Kabut

Kabut

Pada dini hari, di siang hari, di malam hari, pendek kata pada setiap kesempatan kabut datang menghampiri. Meskipun sepertinya tidak tahu diri, namun ada prasyarat yang harus terpenuhi sebelum kabut datang. Perbedaan suhu, ketinggian tempat, dan udara jenuh menjadi pemicunya.

Salahkah pegunungan yang ditabrak pesawat, saat ada kabut? Salahkah kabut yang menabiri pegunungan sehingga pesawat kehilangan arah? Salahkah pesawat yang tidak bisa menembus kabut dan menabrak pegunungan?

Pegunungan sudah berada di tempat itu saat pesawat melintas. Kabut datang karena ketinggian dan prasarat lain memenuhi. Pesawat melintas karena memang disana jalur penerbangan yang harus ditempuh, atau tidak?

Tengah hari di Bedugul, adalah siang berkabut. Sebuah anomali kah? Karena seharusnya siang adalah saat dimana kabut tak datang. Tengah hari di Bandungan Ambarawa, adalah siang berkabut. Sebuah anomali kah? Karena bukankah seharusnya siang, saat dimana terang meraja.

Sekali lagi, saat prasarat telah dipenuhi, kabut pun datang. Menghilangkan pegunungan yang membatasi Danau Bedugul dari pandangan. Menyembunyikan Pura di seberang yang indah, tak kelihatan. Sekali lagi, saat prasarat telah dipenuhi kabut pun datang. Menghilangkan jalanan berkelok indah di Bandungan dari pandangan, sehingga tak jarang colt masuk jurang. Menyembunyikan sayur mayur dan petani yang bekerja, pada dingin, basah dan lembab.

Sensasi yang dikabarkan kabut tak sama, semacam gerimis yang lembut, sejenis lembab yang basah. Tak jarang bisa menjadi seperti hujan yang mengganggu. Namun akhirnya selalu sama, kabut menjadi tabir, semacam tirai yang menyembunyikan beberapa kenampakan.

Mendekatlah, dan jamah dinding-dinding pegunungan yang basah. Mendekatlah, sehingga Pura yang berselimut kabut, bisa terlihat nyata. Mendekatlah, jangan terlalu cepat, dan rasakan setiap kelokan jalan. Mendekatlah, dan biarkan bau rumput, kesegaran bawang dan kobis, juga petani menyapa mesra.

Kabut bukanlah musuh, seorang sahabat baik yang siap merangkul. Kabut adalah kabar baik, penanda dari sebuah awal dari hari baru. Kabut mendekatkan, akrab dan hangat, seperti cinta lama yang tak lekang. Kabut menjadi alasan sebuah gerak, langkah dan keputusan. Adakah, agama, budaya dan pranata seperti kabut?

__________________________________________________________

Bedugul, dalam kabut, dingin dan hujan

Asal gambar

42 comments so far

  1. lahapasi on

    wah pujangga..keren coy….

    *kabut eh kabur*

    Goop:::
    hahaha…
    makasih sobat๐Ÿ˜€

  2. gempur on

    kabut itu sejuk, menyejukkan.. meski samar, berada dalam dirinya mengharukan dan mengantar sukma ke ketinggian..

  3. goop on

    @ Gempur
    wah indah nian pak, makasih

  4. tukangkopi on

    kabut mendiamkan aku dalam dingin
    di ujung kelokan dimana bau rumput basah menggelitik hidung
    menghilangkan pegunungan yang membatasi Danau Bedugul dari pandangan
    menyembunyikan Pura di seberang yang indah, tak kelihatan
    menyembunyikan sayur mayur dan petani yang bekerja, pada dingin, basah dan lembab
    meresahkan hatiku yang menunggu……….

    ah, lagi ndak ada ide…:mrgreen:

    gw gak terlalu suka kabut, meresahkan dan bikin penasaran. anomali kah?

