Bangkai

Di dinding sebelah timur kamar kos, pada ketinggian sekitar dua meter dia berdiam diri. Kulitnya telah keriput seperti kakek tua yang berjemur di kala pagi. Saya bertanya-tanya kenapa dia begitu diam, tidak terusik oleh nyamuk yang beterbangan di sekitarnya. Lama sekali saya perhatikan, ternyata dia tergantung pada alat geraknya yang istimewa, sehingga “terpaksa” menempel di sana. Sedikit cairan meleleh, keluar dari badannya, berwarna kehijauan menjijikkan, dan mengotori tembok putih tempatnya menempel. Cicak itu telah mati, menjadi bangkai yang masih tergantung diam.

Demi kenyamanan bersama, saya, dan makhluk-makhluk lain, seperti semut; kecoa yang menghuni kamar saya. Akhirnya dengan terpaksa, sebuah sapu memainkan perannya yang tidak biasa. Sapu itu harus menyusuri tembok, dan bukan lantai seperti lazimnya. Saya dorong cicak itu, tidak bergeming, setelah beberapa kali mencoba, barulah cicak itu jatuh di lantai. Bukan suara berdebum yang mengiringi jatuhnya, tapi beberapa belatung yang tersebar. Belatung yang baru saja berpesta pora di atas bangkai cicak. Tak lupa, bau menjengkelkan, ikut mengudara, busuk; tidak sedap dan mengganggu.

Sambil menyapu remah-remah belatung; sisa bangkai cicak, masih diiringi bau tidak sedap, otak saya bekerja. Bila bangkai cicak yang bertubuh kecil saja bau dan dikerumuni belatung, bagaimana dengan bangkai manusia? Pastinya akan lebih bau, dan lebih banyak belatung yang berpesta, hiiiiiii…

Di lain pihak, bunga-bunga yang gugur ke bumi tentu juga menjadi bangkai. Setelah lepas dari tangkai, akan terserak di tanah begitu saja. Tapi mengapa tidak berbau; tidak ada belatung yang berminat? Mengapa justru tanah menjadi subur, menjadi pupuk organic?

Sebelum bunga jatuh ke bumi; semasa dia hidup, akan mengudarakan aroma wangi; segar dan alami. Pada masa awal percintaan, bunga akan digunakan sebagai lambang romantisme, perwakilan ungkapan cinta. Saat perhelatan pernikahan digelar di antara dua sejoli, bunga kembali memainkan perannya. Bertengger anggun, di sanggul pengantin wanita, terselip di antara kepala dan daun telinga pengantin pria. Pada saat mengarungi biduk perjalanan rumah tangga, bunga menjadi hiasan di atas meja, pemanis halaman juga beranda. Hingga akhirnya, bila empunya rumah telah tiada, bunga masih mengiringi sepanjang jalan keranda, juga ditaburkan di atas pusara.

Bangkai, itulah muara semua makhluk yang bernyawa. Masihkah akan jumawa?

Saat hidupnya, manusia bisa menyebarkan keharuman yang semerbak, dengan karya, cipta dan cinta. Manusia di saat yang sama, bisa pula mengudarakan busuk, karena culas; khianat dan benci. Pilihan itu yang tersaji di depan mata, karena akhir sudah pasti sama, menjadi bangkai.

Kasih, marilah mengudarakan kasih pada sesama, sehingga semerbak keharuman di segenap penjuru mayapada. Meruap bersama harum teh, biji kopi dan bunga seroja. Benci, ataukah kebencian yang akan ditebarkan? Mencoba menutupnya dengan kain perca, meski busuk tetap masih mengudara.

“Ah! Tetapi, meski menjadi bangkai, bukankah bisa menyuburkan tanah dan menyatu bersama kamboja?”

Barangkali seperti biasa ponakan saya itu benar, tapi :

Bangkai, itulah muara semua makhluk yang bernyawa. Masihkah akan jumawa?

Begitulah…

asal gambar

Iklan

33 comments so far

  1. aprikot on

    saat menjadi bangkai hanya kebaikanlah yg akan dikenang, semisalkan kebaikan yg tertebar. bukan begitu paman?

    Goop:::
    betul git, tapi sayangnya kan tidak hanya kebaikan sahaja yang tercurah…
    :mrgreen:

  2. itikkecil on

    Bangkai, itulah muara semua makhluk yang bernyawa. Masihkah akan jumawa?

    saya jadi speechless. makasih untuk mengingatkan saya pagi ini….. bahwa sebenarnya saya ini gak ada apa-apanya.

    Goop:::
    sama-sama mbak πŸ˜€

  3. Sawali Tuhusetya on

    Pada masa awal percintaan, bunga akan digunakan sebagai lambang romantisme, perwakilan ungkapan cinta. Saat perhelatan pernikahan digelar di antara dua sejoli, bunga kembali memainkan perannya. Bertengger anggun, di sanggul pengantin wanita, terselip di antara kepala dan daun telinga pengantin pria. Pada saat mengarungi biduk perjalanan rumah tangga, bunga menjadi hiasan di atas meja, pemanis halaman juga beranda.

    maaf, saya mengambil bagian ini untuk saya quote mas goop, wakakakaka πŸ˜† aku suka banget sih. alurnya pas banget, seperti yang kualami semasa muda dulu *sok mengaku tua* bener banget tuh mas goop. orang tua kita sebenarnya pernah meninggalkan petuah pendek, tapi dalam maknanya. “aja dumeh”. wah, kayaknya ini relevan dg bangkai, yak. Intinya, jangan mentang2 berkuasa, lalu bersikap lalim kepada bawahan, toh muaranya jadi bangkai juga. kalau sudah jadi bangkai, secara ragawi manusia konon ndak ada harganya sama sekali. ok, mas goop, selamat menikmati waktu, sesuai dengan pernyataan indah yang saya quote tadi, kekekekeke …. semoga waktu tak lama lagi melintas. *halah*

    Goop:::
    hehe amien pak, dan terima kasih :mrgreen:

  4. detnot on

    jeung, terima kasih sudah mengingatkan saya yg kadang “lupa” ini

    Goop:::
    sama-sama jeung, seyogyanya memang saling mengingatkan, bukan? πŸ˜€

  5. edratna on

    Ya, saat kita menjadi bangkai hanya kebaikan dan amal baik yang menolong kita, serta anak-anak yang sholeh.

    Goop:::
    benar sekali bu πŸ˜€
    terima kasih

  6. Echi on

    Hmmm..

    Hanya yang mengingat kalau kita pasti akan jadi bangkai saja yang mungkin bisa tetap memaknai dan memanfaatkan nikmat di setiap detik bernyawa.

    Salam πŸ™‚

    Goop:::
    iya, hanya yang mengingat, dan bila lupa saling mengingatkan bukan? πŸ˜‰
    terima kasih, dan wasalam

  7. danalingga on

    Walah, postingan bau yang menyeramkan. Bangke. πŸ˜†

    Goop:::
    begitulah hihi
    πŸ˜›

  8. daeng limpo on

    Thanks Uncle, sudah mengingatkan saya sebelum menjadi bangkai πŸ˜€

    Goop:::
    iya tuanku, sama-sama, saling mengingatkan yakz :mrgreen:

  9. edy on

    itu foto bangkai yg mati melamun yak?

    Goop:::
    waduh…
    waduh…
    kualat logh πŸ‘Ώ

  10. Nazieb on

    Bukankah ketika dia hidup dengan menebar kebusukan, sesungguhnya dia telah menjadi bangkai, Paman?

    Goop:::
    barangkali apa yang kau katakan benar zieb…
    tapi kan tidak selalu bau :mrgreen:

  11. erander on

    Seperti dalam postingan saya tentang raga dipuja dan postingan yang mempertanyakan jiwa kemana .. memang pada akhirnya, ketika jiwa meninggalkan raga .. maka tinggalah raga menuju menjadi bangkai .. iihhhhh πŸ‘Ώ

    Goop:::
    πŸ˜€ betul Bang, abang pernah menuliskannya di sana, dan memang kalau raga ke bangkai kan muaranya, tapi kalau jiwa? πŸ˜›

  12. BLOGIE on

    Firaon tuh yang meskipun udah jadi bangke tetep aja jumawa…
    Hyuh…

    *nutup idung*

    Binatang dan tumbuhan aja meninggalkan bangke yang dapat dimanfaatkan dan berguna bagi manusia.

    Lah.. Manusia???

    Emm… apa ya, paman?

    Goop:::
    meninggalkan nama, katanya sih gitu gie, hihi :mrgreen:

  13. tukangkopi on

    sesaat setelah kita berbaring di bawah gundukan yang belum juga kering oleh airmata
    siapa yang menemani?
    apa yang tersisa?
    dari debu kembali ke debu

    Goop:::
    wuah pertanyaannya bikin serem 😦
    tapi bener juga bro, siapa yang akan menemani?

  14. Niff on

    jadi inget mati πŸ˜€

    Goop:::
    :mrgreen:
    semoga bila saat itu tiba, kita siap ya mas πŸ˜€

  15. lisaontheblog on

    serem ah, membicarakan tentang ketakhidupan, hehe..

    Goop:::
    :mrgreen:

  16. ndop on

    berat.. berat…

    musti direnungkan berjam-jam..

    Goop:::
    :mrgreen:
    selamat merenung πŸ˜›

  17. Ina on

    pagi pagi dah disuruh natapin bangkai.
    *lemas*

    kasih sarapan kek…teh anget ama roti. saya kan blom mau jadi bangkai.
    tapi makasih dah diingatkan. πŸ™‚

    Goop:::
    ehem…. yang menyuruh siapa buk? πŸ˜†
    saya aja belum sarapan *hayah* πŸ˜›

  18. escoret on

    […] Di dinding sebelah timur kamar kos, pada ketinggian sekitar dua meter dia berdiam diri. Kulitnya telah keriput seperti kakek tua yang berjemur di kala pagi. Saya bertanya-tanya kenapa dia begitu diam, tidak terusik oleh nyamuk yang beterbangan di sekitarnya. Lama sekali saya perhatikan, ternyata dia tergantung pada alat geraknya yang istimewa, sehingga β€œterpaksa” menempel di sana. Sedikit cairan meleleh, keluar dari badannya, berwarna kehijauan menjijikkan, dan mengotori tembok putih tempatnya menempel. Cicak itu telah mati, menjadi bangkai yang masih tergantung diam.

    Demi kenyamanan bersama, saya, dan makhluk-makhluk lain, seperti semut; kecoa yang menghuni kamar saya. Akhirnya dengan terpaksa, sebuah sapu memainkan perannya yang tidak biasa. Sapu itu harus menyusuri tembok, dan bukan lantai seperti lazimnya. Saya dorong cicak itu, tidak bergeming, setelah beberapa kali mencoba, barulah cicak itu jatuh di lantai. Bukan suara berdebum yang mengiringi jatuhnya, tapi beberapa belatung yang tersebar. Belatung yang baru saja berpesta pora di atas bangkai cicak. Tak lupa, bau menjengkelkan, ikut mengudara, busuk; tidak sedap dan mengganggu. […]

    sudah 35 blog yg posting puisi2

    nunggu postingan MAKAN-MAKAN DAN KULINER..!!!!

    Goop:::
    ente telat boz, kemaren sudah πŸ˜†

  19. ulan on

    waaaaaaaaaaaaaa…. keren om gooppp…
    pelajaran bisa di ambil dari apa aja ya om…

    Goop:::
    huhuhu
    bgitulah mbak πŸ˜€

  20. Andrew Anandhika Wijaya on

    owkey…. yang ini lebih dahsyat… biasanya cuman cerita dua rangkap… sekarang tiga… dari cicak ke bunga ke manusia… mangalir sih iya…. pusing juga iya tapi lol….

    Bangkai, itulah muara semua makhluk yang bernyawa. Masihkah akan jumawa?

    harap diingat… bangaki sekalipun, dia meninggalkan keturunan… tertawa jumawa itu perlu… untuk menunjukkan keberadaan…. kalau pun dia sudah tiada… keturunannya masih ada….

    Goop:::
    wuah iya, andrew haibat πŸ˜†
    bener juga tuh… yah bgitulah πŸ‘Ώ

  21. indra kh on

    sering saya melihat kecoa mati, cicak mati di rumah. Baru kali ini tercerahkan. Padahal itu ayat-ayat Allah juga. Trims paman

    Goop:::
    iya, sama-sama :mrgreen:
    saling mengingatkan ya mas πŸ˜›

  22. antown on

    bahasanya oi…
    saya kok nggak bisa ya bikin tulisan ginian? mantapp!!

    Goop:::
    hayah, hanya mencoba bertutur mas, makasih yakz 😳

  23. mbelgedez on

    Syerem amat, bangkai…..

    Goop:::
    πŸ˜†

  24. Moerz on

    hohohoh..
    saya mau jadi bangkai ah…

    *gali2tanah*

    sampai jumpa paman…

    Goop:::
    sampai jumpa moerz, sukses yakz :mrgreen:

  25. c e l o on

    Goop:::
    wuah iya, andrew haibat πŸ˜†
    bener juga tuh… yah bgitulah πŸ‘Ώ

    ketauan banget feedbacknya nggak ikhlas…

    Goop:::
    πŸ˜†

  26. Hoek Soegirang on

    ah…saia yang sudah merasa hina ini, jadi malah tambah ngrasa hina…
    maksudna afa ini faman? afa?!! *marah-marah ndak jelas gara-gara ndak fokus*

    Goop:::
    maksud kau afa hoek? afa?!! *ikutan marah-marah ndak jelas gara-gara ndak fokus*
    *cuma kupipes* πŸ˜†

  27. rumahkayubekas on

    Makasih uncle, sudah mengingatkan dengan sangat cantik.
    Pada akhirnya seperti itulah kita.
    Jadi…ya masihkah akan jumawa?

    Goop:::
    begitulah kang, semoga yang sedikit ini bisa menjadi pengingat :mrgreen:

  28. tikabangetβ„’ on

    😐
    serem sayah liat gambarnya

    Goop:::
    :mrgreen:

  29. chiw on

    ehem…

    ini tentang bangkai atau bunga sih?

    kok ditengah tengah, konsentrasinya mak bedunduk mengalih ke bunga?

    :mrgreen:

    Goop:::
    coba dibaca lagi deh πŸ˜›

  30. stey on

    jangan menyimpan bangkai..pasti bau..
    gitu?

    Goop:::
    iya mbak πŸ˜€

  31. Mrs. Fortynine on

    sudah dibaca lagi kok…

    saya memang menggemaskan bukan?

    😳

    Goop:::
    hayah πŸ˜†

  32. qzink666 on

    *baca komen di atas*
    muntah darah.. πŸ˜€

    Goop:::
    :mrgreen:

  33. Bersama Binatang » Batas Ruang on

    […] berada jauh dari saya. Saya tidak mengerti kisahnya, kecuali yang dulu menempel di tembok menjadi bangki. Entah apa yang terjadi pada cicak, mungkinkah sebuah akhir yang tragis sama seperti binatang yang […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: