Angkringan Semarang

Di tengah Kota Semarang, udara begitu panas. Pori-pori melebar dan keringat tak henti membasahi baju. Tenggorokan kering bagai berjalan di gurun yang mengharapkan oasis. Fatamorgana di kejauhan menyilaukan mata, indah namun hampa.

Lampu merkuri yang begitu terang di pinggir jalan, membentuk bayangan dan bukan hanya satu. Seperti bayangan pemain bola, pada stadion beberapa waktu yang lalu. Bayangan itu bergerak, perlahan-lahan mengikuti kaki melangkah. Satu demi satu terbentuk, satu demi satu hilang. Sebuah bayangan baur, beranjak menjadi nyata. Tak berapa lama kemudian, sebuah yang lain terbentuk. Dimulai dari baur dan beranjak nyata. Bayangan yang pertama berangsur-angsur hilang, saat bayangan yang kedua kian jelas.

Pak Kardi, mengantuk di atas becaknya. Di depan Novotel, memandang muak sopir Taksi yang berbaju rapi. Cak Salim, mendorong gerobak sate maduranya malas saat staff delivery service KFC menyalip kencang. Paradoks kehidupan begitu banyak tersaji, tidak peduli, semua berlari.

Hausku memanggil, memohon penawar satu gelas es teh manis. Dihampiri gerobak angkringan, dengan makanan-makanan yang dibungkus kertas minyak berlabel. Nasi goreng, rica belut, mie goreng, kira-kira begitu label yang tertulis pada tiap bungkus. Memesan es teh manis, diikuti dengan mengambil dua potong pisang goreng, dan tenang menunggu di atas tikar plastik yang dihamparkan.

Saat rembang petang seperti ini, belum banyak pembeli. Pesanan cepat sekali, datang tersaji. Pak Paidi, si pemilik angkringan sendiri yang mengantar. Seperti kemarin, dia akan duduk sebentar menemaniku menyantap pisang goreng, dan es teh manis.

Bercerita tentang keluarganya, yang datang dari kampung tinggal di sebuah rumah petak di Semarang. Hari-harinya yang dilalui, berkawan panas Semarang yang menyengat. Peluh, bau badan dan got mampat di depan rumah adalah kawan karibnya.

Caranya bercerita yang ringan, seringkali tertawa hingga terbahak, menertawakan diri sendiri. Kadang lidahku kelu, bimbang bagaimana mestinya aku bersikap? Ingin menemaninya terbahak, tetapi yang keluar hanya diam, atau senyum miris. Bila sudah begitu, kutawarkan Djarum Super yang biasanya akan diterima dengan penuh semangat. Disulutnya, dihisap dengan penuh perasaan, dan dihembuskan pelan-pelan. Seiring dengan itu, berhembus pula cerita-cerita dari mulutnya yang hitam berjelaga, tertoreh sisa nikotin.

Wati berjalan penuh kekhawatiran. Tak biasanya ia pulang selarut ini, lembur akhir bulan telah memaksanya turun dari bus tengah malam. Di terminal Banyumanik yang sepi, Wati sendirian beberapa preman memandang curiga. Wati tak kuasa balas menatap, hanya menunduk yang ia bisa.

Angkutan kota yang biasanya mangkal, sudah tiada saat seperti ini. Taksi memang banyak berjejer, namun akan musnah uang lemburnya bila digunakan untuk ongkos Taksi. Pernah seorang sahabatnya bercerita, di daerah Sukun banyak berjejer plat hitam yang siap mengangkut penumpang.

Bergegas berjalan dengan khawatir dan lelah, dia menuju ke Sukun yang berjarak kurang dari satu kilometer.  Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Penerangan di Sukun ternyata tidak bersahabat, hal yang selama ini jarang ia perhatikan. Lebih parah, plat hitam yang konon mangkal di sana juga tiada.

Kembali bingung dan ragu menguasai hatinya, haruskah ia naik Taksi dan mengikhlaskan uang lemburnya? Atau coba menghubungi bapaknya yang pasti masih bekerja? Sial, dia lupa bapaknya tidak mengenal HP, sementara yang ada ditangannya, handphone  lama yang habis pulsanya.

Rasa bingung dan khawatir, berhasil membuatnya tidak waspada. Tak disadarinya, saat tiga orang preman menyeretnya ke dalam sebuah rumah kosong. Selintas,  dia teringat cerita di kampungnya yang juga gelap karena listrik belum merata. Bila gadis berjalan seorang diri dalam gelap, Banaspati si hantu kepala api akan menyeretnya, menjadikannya istri dengan cara membakarnya.

Tangan-tangan kuat itu bergantian bergerak di sekujur tubuh Wati, hal yang tidak pernah ada dalam bayangan itu terjadi padanya. Setelah puas mempermainkan wanita malang itu, kemudian ia ditinggalkan begitu saja tergeletak. Wati kembali teringat Banaspati, bukan dirinya dibakar, tapi dia telah terbakar api kebencian tiada terkira.

Di antara hembusan asap, Pak Paidi menutup cerita. Kasus ini, tak pernah terungkap. Polisi, hukum dan dia sendiri tak berdaya. Salah seorang pelaku, adalah putra pembesar daerah yang sedang kuliah di Semarang. Segepok uang, sebuah surat sakti bermaterai kekuasaan, telah menjamin binatang biadab itu masih bisa menghirup udara bebas.

Pandangan beliau redup, tak bergairah. Coba kuikuti arah pandangannya, dan di sana dekat dengan gerobak angkringan. Wati duduk, matanya nyalang menatap setiap pengunjung, fikirannya telah terganggu semenjak kejadian itu. Sekilas dia melihat ke arahku, saat kurasakan pandangan sedingin es menusuk.

Ada pembeli datang, Pak Paidi beranjak dari sisiku akan melayani pembeli. Saat itu, setelah mempersilahkan Pak Paidi, terdengar jeritan memekakkan telinga. Pembeli yang baru datang itu berkelojotan. Wati menatapnya dengan beringas, dan ditangannya tergenggam garpu berlumuran darah. Bungkusan nasi berlabel; aneka gorengan; kerupuk dan sate usus sudah tidak nikmat. Beberapa percik warna merah telah menodainya. Menjadi catatan tak terhapus, pada malam yang beranjak larut.

Semarang, 01 Mei 2008

81 comments so far

  1. goop on

    akhirnya:mrgreen:
    legaaa setelah bisa posting lagi.
    seperti menahan pipis saat toilet dipake😳
    maafkan saya sobat semua, saya berada di simpang jalan *hayah*😆

  2. aprikot on

    ah paman nda ajak2 saya nich😉

  3. itikkecil on

    Ah Semarang…. How I miss Simpang Lima, Bergota *Loooo*
    jalan-jalan mulu…
    mana skrinsyutnya…

  4. danalingga on

    hiyaaaaaat!!!! *pasang kuda kuda*

    Eh, kok cerita watinya serasa familiar ya?

    *ubek ubek tulisan*

    Ah iya, ada tulisan saya yang mirip begini goop. Tentang Jenar dan kekasihnya.

  5. goop on

    ah ya, lupa itu fiksi…
    btw dua mbak manis ini pada baca ngga ya?😦

    dana
    lah kau ni kenapa Bang? mau pencak?
    mana link-nya jenar itu?
    maap, saya malas searching, hihi😳

  6. Pojok Hayam Wuruk-Singosari on

    Kapan bisa nongrong lagi di Semarang ya? Di Angkrinagan depan BNI Imam Barjo atau depan Kampus Sastra?

  7. escoret on

    PANJANG BGT,…!!!!!
    […] Di tengah Kota Semarang, udara begitu panas. Pori-pori melebar dan keringat tak henti membasahi baju. Tenggorokan kering bagai berjalan di gurun yang mengharapkan oasis. Fatamorgana di kejauhan menyilaukan mata, indah namun hampa.

    Lampu merkuri yang begitu terang di pinggir jalan, membentuk bayangan dan bukan hanya satu. Seperti bayangan pemain bola, pada stadion beberapa waktu yang lalu. Bayangan itu bergerak, perlahan-lahan mengikuti kaki melangkah. Satu demi satu terbentuk, satu demi satu hilang. Sebuah bayangan baur, beranjak menjadi nyata. Tak berapa lama kemudian, sebuah yang lain terbentuk. Dimulai dari baur dan beranjak nyata. Bayangan yang pertama berangsur-angsur hilang, saat bayangan yang kedua kian jelas.

    Pak Kardi, mengantuk di atas becaknya. Di depan Novotel, memandang muak sopir Taksi yang berbaju rapi. Cak Salim, mendorong gerobak sate maduranya malas saat staff delivery service KFC menyalip kencang. Paradoks kehidupan begitu banyak tersaji, tidak peduli, semua berlari.

    Hausku memanggil, memohon penawar satu gelas es teh manis. Dihampiri gerobak angkringan, dengan makanan-makanan yang dibungkus kertas minyak berlabel. Nasi goreng, rica belut, mie goreng, kira-kira begitu label yang tertulis pada tiap bungkus. Memesan es teh manis, diikuti dengan mengambil dua potong pisang goreng, dan tenang menunggu di atas tikar plastik yang dihamparkan.

    Saat rembang petang seperti ini, belum banyak pembeli. Pesanan cepat sekali, datang tersaji. Pak Paidi, si pemilik angkringan sendiri yang mengantar. Seperti kemarin, dia akan duduk sebentar menemaniku menyantap pisang goreng, dan es teh manis.

    Bercerita tentang keluarganya, yang datang dari kampung tinggal di sebuah rumah petak di Semarang. Hari-harinya yang dilalui, berkawan panas Semarang yang menyengat. Peluh, bau badan dan got mampat di depan rumah adalah kawan karibnya.

    Caranya bercerita yang ringan, seringkali tertawa hingga terbahak, menertawakan diri sendiri. Kadang lidahku kelu, bimbang bagaimana mestinya aku bersikap? Ingin menemaninya terbahak, tetapi yang keluar hanya diam, atau senyum miris. Bila sudah begitu, kutawarkan Djarum Super yang biasanya akan diterima dengan penuh semangat. Disulutnya, dihisap dengan penuh perasaan, dan dihembuskan pelan-pelan. Seiring dengan itu, berhembus pula cerita-cerita dari mulutnya yang hitam berjelaga, tertoreh sisa nikotin.

    Wati berjalan penuh kekhawatiran. Tak biasanya ia pulang selarut ini, lembur akhir bulan telah memaksanya turun dari bus tengah malam. Di terminal Banyumanik yang sepi, Wati sendirian beberapa preman memandang curiga. Wati tak kuasa balas menatap, hanya menunduk yang ia bisa.

    Angkutan kota yang biasanya mangkal, sudah tiada saat seperti ini. Taksi memang banyak berjejer, namun akan musnah uang lemburnya bila digunakan untuk ongkos Taksi. Pernah seorang sahabatnya bercerita, di daerah Sukun banyak berjejer plat hitam yang siap mengangkut penumpang.

    Bergegas berjalan dengan khawatir dan lelah, dia menuju ke Sukun yang berjarak kurang dari satu kilometer. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Penerangan di Sukun ternyata tidak bersahabat, hal yang selama ini jarang ia perhatikan. Lebih parah, plat hitam yang konon mangkal di sana juga tiada.

    Kembali bingung dan ragu menguasai hatinya, haruskah ia naik Taksi dan mengikhlaskan uang lemburnya? Atau coba menghubungi bapaknya yang pasti masih bekerja? Sial, dia lupa bapaknya tidak mengenal HP, sementara yang ada ditangannya, handphone lama yang habis pulsanya.

    Rasa bingung dan khawatir, berhasil membuatnya tidak waspada. Tak disadarinya, saat tiga orang preman menyeretnya ke dalam sebuah rumah kosong. Selintas, dia teringat cerita di kampungnya yang juga gelap karena listrik belum merata. Bila gadis berjalan seorang diri dalam gelap, Banaspati si hantu kepala api akan menyeretnya, menjadikannya istri dengan cara membakarnya.

    Tangan-tangan kuat itu bergantian bergerak di sekujur tubuh Wati, hal yang tidak pernah ada dalam bayangan itu terjadi padanya. Setelah puas mempermainkan wanita malang itu, kemudian ia ditinggalkan begitu saja tergeletak. Wati kembali teringat Banaspati, bukan dirinya dibakar, tapi dia telah terbakar api kebencian tiada terkira.

    Di antara hembusan asap, Pak Paidi menutup cerita. Kasus ini, tak pernah terungkap. Polisi, hukum dan dia sendiri tak berdaya. Salah seorang pelaku, adalah putra pembesar daerah yang sedang kuliah di Semarang. Segepok uang, sebuah surat sakti bermaterai kekuasaan, telah menjamin binatang biadab itu masih bisa menghirup udara bebas.

    Pandangan beliau redup, tak bergairah. Coba kuikuti arah pandangannya, dan di sana dekat dengan gerobak angkringan. Wati duduk, matanya nyalang menatap setiap pengunjung, fikirannya telah terganggu semenjak kejadian itu. Sekilas dia melihat ke arahku, saat kurasakan pandangan sedingin es menusuk.

    Ada pembeli datang, Pak Paidi beranjak dari sisiku akan melayani pembeli. Saat itu, setelah mempersilahkan Pak Paidi, terdengar jeritan memekakkan telinga. Pembeli yang baru datang itu berkelojotan. Wati menatapnya dengan beringas, dan ditangannya tergenggam garpu berlumuran darah. Bungkusan nasi berlabel; aneka gorengan; kerupuk dan sate usus sudah tidak nikmat. Beberapa percik warna merah telah menodainya. Menjadi catatan tak terhapus, pada malam yang beranjak larut.

    Semarang, 01 Mei 2008
    [….]

    NUNGGU SKRINSUT..!!!!!!

  8. danalingga on

    Kisah Jenarnya masih jadi koleksi pribadi goop. Belon diposting, jadi percuma juga kamu nyari.😛

  9. goop on

    pojokhayamwuruksingosari
    btw, yang kau sebutkan itu di mana sih mas?😆
    maklum saya kan pendatang😛

    pepeng
    jah… malah copypaste😦
    ayo dab, ning ngarep novotel keren! akeh temon😛

    dana
    yeee… gitu diceritain😦
    kapan mau diposting? saya tunggu:mrgreen:

  10. edy on

    belom pindahan toh?:mrgreen:

  11. stey on

    Mbaca dari atas sampe bawah, lhaaaa..Episode Mbah Djingkrak’e endi????huhuhuhu…

  12. goop on

    edy
    wuah ngejek😦

    stey
    ehehe…
    itu dia mbak, bingung gimana ceritanya yak 😳

  13. daeng limpo on

    Wati…..wati..kan udah saya bilang jangan deket-deket sama goop !

  14. tukangkopi on

    dasar pemerkosa biadab, laknat! membusuklah kau di neraka!👿

  15. tukangkopi on

    ah, ya. selamat datang kembali di karya fiksi. seger rasanya Master kembali bikin yang ginian..:mrgreen:

  16. tukangkopi on

    Eh, terminal banyumanik deket rumah eyang gw. coba dia ketok pintu rumah eyang gw, kan bisa pinjem telpon..😆

  17. ulan on

    wah om goop bikin fiksi… kereeennnn…
    sedang ada di persimpangan apa to om??
    simpang 5 ya??

  18. kabarihari on

    tak pikir kisah nyata paman…

    btw angkringan di semarang itu di sekitaran simpang lima itu yo man?

  19. goop on

    daenglimpo
    iya tuanku, dia ni bandel, saya bilangin jangan deket-deket tuanku juga ngeyel😛
    lghoh?!

    tukangkopi
    *hayah*
    ajarin bikin puisi dong bro?😳
    kalaupun pinjam telpon, mo nelpon siapa? weee ketahuan fastrid😛

    ulan
    hayah, masih kerenan wori mbak😀
    yah pokoknya di persimpangan aja:mrgreen:

    kabarihari
    bukan mas, ini di depan novotel…
    kalau di simpang lima, teh poci
    bener ngga ya?

  20. Sawali Tuhusetya on

    wew… tragis bener nasib si wati. sebuah bukti betapa uang dan kekuasaan masih sulit ditaklukkan oleh kejujuran, kebenaran, dan hati nurani. jadi geram juga sama si anak pejabat yang tega menyakiti wati. tapi, endignya kok jadi tragis amat, mas goop. tumben, ada darahnya segala, kekekeke😆 nah, sebenarnya siapa sih calon pembeli yang bernasib malang itu? apakah dia si anak pejabat yang pernah menyakitinya? ndak mungkin! si anak pejabat ndak mungkin mau duduk di angkringan. jangan2 memang wati sedang depresi berat sehingga selalu memusuhi pemuda, siapa pun dia. walah ….

  21. kabarihari on

    Novotel itu di mana ya?:mrgreen:

    * sudah 10 th diriku tidak ke Semarang😀 *

  22. mezzalena on

    Lampu merkuri yang begitu terang di pinggir jalan, membentuk bayangan dan bukan hanya satu. Seperti bayangan pemain bola, pada stadion beberapa waktu yang lalu. Bayangan itu bergerak, perlahan-lahan mengikuti kaki melangkah. Satu demi satu terbentuk, satu demi satu hilang. Sebuah bayangan baur, beranjak menjadi nyata. Tak berapa lama kemudian, sebuah yang lain terbentuk. Dimulai dari baur dan beranjak nyata. Bayangan yang pertama berangsur-angsur hilang, saat bayangan yang kedua kian jelas.

    Aku suka yang ini paman … keren. Btw, cerita Watinya bikin merinding. Saya setiap malam pulang kerja sendirian. Lewat depan banyak kaki lima, angkringan. Jadi takuttt ….. Hiyy

  23. goop on

    sawali
    sepertinya saya harus jujur ini Pak😛
    saya mencoba membicarakan darah, belajar dari Pak Sawali, duwoh, tidak nyaman ternyata ya Pak😦
    Pemuda yang ditusuk itu, bisa siapa saja kan Pak, kenapa tidak mungkin putra pejabat itu? orang memperkosa saja dia mungkin kok:mrgreen:

    kabarihari
    ough, itu deket balaikota mas
    di jalan pemuda, ah gimana ya….
    sekitar tugu muda gitu lah😛

    mezzalena
    ya makanya biar hati-hati😀
    makasih untuk apresiasinya…

  24. Nazieb on

    woits.. yang kelojotan itu sampeyan toh pakde..😛

  25. goop on

    nazieb
    wooo…
    ngawurr😦
    saya kan menikmati es teh *ceritanya begitu*😛

  26. dEEt on

    duh, jadi pengen makan di angkringan jg nih..
    kpn ajak2 mas??!:mrgreen:
    kyk-a asik tuh.. udah bosen ama makanan ‘itu2’ aja..😦
    *halah*

  27. tukangkopi on

    lho, si bapaknya kan cuma gak kenal HP toh? bukan gak kenal telpon rumah? ketauan yang bikin cerita ndak beres ni.wee…😛

  28. didut on

    tak pikir ya beneran loh…asyem

  29. goop on

    goop
    ayoo dt, kalau mau ikut😀
    seru kok…

    tukangkopi
    jah… bapaknya lagi jaga angkringan bro, mana ada telpon rumah

    didut
    kekeke, maap mas…
    mung reko-reko ~>> iki opo? :O

  30. qzink666 on

    Goop mo kawiiiinn.. dan buat seseorang yang begitu mengharapkannya, siyap-siyaplah kecewa..:mrgreen:

    *ajak om Edy nyebarin gosip*

  31. goop on

    ah senang kau kembali kawan😀
    bagaimana bulan madu nan permai itu?

  32. edy on

    wohohoho ada yg mo kawin toh?
    dengan orang semarang?

  33. goop on

    eh kau datang juga bro…
    saya punya kunci inggris gedhe, mau?
    *elus-elus pecut*
    sudahlah, tidaklah bijak menyampah di rumah sendiri
    *nyapu-nyapu*

  34. plain love on

    di deket simpang lima di jalan pemudanya… didepan bank BI itu ada boulevard lumayan enak buat nongkrong….

    dulu aku sama anak-anak nightmare pada nongkrong disitu tiap malem minggu sampe lewat tengah malam…

    ahh indahnya masa lalu….

  35. unai on

    angkringan jogja juga dong

  36. qzink666 on

    @om Edy
    betul, orang Semarang, bro.. Dia pernah repot-repot jam 5 sore dari semarang kirimin sambel ke khfff..
    *dibekap*

    eh, sekarang saya jualan tambang, racun tikus, dan perlengkapan alat bunuh diri.. ada yang berminat??😛
    *kabur sebelum ditimpuk yang punya blog*

  37. Nazieb on

    woooo…. habis ini ada bude goop toh..😆

  38. goop on

    plainlove
    ayoo nongkrong lagi😀
    di mana sih itu?

    unai
    hah?! angkringan jogja kenapa mbak:mrgreen:

    qzink

    zieb

  39. edy on

    bukan bude goop…
    tapi auntygoop.wordpress.com

    *logoff*

  40. goop on

    ehehe…
    gebleg😆

  41. bloggy jumper on

    ayo pulang!!!!

    Nb. auntygoop.com nya koq belom bisa diakses??

    piye..

  42. tukangkopi on

    Waaaaa….Ada yg mo kawiiinnn!!! gyahahaha.. Gw tunggu undangannya! gw bela2in dtg dah.Sungguh!
    Wadoh..berkurang lg nih jomblo..

  43. goop on

    blogimuter
    iyoh itu, masih dibenahi pagar-pagarnya😀

    jualankopi
    hayah, kayak ngga tahu lagunya mereka ini bro

  44. nurdin on

    di bagian awal, si aku-pencerita dikisahkan datang ke angkringan berada di siang bolong (karena di situ dikisahkan ada “fatarmorgana” yg pastinya hanya ada di siang), tp di bagian akhir kok adegannya terjadi “pada malam yang beranjak larut”? ataukah si aku-pencerita nongkrongnya dari siang sampe larut malam? kan waktu percakapannya juga cm mengisahkan adegan si wati diperkosa yg mungkin gak sampe sejam mungkin. hehehehehe….

    *ngurusin detil itu memang gak mudah, ya? aku aja masih sering bolong2 dan kecolongan*

  45. brainstorm on

    imajinasi wuueeeeeeedan…

  46. masmoemet on

    setelah nunggu lama, akhirnya postingan paman muncul juga🙂

  47. alex® on

    He-eh…
    Lama amat hiatusnya nih Oom Goop😛

  48. tukangkopi on

    @nurdin

    Di tengah Kota Semarang, udara begitu panas. Pori-pori melebar dan keringat tak henti membasahi baju. Tenggorokan kering bagai berjalan di gurun yang mengharapkan oasis. Fatamorgana di kejauhan menyilaukan mata, indah namun hampa.

    bener bro, paragraf ini seperti menggambarkan suasana siang hari yang panas, tapi kalo diterusin ke paragraf selanjutnya:

    Lampu merkuri yang begitu terang di pinggir jalan, membentuk bayangan dan bukan hanya satu. Seperti bayangan pemain bola, pada stadion beberapa waktu yang lalu. Bayangan itu bergerak, perlahan-lahan mengikuti kaki melangkah. Satu demi satu terbentuk, satu demi satu hilang. Sebuah bayangan baur, beranjak menjadi nyata. Tak berapa lama kemudian, sebuah yang lain terbentuk. Dimulai dari baur dan beranjak nyata. Bayangan yang pertama berangsur-angsur hilang, saat bayangan yang kedua kian jelas.

    nah yang ini baru menjelaskan waktu percakapan di angkringan pada malam hari. tapi mungkin di paragraf pertama Goop cuma mau menekankan pada rasa haus yang amat sangat. bukan pada “fatamorgana” yang terbentuk di siang hari..
    ngurusin detil emang butuh kesabaran, makanya gw kalo nulis juga suka lama nggak beres-beres gara2 persoalan detil ini..😀

  49. goop on

    nurdin
    hihi, iya mas…
    di awal itu rasa kehausan yang sangat yang ingin saya gambarkan.
    ah, begitu saja penjelasannya. Versi lengkapnya, ada di penjelasan Tukang Kopi di atas ini😛
    btw, kok ganti nama ada apa ini?:mrgreen:

    brainstorm
    kekeke…
    biasa aja ah mas:mrgreen:

    masmoemet
    ho oh mas, gara-gara moemet tuh saya hehe

    alex
    wakaka, saya mah cuma bentar bro,
    kau itu nah yang lama banget😀

    tukangkopi
    huahaha
    tengkyu bro, atas penjelasan lengkapnya itu:mrgreen: saya aja mungkin ngga selengkap itu😛

  50. alex® on

    Ah…. cuma dua bulan-an saja kok😛

    *jadi OOT nih*:mrgreen:

  51. goop on

    lah, dua bulan itu kan lama?
    *ikut-ikutan OOT*
    makasih yak bro😀

  52. gempur on

    lama tak berkunjung kemari… jadi malu saya…

    tambah keren ceritanya mas! salut berlipat-lipat buat mas goop…

  53. goop on

    gempur
    hayah…
    terima kasih banyak pak gempur😀
    sehat pak? *sok care*

  54. Alex Abdillah on

    Ass.

    ceritanya bagus nian mas Goop….cerita ttg Kehidupan…
    fiksi ato nonfiksi mas Goop ?

    mas nggak minat bikin novel ?

  55. afin on

    harusnya pemerkosa wati disantet aja biar ngerasain perut gendut isi wajan
    aarrgh!

  56. arif on

    Nunggu peluncuran kumcer seperti yang akan dilakukan Pak Sawali Jumat depan. Tentu Kumcer by Uncle Goop.

  57. theloebizz on

    waaaaahhhh… seruuuuu…!!!
    kapan diterbitkan nih cerpennyaaah???

    endingnya mantabh!

  58. goop on

    alexabdillah
    wass, ini fiksi mas😛
    eh, bikin novel? doakeun saja ya mas:mrgreen:

    afin
    perut gendut isi wajan apa sih maksudnya?😆

    arif
    wuah, apa bisa dibandingkeun pak?
    hihi saya mah masih belajar😛

    thelobiezz
    hahaha, diterbitkan bagaimana?
    makasih

  59. jiki on

    mana kumcernya
    *ngarep royalti*

    ===
    lagi pengen blogwalking

  60. goop on

    jiki
    iya deh, yang lagi seneng
    *ngarep makan2*:mrgreen:

  61. edratna on

    Sebentar lagi bisa diterbitkan pak, kumpulan cerpennya…..terus menulis pak…bacanya sambil deg-deg an.

  62. Mrs. Fortynine on

    jadi, mbah jingkrak itu sebenernya apanya yang jejingkrakan?:mrgreen:

    *pasrid*

  63. goop on

    endratna
    ah ini saja masih belajar kok bu😛
    mohon doa restu, semoga bisa terlaksana, amien:mrgreen:

    mrs49
    eh, mendingan ke sana saja, ntar juga tahu kok😀

  64. edy on

    jadi kapan bakal ngenalin Bibi Goop kepada kami?

    *nunggu dlm gelisah*

  65. goop on

    *toss*
    saya juga gelisah😦

  66. detnot on

    kapan di terbitkan jadi novel jeng?

  67. ardians on

    Daripada gelisah, mending nikah aja mas. Ndak baik setiap hari gelisah. Bagaimana? Bisa diterima tidak?

  68. Panda on

    wah, sesungguhnya, aku mulai ragu bahwa pemilik rumah ini tak sekedar penulis. tapi……..

  69. goop on

    detnot
    hayah, ini kan sudah diterbitkan jeung:mrgreen:

    ardians
    wah, bisa sekali diterima, saya juga kepengen temen panjenengan itu mas😛
    doakan saja yak

    panda
    tapi apa Bang?😛
    penikmat angkringan juga sih:mrgreen:

  70. kw on

    aku juga pengen berhenti ngeblog. bagi2 tipsnya ya…

  71. goop on

    kw
    lah, kok berhenti kenapa mas?
    saya ngga pengen berhenti kok😛

  72. wiwikwae on

    wooh.. fiksi tho..

    tak pikir…

  73. azaxs on

    Saya jadi kangen simpang lima…😦

  74. goop on

    wiwikwae
    iya mbak, fiksi😛

    azaxs
    emang ada apa di simpang lima?
    hayooooo😆

  75. sandalian on

    Kapan angkringan tugu dibahas Mas Brader?

  76. petak on

    Tangan-tangan kuat itu bergantian bergerak di sekujur tubuh Wati, hal yang tidak pernah ada dalam bayangan itu terjadi padanya

    Ko screen shootnya ga dipasang?

  77. warmorning on

    cerita sadis, saya gak pernah terfikir bikin scene gore mcam gini😀

  78. goop on

    petak
    haha, iya ya mana skkrinsutnya nih?:mrgreen:

    warmorning
    hehe, hanya mencoba saja bro😀

  79. kazetku on

    Halo maz GOOP….🙂
    Aku kesasar lagi…
    seneng juga…
    nek kesasare ke sini lagi…
    he he he….

  80. gita devi on

    wah,asiknya bisa nge-blog… saya ini setelah pindah kerja gak bisa ngeblog atawa nge-yahoo-an….. (alah bahasanya kacrut) apa kabar bung? lama tak bersua, terakhir ke jogja cuma bisa contact by phone… hahaha…. salam….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: