::
    waduh, maaf kak ina..
    lha… ko dijewer…
    oiya, saya jadi inget… ada lagi kan yg juga seneng pulang malam…😆

  24. ponakan on

    mang “itu” yah yang diomongin ma pebawa acara nikahan budaya “jawa”…baru dong unc…. lah…wong g da satu katapun yang ku tau artinya..hehe

    Goop:::
    lha sama, saya pun…
    tapi ada beberapa yg ngerti sih…
    or garis besarnya ngerti dikit😀

  25. ponakan on

    ups… hayo… sering pulang malem yak…
    eh…tapi wajar dink…lah hobi nya ngelembur…
    saluuut..baru kali ini nemu orang suka lembur…hehe

    Goop:::
    lembur apanya???😳

  26. deethalsya on

    😯
    plg malem2 trus ngendap2 msk ke rmh yah mas??
    ck..ck..ck..
    *ni crta ttg cowok yg doyan dugem??!*

    dugh, gak nyangka dt..
    *berlalu pergi..
    😆

    Goop:::
    aih… kata siapa dt???
    ini cuma cerita tentang ga baiknya pulang malam ko😳

  27. MaNongAn on

    pulang malam = lembur = gaji tambahan = makan-makan
    *niksmats*

    ditunggu undangannya !

    .::he509x™::.

    Goop:::
    nglembur ngeblog ko’ bro😳
    tapi kalo makan-makan boleh, kapan sahaja:mrgreen:

  28. Hoek Soegirang on

    “memohon maaf karena sudah melanggar kemerdekaan berbicara tamu undangan”
    yeah, i love javanese!!! and I am proud to be!!!
    “kebebasan yang bertanggung jawab.”
    hmmm…yayaya, saia mencium ada hubungan antara fostingan ini dengan fostingan bang fertob tentang “defensif” dan berbagai fostingan “kesadaran” lain tentang blog. atau saia sahaja yang terlalu berfikir komfleks sangadh? *halah*

    Goop:::
    wew…
    diterjemahkan begitupun boleh hoek…
    hihihi… seneng dikau kembali…
    kyaaaaa…..
    *feluk hoek*:mrgreen:

  29. adit-nya niez on

    Mantep lah…

    Ngebahas rolling doornya bisa sampe banyak gini, ada analogi pula…:mrgreen:

    Goop:::
    wew, apakah terlalu banyak sobat??
    atau saya yang berputar-putar??

  30. alle on

    wah kang, lembur terus?
    salut dah Anda begitu perasa sampe memikirkan gak-enak sama tetangga😀

    Goop:::
    hayah…
    itu karena syerem ajah pas malam-malam bozzz…😆

  31. extremusmilitis on

    maka-nya, jangan pulang malem-malem goop, kalau ndak nyaman bener, ya cari tempat lagi yang bikin kamu lebih nyaman, selesai kan😛

    Goop:::
    ho’oh Bang…!!!
    misal ke hotel, tapi mahal akhirnya….😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: