Archive for November, 2007|Monthly archive page

Dua Kilometer Kurang Lebih

Magelang medio 1989-1995


Pagi belum lagi cerah, embun belum lagi menetes dari pucuk dedaunan, kabutpun belum hilang, dan mentari masih nyaman meringkuk di ufuk timur. Seiring jama’ah yang beranjak pergi meninggalkan masjid dan musholla, dengan fikiran bermacam, mulai dari sawah yang tidak kebagian air, kerbau dan bajak yang harus disewa, hingga yang terbirit-birit berlari ke sungai karena panggilan alam yang tidak sudi menunggu. Seorang ibu sabar membangunkan suami, dan anaknya. Ibu yang sama sudah bangun sejak pukul 03.00 dini hari, bersendiri bergelut dengan sangit api, piring dan panci.

Ibu yang jarang terlambat bangun itu, suami yang berkawan selimut dan anak-anak tak tau diri. Rumah saya dipagi itu telah berwarna, dihiasi penolakan anak kecil yang malas bangun, karena dingin hawa atau mimpi. Namun tak lama, karena dingin air yang segar dan menyegarkan menyadarkannya, pada mimpi lain, pada petunjuk lain, pada harapan lain. Sebuah pondasi atau lebih tepat disebut tonggak, tiang pancang awal yang menjadi dasar, yakni sekolah dasar.

Baca lebih lanjut

Iklan