  5. goop on

    @ Tukang Kopi
    sebuah modifikasi yang sangat jenius
    makasih bro

  6. daeng limpo on

    waduh di Riau sekarang payah paman….juga musim kabut cuman nyang ini kabut asap akibat pembakaran lahan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

    Goop:::
    apakah disana tidak ada hujan??๐Ÿ˜†

  7. Sawali Tuhusetya on

    Mas Goop, jangan salahkah kabut kalau datang tidak tepat waktu, hehehehe๐Ÿ˜† Kabut hanya ketika atmosfer lingkungan mendukungnya. ada banyak gejala alam yang mengharuskan mereka hadir. Tidak sepertio kita, manusia, hiks. seringkali datang ketika suasana lingkungan tidak mendukungnya. Ah, kabut itu. Tak harus selalu dimaknai sebagai sebuah anomali ketika dia datang siang hari. Tak juga fajar, pagi, siang, sore, senja, atau malam. Dia selalu datang tepat pada waktunya. Pun tak harus dipahami sebagai benda yang menghalangi keindahan. Yakinlah, suatu ketika kabut itu akan pulang dengan sendirinya kala atmosfer sudah tak mendukungnya. Mudah2an kabut yang menghinggapi negeri ini segera berlalu. Pun kabut yang sering membikin usia2 menjelang kedewasaan kita datang menjemput. Ah, kabut itu sering pula datang tak tepat waktu ketika naluri dan insting kita mengharapkan keceriaan dan kedamaian. Ah, ternyata kabut alam dan kabut emosi memang beda, yak!
    *Berlalu dan berharap agar Mas Goop tak dihinggapi kabut, halah!*

  8. goop on

    @ Pak Sawali
    keren pak, sebuah sisi yang lain lagi
    terima kasih:mrgreen:

  9. aRya on

    ya olo
    jadi gmn gtu
    huhuh

    Goop:::
    gimana gitu itu gimana?๐Ÿ˜†

  10. edy on

    saat berkabut, paman ga ‘nabrak’ siapa-siapa kan?:mrgreen:

    Goop:::
    kebetulan sih ngga bro๐Ÿ˜€
    pdahal pengen๐Ÿ˜›

  11. detnot on

    dalem sekali jeng

    Goop:::
    apanya??๐Ÿ˜†

  12. stey on

    Bedugul berkabut?heemmmm..tergoda saya buat menikmatinya..kapan yah?

    Goop:::
    ayukkk:mrgreen:
    *ditendang iblizt*๐Ÿ˜ฆ

  13. funkshit on

    “Kabut menjadi alasan sebuah gerak”

    justru klo lagi berkabut saya jadi malas bergerak.. gerak nya cuman ngulet2 aja pelukan sma guling . .kabut identik sma dingin seh :D:D

    *kemarin pas ke smrg juga sampe jam 11 siang masih tebel kabutnya.. tapi malah jadi nampak bagus loh dilihat .. sejuk, berasa di pegunungan

    Goop:::
    hehehe…
    memang biasanya malas bergerak bro,
    namun itulah alasan sebuah gerak…
    gimana ya, ya bgitulah hehehe

  14. aRuL on

    Om fotonya keren… itu memang asli warna gitu?
    kabut indah banget….

    Goop:::
    kalo dikau menuju ke link di asal gambar itu,
    foto aslinya memang ga gitu,
    tadi ada sedikit saya rubah, tp lupa gimana dan apa yang saya rubah:mrgreen:
    coba-coba soalnya bro hihihi

  15. Ina on

    ๐Ÿ™‚ postingan disini kok makin lama makin keren aja yach.
    nga sia sia km disekolahkan.

    Goop:::
    berkat bimbingan kak ina juga ko๐Ÿ˜ณ
    makasih ya kak

  16. tukangkopi on

    masyaolo..!! jenius?? ๐Ÿ˜ฏ
    wakakak….padahal gw beneran lagi gak ada ide, itu titik-titik maksudnya gw gak tau harus nulis apa lagi..๐Ÿ˜†
    kowe ki ngenyek po?๐Ÿ˜†

    *masih ngakak guling2*๐Ÿ˜†

    Goop:::
    wooo, dihamdani ora partoyo…
    wong partoyo wae ora hamdani
    *hayah*
    emang gitu ko bro…

  17. 'K, on

    kabut,,
    long taim no si๐Ÿ™‚

    Goop:::
    bangun pagi makanya jendral:mrgreen:

  18. indra kh on

    Satu hal yang sering kunanti adalah datangnya kabut pagi. Titik-titik airnya terasa dingin menyejukkan. Ia selalu dinanti karena memang tak datang setiap pagi. Namun kini dari tak peduli pagi tak peduli petang kabut tetap menggelayut di atas kami. Ujungnya anak saya yang masih balita kehabisan celana karena mentari datang menjadi tak pasti๐Ÿ˜€

    Goop:::
    hihihi…
    merepotkan ya pak…:mrgreen:

  19. jiki on

    koment orang yang ga ngerti sastra:
    om.. indah siy, tapi koq keknya gag dapet ektasenya yak?..
    *ditendang om goop*๐Ÿ˜† piss om

    Goop:::
    hihihi…
    maaf deh…
    saya masih belum bisa menjaganya:mrgreen:

  20. Mihael Ellinsworth on

    Kabut ya jangan disalahkan. Saat kabut pertama kali muncul di dunia, belum ada pesawat. Jadi pesawatlah yang harusnya adaptasi.๐Ÿ˜†

    Goop:::
    eh, iya ya…
    walah… bener juga tuh hahaha

  21. lil4ngel5ing on

    Hiks2 puitis bangget dirimu goop, ajarin dund…hehehe, kabut, hal yang ditakutkan tapi jadi teman di London, jadi inget lagu..

    A FOGGY DAY IN LONDON TOWN
    what a romantic situation (klo kata penciptanya..) masa iya sih… hehehe

    Goop:::
    emang ko…
    mau ke London??
    hayuuukkkk๐Ÿ˜†

  22. alle on

    siang panas berkabut bukannya lumrah,..
    ketika matahari menyerap air yang menguap dan membentuknya menjadi awan,..
    bener gak yak?
    *sotoy*:mrgreen:

    Goop:::
    nah itulah bro, saya jg lupa mekanisme sebenarnya gimana
    lupa sama kuliah nih๐Ÿ˜ฆ

  23. danalingga on

    *menikmati kabutnya *

    Goop:::
    *mengangsurkan sebungkus rokok*
    mauuu???:mrgreen:

  24. deethalsya on

    kabut pas pagi hari di atas pegunungan gitu…
    akh, itu baru keren bgt..
    kerasa fresh..
    *btw, ini nyambung gak yah??!๐Ÿ™„ *

    Goop:::
    iya dt, salah satu contohnya memang itu:mrgreen:
    makasih ya dt๐Ÿ˜€
    dan, nyambung koq hehe

  25. rumahkayubekas on

    Kabut? Duh yang kebayang sih dingin ya?

    Goop:::
    dingin yang hangat…:mrgreen:

  26. Om kiki on

    Kabut juga yang membuat gunung kehilangan keangkuhannya tapi juga sekaligus membuatnya diwaspadai..๐Ÿ˜€

    Goop:::
    yupe bro…
    setuju:mrgreen:

    @jiki
    bahasa sastra yang kau pahami memang cuma masai..๐Ÿ˜›

    Goop:::๐Ÿ˜†
    eh om kiki siapa yakz??
    aniway, makasih sudah mampir๐Ÿ˜€

  27. Cabe Rawit on

    Agama, budaya dan pranata adalah kabut…
    tapi manusia sering menyulapnya menjadi asap pekat…๐Ÿ˜ฅ

    Salam pedes dari ane…
    *difecut*

    Goop:::
    bgitulah barangkali:mrgreen:

  28. indra1082 on

    wah…uncle yang satu ini memang top kalo bikin Syair……. Mantabs….

    Goop:::
    haiyah…
    mkasih ya bro๐Ÿ˜€

  29. duniaichigo on

    jadi kangen rumah nenek yang selalu berkabut di pagi hari…

    Goop:::
    memang dimana rumah neneknya?…
    bikin dunk, cerita di rumah nenek…๐Ÿ˜†

  30. zal on

    ::duh, cara panggil yang indah paman goop…, ๐Ÿ™‚
    kau yang sangat ingin menatap besakih..datanglah mendekat…karena kabut tak lagi membatas antara kau dan pura…, namun gunung agung akan tetap terselimuti sampai kau menjamah kakinya… halah…:mrgreen:

    Goop:::
    mendekatlah…
    gitu kan Bang Zal??

  31. masmoemet on

    aku pergi ketika salatiga masih masih diselimuti kabut
    ( kenangan indah saat menggapai cita )

    Goop:::
    alangkah indahnya bila kabut mewujud menjadi kenangan,
    menjadi kian hangat, walau dalam dingin:mrgreen:

  32. manusiasuper on

    Saya suka kabut, membuat saya merasa sendirian di dunia… Tenang sekaligus menakutkan…

    Goop:::
    apakah kesendirian begitu mempesonakan tuan?
    dan kabut, barangkali memang bisa menjadi selimutnya๐Ÿ˜€

  33. nico on

    kabut nggangu pas dijalan goop. tapi gw seneng ma kabut. seru aja pas dijalan berkabut gitu. hehehe

    Goop:::
    yupe, bener bro…
    ada hati-hati, waspada dan takut yang menyatu dengan senang
    hehe

  34. kabarihari on

    mata saya berkabut mbaca postingannya paman.

    *entah terharu atau belekan kali ya?:mrgreen:

    Goop:::
    apakah dikau sampai nangis bro??๐Ÿ˜†

  35. bachtiar on

    hari-hari ku penuh kabut
    ak belajar bersama kabut
    tidur bersama kabut
    makan bersama kabut
    minum bersama kabut
    bercengkrama bersama kabut
    buang hajat pun ditengah kabut.hehe

    Goop:::
    adakah dikau senang disana tuan?
    karena ide nya ini juga dari sana…

  36. ulan on

    skrinsut nya mesti bagus om.. weh.. pujangga tenyata si om..
    nice post om..

    Goop:::
    makasih…๐Ÿ˜ณ

  37. tiyar on

    Gak iso nginstall joomla ya? haha
    Biar pinter…makane belajar. Gak cuma chating doang
    Biar ntar gak KALANG KABUT.

    Goop:::๐Ÿ‘ฟ

  38. khofia on

    jadi inget pas masih SMA. saya tiap hari kudu naik sepeda 6 kilo, dan tiap kali sawah2 di tepi jalan itu diselimuti kabut, saya bener2 mendapat hiburan. saya suka pemandangan sawah yang samar2 tertutup kabut, dengan suara binatang2 penghuni sawah yang bersembunyi, tapi mencoba menarik perhatian kita dengan ribut dibalik kabut…. lain dengan sekarang… jakarta itu gak berkabut lagi… tapi dah berasap!

    Goop:::
    di kampung saja tuan,
    mengolah sawah, melihat kabut, dan mendengar katak.
    gimana?:mrgreen:

  39. Ersis W. Abbas on

    Bisa-bisanya merangkai kalimat bagus begini … Mendekatlah, dan jamah dinding-dinding pegunungan yang basah. Mendekatlah, sehingga Pura yang berselimut kabut, bisa terlihat nyata. Mendekatlah, jangan terlalu cepat, dan rasakan setiap kelokan jalan. Mendekatlah, dan biarkan bau rumput, kesegaran bawang dan kobis, juga petani menyapa mesra.

    Goop:::
    hayah, saya banyak belajar di tempat Bapak koq๐Ÿ˜€
    makasih ya pak:mrgreen:

  40. Tumes_semuT on

    kabut…. tapi herannya kok gak pernah dengar ada dewa kabut atau pemuja kabut ya?kalau angin atau api kan ada dewanya

    Goop:::
    barangkali karena kabut, adalah unsur gabungan๐Ÿ˜€
    semacam pekerjaan bersama dari dewa๐Ÿ˜‰
    sok tahu nih saya hihi

  41. yg tengah hiatus on

    disini saya selalu berteman dgn kabut, menyongsong hari dan menutup hari dengan liputan kabut yg cukup tebal belum lagi temperature yg tak bersahabat skitar 13 derajat, tp anehnya saya mulai jatuh cinta dengan kabut.

    saya berharap kabut akan menelan pelan pelan luka yang pernah ada

    Goop:::
    saya kurang tahu, apakah kabut memiliki kemampuan menyembuhkan itu…
    ah tapi semoga, dengan kabut, luka itu pun musnah๐Ÿ˜‰
    makasih ya git๐Ÿ˜€

  42. Nazieb on

    Ada lirik yang bagus dari Om Ebiet:

    Kabut,
    Sengajakah engkau mewakili pikiranku..
    Pekat,
    Hitam berarak menyelimuti matahari..
    Aku dan semua yang ada di sekelilingku
    Merangkak, menggapai dalam gelap…
    ~ Ebiet G Ade, Menjaring Matahari
    :mrgreen:

    Goop:::
    iya, itu pun indah…
    makasih sobat๐Ÿ˜€


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: