Perut

rukun ya?

Bapak saya pernah berkata, “sebuah makanan itu, enak saat melewati lidah, kemudian sampai di kerongkongan sudah tak terasa nikmat lagi.” Tidak lebih dari dua puluh centimeter bukan? Kita tidak pernah mengerti; merasa, atau mencoba menggambarkannya juga tidak mudah saat makanan berada di kerongkongan dan kemudian terus masuk ke perut.

Sesederhana itu kah? Mulut, lidah, kerongkongan, batang kerongkongan, lambung, usus dan seterusnya? Ternyata tidak pernah sesederhana itu. Lidah membutuhkan variasi, agar tidak bosan. Perut menentukan jenis makanan yang pas, agar tidak sakit perut. Tubuh membutuhkan asupan gizi dari setiap makanan, agar seluruh kebutuhan bagian tubuh terpenuhi.

Menjadi mudah memang bila sumber daya ekonomi tersedia. Tinggal tunjuk makanan ini; itu, bisa sekehendak hati. Tatkala bosan dengan satu jenis masakan, atau masakan di rumah, tinggal jalan-jalan sore dan mampir di rumah makan yang banyak bertebaran, lengkap dengan aneka jenis masakan.

Lain halnya, bila keterbatasan ekonomi terjadi. Variasi menu makanan adalah sebuah impian. Terpenuhinya kebutuhan makanan, sudah merupakan hal yang istimewa. Makanan benar-benar menemukan maknanya, untuk menyambung kehidupan sehari lagi. Tiada peduli dengan variasi menu; dengan asupan gizi. Terpenuhinya perut dengan makanan untuk hari ini saja, sudah bersyukur sepenuh jiwa.

Jangan heran bila di satu sisi, banyak makanan yang dibuang. Tapi di sisi lain, ada yang mengais sisa-sisa. Ada yang sibuk dengan deretan variasi menu, namun ada pula yang kebingungan karena tak ada bahan, bahkan untuk dijadikan sebuah menu.

Bila ukuran tubuh yang digunakan, maaf gendut memang identik dengan kesejahteraan. Langsing jangan dikira tidak sejahtera, karena banyak yang diet untuk langsing, dengan menu yang justru lebih mahal. Ukuran kesuburan dan lingkar pinggang menjadi tidak penting, karena bukankah penderita busung lapar juga gendut perutnya? Ah, tapi bagaimana dengan yang kurus kering; tulang berbalut kulit; tiada barang sedikit lemak karena kelaparan?

Satu hari, Bapak saya menunjukkan induk ayam, yang menghancurkan butir padi agar bisa dimakan oleh anak-anak ayam. Saat itu, saya tidak mengerti bahwa itu adalah sebuah tamsil. Pembelajaran, betapa orang tua begitu bertanggung jawab, atas nasib perut putra putrinya. Sekarang ini, saya memang sudah mencoba mengais sendiri makanan, dan menentukan sendiri menu makanan saya. Saya bersyukur karena meski tidak berlebih, namun selalu cukup. Tetapi, di akhir minggu saya akan pulang, menjadi anak ayam yang merindukan menu dari Ibu. Bukan menu special memang, karena lebih banyak sambal, sayuran, tempe dan tahu goreng. Barangkali sebuah kebetulan, karena saya tidak begitu doyan daging, sehingga bisa lebih irit.

Permasalahannya adalah, ayam saja bisa berpolitik saat mencari makan. Dikaisnya tanah, dipecahnya butiran padi, agar ayam sekeluarga bisa makan dengan cukup. Orang tua juga berpolitik, bagaimana agar putra putrinya bisa makan dengan cukup. Dicarinya pekerjaan, agar sedikit berlebih, barangkali dicari obyekan. Paling mudah memang, kemudian bila berkuasa; memimpin; memerintah; menjadi penguasa. Pintar memang manusia, karena dari urusan perut menjadi politik yang rumit dan pelik. Jangan heran kemudian, bila tahun dua ribu delapan ini menjadi tahun politik.

Metode pemenangan pemilihan sudah dirancang; tim sukses dibentuk; spanduk dibentangkan; baliho dan kaos juga sudah dipesan. Kalkulasi hitung-hitungan uang, tidak pernah menunjukkan neraca yang seimbang antara pengeluaran dan pemasukan tiap kandidat, lah ko bisa? Banyak perut yang kemudian mendapat makan dari pekerjaan ini memang, namun sungguh tidak logis.

Dana yang sampai dengan milyaran rupiah untuk sebuah ajang pemilihan kepala daerah. Kampanye yang melelahkan dan begitu banyak pihak yang berkepentingan. Sementara di saat yang sama, beberapa balita mengalami gizi buruk, sampai ada yang meninggal karena kelaparan. Jelas kiranya, gaung kampanye dan slogan serta janji-janji lebih lantang, menggema sampai ke pelosok daerah. Wajar bila, suara bisikan perut yang keroncongan tidak didengar, kalah dengan slogan, janji, lenguh bunyi suara juru kampanye.

Anak-anak ayam itu, setelah besar gemuk-gemuk. Asal tidak terkena flu burung, sepertinya akan sangat nikmat bila disembelih, kemudian digoreng serta disajikan dengan sambal dan lalapan. Lebih nikmat bila dibagikan dengan saudara, dan tetangga yang mengalami kelaparan. Bagaimana dengan politikus? Apakah setelah terpilih juga enak? Kita bukan kanibal tentu, tapi bagaimana kalau janji yang terucap tidak ditepati, kemudian kita sembelih saja? Ah, terlalu kejam, atau mungkin kita tunggu saja, sampai bumi bahkan menolak jasadnya?

__________________________________________________________

Saya memang meracau tidak jelas, tapi racauan saya ini semoga bisa mendukung kampanye tahun anti kelaparan ini, bersama dengan pelopornya Pak Gempur, dan sahabat-sahabat yang lain. Postingan ini mendukung :

kasihan bukan?

Asal gambar 1

Sebenarnya saya kurang begitu mengerti, entah rukun berbagi makanan, ataukah merencanakan target, kijang mana yang akan dimakan kali ini oleh para harimau itu.

Asal gambar 2

Latar belakang, kampanye ini dan ajakan untuk ikut membuat postingan sejenis, juga memasang banner di blog masing-masing.

25 comments so far

  1. gempur on

    wah, sip banget.. selalu ada yang beda… mas goop memang beda! makasih bantuannya mas goop.. mudah2an efektif untuk membangun wacana bagi perbaikan bangsa yang sedang sakit berkepanjangan ini…

    Goop:::
    iya pak, saya juga berterima kasih sudah diajak dalam kegiatan ini😀
    semoga dengan suara kita yang tidak begitu keras ini, masih ada maknanya.

  2. stey on

    saya kemaren nonton Oprah masalah makan memakan ini, katanya manusia dan hewan sekarang ga jelas mana yang lebih beradab. Hewan membunuh untuk memberi makan keluarganya dan dia, manusia?untuk banyak alasan yang kadang hanya bersifat egosentris..

    Goop:::
    eh barangkali memang begitu,
    makan memakan >> entah kenapa, mendadak suka kata ini, atau malah miris, saya kurang mengerti😦

  3. masmoemet on

    *jadi ingat ortu yg kerja keras dirumah*

    Goop:::
    same here…
    kerja keras juga yuukkk
    *tapi ini malah ngeblog*😆

  4. unai on

    Ya Tuhan, betapa kadang kita masih kurang bersyukur dengan apa yang sudah kita dapatkan…ngenes rasanya melihat anak anak yang mati akibat gizi buruk, mengenaskan…

    Goop:::
    iya mbak😀
    bersyukur dilupakan, perut dikenyangkan😦

  5. aprikot on

    what a tragic ya? ktnya di negara yg gemah ripah loh jinawi ini justru banyak orang yang mendulang kelaparan dan mati. bukankah ktnya air, tanah dan hasil bumi digunakan untuk hajat hidup orang banyak?

    Goop:::
    hajat hidup orang banyak, saking banyaknya hilang mungkin😥
    atau disembunyikan?

  6. neng fey on

    benar2 meracau paman goop..
    pada awalnya ngomongin anak ayam, trus tiba2 politik, trus gizi buruk, trus sampe deh ke kampanye anti kelaparan..
    hmm.. perjalanan yg panjang
    hehehe😀

    Goop:::
    hehe, maaf saya g bisa tunjek point…
    senangnya memoles, menyembunyikan makna dalam lipatan ornamen kata😀

  7. warmorning on

    kebetulan saya hari ini juga posting tentang “LAPAR’ kita memang sehati paman goop hehehe

    Goop:::
    lapar dan perut, memang bersahabat erat ya 😦

  8. Nazieb on

    Ah, ya, setiap hari makan tahu tempe + oncom itu memang tidak mengenakkan…

    *pengalaman pribadi:mrgreen:

    Goop:::
    awas kurus zieb:mrgreen:

  9. dobelden on

    saya komen dulu paman…. baca postnya nanti yaks:mrgreen:

    Goop:::
    kenapa tidak membaca dulu komentnya nanti? hihi😆
    ah, tapi silakan saja:mrgreen:

  10. brainstorm on

    saya ikut kampanye paman!!

    Goop:::
    siip…
    terima kasih bro…😀

  11. khofia on

    lhah… jangan2 kalo nulis kata busung lapar sampeyan inget saya?

    Goop:::
    memang iya koq…
    makanya, banyakin makan nasgor di tempat mbak itu…
    barangkali kau akan sedikit mirip dia bro hihihi

  12. danalingga on

    Walah, kampanya pengentasan kelaparan toh. Yah, termasuk berpolitik juga nih goop.

    Goop:::
    lha iya tuan,
    kan ayam aja berpolitik, saya juga dong😀

  13. harriansyah on

    luar biasa postingan kampanyenya..

    Goop:::
    aih, luwar biasa apanya?😳

  14. regsa on

    Ngomeni cerancuan diawal postingan, betul juga ya apa-apa yang kita lakukan akan berujung kemasalah perut . singkatnya gimana cara membikin perut jadi wareg .🙂

    Disisi laen ditengah kewarek(g)an kita, ternyata masih ada saudara-saudara kita yang kelaparan ato kekurangan gizi .
    Ingat petuah mbah saya, ” mangane dientekke nek ra kuthuke (anak ayam) mati.”

    Goop:::
    ho oh dab, simbahku yo ngendiko ngono yen makanku ora entek.
    ngopo yo? opo do mati tenan?

  15. sarah on

    Waah aku lagi kelaparan ini, mau makan tapi udah malem. Katanya makan malem gemuk, kalo gitu besok aja makan nya.. Yaaa aku dukung kampanye kelaparan nya😀

    Goop:::
    makasih sarah…😀

  16. daeng limpo on

    kita dimana seeeh paman goop?

    Goop:::
    menurut tuanku Daeng, di mana?

  17. rumahkayubekas on

    Ditunggu sekali aksinya Mas,

    Goop:::
    eh Akang ikutan juga yuu…
    pasti bakalan lebih keren nih, kira-kira bikin apa yang pas Kang?

  18. Sawali Tuhusetya on

    bisa jadi makin drop tubuh saya membaca postingan mas goop yang lembut, tapi menusuk ini. ufh…

    Goop:::
    waduh, dijaga perutnya pak
    *emang hamil?* hehe😆
    semoga lekas baikan ya pak

  19. Brainstorm on

    […] ya? “Ah, kalo kate ustad ane mah nikmat akherat ntar nyang kite dapet.. biarin di dunia sengsara kelaperan..“ STOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOP!!!! Saya coba review.. Di Negara-negara ini yang notabene […]

  20. Ina on

    Saya dah pasang banner na…cuma blm buat postingan.

    *dah jadi duta buat Makassar*

    Goop:::
    ditunggu deh, dan selamat ibu dubes:mrgreen:

  21. Ina on

    Saya dah pasang banner na…cuma blm buat postingan.

    *dah jadi duta buat Makassar*

    Segera buat postingan dech.😀

    Goop:::
    tsah… sampe dua kali hihihi
    iya, selamat ya, semoga bisa membantu😀

  22. cK on

    ntar pasang banner dan bikin postingan aah..😀

    Goop:::
    yupe, ditunggu yakz😀

  23. […] untuk kampanye dan aksi tentang kelaparan itu>> dEEt dukung deh dan dEEt doain supaya penggalangan dananya sukses.. amiin.. *maaf, […]

  24. […] Perut […]

  25. jablay8990 on

    Perut….Ya! Perut. MEmang selalu minta diisi dan tidak pernah mau tahu dari mana hasil barang yang di tampungnya……

    Goop:::
    mungkin karena perut itu suka lapar ya hihi😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: